Sebuah kecelakaan pesawat Jet terjadi dan Alika adalah seorang pramugari satu-satunya yang selamat dalam penerbangan tersebut, namun kecelakaan itu membuat Alika buta.
Ryan Aditama sang CEO, rasa bersalah atas meninggalnya seluruh tim 1 membuatnya tak bisa mengabaikan Alika, dia putuskan untuk jadi pelayan gadis buta tersebut dengan identitas yang lain, Erlan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Panggilan Yang Wajar
Ryan langsung tersenyum lebar ketika dia sudah mengatakan kabar bahagia itu pada bi Santi.
Rasanya lega sekali ketika ada orang lain yang mengetahui tentang hubungannya dengan Alika.
Dia seperti baru saja mendeklarasikan hubungan tersebut.
Bukan hanya halunya sendiri.
Tidak puas hanya di Santi yang tahu, Ryan juga langsung menghubungi Romi dan mengatakan pada sang asisten bahwa saat ini Alika bukan hanya gadis buta yang harus dia rawat, melainkan kekasih yang harus dia jaga.
Romi di ujung sana tentu sangat terkejut ketika mendengar ucapan sang tuan, pak Ryan seperti sedang melaporkan sesuatu yang sangat penting kepadanya sampai membuatnya tergugu.
Hingga panggilan telepon di antara mereka berdua terputus, Romi masih setia menatap layar ponselnya sendiri, berulang kali melihat apakah benar yang menelponnya barusan Pak Ryan.
Pria dingin yang tadi selalu tertawa pelan.
"Benar, pak Ryan yang telepon. Apa tadi katanya? Alika kekasih ku? ya Allah," gumam Romi, benar-benar banyak yang telah dia lewatkan tentang sang tuan.
Selama ini mereka selalu bersama dan saling tahu satu sama lain, tapi semenjak tuannya itu tinggal di rumah Alika ternyata sudah banyak hal yang terjadi dan dia tidak tahu apa-apa.
Sementara itu di rumah Alika.
Gadis yang masuk ke dalam kamarnya tersebut seketika menggerutu saat dia sedang sendirian seperti ini.
"A-Apa katanya? perjaka ting ting? astaghfirullah, apa seperti itu caranya menyatakan cinta!" kesal Alika.
Tadi dia memang seperti kehabisan kata-kata, tapi sekarang lancar sekali mulutnya untuk menggerutu.
Alika jadi seperti punya 2 kepribadian, di hadapan Erlan dia menurut, tapi di belakangnya dia mengumpat.
Tok tok tok!
"Al, bibi masuk ya!" ucap bi Santi di luar sana, karena sekarang pintu kamar Alika tertutup, tidak seperti biasanya yang selalu terbuka.
"Iya Bi," sahut Alika.
Bi Santi masuk ke dalam sana dan berdiri tepat di hadapan Alika yang duduk di tepi ranjang.
"Ayo kita makan siang, kenapa malah masuk ke kamar?" tanya bi Santi pula, padahal dia hanya keluar sebentar untuk membeli kerupuk, tapi ternyata malah ada kejadian seperti ini.
Ada acara katakan Cinta, tapi di hadapan Alika bi Santi akan pilih untuk pura-pura tidak tahu.
"Iya Bi," jawab Alika pula, dia pun bangkit dan bi Santi langsung menyambutnya.
Datang ke meja makan itu Alika dibantu oleh bi Santi.
Ryan sudah menyambut dengan senyumnya yang sangat lebar, meski Alika tidak bisa melihat senyumnya itu, tapi tetap saja dia ukirkan.
Sementara Alika sendiri masih setia menunjukkan wajahnya yang nampak dingin, baginya ucapan Erlan hanyalah bualan semata.
Tidak terlalu dia pikirkan.
Mungkin besok Erlan pun sudah melupakan apa yang dia ucapkan hari ini.
"Hai sayang," panggil Ryan.
Alika langsung mendelik, sementara bi Santi nyaris tersedak ludahnya sendiri.
"Erlan!!" pekik Alika, kesal.
"Kenapa? itu kan panggilan yang wajar untuk sepasang kekasih," balas Ryan.
Dan mendengar jawaban itu kepala Alika rasanya mau pecah.
"Erlan!! Hih! Mana sendok bi?! aku rasanya mau memukul pria ini!!" geram Alika.
Seperti ada tanduk yang keluar dari atas kepalanya.
Tapi melihat reaksi marah Alika yang seperti itu, Ryan tidak merasa takut sedikitpun.
Dia malah merasa lucu sendiri, malah tersenyum dengan kedua mata yang menatap berbinar.
Menatap kekasihnya.