Komitmenlah yang membuat dua orang terikat dalam sebuah hubungan. Seperti perjanjian, suatu hari akan dipertanyakan. Sekuat itu Ayya menggenggam ikatan meski sedari awal tak terlihat ada masa depan.
Sementara Ali butuh cukup waktu untuk me-reset ulang perasaannya setelah masa lalu bersarang terlalu lama dalam ingatan.
Akan dibawa ke manakah rumah tangga mereka yang didasari atas perjodohan orang tua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percikan Api
Ayya tidak tahu mendapat keberanian dari mana sehingga bisa mengatakan hal itu dengan lantang.
“Ayya, ternyata kamu tidak sepolos yang ku bayangkan.”
“Sungguh, Mbak. Ayya tidak mengerti sama sekali maksud ucapan, Mbak.” Ayya menatap Vina sambil membuang napasnya dengan kasar.
“Aku berusaha mencari solusi terbaik untuk semua orang terutama untuk kamu dan Ali supaya bebas dari perjodohan orang tua kalian, setelah itu kamu bisa kembali pada Ibra. Tapi kamu terang-terangan memilih untuk bertahan hidup di samping Ali yang jelas tidak pernah mencintaimu.”
Dengan lembut Ayya menyanggah ucapan Vina, “Ayya minta maaf, mbak. karena solusi terbaik menurut mbak Vina, itu belum tentu baik buat Ayya.”
“Atau jangan-jangan kamu sudah mulai jatuh cinta sama Ali?” selidik Vina dengan mata mendelik ke arah Ayya.
“Mencintai suami sendiri, itu adalah kewajiban seorang istri yang sudah menikah. Ayya akan berdosa jika harus mencintai laki-laki lain, Mbak.”
“Kalau begitu, kamu akan tahu bagaimana rasanya mencintai suami yang hatinya hanya untuk wanita lain.”
“Apa ini? kenapa ucapan mbak Vina terdengar menakutkan karena terasa seperti sedang ingin menyerangku?” batin Ayya dia sedikit khawatir.
“Ayya sudah selsai masak, apa mbak mau makan sekarang? nanti Ayya siapkan.”
“Terima kasih, Ayy. Aku belum lapar.”
“Kalau begitu, Ayya permisi mau ngepel lantai dulu.” Ayya bergegas meninggalkan Vina untuk mengambil ember dan kain pel di belakang rumah.
“Non, biar bik Nur saja yang ngepel, non istirahat saja, kan cape abis masak.”
“Gak apa-apa, Bik. Ayya sedang butuh olah raga saat ini, bibik tenang saja,” ucap Ayya yang sengaja mengerjakan pekerjaan bik Nur, dari pada harus meladeni omongan Vina.
Ayya mulai mengepel ruang tamu yang sebenarnya belum terlalu kotor karena baru ia pel tadi pagi.
Vina datang dari dapur, entah sengaja atau tidak Vina menabrak ember yang berisi air hingga tumpah.
“Maaf, Ayy. Aku gak sengaja. duh ko bisa ya aku tidak melihat ember Segede ini di depanku,” ucap Vina seraya menggeser kakinya yang terkena basahan air.
“Gak apa-apa,mbak. Ayya akan membersihkannya.”
Tiba-tiba mata Vina berbinar-binar saat melihat Ali muncul dari pintu utama. Ali yang pulang di saat jam istirahat hanya untuk sekedar makan siang di rumah, dia tidak menyangka akan di sambut oleh Vina saat tiba di rumahnya.
Nahas, kecelakaan kecil terjadi saat Vina berjalan terburu-buru ke arah Ali sehingga dia lupa dengan lantai yang licin akibat air yang di tumpahkannya dari ember. Kaki Vina terpeleset karena high heel-nya menginjak genangan air di lantai tadi. Tubuh Vina tergelincir lalu terjatuh, kepalanya membentur dinding lalu mengenai sudut meja sehingga Vina tak sadarkan diri saat itu.
Dengan wajah yang sangat panik Ali segera menyambar tubuh Vina yang sudah terjatuh ke lantai.
“Vin, bangun, Vin!” Ali menggoyangkan wajah Vina dengan pelan untuk membangunkannya. Sangat terlihat jelas oleh Ayya kekhawatiran Ali terhadap Vina yang tidak bisa dihindarinya, mungkin jika Ayya tidak hadir di sana, seluruh ekspresi panik Ali tidak bisa disembunyikan lagi.
“Kenapa bisa ada genangan air di sini? cepat panggil bik Nur untuk membersihkannya!” perintah Ali pada istrinya, setelah itu dia segera mengangkat tubuh Vina dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Ayya merasa sangat bersalah, dia merasa menjadi penyebab kecelakaan yang dialami oleh Vina. Setelah pak Karman pulang, Ayya memintanya untuk mengantar ke rumah sakit karena ingin memastikan keadaan Vina saat ini. Ayya melihat Ali yang sepertinya tidak beranjak sedetik pun dari sisi Vina yang belum sadarkan diri, genggamannya tidak lepas dari tangan Vina, Ayya hanya melihatnya dari luar saja ketika Vina yang mulai sadarkan diri dari pingsannya. Ayya tidak berlama-lama di sana karena sudah memastikan keadaan Vina lebih baik sekarang.
“Non Ayya kenapa tidak masuk dulu? temui mbak Vina di kamarnya,” tanya pak Karman sebelum mengemudikan mobil.
“Tidak usah, Pak. Ayya hanya ingin memastikan keadaannya saja, lagi pula ada mas Ali yang merawatnya sekarang, besok aja Ayya kesini lagi.”
“Seharusnya Non Ayya jangan biarkan mereka berduaan saja tadi.” Pak Karman melirik sekilas sebelum melajukan mobilnya.
Ayya mengusap wajahnya lalu menyandarkan kepalanya sambil menumpukan sikunya ke kaca jendela mobil, jari-jarinya tampak memijat lembut di dahinya yang sedikit menegang. Masih terbayang di kepalanya, cara Ali memperlakukan Vina beberapa waktu yang lalu, pandangan mereka begitu mengikat satu sama lain. Vina tersenyum sangat manja ketika dia terbangun mendapati Ali di sampingnya tengah memegang tangannya.
Tak terasa mobil sudah tiba di halaman, akan tetapi Ayya tidak ingin masuk ke dalam rumah, dia hanya ingin duduk sendiri di pinggir kolam sambil menenangkan pikirannya, itulah tempat yang selalu ia datangi ketika perasaannya sedang tak menentu, Ayya tak memiliki teman untuk sekedar mencurahkan isi hatinya, hanya ada Bu Lastri dan Bik Nur orang yang biasa dia ajak ngobrol di rumah ini. Terkadang dia hanya mengajak ngobrol bunga-bunga yang di tanamnya di halaman rumah, hal konyol lain yang ia lakukan di saat seperti ini adalah bercengkrama dengan segerombolan ikan Molly di dalam aquarium.
Namun kali ini Ayya hanya ingin sendiri mencoba untuk berpikir lebih keras lagi dengan kepala yang dingin.
Tiga puluh menit sudah Ayya hanya duduk termenung memandangi air yang tenang di atas kolam, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel dari dalam sakunya dan Ayya langsung mematikannya setelah melihat nama penelepon di layar ponsel. Hingga panggilan yang ke tiga Ayya baru mengangkatnya.
“Assalamualaikum, Ayya. Kenapa kamu mematikan teleponku?” tanya Ibra dari balik telepon.
“Waalaikum salam, Mas. Ada apa mas Baim telepon Ayya?”
“Aku cuma mau tanya kabar kamu? kamu baik-baik saja 'kan?” tanya Ibra.
“Kabarku sangat baik, Mas. jangan khawatir.”
“Aku mau pergi ke Yayasan besok, siapa tahu kamu mau ikut Aku, jadi aku telepon kamu, Ayy.”
“Lain kali saja, Mas. Ayya titip salam aja buat semuanya, ya.”
“Sekali-kali kamu tuh ikut aku, kalau ada masalah kamu juga bisa cerita padaku, Ayy.”
“Terima kasih, Mas.”
“Bolehkah aku datang ke sana sekarang, Ayy? aku kangen ngobrol sama kamu.”
“Nanti saja kalau mertua dan suamiku sudah pulang ya, Mas.” jawab Ayya karena dia tidak ingin membuat kesalahan pahaman nantinya.
“Aku tahu, mas Ali sedang di rumah sakit saat ini, mungkin dia tidak akan pulang malam ini, Ayy. Jangan tunggu dia.”
“Baiklah, aku tidak akan menunggu mas Ali pulang malam ini, kalau begitu, aku akan tunggu mertuaku saja karena sebentar lagi pasti mereka pulang.”
“Ayy, kenapa, sih, emosi kamu tuh datar banget? suami kamu sedang bersama wanita lain, tapi kamu tenang-tenang saja, coba buka mata kamu lebar-lebar, Mas Ali tidak pantas untukmu.” Ibra mulai menebar percikan api disaat suasana hati Ayya bagaikan daun kering yang rapuh. Akan tetapi Ayya segera memutus panggilan teleponnya karena tak ingin terbakar dengan ucapan Ibra.
BERSAMBUNG ...
Readers-ku tersayang mana suaranya? Author doakan semoga kalian selalu sehat dan banyak rejeki. Jangan lupa angkat jempolnya buat tekan like dan komen di bawah, dukung selalu karya-karya recehanku, supaya lebih semangat up-nya.😘