NovelToon NovelToon
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Misteri / Dunia Lain / Penyeberangan Dunia Lain / Barat / Tamat
Popularitas:923.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: R.D. Villam

Abad ke-24 Sebelum Masehi. Kerajaan Akkadia menguasai tanah Mesopotamia, dan untuk menahan serangan mereka seorang penyihir bangsa Elam dari tanah Persia menciptakan dinding ajaib di sepanjang Sungai Tigris.

Ramir, seorang pemuda yatim piatu berusia 15 tahun yang mampu masuk ke dalam mimpi orang lain, menyelamatkan seorang gadis berambut perak yang pingsan di tepi sungai. Peristiwa itu membuat Ramir terseret dalam peperangan yang tengah berlangsung di Akkadia, sekaligus membawanya memulai perjalanan untuk mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.D. Villam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 ~ Penyelamat

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Bab 21 ~ Penyelamat

Karya R.D. Villam

 

---

 

Lapar adalah yang pertama kali terasa saat Fares membuka mata, bukan sakit yang menusuk bahu, dada atau paha kanannya. Betapa aneh, dan betapa leganya ia. Perutnya yang melilit minta diisi—nalurinya yang paling primitif—menunjukkan bahwa ia masih hidup, betapapun mengerikan hal yang ia alami kemarin.

Kemarin? Kemarinkah itu?

Fares ingat setiap ujung tombak yang menghunjam kulit dan dagingnya. Semuanya, sebelum ia kehilangan kesadaran. Aneh. Aku tidak mati setelah dihajar tombak sedemikian rupa?

Dan ... siapa itu?

Mata Fares mulai melihat dengan jelas semua benda di sekelilingnya. Ia sedang berada di sebuah kamar gelap berdinding tanah, terbaring di atas dipan. Di depan ujung kakinya, duduk seorang lelaki dengan tangan terlipat di dada. Lelaki itu sedang menatapnya tajam. Ada sesuatu yang ganjil di matanya: gelap namun bercahaya. Juga rambutnya, yang ... cokelat?

Ya, warna itu terlihat sedikit berkat cahaya rembulan yang masuk dari sudut jendela. Dan tubuhnya, dia tampak begitu besar. Tetapi itu mungkin karena mantel tebal yang menutup dari atas bahunya. Yang jelas, saat duduk pun kelihatan lelaki ini adalah seorang yang jangkung dengan kaki yang panjang. Fares yakin ia belum pernah melihat orang lain yang lebih besar daripada dirinya sendiri; mungkin ini yang pertama kali.

Lelaki itu tersenyum, menunjukkan wajahnya yang tampan sekaligus keras. ”Kau sudah sadar?”

”Siapa kau?” tanya Fares waspada.

”Aku? Aku hanya seorang yang sedang berjalan-jalan ...”

”Bagaimana aku ... bisa ada di sini?”

”Aku akan bercerita.” Lelaki itu mengangguk, lalu menoleh ke meja di samping kanan Fares. ”Tetapi aku sudah menyiapkan sebotol minuman dan sepotong roti untukmu. Ambillah, puaskan dulu rasa dahaga dan laparmu.”

Fares melirik botol dan roti itu, menimbang-nimbang apakah ia harus mengambilnya. Ia belum mengenal lelaki ini. Mungkin saja dia bermaksud jahat, seperti halnya Habik dulu. Ah, tetapi ternyata Habik tidak jahat. Lagipula, kalau lelaki jangkung ini berniat mencelakainya, tentunya ia sudah melakukannya saat Fares belum siuman. Lapar, serta haus; itulah yang dirasakan Fares saat ini. Jadi buat apa ia berpikir lagi? Ia mungkin bodoh, tetapi sejauh ini selalu beruntung.

Fares menenggak minumannya, dan melumat roti dengan gigi dan lidahnya. Lelaki di hadapannya tetap duduk diam dengan kepala sedikit tertunduk. Begitu Fares menelan air minumnya yang terakhir, barulah lelaki itu mengangkat sedikit wajahnya.

”Sudah baikan?”

”Ya.” Fares mengangguk.

”Bagaimana luka-lukamu?”

Fares meraba tubuhnya. ”Tidak terlalu sakit. Aneh. Seingatku aku terluka parah kemarin. Eh, kemarinkah itu? Atau tadi sore?”

“Aku menyembuhkan sedikit.”

“Sedikit, Tuan?” Fares coba tersenyum. “Kurasa kau memiliki ilmu khusus, dalam soal penyembuhan. Kudengar, sebagian orang menyembuhkan orang dengan sihir, dan yang lainnya menyembuhkan dengan ramuan-ramuan tertentu. Kau termasuk yang mana?”

“Yang kedua, sepertinya. Aku punya sedikit ramuan. Untuk yang pertama, kupikir jarang sekali sekarang. Sudah lama aku tak melihat yang seperti mereka.”

”Kalau begitu, terima kasih lagi atas ramuanmu.”

“Aku senang bisa menolong. Dan kau tadi bertanya kapan itu terjadi?” Lelaki itu melirik ke luar jendela. ”Itu kemarin sore.”

Fares kaget bukan kepalang. ”Berarti aku tak sadar seharian?!”

”Sehari semalam. Tetapi itu bagus untuk penyembuhan lukamu.”

”Ya. Walau perutku menderita.”

Lelaki itu tersenyum. ”Makanan terasa lebih nikmat saat kau lapar. Tentunya sedikit-sedikit, jangan langsung dimakan semuanya.”

”Kurasa begitu.” Fares merasa lebih tenang dan nyaman. ”Tuan, kau telah menolongku. Terima kasih. Namaku Fares. Boleh aku tahu namamu?”

Lelaki itu menerawang sesaat, lalu tersenyum lagi. ”Kau boleh memanggilku Niordri.”

”Niordri.” Fares mengangguk-angguk. Nama yang asing. Tampaknya ia memang orang asing, dengan rambutnya yang cokelat. Mungkin ia dari Anatolia. Fares pernah melihat beberapa pedagang dari Anatolia di Ebla, negerinya di barat. Tetapi ia belum pernah melihatnya jauh di timur sampai ke Sungai Tigris. Apa yang lelaki itu lakukan di sini? Mengembara? Dan yang lebih penting, bagaimana ia bisa menyelamatkan Fares?

“Kau memikirkan sesuatu, Fares?”

”Hanya ...” Fares menggaruk-garuk kepalanya. ”Kemarin, bagaimana aku bisa selamat?”

”Kemarin? Yang kulihat, kau bertarung sangat berani.”

”Kau melihatku?”

”Ya, dari atap rumah.” Niordri mengangguk dan berkata seolah itu adalah hal biasa. ”Aku melihat bagaimana teman perempuanmu lari, dan bagaimana kau terdesak di ujung lorong.”

”Dia!” Fares kembali kaget, tapi belum berani menyebut nama Naia. ”Bagaimana dia?”

“Dia diselamatkan sekelompok orang.”

“Siapa?” Fares terduduk.

Niordri menatapnya lama. “Mungkin kau lebih tahu, Fares.”

Siapa? Fares mencoba menebak. Isfan dan rekan-rekannya?

”Lalu, apa yang terjadi?” tanya Fares lagi. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Niordri.

Laki-laki itu menyandarkan punggungnya dengan santai. ”Fares, biasanya aku tidak pernah tertarik berurusan dengan orang-orang Akkadia. Aku tidak menyukai mereka, tetapi aku juga tidak memusuhinya. Tetapi kemarin, kurasa ada sesuatu dalam diri kalian berdua yang membuatku tertarik. Entahlah, mungkin keberanian kalian. Jadi begitulah, setelah kulihat teman wanitamu selamat, kupikir sebaiknya aku menyelamatkanmu.”

”Bagaimana?”

”Begitu saja. Aku turun, bersama pedangku.” Niordri menoleh sebentar ke kiri tempat ia duduk. ”Kujatuhkan beberapa orang Akkadia itu, lalu kubawa kau kemari.”

Fares membeku. ”Kau ... mengalahkan mereka? Semuanya? Dengan pedangmu?” Ia menatap pedang besar yang tersandar di samping kiri Niordri, yang masih tertutup sarungnya, dan napasnya tertahan. Itu benar-benar senjata yang menakutkan, dengan panjangnya yang lebih dari setengah tombak. Fares belum pernah melihat pedang sepanjang itu.

Niordri mengangkat bahu. ”Seperti itu, kira-kira.”

Fares memandangi lelaki di hadapannya tanpa berkedip. Ia merasa berhutang nyawa padanya, sekaligus juga kagum. Atau takut? Ada sesuatu dalam diri Niordri yang membuat Fares merinding. Pedangnya? Kehebatannya berpedang? Atau—

”Fares.” Niordri memotong pikiran Fares.

”Y—ya ...” Fares tak dapat menutupi kegugupannya.

”Apakah kau mencari gadamu?”

Gadaku! seru Fares dalam hati. Ya, di mana gadanya? Ia bisa lebih nyaman jika ada gada di tangannya saat ini.

”Ini.” Niordri tersenyum sambil meraih sebatang logam panjang dari bawah kursinya. Ia menimang-nimangnya sesaat sambil memandangi senjata itu. ”Aneh. Hanya batang logam biasa. Kenapa ujung gadanya tidak keluar, ya? Seperti yang kulihat kemarin.”

”Itu ...” Fares mengatur napasnya supaya tak lagi gugup. Telapak tangan kanannya terulur, terbuka meminta gadanya. ”Hanya aku yang bisa mengeluarkannya.”

”Begitu?” Niordri mengangguk-angguk.

”Tuan, gadaku ...” Fares menjulurkan tangannya lebih jauh.

Niordri menatap Fares beberapa lama, lalu tersenyum. ”Ya, ya. Tentu saja.” Lelaki itu mengangkat batang logam tersebut, dan meletakkannya di tangan Fares. Begitu Fares menggenggamnya, seketika itu pula ujung itu mengembang membentuk bola raksasa, seakan senjata tersebut gembira bisa kembali kepada tuannya.

”Ah ...” Niordri menyeringai. Matanya menatap lekat ujung gada itu tanpa berkedip. ”Memang senjata yang luar biasa.”

”Ya ...” Fares meletakkan senjata itu di sampingnya. Begitu ia melepaskan tangan, senjata itu kembali ke bentuk awalnya. Ia merasa lebih nyaman begitu Gada Geledek kembali berada di sisinya.

Niordri melipat kedua tangannya. ”Nah, Fares, setelah kau lebih tenang sekarang, mungkin kau bisa menjawab pertanyaanku.”

”Pertanyaan?”

”Kenapa pasukan Akkadia mencari kalian?”

”Soal itu ...” Fares menggaruk kepalanya mendengar pertanyaan Niordri.

”Rahasia?” Niordri tersenyum kecil.

”Ya, seperti itu.”

”Aku mengerti. Tetapi kuberitahu, pasukan Akkadia sudah disebar ke setiap sudut kota. Kau tidak akan bisa lagi berkeliaran dengan bebas. Apalagi kalau kau hendak mencari teman perempuanmu. Kau berniat untuk itu, bukan?”

”Memang. Tetapi tetap saja, aku harus mencarinya.”

”Aku bisa menunjukkan jalan yang aman, kalau kau tak keberatan.”

”Kau bisa?”

Niordri tersenyum. ”Kau mau ke mana?”

”Kurasa ...” Fares teringat Kaszhar dan kedainya. ”Aku akan ke utara, menemui seseorang. Mungkin ia bisa memberiku informasi.”

”Kau benar-benar tak keberatan aku membantumu?”

”Tentu saja tidak.” Fares tak berpikir panjang. ”Aku senang.”

1
Rin
bingung mau baca yg versi ini duluan atau baca ulang versi bukunya yg aku baca pas sd🫣
Ulun Jhava
Razhard keren😎😎
Ulun Jhava
javad ceroboh
Ulun Jhava
mantap
adi_nata
108 bab yang terasa singkat.

walau ber dasar pada sejarah, ternyata novel ini lebih kental akan nuansa religi.

thanks a lot.
adi_nata
jalan yang pasti berat untuk Fares memperjuangkan cintanya pada Naia.
adi_nata
Teeza sudah dibutakan oleh dendam dan tidak bisa berfikiran jernih.
adi_nata
Rahzad berkata seperti itu bukan karena dia tidak peduli pada Elanna, tapi dia sedang melakukan taktik tarik ulur.
adi_nata
Bargesi pasti sudah mati dan tubuhnya dijadikan cangkang oleh Nergal.
adi_nata
perempuan bertindak dengan perasaan, lelaki bertindak dengan logika.
adi_nata
Apa itu artinya ? Yang bisa mengerti artinya mungkin adalah Sang Terpilih yang sebenarnya.
adi_nata
Mereka dekat dengan sarang Gharoul ?
adi_nata
Rahzad memang sengaja digiring untuk menghancurkan pasukannya sendiri, agar ada alasan kuat untuk menyingkirkannya dari Akkadia.

Rahzad .. sudah masuk ke dalam perangkap perdana menteri Bargesi.
adi_nata
Mungkin memang bukan Ramir, tetapi Teeza lah Sang Terpilih itu.
adi_nata
aku rasa Davagni memang benar sudah bertaubat. makanya Nergal berkata seperti itu.
adi_nata
pada akhirnya, Rahzad hanya dijadikan boneka politik oleh Sargon.
adi_nata
jika Javad gugur, siapa yang nanti akan memimpin kerajaan Awan. apakah ini sudah dipikirkan ?
adi_nata
aku rasa .. keputusan Javad untuk terus maju di saat terjadi perpecahan di kubunya adalah keputusan yang gegabah.

mundur bukan berarti pengecut. apalagi dia berada di wilayah kekuasaan musuh dan jauh dari wilayahnya sendiri.
adi_nata
entah siapa yang benar siapa yang salah.
adi_nata
jika sudah masuk ke ranah politik, terkadang sulit membedakan mana yang baik dan mana yang benar.

seorang yang bersifat welas asih akan selalu ditentang oleh seorang ambisius berharga diri tinggi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!