Soraya Foster seorang guru yang mencintai muridnya sendiri bernama Ryan Mattiew. Kisah mereka semakin rumit ketika Soraya tiba-tiba hamil anak Ryan.
Hal itu membuat Ryan dikirim oleh kedua orang tuanya ke luar negeri agar berpisah dari Soraya.
Lima tahun kemudian Ryan kembali, dia sudah melupakan masa lalunya dengan Soraya dan sudah memiliki tunangan.
Saat ia kembali ke negaranya di situlah Ryan bertemu kembali dengan Soraya guru yang dulu adalah cinta monyetnya, dan dia menyadari ada anak kecil yang tumbuh bersama Soraya.
Akankah Ryan bisa kembali mendapatkan hati Soraya dan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22 • Kenyataan
Butuh waktu beberapa menit untuk berpikir. Sora tidak bisa mencerna otaknya, dia sedang dalam kondisi dilematis. Apakah alat tes kehamilan ini salah? Bisa saja bukan? Ataukah dia harus langsung ke dokter kandungan? Ya, itu yang harus Sora lakukan.
Dia keluar kamar mandi dengan langkah gontai. Ponselnya yang sejak tadi berdering dia abaikan. Ia tak peduli siapa pun yang menghubunginya. Pikirannya sedang kacau.
Sora berjalan pelan menuju ruang guru. Pandangannya kosong bak roh yang baru keluar dari raganya.
"Apa tanda-tanda awal kehamilan? Aku hanya mual dan tidak lebih? Apakah harus merasa lemas dan demam?" gumam Sora seorang diri.
Tiba-tiba punggungnya ditepuk seseorang dari belakang, membuatnya secara impulsif menoleh ke belakang.
"Dari mana saja kau, Sora?" Wajah tampan Ryan langsung menghiasi pandangan Sora. Apakah dia harus memberi tahu Ryan. Tapi ini belum pasti, ia takut jika Ryan tahu yang sebenarnya, mungkin saja pria ini akan meninggalkannya atau menyuruh dirinya menggugurkan kandungannya.
"Aku dari apotek, membeli sesuatu."
"Apakah harus sendiri? Aku bisa mengantarkanmu."
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu, Ryan."
"Hei... Lihat aku, Sora!" Ryan bergerak menghentikan langkah Sora dengan berhenti tepat di depan gurunya itu. Tangannya mengulur ke depan menyentuh pipi Sora dengan pandangan penuh cinta. Namun, dengan halus Sora menolak.
"Jangan melakukan adegan romantis di sini, Ryan. Ingat... ini sekolah!" ucap Sora dengan wajah yang malas, lalu melangkah pergi meninggalkan Ryan yang masih terdiam melihat tingkah aneh wanita itu.
Selama jam pelajaran berlangsung Sora tidak bisa berkonsentrasi, bahkan sering kali dia merasa mual karena janin yang dikandungnya. Aroma parfum yang biasa ia pakai kini membuat dirinya enek dan mual.
~•°°•~
Selepas pulang sekolah, Sora memberi tahu Ryan akan pulang sendiri. Namun, dia tidak mengatakan akan pergi ke mana setelah ini. Hingga Sora beranggapan jika Ryan akan percaya. Tapi tidak, Ryan bukanlah orang yang mudah percaya melihat perubahan sikap wanita yang paling dia cintai itu.
Tanpa Sora sadari Ryan membuntutinya hingga sampai ke sebuah klinik kandungan tidak jauh dari tempat tinggal Sora. Kening Ryan menyerngit melihat gadis pujaannya itu masuk ke sana.
"Apa mungkin Sora ham....?" Ryan tidak bisa melanjutkan kalimatnya sendiri. Tapi jika ini benar, Ryan tidak seharusnya menutup mata membiarkan Sora melewati semuanya sendiri. Bagaimana pun jika Sora hamil, janin yang bersemayam di rahim Sora adalah darah dagingnya.
Ryan keluar dari mobil dan ikut masuk dengan cara mengendap membiarkan Sora tetap meyakini jika tidak ada yang mengikuti dirinya dari belakang.
Kejauhan Ryan terus memerhatikan Sora, beruntung saat dia menunggu Sora keluar dari sekolah tadi, Ryan sempat mengganti baju hingga ia tidak harus memakai seragam ketika masuk ke sana.
Butuh waktu tiga puluh menit hingga Sora masuk ke dalam ruang pemeriksaan karena antrian yang begitu panjang.
Sementara itu Ryan harus bersabar menunggu sang kekasih keluar dari sana, dan memilih menunggu di ruang tunggu, hingga saat Sora keluar, gadis itu tahu jika Ryan menunggu dirinya.
Tak lama Sora keluar dengan membawa secarik kertas, wajahnya terlihat pucat seperti seseorang yang tengah frustrasi. Matanya langsung menangkap sosok Ryan yang tiba-tiba berdiri karena sejak tadi menunggu dirinya.
"Ryan?"
"Kau hamil anakku?" tanya pemuda itu dengan tegas.
"Aku... Aku...." Sora merasa kikuk, dia hanya ingin merahasiakan kehamilannya ini dari siapa pun. Tapi Ryan cukup cerdik karena mengikutinya hingga ke sini.
"Sora kita perlu bicara!" Ryan menarik tangan Sora keluar dari klinik kandungan sehingga membuat semua mata tertuju kepada mereka berdua.
Semangat, ditunggu up selanjutnya...
Semoga happy end ya, /Drool/
jadi korban