Wanita ingin dicintai dan memiliki mimpi seperti wanita umumnya, memiliki keluarga kecil yang harmonis. Setelah Dia begitu percaya dengan kekasihnya menyerahkan kehormatan, cinta sepenuhnya namun harus kandas. Wanita ini mengalami kehancuran yang sangat mendalam. Kekasihnya menghianati cinta suci, menghancurkan impian yang sudah dibangun, menghancurkan kepercayaannya. Pilihan hati bertahan mencintai kekasihnya atau Berubah mencintai Allah. Hanya ingin Berubah....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANG
***
Rara bangun subuh menyiapkan tas untuk pulang ke rumah. Badanya sudah terasa membaik, tidak lupa Ia memakan obat pemberian Galih. Sebelum meminum obat, Rara memakan bubur yang terletak di meja hias.
Jam 05.15 wib, segera turun menggunakan lift bergabung dengan rekan kerjanya.
"gimana keadaan mu Ra? " tanya pak Adnan
"Alhamdulillah sudah membaik pak" balas Rara dengan memberi senyuman.
Badan Rara masih terasa lemas, Ia kembali duduk diruang tunggu. Menunggu rekan kerja membayar dan check out dari hotel. Ketika beres mereka segera kembali menaiki travel yang sudah dipesan menuju ke Bandara Soekarno Hatta.
Serasa mimpi mengingat kejadian semalam... tidak pernah ku bayangkan harus berdiam diri ketika Bang Galih mengecup keningku.
Perasaan bersalah dirasakan Rara. Ia merasa bersalah terhadap istrinya. Jelas Rara mengetahui statusnya walau Bang Galih tidak pernah menceritakan pernikahanya.
Kembali Ia teringat ******** yang telah merengut kesuciannya. Air itu mengalir begitu saja, Rara belum sepenuhnya melupakan Dana.
ingin rasanya Ia memberi pesan kembali kepada Dana meluapkan emosi kepadanya. Hidupnya hancur ulah Dana. Rara merasa tidak pantas mendekati laki-laki yang baik. Perjalanan cintanya membuat Ia merasa tidak ada seorangpun yang bisa Ia dekati.
Sesampai di Bandara Depati Amir, Rara segera menderek tas menunju keruang tunggu. Kakak ipar yang akan menjemput rara. Terlihat di ruang tunggu, Kakak iparnya sudah lama menunggu. Pak Adnan menumpang ikut ke mobil. 1 jam perjalanan dari Bandara menuju ke kabupaten tempat Ia tempati.
Pak Adnan berhenti di seberang Toko, rumahnya tidak terlalu jauh dari belakang Toko. Tak lupa Pak Adnan berucap terimakasih kepada Rara dan Kakak Iparnya.
Hanya butuh 5 menit sampai kerumah kediaman Kakak perempuan Rara. Daffa dan chantika berlari memeluk erat di tubuh Rara. Keponakan Rara yang sangat menggemaskan terlihat begitu rindu kepadanya.
Rara segera memasuki rumah dan membawa koper diikuti dengan keponakannya. Chantika ikut nimbrung membongkar isi koper yang dibawanya. Sedangka Daffa sudah sibuk dengan mainan dibawak Rara.
"cha jangan ganggu tante dehhh... tante tu capek, mandi dulu Ra" ucap Kak Cici
"iiyyaaa...." sahut Rara.
Selepas mandi Rara berpakaian, hendak membuka pintu handphone Rara berdering. Ia lirik Handphone yang berada di atas meja belajar, tertulis Fadly. Rara segera mengangkatnya. Senyum bahagia terlihat diwajahnya. Segera Ia menerima panggilan itu.
"hallooo..." sahut Rara bersemangat.
"dimana?" tanya Fadly seberang pulau.
"Dirumah... kamu?"
"Dirumah juga... bagaimana keadaan sekarang?"
"Alhamdulillah sehat" Rara menyandarkan bahu dinding seraya mengulum senyum kebahagian.
"Sudah makan?"
"belum... baru aja mau makan"
"makanlah dulu ya..."
"okkeee..."
Rara mengakhiri telpon dan mengembalikan handphonenya keposisi semula. Belum lama Ia menaruhnya keingat belum memberikan kabar ke Galih.
Rara memainkan jemarinya mengirimkan pesan ke Galih.
bang... Rara sudah sampai kerumah.
Setelah terkirim, Rara segera keluar dari kamar dan bergabung dengan Kakaknya di ruang TV.
"Bagaimana keadaan sekarang? Masih sakit?" Tanya Kak Cece.
"Alhamdulillah sudah sehatan kak" jawab Rara sambil baring di kursi malas.
"Galih sepertinya perhatian banget sama kamu... kenapa ga sama Dia aja? " Tanya Kak Cece menyelidiki.
Cece mengetahui adiknya Rara masih belum move on dari Dana. Cece juga khawatir dengan adiknya yang selalu murung dikamar, terkadang Cece mendengar tangisan Rara.
Cece tidak tahu apa yang telah terjadi pada Rara. Cece hanya ingin adiknya bisa melupakan Dana dan kembali ceria seperti dahulu.
"yang benar aja kak... Bang Galih itu sudah menikah" jawab Rara masih asyik mengunyah cemilan kentang goreng.
"Lahh... kok perhatian banget..." Tanya Cece penasaran.
"sudah dianggap adek sendiri soalnya... wajar aja perhatian kak..." jawab Rara acuh.
"Oyyaa mau kakak kenali dengan Ferdinan ga? Dia putih, cakep, sudah PNS, sudah punya mobil sendiri dan rumah sendiri masih muda lagi. Kakak kasih nomor telpon mu ya..." Ucap Cece merayu.
"Mana mau lah Dia sama Aku yang item jelek ini, belum lagi Aku masih honor disini. Ogahhh ahhh... Aku juga masih enak sendiri bebas." Jawab Rara mulai risih.
"ihhh kamu ini yaaa dikasih yang bagus ga mau..." Cece kesal mendengar jawaban adeknya.
"Bukan gitu kak... pastinya Dia ga mau sama Aku..." rayu Rara melihat Kakaknya mulai kesal dengannya.
" Dicoba aja dulu, berteman aja dulu..." Jawab Cece kembali semangat.
"Hmmm baiklah... kasih lah nomor ku" Rara kembali ke kamarnya.
"okee... kakak sudah kasih nomor kamu dengan Ferdinan. Dibalasss yaaa..." Cece setengah berteriak.
Didalam kamar, Rara menghela nafas dengan panjang. Bukan Ia tidak mau diperkenalkan seorang laki-laki yang baik. Hanya saja Rara belum siap dan masih belum percaya diri. Kekurangan yang dimilikinya serta status dirinya yang tidak suci. Rara takut perkenalannya malah membawa petak untuknya. Bertahun-tahun menyimpan rahasia dirinya agar tidak diketahui keluarganya.
Rara ingin membuka hati jika laki-laki itu bisa menerima setiap kekurangannya. Apa lagi status dirinya yang tidak perawan.
Rara merebahkan tubuhnya di kasur single yang tidak terlalu luas. Ia memejamkan mata dan meresapi setiap kesedihan yang Ia terima.
Apa ada laki-laki yang mau menerima ku???
Aku wanita kotor... yang tidak menjaga mahkota dan harga diri sendiri.
Rasa lelah dan beban fikiran membuat Rara terlelap dalam tidurnya. Hingga teebangung jam 3 subuh. Rara meraihi handphone disamping Ia tidur melihat jam dan membaca pesan yang sudah bertengger di layar depan handphonenya.
Ada beberapa panggilan tak terjawab nomor tidak dikenal dan Bang Galih. Dan ada beberapa pesan dari Bang Galih serta teman-teman Rara dikantor.
Rara membaca pesan pertama dari Bang Galih :
Alhamdulillah klo sudah sampai.
pesan kedua :
Dek... abang pgen ngmng, abang telpon ya...
pesan ketiga :
sdh tidur ya... met bobok cew cantik 😍
Rara hanya tersenyum melihat pesan dari bang Galih. Raaa bahagia itu ada. Kembali Rara membuka pesan dari teman-temannya.
Pesan dari Eli :
uyyy sudah nyampe yaa??? kekantor ga bsok?
Pesan dari Linda :
Say... klo ke kantor bsok jgn lupa bawak o2
Rara membalas pesan satu persatu dari Bang Galih hingga teman-temannya. Bahagia itu simpel, jika kita bisa menikmati hidup bahagia itu pasti ada. Namun jika kita lebih banyak menyimpan kepedihan dan kesulitan maka kebahagian akan menjauh dari kita.
Rara salah satu perempuan yang menyimpan kesedihan sehingga kebahagian yang Ia rasakan hanga sebatas beberapa jam saja. Ia lebih merasakan kepedihan yang Ia simpan terus menerus.
Rara belum benar-benar mengikhlaskan kepedihan itu. Rarà dipenuhi rasa takut dan khawatir yang berlebihan. Menjadi orang yang belum bisa membuka hati kepada siapapun.
Fadly mampu membuat Ia tersenyum bahagia, namun prinsip Rara lebih kuat. Ia tidak mampu berpacaran dengan Laki-laki yang relatif muda.
Rara terus berusaha merubah dirinya menjadi lebih baik dan menjadi wanita muslimah sesungguhnya. Proses belajar membutuhkan waktu relatif lebih lama dari dibayangkan Rara.
lebay. pliis la karakter cewe terobsesi model Sarah gini dikasi panggung banget m penulis.
hrsnya dia dpt pelajaran la. bukan dgn org baik yg hrs berkorban buat dia.
capedee. part yg bikin males dibaca
padahal kan Dia sudah menyerahkannya pada Danil
mungkin ini maksudnya Tanya Danil bukan Cleo
yang terpenting disini adalah mau berubah dan memperbaiki diri dan Istiqomah