Rara wijaya wanita yang cerdas, baik hati dan termaksud gadis pemberani. Dia harus menikah dengan Rendy Handoko seorang CEO muda. Pria yang memiliki penampilan yang tampan dan kepribadian yang sombong.
Dari awal pertemuan mereka sudah mengibarkan bendera perang.
Rendy merasa Rara menikahinya karena harta. Oleh karena itu Rendy selalu berkata kasar kepadanya.
Sementara itu Rara yang memiliki kepribadian ceria harus berubah seratus delapan puluh derajat untuk meruntuhkan kesombongan suaminya.
Tidak ada hari tanpa keributan dan kecemburuan di antara pasangan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ylfrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22
Beberapa hari kemudian ketika di rumah sakit, keluarga Rara, Angga dan Raisa sedang melihat keadaan Rara yang masih terbaring di tempat tidur. Rara belum juga menunjukkan perubahan, rasanya tidak ingin bangun dalam waktu dekat, begini saja sudah cukup, tidak apa menyusahkan mereka, toh biasanya mereka yang menyusahkan Rara.
Pak Adit menepis air matanya melihat keadaan anaknya saat ini. Tidak ingin berlama-lama ia mengajak anak dan istrinya untuk pulang ke rumah, karena mereka juga butuh istirahat agar mereka punya tenaga untuk menjaga Rara secara bergantian.
Kini hanya tinggal Raisa dan Angga. Raisa menggenggam tangan sahabatnya. Raisa ingin segera melihat senyuman Rara kembali, Rara pikir dalam tidur panjangnya ia masih bisa tersenyum.
"Ra kau cepat bangun dong?" tutur Raisa
"Kali ini aku berjanji tidak akan menyakiti mu, terutama memisahkan kau dengan Angga!" permintaan Raisa sungguh di luar kendali
"Raisa..." Ucap Angga dan langsung melihat keseriusan dari wajah gadis itu
"Kau hidup bahagia sama Angga ya? Cepat bangun, lupakan soal kau yang sudah menikah, aku ikhlas" ucapnya, kenyataan nya itu semua hanya di ucapan sedangkan hatinya berkata lain,
Raisa dengarkan Rara, Rara tidak akan mengambil sesuatu yang sudah menjadi milikmu.
Angga langsung menarik tangan Raisa untuk meninggalkan ruangan itu. Ia membawa Raisa ke arah taman rumah sakit.
Sesampai di sana Angga menatap Raisa yang menundukkan kepalanya, Raisa juga bingung dengan kondisi saat ini, karena beberapa hari yang lalu Angga sudah mengatakan kata putus. Angga menghela nafas, sebelum menanyakan itu semua kepada Raisa.
"Apa maksud kamu?" Tanya Angga cukup serius
"Kita sudah putus dan kau yang meminta itu, dan hari ini aku mengiyakannya!" Sambung Raisa tersenyum kecil dan pergi begitu saja meninggalkan Angga
Bagi Raisa mungkin ini sudah jalannya, ia akan menerima semuanya dengan lapang dada. Menyesali keadaan tidak akan membuatnya kembali lagi.
Angga terdiam mengingat beberapa hari yang lalu. Karena keegoisannya yang sementara kini Raisa benar-benar meninggalkannya.
Raisa kembali lagi ke ruangan dimana ada Rara di rawat. Ia mengecup kening Rara dan berpamitan untuk pulang.
Dan sebelum meninggalkan rumah sakit, Raisa sempat mengintip Angga yang masih berdiam diri di taman.
Raisa menipis air matanya. Namun, bibirnya tersenyum untuk hal yang ia sendiri tidak mengerti.
Sepenggal masa lalu terlintas di ingatan Raisa. Dimana hari itu ia menyukai dan menyatakan perasaannya kepada Angga.
Tepatnya tiga tahun yang lalu. Malam dengan rintik hujan, dan riuhnya angin malam ikut menerbangkan rambutnya. Raisa berlari ketika melihat pria itu keluar dari kantornya.
Oh iya, perkenalkan saat ini Angga juga menjabat di salah satu perusahaan besar. Ia sebagai salah satu CEO di sana. Angga melanjutkan bisnis itu karena menggantikan posisi Ayahnya. Dan Angga juga anak pertama dari empat bersaudara. Adik-adiknya masih duduk di bangku sekolah dan mereka satu keluarga berjenis kelamin laki-laki semua.
Angga menyayangi Mama dan adik-adiknya, apapun akan ia lakukan untuk keluarganya itu, termasuk mempertahankan perusahaan ayahnya.
Raisa tidak mempedulikan rintik hujan yang semakin deras, rintikan hujan itu mulai membasahi seluruh tubuhnya. Angga yang sudah menyediakan payungnya sedari tadi, sedikit menarik tubuh Raisa mendekatinya agar wanita itu tidak bertambah basah dan kedinginan.
Raisa tersenyum dan merasa yakin untuk menyatakan cintanya detik itu juga.
Perihal di tolak, nanti ia pikirkan lagi
"Aku menyukai kamu, Angga aku menyukai kamu! Aku banyak menyukai tentang mu!" Ucap Raisa tersenyum manis dan ia sangat yakin dengan ucapannya
"Aku tidak peduli kau sahabat aku, aku tidak peduli siapa kau, yang aku tahu aku mencintai kamu, karena yang aku tahu juga tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang tidak menyimpan perasaan"
"Aku menyukai kamu satu tahun, dua tahun? Tidak! Ini sudah bertahan selama delapan tahun" Sambung Raisa dan Angga masih terdiam memandangi gadis itu. Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Seorang Raisa menyatakan cinta kepadanya
Bahkan Raisa juga tahu Angga sangat-sangat menyukai Rara saat itu. Tetapi Raisa tidak peduli. Rara sudah menghilang dan Rara tidak pernah kembali menemui Angga. Rara membiarkan Angga begitu saja menunggunya, Rara tidak ingin menghampiri laki-laki itu lagi.
Dan kini, Raisa berlari menghampiri Angga, Raisa dengan percaya diri ingin bersama Angga. Ia tidak peduli di terima atau di tolak. Raisa percaya hatinya akan di tenang jika sudah memberitahukan kepada pria itu.
Raisa menginjitkan sedikit kakinya. Ia tanpa ragu mencium bibir Angga yang masih terdiam dalam kebingungan. Angga kaget dan tanpa sengaja melepaskan payung yang di genggamnya. Kini mereka sudah basah bersama
Dan ketika Raisa tersenyum manis kemudian berniat meninggalkan Angga. Tangan Angga menahannya dan pria itu membalas ciuman Raisa. Mereka berciuman cukup panas sampai Raisa mendorong sedikit dada Angga.
Angga menghentikan ciumannya dan memeluk Raisa dengan senyuman khas yang di milikinya.
"Mari kita berkencan!" Bisik Angga di telinga Raisa.