NovelToon NovelToon
Sepetak Ruang Gelap

Sepetak Ruang Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Pembunuhan / Kriminal / Sudah Terbit
Popularitas:576.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dwi Wahyudi

Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.

Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.

Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.


~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 22 "Concussion"

Beruntung dalam waktu yang sangat mepet ini ada event organizer yang menyatakan sanggup mengatasi pengaturan, pengelolaan dan penyelenggara acara pernikahan kami. Sehingga kami hanya tinggal menanti hari "H" saja.

Seminggu tentu bukan waktu yang cukup untuk pemulihan. Setidaknya keputusanku pindah ke rumah sakit terdekat dari rumah sudah terlaksana. Rumah sakit ini, kedua kalinya aku ke sini. Begitu terasing di ruang perawatan, sepintas aku teringat Mbak Rini, perawat yang dulu merawatku.

Kuingat juga tragedi yang pernah terjadi di rumah sakit ini. Lalu perlahan pikiranku mulai berkutat pada rentetan horor dan misteri yang kualami.

Entahlah, tak banyak yang bisa kulakukan dengan keadaan seperti ini selain melamun. Perlahan waktu berlalu dalam pikiran-pikiran yang tak tentu.

Semakin banyak berangan-angan terkadang membuatku tiba-tiba pusing. Bahkan aku sudah muntah dua kali di kamar mandi semenjak Nirmala pulang. Setelah menaruh dompet dan HP-ku di laci meja ruang perawatan tadi dia berpamitan. Aku tahu dia pasti sibuk menyiapkan segala sesuatu yang tidak termasuk urusan event organizer. Apalagi ibunya di rumah juga dalam keadaan yang kurang sehat.

Pak Asmudi yang tadi siang aku hubungi telah datang menjenguk, membawakan pakaian, sekaligus melaporkan biaya dan progres renovasi rumah.

"Pak Asmudi ingat siapa yang meminjami jaket malam itu?" tanyaku sambil mentransfer sejumlah nominal ke rekening Pak Asmudi lewat mobile banking.

"Panggilannya Anton, tetapi sudah tidak ikut bekerja lagi. Katanya merantau ke Kalimantan. Memang ada apa, Pak?"

"Bukannya apa, hanya saja jaket itu hilang."

"Oh, soal itu dia sudah bilang. Waktu pamitan, saya ingatkan tentang jaket itu, tidak apa-apa katanya."

"Benarkah? Dari mana Pak Asmudi mengenalnya?"

"Katanya dia pernah ikut proyek bandara di Jogja tapi beda lokasi dengan kru saya. Minta ikut kerja sementara di rumah Pak Dharma ya saya ikutkan saja."

"Oh, begitu."

"Tadi pagi ada paketan datang, Pak."

"Dari?"

"Pengirimnya Kawilarang, kado pernikahan. Sudah saya simpan di kamar Bapak kok. Berat banget kadonya diangkat empat orang."

"Padahal pernikahan masih enam hari lagi ya."

"Hehehe. Iya, Pak. Rumah barunya juga sudah siap kok, tinggal finishing atap, cat tembok dan menyelesaikan taman saja."

"Memang Pak Asmudi ini bisa diandalkan."

"Namanya juga kerja borongan, Pak. Oh iya, kok bisa ketemu rampok bagaimana ceritanya, Pak?"

"Namanya juga musibah, Pak. Tidak usah diingat lagi lah, yang penting masih selamat," jawabku menutupi cerita yang sebenarnya.

"Iya, maaf"

"Sudah masuk transfernya ya?"

"Iya ini sudah," jawab Pak Asmudi sambil melihat HP-nya.

Tiba-tiba kepalaku pusing sekali. Kupandangi wajah Pak Asmudi semakin kabur. Aku tak sanggup berpikir apa-apa. Ucapan Pak Asmudi pun tak dapat kudengar karena telingaku berdenging, hanya bayang-bayang mulutnya terlihat bergerak seolah bertanya sesuatu. Lalu dia berlari meninggalkanku, sendirian ....

***

Terbangun dengan pikiran kosong, beberapa wajah menatapku khawatir. Perlahan aku mencoba mengingat nama-nama mereka. Susah ... aku tak mendapat satu nama pun.

Siapa pemuda-pemuda itu?

Siapa ibu tua itu?

Siapa gadis cantik berjilbab itu?

Dia terlihat paling cemas.

Siapa aku?

Celaka. Aku bahkan tak mengingat namaku sendiri!

Aku semakin bingung dan tak bisa berkonsentrasi. Semakin mencoba, semakin pusing. Entah apa yang terjadi, ruangan ini seperti berputar. Semua menjadi gelap.

***

Seseorang laki-laki berpakaian dokter sedang memeriksaku di bagian kepala ketika aku tersadar. Ada wanita di sampingnya menggunakan seragam yang hampir sama. Lalu satu lagi wanita berkerudung jingga terlihat cemas duduk di samping ranjang.

Dokter itu tampak asing, tetapi kedua wanita tersebut sepertinya aku kenal. Belum sempat aku mengingat, tiba-tiba dokter menyorotkan sesuatu ke mata, silau cahayanya menyakitkan. Kemudian bagian telinga dan leherku tak luput dari pemeriksaannya.

Ada apa ini?

Aku ingin bertanya sesuatu. Namun, pikiranku seakan sebuah kamus penuh kata sedangkan aku tak bisa merangkainya.

Sebuah amplop cokelat mereka buka. Kebingungan belum mengerti apa-apa, aku mendengar mereka bercakap-cakap.

"Bagaimana, Dok?" tanya si wanita berkerudung jingga.

"Benturan di kepala bisa jadi sesuatu yang menakutkan. Biasanya, cedera luar tidak parah. Tapi, kadang-kadang bisa ada gegar otak, pendarahan di otak, atau retak pada tengkorak," ucap dokter tersebut sambil melihat sebuah hasil CT [*] scan.

"Seberapa berbahaya itu?" Wanita berkerudung jingga itu nampak ketakutan.

"Dengan adanya pendarahan di telinga dan dilihat dari hasil CT scan ini, tampaknya terjadi fraktur dan sedikit pendarahan tengkorak. Saya sarankan segera lakukan pemindaian otak melalui tes MRI [**] untuk memeriksa area lobus frontal dan temporal."

Semua terdiam, kemudian menatapku. Apa-apaan ini, kurasa aku hanya bisa menggerakkan bola mata saja. Itupun tak mampu fokus. Mulutku tak sanggup mengucap larik kata-kata di benakku.

Halo ... apakah kalian mendengarku?

***

Sepanjang malam aku gelisah. Rentetan mimpi buruk menghantuiku. Berkali-kali aku tertidur lalu terbangun. Hingga aku tak tahu bagian mana yang sebenarnya mimpi atau yang benar terjadi.

Tak biasanya suara AC sekeras ini. Mengapa juga lampu-lampu begitu menyilaukan?Seorang pria muda tertidur di sofa, siapa dia? Jempol kakinya yang putus separuh seperti mengingatkanku pada sesuatu.

Sedangkan di lantai, seorang pria sedang mendengkur di balik sarung. Sungguh dengkurannya sangat keras dan mengganggu.

Di mana wanita berkerudung jingga tadi? Mengapa aku berharap dia yang ada di sini saat ini?

Nirmala?

Ya, betul!

Wanita yang tadi siang pasti Nirmala!

Dia adalah calon istriku.

Tunggu ... calon istri?

Kapan kami akan menikah?

Sepertinya tinggal beberapa hari lagi.

Hari apa ini?

Tanggal berapa ini?

Kami akan menikah tanggal 29 Februari.

Ah, kepalaku terasa begitu sakit.

***

Mentari belum begitu tinggi, cahaya oranye menerobos masuk lewat sela-sela tirai di kaca jendela. Jam dinding menunjuk pukul 06.30, tampak jarum panjang menindih jarum pendek yang lamban itu.

"Siapa namamu?"

"Dharma Wasesa"

"Kamu kenal dia?" dokter itu menunjuk seorang pria paruh baya.

"Beliau adalah Pak Prasetya Andika, calon mertuaku."

"Lalu dia?" Menunjuk seorang wanita.

"Dia segalanya bagiku. Namanya Nirmala Eka Putri, calon istriku."

Tampak seisi ruangan tersenyum gembira. Biarlah, cukup aku yang merasakan kehampaan ini. Banyak ingatan yang belum kembali, sedangkan caraku berfikir terasa lambat sekali. Bahkan semalam saat memainkan game anak-anak di HP, seringkali fokusku berhenti.

Saat dokter menyuruhku berjalan, seakan kakiku menapak di gundukan duri. Bukan karena sakitnya, tetapi ketakutan tak nyata atas rasa sakit itu sendiri. Sedangkan gravitasi seolah mengodaku ke kanan dan ke kiri.

Apa kini aku tampak seperti balita yang belajar berdiri?

Tiga hari, tidak, bahkan tak genap 2,5 hari lagi. Aku harus bertahan pada kewarasan ini. Pernikahan kami tak boleh dibatalkan, apapun yang terjadi.

(Bersambung)

1
Aryani M.S
mudah2n aku bisa jadi penulis horor kek kamu thor
Erni SS
Makin seru bikin penasaran
Erni SS
Luar biasa
Erni SS
Lumayan
Niswah
ngeri and seruuuuu
Niswah
Luar biasa
Sinta Dwi lestari
g
Anik New
sumpah serem fotonyas
Anik New
ikut ngoss ngosan aku🤭🤭
IG: _anipri
inikah racauannya?
IG: _anipri
kalau aku takutnya kalau ada katak? hii, takut katak aku. apalagi rumahnya banyak lumut dan masih lembap
FJ
update lagi dong Kak sampai Tamat
deyura
Aku berhari hari maraton dan belum sempet like, huhu. Sukaa! plot twist banget ceritanya. Semangat Thor!
Liani Purnapasary
astaga kagett aq, ga berani lihat tutup mata 😅😅
💎hart👑
👣👣👣
Aqilla
ninggal jejak
tamatin yg versi darma dulu dong
pengejaran darma ga dilanjutkan ini?yahhh padahal lagj seru2 nya..kenapa bab selnjutnya mlh ganti yg versi nirmala
cerita negri sendiri pun jika dikemas dengan baik serta pas akan menjadi menarik..seandainya di filmkan pasti sangat meren karena berbagai genre di sematkan romantis,action,mistis,horor,misteri,petualangan.walaupun nonfiksi(tetapi masih bs ditelaah secra logis dan realistis?tetapi bnyak sekali pembelajarannya.
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.
adik damar balas dendam itu.apa mungkin inspektur reyhan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!