Aku hanya tertidur di atas kasur yang empuk, setelah menikmati waktu berdua bersama tunanganku. Tapi, ketika aku membuka mata, tubuhku sudah berada di tempat yang berbeda.
Semuanya bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang harus di hadapi. Aku tiba di dunia asing bersama mereka.
Tudung dan jubah merah yang ku kenakan saat tiba di dunia ini, membuat kami mendapat julukan baru "redhuman" begitulah sebutannya.
Orang yang tiba di tempat ini adalah orang-orang yang memiliki hidup paling menyedihkan, termasuk aku. Bunga kristal telah memilih kami, maka kami harus bertahan hingga akhir.
Namun di saat itu, aku menemukan kenyataan lain mengenai diriku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marthy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 22
Setelah kejadian malam itu, putri Adel kembali ke tempat asalnya. Dia tidak mengatakan apapun pada orang-orang soal kejadian malam itu. Mungkin, dia sedang merencanakan hal lain.
Hari ini adalah hari ke 42, tinggal 48 hari lagi kami berada di sini. Aku tidak berharap hari-hari yang akan datang akan lebih baik, karena itu tidak mungkin.
"kau terlihat sangat menyukai pemandangannya" ucap Basra.
Saat ini, aku sedang berada di atas tebing Gievnielta bersamanya. Dia menemuiku dan mengajakku ke tempat ini.
"tentu saja. Tempat ini sangat indah" jawabku.
Angin di atas sini tidak terlalu kencang. Padahal seharusnya, semakin tinggi suatu tempat semakin kuat hembusan anginnya. Tapi, disini sangat nyaman dan kalau tertidur, mungkin aku akan tidur dengan nyenyak.
Aku menarik nafas dan menghembuskannya.
"ada apa?" tanya Basra.
"hm?"
"kau terlihat sedang memikirkan sesuatu"
"ohh... iya"
"ceritakan saja" ucapnya.
"sampai sekarang, aku tidak tau apa yang terjadi pada Ziya. Dia belum sadar hingga sekarang" ungkapku.
"dia hanya tertidur. Dua hari lagi dia akan segera sadar" ucap Basra.
"benarkah?"
Basra mengangguk.
"darimana kau bisa tau?" tanyaku.
"tidak jarang aku melihat kasus seperti itu" jawabnya.
Aku pun mengangguk tanda mengerti.
"apa kau sudah berhasil menemukan cara untuk melihat bunga itu?" tanya Basra.
Entah kenapa, aku langsung mengingat perkataan Louna sebelum dia mati.
"tidak" jawabku.
"kau tidak perlu khawatir dengan perkataan wanita itu. Matamu hanya bisa di gunakan olehmu. Jika mereka mengambilnya, mata itu tidak akan berguna sama sekali" ucap Basra seakan tau apa yang sedang aku pikirkan.
"tapi, hari itu kau juga..."
"aku hanya asal bicara" ucapnya.
"Aku akan melindungimu"
("kenapa dia ingin melindungiku? Padahal aku sama sekali tidak mengenalnya. Wajah di balik topeng itu pun tidak pernah ku lihat")
"apa mungkin kita pernah bertemu sebelumnya? Maksudku, selain di negeri ini" tanyaku.
"menurutmu?"
Perasaanku menjadi kesal saat mendengarnya.
("dia balik bertanya")
"kalau aku melihat wajahmu, mungkin aku bisa memperkirakannya" jawabku.
"aku akan memulangkanmu ke istana" ucapnya.
Aku mengeluh, karena dia sangat tidak ingin aku melihat wajahnya.
...***...
"sepertinya saya belum sempat berterimakasih dengan benar pada anda" ucap Tifa.
Tifa melihat Tristan sedang berlatih dengan beberapa orang lainnya. Dia pun memperhatikan pria itu.
Merasa di perhatikan, Tristan pun menghampiri Tifa.
"tentang apa?" tanya Tristan.
"kalung itu. Trimakasih karena telah mengembalikannya pada saya" jawab Tifa.
"tidak masalah. Lagi pula, benda itu memang milikmu, sudah seharusnya kembali padamu"
Tifa mengangguk.
"maaf karena telah mengganggu waktunya"
Tristan tersenyum. Lalu mengambil langkah dan kembali bergabung dengan yang lain.
("kenapa aku merasa senang?") pikir Tristan sambil tersenyum.
...***...
Di dalam sebuah ruangan. Dua orang wanita sedang menikmati hidangan di atas meja dan secangkir teh.
"bagaimana kabarmu, Selly?" tanya Eliana.
"seperti yang anda ketahui. Tidak ada seorang pun dalam keadaan baik saat ini" jawab Selly.
"kamu benar. Harusnya aku tidak bertanya" ucap Eliana.
"kita harus bergerak cepat sebelum penyihir itu berhasil lebih dulu. Apa kamu sudah menemukan caranya?" lanjutnya bertanya.
Selly menggelengkan kepalanya.
"sepertinya kita harus menemukan orang lain. Saya tidak yakin dia (Arla) bisa melakukannya"
"begitu kah? Bukankah selama ini dia menunjukkan ciri-ciri yang jelas?"
"benar. Tapi hingga saat ini, tidak ada petunjuk apapun mengenainya"
"waktu yang kita miliki tidak banyak. Hanya dia satu-satunya harapan agar perang tidak terjadi" ucap Eliana.
"saya akan mencari tau lebih banyak. Tapi, bagaimana pendapat baginda Raja tentangnya? Saya dengar, baginda bahkan tidak menemuinya. Hal itu menjadi perbincangan buruk di antara para bangsawan" tanya Selly.
"aku tidak tau. Aku juga merasa aneh dengan tingkah laku beliau" jawab Eliana.
Eliana terdiam sejenak.
"aku akan membicarakan hal ini pada putra mahkota. Kamu lakukan saja tugasmu dengan baik. Kita harus mencegah kebangkitan Madala" ucap Eliana.
"baik, tuan putri"
...***...
Pernah mendengar kalimat Recurring dreams? Atau mimpi berkelanjutan? Mimpi ini di alami oleh orang dewasa dan lebih sering di alami oleh wanita daripada pria. Aku rasa, aku sedang mengalaminya.
Cahaya yang bersinar terang adalah permulaan dari segalanya. Saat cahaya terang itu menghilang, terlihat seorang pria yang sedang berdiri sendirian di tengah keributan. Asher Jefferson, itu lah nama pria tersebut.
Dia telah menerima kekuatan yang besar dan Alam pun mendukungnya. Tapi, dia masih belum sadar dengan kekuatan yang di milikinya. Peperangan pun terus berlanjut hingga setahun kemudian.
Tidak ada pihak yang menang atau pun yang kalah dalam peperangan saat ini. Sehingga membuat kedua belah pihak terus menyerang dan terus mencari cara untuk menang. Walaupun hal itu memerlukan pengorbanan yang besar.
"kita harus berhenti, kalau terus begini akan ada banyak korban yang berjatuhan. Aku tidak ingin anak kita tumbuh di antara kekacauan" ucap seorang wanita.
"Althaia, aku berjanji padamu untuk segera mengakhiri ini semua" ucap Asher dengan penuh perhatian.
Althaia adalah wanita berambut hitam dengan mata berwarna hijau. Dia adalah dokter di kota itu, dia suka mengumpulkan tanaman herbal dan juga membuat obat-obatan, mengirim dan membantu banyak orang yang terluka saat perang.
Pria berambut coklat dan bermata ungu itu segera mengenakan pakaian perangnya. Sementara Althaia menahan Asher agar tidak pergi.
"bagaimana kamu bisa mengakhirinya? Kita bukan siapa-siapa. Kamu bukan raja yang bisa memerintah. Kalau perang ini tidak segera berakhir, maka kita semua akan mati" ucap wanita bernama Althaia itu.
"jangan mengatakan hal yang mengerikan seperti itu. Aku akan menjaga kalian berdua. Akan ku pastikan tidak akan ada yang menyentuh kamu dan anak kita" ucap Asher.
Asher pun mencium kening istrinya dan langsung pergi meninggalkan Althaia, dia menunggang kuda.
Cinta memang sulit di mengerti oleh siapapun. Selain itu, cinta juga menyukai pengorbanan. Mungkin, sebagian orang berpikir mereka akan bertahan hingga dunia menjadi lebih baik. Namun kenyataannya...
"kita tersudut! Mereka menyerang ibu kota!!!" ucap salah seorang prajurit.
Mendengar hal itu, Asher langsung menunggangi kudanya dan menghentak kudanya dengan cepat.
"Althaia!!! Althaia!!!" teriak Asher memanggil nama istrinya.
Di atas rumahnya yang sudah hancur, dia terus memanggil nama wanita itu, dengan harapan tidak terjadi hal buruk apapun. Namun, takdir berkata lain.
"Althaia!!!"
Asher menemukan Althaia di sudut bangunan yang telah runtuh. Saat itu Althaia sudah sekarat dengan panah yang tertancap di bagian perutnya. Asher pun langsung menghampiri wanita itu.
"lihat aku! Kamu akan baik-baik saja! Aku akan_" ucap Asher dengan wajah cemas.
"jadilah ayah yang baik" ucap Althaia.
"tidak. Aku akan segera mencari pertolongan"
Asher hilang kendali, dia seperti orang linglung yang tidak tau harus berbuat apa. Althaia pun menggenggam tangannya.
"aku melihatmu, duduk di atas kursi yang bersinar. Di bawahmu terdapat banyak orang yang menghormatimu" ucap Althaia.
"bertahanlah, Althaia" ucap Asher.
Althaia hanya tersenyum.
"berjanjilah untuk menyayanginya"
Althaia menunjuk peti yang berada di sebelah Asher.
"kita akan menyayanginya bersama" ucap Asher.
Mata wanita itu perlahan mulai terpejam. Asher melihat kesana kemari untuk mencari pertolongan dan terus berteriak, berharap seseorang datang untuk menolong mereka.
Tapi semua itu tidak ada gunanya. Ada yang mendengarnya namun berpura-pura tidak mendengar apapun. Mereka adalah manusia tidak berhati yang hanya peduli pada diri sendiri "untuk apa menolong orang lain, toh dia juga akan mati" seperti itu lah ungkapan hati mereka.
Hingga akhirnya, Althaia benar-benar meninggalkan semuanya. Asher adalah satu-satunya yang bersedih, wanita itu mati di atas pangkuannya.
Bayi berjenis kelamin pria telihat dari dalam saat Asher membuka petinya. Tatapan polos terlihat dari wajah bayi itu, dia memiliki rambut berwarna hitam dan mata berwarna ungu.
"Philander, anakku" ucap Asher.
...***...
cerita ter keren yg pernah ku baca
tetap semangat ya thor nulisnya
di tunggu kelanjutan nya.
up lg thor yg buanyaakk..
semangat 💪💪
semangattt
lanjut thor