Season 1 : BAB 1-119
Bercerita tentang suami istri beda profesi. Yakni, sang suami---Chandra Loey Abdinegara seorang Jenderal, tetapi kelewat polos, dan sang istri---Nadia Ruby Adriana seorang penyanyi sekaligus aktris yang kelewat gaul.
Mereka dijodohkan setelah para mantan masing-masing meninggalkan. Awalnya pernikahan mereka datar-datar saja(karena tidak saling mencintai). Namun, setelah melakukan LDR, tumbuhlah benih-benih rindu yang menjadi cinta.
SEASON 2 : Bab 120-?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lee Junhee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Johnny, Yuta, Dio, Danil, dan Alif kini berkumpul di rumah dinas Chandra, bukan tanpa alasan mengapa kelima pemuda yang kini telah tinggal di asrama kembali ke sana, hal itu dikarenakan mereka akan makan malam bersama istri jenderal yang katanya akan memasak untuk malam ini.
Nadia menyimpan koper besarnya di ruang tengah sembari disaksikan oleh kelima bawahan suaminya, tampak wajah-wajah tampan tentara itu tak sabar ingin melihat isi koper milik Nadia.
Chandra tidak ada di sana, karena pria itu sedang pergi ke puskesmas untuk meminta salep luka. Untuk itulah, Nadia ditemani memasak oleh rekan-rekan prajuritnya.
Krekk.
Nadia membuka retsleting kopernya sambil tersenyum, sembari yang lain menonton tak sabaran.
"Woah ...." Alif, si anggota paling mudah terlihat sangat takjub saat melihat isi koper yang dibawa Nadia. Nadia terkekeh pelan, dan para lelaki yang ada di sana pun cukup terkesan, apalagi Dio yang selama ini senang memasak.
"Kalian sudah lama 'kan, nggak makan kayak gini?" tanya Nadia dengan bangga.
Kelima pemuda itu mengangguk. "Iya, sudah lama nggak nemu sosis sama nugget huhu. Goreng goreng goreng!" ucap Danil yang sudah jelas sekali kalau hobinya makan. Teman-temannya yang lain pun melakukan yel-yel yang sama dengan Danil, tak sabar untuk menggoreng.
Satu-persatu Nadia keluarkan dari dalam koper bahan-bahan masakan yang dibawanya itu. Isi kopernya dengan susah payah Nadia angkut dari Bandung itu bak surga. Selain nugget dan sosis, Nadia juga membawa 10 pack bumbu spageti dan pasta, 5 pack keju, 5 pack nugget, dan 5 pack sosis, ada daging ayam siap saji yang tinggal digoreng atau dikukus, dan Nadia juga tentu membawa bumbu-bumbu instan sebanyak lima pack. Masih banyak lagi makanan lainya di dalam koper besar tersebut, tapi Nadia simpan baik-baik jika nanti mereka meminta.
"Wow! Kita makan enak!!"
"Benar udah bosan makan makanan organik mulu!"
"Hehe, ya sudah. Kita eksekusi aja gimana? Oiya, Dio dan Yuta ... kalian mau jadi asisten saya 'kan buat goreng-goreng?" ujar Nadia pada Dio dan Yuta.
"Tentu! Kami siap membantu, kami memang spesialis masak-memasak selama tinggal di sini!" ujar Yuta dengan semangat.
Dio mengangguk semangat dan langsung saja mengambil alih rupa-rupa makanan instan itu oleh kedua tangannya.
"Hm, Ong sama Alif siapin meja sama piringnya, ya. Kalau Danil sama Johnny kalian bisa sediain dessert-nya. Tadi, saya sudah bikin puding di dapur. Ayo ambil!"
"Horeeee!" ujar mereka bersamaan setelah menerima komando dari Nadia.
Nadia sangat senang karena dia bisa membuat teman-teman kerja suaminya tampak bahagia karena ia membawa banyak makanan instan yang sulit di temukan di Flores. Nadia sengaja membawa banyak, karena ia tahu jumlah mereka tidak sedikit, maka dengan jumlah yang melimpah pasti semuanya kebagian.
Nadia memperhatikan Dio menyalakan kompor berbentuk bulat yang bahan bakarnya masih menggunakan minyak tanah. Dio juga menjelaskan cara menyalakan kompor model lama tersebut.
"Tidak apa-apa 'kan kalau kompornya masih begini?" tanya Dio sambil menyalakan korek api.
Nadia mengangguk kecil. "Hm, nggak masalah. Kalau kompor gas juga saya nggak bisa isi ulangnya. Hehe, coba gimana?" tanya Nadia dengan wajah penasaran.
"Pertama naikkan dulu sumbunya. Nah, kalau sumbu sudah naik, kasih sedikit minyak tanah ke sumbu. Pakai ini." Dio menunjukkan sebuah tongkat kayu kecil yang sudah ia celupkan pada minyak tanah.
"Oh, habis itu?" tanya Nadia lagi.
"Baru deh bakar sumbunya."
Bush!
Nadia bertepuk tangan sambil tersenyum. "Wah, haha. Beneran nyala. Gampang juga, ya?"
Dio tersenyum tipis. "Ya, memang mudah. Tapi harus hati-hati, sumbunya jangan terlalu tinggi. Nanti apinya bisa menyembur ke wajah." beritahu Dio lembut.
Nadia menganggukkan kepalanya. "Kalau mau ngatur apinya gimana?"
"Mudah kok, tinggal turun naikkan sumbunya. Nih ada besi ini." tunjuk Dio pada bagian kompor yang fungsinya untuk mengatur nyala api.
"Nanti kalau minyak tanahnya habis, bilang sama Yuta aja. Biar Yuta yang isi ulang minyak ke kompor," ucap Yuta menawarkan bantuannya untuk Nadia.
"Oke."
Nadia pun mulai memasak bersama Dio dan Yuta, mereka pertama-tama menggoreng nugget dan sosis terlebih dahulu. Sambil berbincang, masakan pun hampir setengahnya selesai.
***
Sementara itu Chandra di puskesmas baru saja tiba, meskipun menggunakan motor trail untuk pergi ke puskesmas, tetap saja memakan waktu cukup lama karena Chandra juga sedikit berkeliling untuk mengontrol wilayah. Biasanya, jika Chandra menemukan warga setempat yang baru pulang bekerja atau bertani dia akan mengantarkan warga tersebut untuk pulang ke rumahnya.
Pria jangkung itu segera memasuki puskesmas dan menemukan seorang dokter jaga yang masih beroperasi di jam-jam terakhir sebelum benar-benar tutup.
"Syukurlah saya tidak terlambat," gumam Chandra saat melihat masih ada dokter jaga di sana.
Gadis yang mengenakan jas dokter stetoskop dan yang masih berada di lehernya itu pun mendongak saat mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Hari ini meskipun pertama kali tiba di Flores, dia sudah mendapatkan banyak sekali pasien yang tidak berhenti sampai sore, maka wajar saja jika sampai pukul 7.30 ini ia sudah terkantuk-kantuk di meja jaga.
"Permisi," ujar Chandra menyapa, awalnya Chandra tersenyum namun saat bertatapan dengan seorang dokter yang amat dikenalinya, wajah pria itu seketika berubah menjadi amat datar dan kaku.
Sebaliknya dengan Chandra, dokter wanita yang mulanya merasa kantuk luar bisa justru menatap Chandra dengan wajah berbinar dan bahagia. Kedua mata bulatnya dengan lensa cokelat yang bening menatap Chandra nanar, tidak lupa ada senyum rindu yang tersirat jelas di bibirnya.
"Chandra ...," ucapnya lirih.
Chandra tidak menanggapi panggilan itu, pria itu mengeratkan kepalan tangannya yang begitu saja terbentuk saat kembali dipertemukan dengan gadis dari tahun lalu.
"Saya pikir, saya tidak akan pernah bertemu kamu lagi!" ujar Nellie dengan tergesa dan langsung saja berhambur memeluk tubuh jangkung pria itu dengan erat. Nellie pun tidak merasa malu untuk menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu.
Chandra benar-benar diam, tak bergerak sama sekali di tempatnya saat ini. Sementara Nellie masih menikmati kerinduannya pada Chandra yang sudah cukup lama tidak ia temui. 1 tahun mungkin waktu yang singkat, namun 1 tahun tanpa adanya komunikasi dan perpisahan yang baik tentu menjadi hal yang amat berat yang dilewati Nellie seorang diri selama ini.
Nellie menangis ketika kedua tangannya melingkar di tubuh tegap dan hangat itu. "Saya ... saya mau menikah dengan kamu ... saya masih simpan cincin lamaran dari kamu waktu itu," ucap Nellie dengan senyum haru di bibirnya.
Nellie mendongak, dan menemukan Chandra sama sekali tidak menatapnya sedikit pun.
Membuat gadis itu mencelos dan tersenyum kecut.
"Ini, belum terlambat, 'kan?" tanya Nellie gusar.
Chandra memalingkan wajahnya sembari melepas tangan Nellie yang melingkar di pinggangnya. Susah payah pria itu menahan diri agar tidak salah bertindak. "Saya kemari untuk meminta salep luka untuk kulit sensitif. Bisa segera berikan," ucap Chandra tanpa menanggapi obrolan Nellie sebelumnya. Nada bicaranya seperti terkesan memerintah.
Nellie mengangguk, wajahnya memerah padam. Nellie jelas tahu betul kesalahannya, dan sepertinya tidak mudah untuk meluluhkan Chandra dalam satu hari kedatangannya di tempat ini.
"Hm. Sebentar," ujar Nellie dengan suara berat dan sedih.
Nellie mengambil sesuatu dari laci lemari yang ada di belakangnya. Karena penyakit kulit sering sekali menyerang warga Flores, maka akan sangat mudah bagi Nellie untuk menemukan salep di tempat tersebut tanpa bantuan perawat yang sedang beristirahat di belakang. Gadis itu menyerahkan salepnya pada Chandra yang langsung menyambarnya tanpa basa-basi sedikit pun.
"Kita harus bicara lagi! Saya akan temui kamu!" teriak Nellie saat Chandra menyalakan motornya.
Chandra melirik Nellie sebentar. "Tidak perlu, sudah tidak ada yang harus kita bicarakan."
Kini, Nellie hanya dapat menatap kegelapan di halaman kosong tersebut. Chandra pergi begitu saja tanpa setitik harapan sedikit pun. Dulu, sikap Chandra tidak seperti itu. Pria itu bahkan akan meladeni dirinya meskipun sedang kesakitan. Chandra akan menjadi sosok pendengar yang baik saat Nellie bersedih kala merindukan sanak keluarga yang sudah lama tidak ditemuinya. Dulu mereka sering menguatkan satu sama lain, dan sekarang, Nellie harus memulai semuanya dari nol, bahkan lebih jauh lagi dari nol.
"Maaf, ini salah saya. Harusnya, saya tidak menolak lamaran kamu waktu perpisahan itu. Harusnya saya mau." Nellie menangis seorang diri, memeluk tubuhnya bak orang kedinginan setelah Chandra benar-benar pergi.
***