Dia di tinggalkan oleh wanita yang ingin di lindungi nya.
Dia di campakkan oleh semua teman-temannya.
Lemah dan tak berguna membuatnya tersingkir dan terlupakan.
Tetapi karena tekad dan kesungguhan yang dia miliki, dia pun bangkit untuk menjadi yang terkuat.
“Aku saat ini memang lemah, tetapi di masa depan aku pasti berada di puncak kekuatan dunia ini!...”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam Monster Guild Silver Mask
Jangan lupa like sebelum membaca dan berikan komentar setelah selesai membaca.
Like dan komen itu gratis, jadi jangan ragu untuk memberikan itu pada author.... Terimakasih....
***
Keadaan Ibukota semakin buruk setelah puluhan portal acak muncul dan mengeluarkan banyak monster setingkat hunter tingkat A+. Ratusan bahkan ribuan hunter dari tingkat A sampai hunter tingkat Jenderal saling bekerjasama untuk menghancurkan portal acak yang terus bermunculan.
Karena banyaknya portal acak yang muncul, Guild yang berada di sekitar Ibukota mulai datang untuk memberi bantuan, termasuk Guild Nusantara dan Guild Padjadjaran yang memiliki markas besar di pinggiran Ibukota.
Untuk Guild menengah baru Guild Silver Mask yang menunjukkan taringnya, dan dengan arahan sang ketua, Guild Silver Mask cukup membantu membereskan beberapa monster yang mulai menyebar ke segala penjuru Ibukota.
Banyak warga sipil yang menjadi korban dari beberapa monster yang lepas dari pengawasan para hunter. Gubernur Ibukota Negara di detik itu juga menyatakan darurat keamanan di seluruh wilayah Ibukota.
“Ketua, sudah lebih dari seribu monster yang kita bunuh, tapi mereka seperti tidak berkurang, dan justru semakin bertambah banyak. Jika kondisi seperti ini terus, kita akan kewalahan karena rasa lelah dan kehabisan pil pemulih...” Apa yang dikatakan salah satu wakilnya membuat Daisy mulai merasakan perasaan khawatir pada keselamatan orang-orangnya, dan dia mulai memikirkan cara terbaik untuk mencegah jatuhnya korban dari orang-orangnya.
Namun saat ini pikirannya buntu, bantuan yang diharapkan datang dari Raka dan yang lainnya juga tak kunjung datang. Kalaupun datang, dia yakin jika Raka dan yang lainnya juga akan segera merasakan apa yang dia rasakan.
Kondisi semakin buruk seiring berjalannya waktu. Entah apa yang membuat monster-monster terus bermunculan di Ibukota, yang jelas jumlah mereka tak sedikitpun berkurang sejak pertama kali muncul.
Sekarang kondisi para hunter yang bertarung juga semakin buruk. Mereka hanya menyisakan beberapa butir pil pemulih HP dan MP. Setelah kehabisan pil pemulih, kemungkinan besar para hunter akan mundur, dan monster akan lebih leluasa berkeliaran di Ibukota.
Sementara itu tak jauh dari kemunculan portal acak, Raka dan lima sahabatnya tengah mengamati apa sebenarnya yang terjadi di Ibukota. Mereka menganalisis dan mencaritahu apa penyebab kemunculan portal acak yang sangat banyak, bahkan jumlahnya hampir genap seratus portal.
[Tuan, aku mendeteksi kekuatan yang lebih besar dari Kristal Kehidupan, dan aku yakin jika benda itulah penyebab munculnya puluhan portal acak di Ibukota...]
“Kamu memang bisa aku andalkan, lalu apa kami tahu dimana benda itu berada?...”
[Benda itu ada di langit dalam wujud energi kehidupan dalam jumlah melimpah. Karena tuan baru naik tingkat, lebih baik tuan tidak menyerap energi itu. Tuan bisa menggunakan gelang hunter kedua tuan untuk menyerap seluruh energi kehidupan yang saat ini tengah diperebutkan oleh ribuan monster yang ada di Ibukota...]
“Aku akan pergi ke tempat yang menyebabkan portal acak terus menerus keluar di Ibukota. Sementara aku pergi ke tempat itu, kalian bisa membatu Bu Daisy dan tunjukkan kekuatan baru kalian hanya kepadanya!...”
“Apa ketua tidak butuh bantuan?...” Tanya Cindi pada Raka.
Raka tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Mereka yang lebih membutuhkan bantuan kalian...” Ucap Raka menunjuk arah Daisy dan para wakil serta anggota Guild Silver Mask.
Aldo, Riki, Cindi, Gisel dan Laura segera pergi ke tempat Daisy untuk memberi bantuan pada ketua Guild mereka yang terlihat mulai kelelahan.
Sedangkan Raka, dia mulai terbang ke atas langit Ibukota untuk menyerap energi kehidupan yang kesemuanya akan berguna untuk meningkatkan kekuatannya beserta orang-orang yang dia anggap penting.
“Aura ini?... Aku bisa merasakan sebagian kecil dari energi ini memasuki tubuhku, dan sebagian besar terhisap ke gelang hunter keduaku...” Gumam Raka lirih.
Raka semakin tinggi mengangkat tangannya, dan dalam waktu singkat energi kehidupan yang sebelumnya menyelimuti seluruh langit Ibukota telah lenyap terhisap masuk ke dalam gelang hunter yang berada di tangan kanan Raka.
Setelah selesai menghilangkan energi kehidupan di langit Ibukota, dia melesat turun ke daratan dan mulai membantu kelima sahabatnya yang tengah dikeroyok ratusan monster tingkat S dan ada puluhan monster tingkat S+.
“Mereka sedang bersenang-senang...”
Raka melihat kelima sahabatnya tengah membantai monster yang mengepung mereka.
Di sekitar lima sahabatnya, Raka juga melihat ratusan hunter dengan mata membulat sempurna saat melihat apa yang dilakukan oleh kelima sahabatnya. Dari ratusan hunter, Raka melihat keberadaan hunter dari Akademi Garuda, dan tiga diantaranya adalah orang yang beberapa saat yang lalu baru dia selamatkan dari portal tingkat S.
Raka kembali memakai topeng hitamnya lalu secara tiba-tiba dia muncul di dekat Helen dan Rizka yang seketika terkejut saat melihat wujudnya.
“Aku kemarin sempat melihat wajah kalian di siaran tv, dan mendengar semua yang kalian ucapkan kepada reporter yang mewawancarai kalian. Kalian tahu, aku sangat kecewa karena kalian sama sekali tidak menyinggung apa yang sudah aku lakukan pada kalian, tetapi itu bukan masalah besar, setidaknya aku masih bisa membalas saat pertandingan yang tak lama lagi akan terjadi...”
Raka membalikkan badan dan berjalan lima langkah lalu sedikit menoleh untuk menunjukkan topeng berwarna silver yang saat ini dia gunakan.
Tubuh Helen seketika bergetar dan tak lama dia terjatuh saat melihat waena topeng yang digunakan Raka. “Di-dia, Guild Silver Mask!...” Ucap Helen dengan rasa takut yang mulai merasuk ke pikirannya.
Sedangkan Rizka yang berada di sisi Helen, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan dia merasa bahaya akan terus datang mendekatinya jika dia terus bersama Helen.
“Mungkin ini saatnya aku mempertimbangkan kembali sumpah konyol yang dulu pernah aku ucapkan...” Ucap Helen membatin sambil melihat enam anggota Guild Silver Mask yang tengah membantai monster, dan anehnya, jumlah monster kali ini mulai berkurang serta beberapa portal acak yang muncul juga mulai hancur.
Raka dan kelima sahabatnya segera membuat gempar seluruh Ibukota. Mereka yang belum lama ini datang telah berhasil membunuh ratusan monster yang setingkat dengan hunter tingkat S, bahkan monster tingkat S+ tak menjadi lawan yang sulit untuk mereka kalahkan.
Tapi beberapa hunter yang memiliki skill observasi segera merasakan keanehan saat mencoba melihat berapa di tingkat berapa Raka dan kelima sahabatnya. Seberapa keras mereka menggunakan skill observasi nya, mereka hanya melihat angka level 1 pada keenam orang yang terus membunuh monster yang mendekat kearah mereka.
Daisy yang juga memiliki skill observasi merasa kasian pada beberapa hunter pemilik skill yang sama dengan dirinya. “Jubah mereka benar-benar dapat merusak kegunaan skill observasi...” Gumam Daisy yang sedikit banyak sudah tahu kekuatan Raka dan yang lainnya dari penjelasan singkat Gisel.
“Karina, Yuqi, dan Neo, kalian minum ini dan berikan ini pada Delon dan yang lainnya!...” Daisy melemparkan beberapa botol berisi pil pemulih pada ketiga wakilnya, dan dia meminta ketiganya memberikan beberapa botol lainnya pada kelompok yang di pimpin oleh adiknya.
“Selain jubah, mereka juga punya pil yang sangat luar biasa...” Ucap Daisy. “Aku jadi penasaran tempat seperti apa yang mereka datangi saat berburu. Mungkin sesekali aku akan ikut dengan mereka...” Lanjut Daisy yang melihat Raka dan lima orang lainnya yang terus membantai monster yang tersisa.
Raka dan lima orang lainnya terus membantai sisa-sisa monster yang ada di Ibukota tanpa peduli pada hunter lainnya yang terus memperhatikan mereka.
Mereka berenam saat ini hanya berfokus pada membunuh monster dan membersihkan seluruh monster yang ada di Ibukota. Pujian yang terdengar dari berbagai arah tak sedikitpun membuat goyah fokus mereka.
Tiiga jam telah berlalu setelah kedatangan Raka beserta kelima sahabatnya, dan hanya dalam waktu sesingkat itu mereka telah membunuh seluruh monster yang ada di Ibukota dengan bantuan empat hunter tingkat Jenderal yang memang bertugas menjaga keamanan Ibukota.
“Kekuatan mereka berenam lebih mengerikan dari ribuan monster yang telah muncul...”
“Mereka sepertinya enam orang dari Guild Silver Mask yang beberapa hari yang lalu telah menggemparkan seluruh Negeri dalam acara kompetisi antar Guild...”
“Guild Silver Mask sepertinya memiliki masa depan cerah dengan adanya enam hunter seperti mereka.”
“Enam monster Guild Silver Mask, sepertinya julukan itu cocok diberikan untuk mereka...”
Ucapan salah satu hunter tentang julukan Enam Monster Guild Silver Mask dengan cepat menyebar di kumpulkan para hunter yang masih ada di Ibukota. Dari mulut kemulut semakin banyak orang yang merasa jika julukan itu pantas disematkan pada Raka dan kelima sahabatnya.
“Enam Monster Guild Silver Mask, julukan yang lumayan...” Ucap Daisy yang baru mendengar pembicaraan beberapa hunter yang tak terlalu jauh darinya.
Dari kejauhan Daisy melihat Raka dan lima orang lainnya bergerak mendekat kearahnya. Dari aura suram yang keluar dari tubuh mereka, dia tahu jika keenamnya tengah kelelahan. “Baiklah, kalian berlima boleh pulang, tapi tidak dengan kamu...” Daisy menunjuk Raka. “Kamu ikut denganku ke markas, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu...” Lanjut Daisy.
Kelima teman Raka segera pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing setelah mendapatkan izin dari Daisy. Sedangkan Raka, dia hanya bisa pasrah mengikuti Daisy yang kali ini tidak dikawal ketiga wakilnya.
Sampai di markas sementara Guild Silver Mask, Daisy mempersilahkan Raka duduk di sofa panjang yang ada di ruangannya sementara dia ingin pergi mencuci wajahnya.
Selesai mencuci wajah Daisy kembali dan mendapati Raka telah tertidur pulas di sofa ruang kerjanya dengan tangan kanan memegang topeng yang baru dia lepas. Raka juga telah membuka jubahnya sehingga Daisy dapat melihat kekuatan Raka yang saat ini telah melampauinya.
Daisy mengambil topeng di tangan Raka dan menaruhnya di atas meja kerjanya. melihat Raka tertidur tanpa alas kepala, Daisy segera duduk di sofa dan menjadikan pahanya sebagai alas kepala Raka.
“Wajahnya saat tidur ternyata jauh lebih menarik daripada saat dia tengah serius menjalankan misi...” Gumam lirih Daisy sambil menyentuh dada bidang Raka yang begitu keras dan berotot.
Daisy segera menggelengkan kepalanya saat pikiran aneh muncul di pikirannya. “Dia lebih cocok menjadi adik ku...” Ucap Daisy sambil membelai wajah Raka, dan tak lama Daisy ikut tertidur, bahkan dia tidak tahu jika ada beberapa orang yang sempat melihat adegan romantis nya dengan Raka.
***
Bersambung...