Seperti surga, menatap sepasang mata mu penuh keindahan. Andai saja berdua tanpa ikatan bukanlah dosa ingin rasanya menghabiskan waktu sepanjang hari berdua saja dengan mu.
Daffa berdecak kesal, bisa-bisanya dia kecolongan, Kanza adik semata wayangnya mendapat kiriman puisi di kertas merah jambu bergambar hati.
Ingin rasanya dia mencongkel kedua mata yang telah lancang mengirimi Kanza puisi.
Itu terjadi beberapa tahun lalu dimasa kuliah, tapi Kini dialah yang ingin berkirim puisi semacam itu saat sepasang mata indah bak surga mampu menggetarkan relung hatinya.
selamat mbaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Daffa berdiri di sebuah toko bunga, ada berbagai bentuk rangkaian bunga, warna dan rupa yang berbeda pula.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
Daffa bepaling ke sumber suara, seorang wanita berusia tiga puluhan tengah berdiri di sampingnya, mentapnya seraya tersenyum, sepertinya dia pemilik toko bunga ini.
"Saya mau cari bunga buat seseorang." sahut Daffa .
"Buat istri?"
"Bukan."
"Kalau gitu untuk kekasih?" tanya wanita. Daffa mengangguk mengiyakan.
"Mari ikut saya tuan."
Daffa mengikuti langkah wanita itu menuju ke dalam, langkahnya terhenti pada deretan bunga warna warni yang ada di dalam wadah.
"Pilihlah bunga yang tuan sukai, nanti kami rangkai sesuai keinginan tuan."
Daffa tampak sedikit bingung, bagaimana dia bisa memilih bunga-bunga ini dia sendiri tidak tau bunga seperti apa yang di sukai wanitanya.
"Bisakah nona pilihkan saja, dia wanita yang lemah lembut, berpenampilan sederhana."
"Begitu ya, baiklah tuan saya akan coba pilihkan berdasarkan pengetahuan saya ya."
"Iya gak apa."
Wanita itu mulai memilih beberapa tangkai mawar putih dan pink, lalu merangkainya menjadi bukert bunga yang sangat cantik.
"Bagaimana tuan?" tanya wanita itu seraya menyodorkan buket bunga pada Daffa.
Daffa tersenyum puas, sangat cantik dan lembut, sesuai dengan Patimah yang lemah lembut.
Selesai dari toko bunga Daffa menjemput Kanza di kampusnya. Hari ini dia berniat melanggar janjinya untuk tidak bertemu sampai tiba waktunya.
Tapi nyatanya rindu mengalahkan janjinya. Itu sebabnya dia membawa Kanza ikut serta, mana mungkin dia bertemu patimah seorang diri.
Mobil Daffa sudah parkir di kampus Kanza yang juga kampusnya, dari jauh tampak Kanza berjalan kearahnya.
"Kemana kita?" tanya Kanza setelah duduk disamping Daffa.
"Kerumah calon kakak ipar." sahut Daffa seraya menghidupkan mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan perlahan membelah keramaian jalanan siang ini.
Kanza masih menatap Daffa dengan tatapan bengong, benarkah ucapan Daffa tadi, dia sudah punya calon kakak ipar.
"Kak, siapa dia?"
"Sabar nanti juga ketahuan siapa."
"Iss, suka banget main rahasia-rahasiaan sebel." sungut Kanza.
Daffa tak menanggapi Kanza yang merajuk, kalau dia kasih tau sekarang yang ada dia bakalan repot jawab pertanyaan Kanza yang pasti dari a sampai z.
Setengah jam kemudian mobil berhenti di sebuah resto yang lumayan mewah tak jauh dari rumah Patimah.
Daffa membawa Kanza masuk ke resto lalu memilih tempat di sudut ruangan agar tak terlalu menarik perhatian pengunjung lain.
"Kakak janji dengan dia disini?"
"Iya."
"Terus ngapain bawa aku?"
"Kanza, kamu kakak ajak sebagai orang ketiga, agar kakak tidak terbujuk berbuat sesuatu yang tidak di perbolehkan. Paham!"
"Kalau hanya pegang tangan aja gak apa lah." ledek Kanza.
"Kanza ..., kakak bawa kamu agar tak tergoda setan, ini malah kamu yang mau jerumusin kakak gimana sih." ujar Daffa berbau protes.
"Itu kakak ipar udah tau ini tempatnya?"
"Udah dia yang meminta ketemu disini."
Patimah memilih tempat ini karena menurut Daffa dia membawa Kanza ikut serta. Dia juga belum berani menerima Daffa di rumahnya, dia belum berniat memberitahu mamanya kalau Daffa sudah melamarnya.
Patimah memasuki gedung resto dengan jantung yang berdebar tak karuan. Bagaimana tidak, lelaki yang selalu hadir dalam doanya mengajaknya bertatap muka, sudah sudah lebih delapan belas tahun usianya tak pernah sekalipun dia berkencan atau menyukai seseorang selain Daffa.
Patimah menghentikan langkahnya sejenak, menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, menutupi rasa gugupnya.
"Patimah!" Seru Kanza. Dia melambai pada Patimah yang sudah berada di belakang mereka.
Patimah duduk di samping Kanza di depan Daffa. Hening sesaat, baik Daffa maupun patimah keduanya terlihat gugup, tak ada yang saling memyapa membuka percakapan.
"Imah di anter siapa?" Kanza memecah keheningan.
"Di anter supir za."
"Ooo." sahut Kanza singkat.
Daffa menatap Wajah ayu Patimah, melepas rindu yang menyesakkan dadanya, dia sudah berusaha menahan diri tapi dadanya seakan mau meledak karena rasa rindunya.
"Ini, mas gak tau mau bawa apa." Daffa mengansurkan buket bunga kehadapan Patimah, tampak binar bahagia terpancar dari raut wajah Patimah, hal itu tentu saja membuat hati Daffa jadi berbunga.
"Bagaimana kabarmu Imah?"
"Alhamdulillah baik mas."
"Kamu jadi mengabdi di pesantre ?"
"Jadi mas."
"Kapan kamu kembali ke pesantren?"
"Nunggu anak-anak masuk sekolah mas, baru kembali kepesantren."
"Berapa lama aku menunggu mu patimah?" tanya Daffa. Kalimat yang sesungguhnya sangat berat keluar dari mulut Daffa.
"Mas harus bersabar sampai tahun depan."
Daffa menghela nafas berat, tapi dia ikhlas walau harus menunggu Patimah setahun lagi.
"Apa kita adakan lamaran aja dulu, sebelum Patimah kembali kepesantren." usul Kanza.
Daffa dan Patimah saling pandang. Usul Kanza tentu saja di sambut gembira oleh Daffa, lamaran itu bisa menegaskan status keduanya, itu juga ampuh mengusir orang-orang yang ada hati pada mereka.
"Imah, bagaimana menurut mu?"
"Nanti di rembukin ke mamah ya mas"
"Tentu saja, kabarin aku akan hasilnya."
"Iya mas."
Tentu saja hal penting ini harus di rembuk dulu, dengan kedua orang tua mereka.
***
Sementara di tempat lain, Anita tengah menunggu seseorang di ruang kerjanya.
Cukup lama dia menunggu, saat seorang proa mengetuk ruang kerjanya.
"Masuk."
Seorang pria bertubuh kekar masuk keruang kerja Anita. Di tangannya menenteng sebuah tas hitam.
"Bagaimana?"
"Beres buk."
Pria itu membuka tas hitamnya, lalu mengeluarkan map berwarna coklat pada Anita.
"Ini ibuk bisa lihat sendiri." ujar pria itu seraya menyodorkan Amplop coklat itu.
Anita membuka amplop coklat itu, mengeluarkan isinya yang berisi foto Daffa dan patimah.
Salah satunya saat Daffa memberikan bumet bunga pada Patimah. Hatinya mendadak terbakar api cemburu.
Tak puas melihat satu foto saja, dia menuang isi amplop hingga berserakan di atas meja.
Benerapa foto membuat hatinya memanas, bahkan sudah hangus terbakar tak tersisa. matanya nyalang menatap lembarl-embar foto diatas mejanya, lama-lama cemburu menyulut emosinya.
Anita tampak gusar. dengan penuh emosi dia melempar lembaran foto ke atas lantai.
Tapi sejurus kemudian, foto yang tadi dia lempar kini dia pungut lagi, tapi hanya satu lembar.
"Apa yang Daffa lihat dari gadis biasa sepertimu, APA!!" teriak Anita geram.
Selama beberapa bulan ini dia cukup bersabar. Berada di samping Daffa hanya sebagai teman bisnis. Tapi kesabarannya mendadak hilang saat tau, Daffa tak main-main saat mengatakan telah melamar seseorang.
Dia tak rela, dan tak kan terima bila Daffa jatuh kepelukan wanita lain, hanya dia yang berhak atas Daffa tidak yang lain.
Tapi bagaimana caranya menaklukkan seorang Daffa, yang tak sembarang mau dekat dengan lawan jenis.
.
.Happy reading
kasih dukungan ya sanyang sayang kuh.
sukses sll 😇😇😇