Masih ingat dengan saya kan? Ya Jihan aulia dan suami saya Zain Musthofa
Hm.... di season ke 2 ini, cukup ngeri ya judulnya , tapi gak papa, mudah mudahan banyak juga pembacanya Amin...
Okey... Sepulang dari ibadah haji, keromantisan kami makin bertambah, apa lagi bang Zain, semakin hari semakin bucin dan lengkat dengan gue, begitu juga dengan gue yang makin bucin dan gak mau jauh dari beliau
Dan gue pikir itu akan berlangsung dan terus romantis dan makin bucin sampai tua nanti, apa lagi kejutan demi kejutan yang sering kami berikan secara bergantian , kebahagiaan yang terus kami dapatkan setiap saat setiap hari, ditambah putra kami Muhammad Haidar Al-Musthofa yang makin aktif dan lucu tentu menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kami
Tapi... Rencana,Ujian dan Rahasia Allah tidak pernah ada yang tau,
Ya.... di tengah kebahagiaan keluarga kami, Ujian dan cobaan yang luar biasa datang, yang membuat DERAI AIR MATA yang luar biasa
Gimana kisahnya...??
Hayuk pantengin terus novel nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menutupi
Kini Jihan sudah berada di dalam ruangan anak kelas 1 SD, Sebelumnya Jihan memberi hiburan pada anak anak yang akan di vaksin, supaya tetap santai dan tidak tegang
Jihan di temani Elita dan Devano serta Abim di kelas situ, satu persatu murit maju untuk di vaksin, tak banyak dari anak anak itu yang sakit dan nyengir saat jarum suntuk di tusukkan ke bahu mereka
Dan giliran ada anak lucu dan kocak maju untuk di vaksin, dan dia sedang duduk di kursi yang sudah di sediakan untuknya
" Hallo ganteng?" sapa Jihan lembut
"Hallo juga kakak cantik.." jawabnya ramah membuat Jihan tersenyum
" Namamu siapa ganteng?" tanya Jihan lagi biar itu anak tidak tegang
" Deni Kak, Kakak cantik siapa namanya?" ucapnya lagi
" Weh....Bocah, kan udah kenalan tadi" selak Abim sebal
" Diem kak, gak tanya sama kakak" jawab Deni pada Abim ,membuat Jihan dan kedua temannya tertawa
" Udah udah.... Kakak suntik dulu ya dek, siap kan?" tanya Jihan lembut
" Lho masih di suntik juga saya kak?" tanyanya aneh
" Lha jadi, ? " tanya Devano
" Kan tadi Dani udah panggil kakak cantik, udah ya kak ya, untukku adek ganteng kata kakak gak usah suntik" jawab Dani merayu, sontak membuat mereka saling pandang
" Kenapa gak mau di suntik?" tanya Elita datar
" Takut lo kak, Sakit.." jawabnya santuy
" Kata siapa sakit, kayak di gigit semut kok" ucap Abim
" Ya udah kakak aja yang di suntik gih, wakilin saya" bantahnya membuat Abim melotot
" Loe kalah kocak Bim" ucap Jihan menyenggol lengan Abim dengan menahan tawa
" Eh... Kakak udah di suntik duluan tadi di rumah sama kakak dokter" jawab Abim mengelak
" Udah ya sayang.... Nanti gak siap siap, Coba mana tangan kirinya, biar di pegangi sama kak Devan" ucap Jihan melerai
" Jangan dong kak, plis..." ucapnya memohon
" sedikit aja, gak sakit kok" ucap Jihan sambil membuka jarum suntik yang baru dan menusukkan pada botol vaksinnya
" Hayo tarik nafas dulu," ucap Jihan lembut
" uuuhh....... Berdoa boleh?" tanyanya
" Harus dong, Ayo baca doa sambil kakak suntik" jawab Jihan mulai menusukkan jarum
" Bismillahirrohmanirrohim... Allahulailahallahuwal hayyul qoyyum....ila akhirihi" teriak anak tersebut dengan membacakan ayat kursi sebelum Jarum masuk ke dalam kulitnya
Sontak membuat Jiha kaget dan mengehentikan dan belum memasukkan jarum kedalam kulitnya
Mereka saling pandang, dan menahan tawa, di kira mereka demit apa ya di bacakan ayat kursi, dan mau gak mau Jihan menunggu sampai akhir
" Udah doanya,? " tanya Jihan menahan tawa, dan Dani mengangguk
Jihan mulai kembali akan menusukkan jarum ke kulitnya, dan lagi lagi anak itu berteriak
" Kulhuwallahu ahad Allahussomat...Ila akhirihi" Dan gantian membaca surat al Ikhlas dan Jihan kembali tidak fokus dan menahan tawa,
Tawa sekelas akhirnya lepas, apa lagi Abim san Devano, udah guling guling mereka, sampai selesai surat al ihlas di bacakan,
Tanpa nunggu lama, Jihan mulai kembali menusukkan jarum suntiknya , karena mau sampai kapan kalau nungu doanya yang tidak kunjung berhenti,
Di bantu dengan Elita yang memegangi tangan Dani dan cus....
" Allahuakbar Allahuakbar... Allahuakbar Allahuakbar..." Dani ganti mengumandangkan adzan sengan suara cukup keras, membuat Devano dan Abim makin terpingkal pingkal mendengarnya
Elita langsung lepas kendali dan ikut tertawa bersama mereka, Jihan masih menahan tawanya, dan menyelesaikan suntikan yang dia berikan kepadanya,
Setelah itu Jihan ikut gabung tertawa tapi juga menjawab adzan dari Dani, semua anak di ruangan itu semua tertawa makin terpingkal pingkal karena ke kocakan dari Dani, hingga membuat beberapa guru dan teman KKN Jihan datang menghampiri kekelas tersebut
" Nah.... Udah baca ayat kursi, surat ikhlas, adzan.. Sekarang udah di suntik doanya gimana?" ucap Jihan setelah puas tertawa
" Sakit gak,? enggak kan?" tanya Jihan lagi dan Deni mengangguk
" Terus sekarang berdoa dong, kan udah gak sakit" ucap Jihan lagi
" Gimana doanya kak?" tanya Dani Balik
" Allahumma...." ucap Jihan belum selesai mengajari dan
" Allahummabariklana fima rozaktanaa waqinaa adzabannar...." langsung di saut oleh Dani dengan Doa sebelum makan,
Lagi lagi membuat semua yang ada di sana kbali tertawa terpingkal pingkal
3 hampir 4 Jam Zain menpuh perjalanann untuk sampai kerumah Abah Hasan, di sana sudah kumpul Umi Zahra, Abah Hasan dan Baha' yang menunggu kedatangannya
" Assalamualaikum..."ucap Zain saat masuk dengan menggendong baby Al yang masih tertidur
"Waalaikumsalam.... " jawab mereka kompak, dan Umi Zahra langsung menghampirinya
Umi Zahra membawa baby Al ke kamarnya dan dipindahkan tidur di kalar beliau,
Seperginya Umi Zahra dan....
Plak..... Plak.... 2 kali tamparan langsung mendarat di pipi kanan dan kiri Zain, dari Abah Hasan dan..
Mbuk ..... mbuk..... 2 kali tonjokan dari Baha' juga mendarat di pipi Zain yang kanan dan kiri
Zain yang sudah babak belur makin bingung, baru datang belum duduk dan salaman sudah mendapat serangan dari Mas dan juga Abahnya
" Enak gak? Mau lagi?" ucap Abah Hasan tajam
Zain dia tak menjawab dan memegangi kedua pipinya yang sudah gosong babak belur, kaku dan perih yang Zain rasakan saat ini
" Itu belum seberapa, dan bagai mana perasaan Jihan jika loe jadi memadunya.." tambah Baha' to the poin dan
Deg..... Jantung Zain serasa berhenti setelah mendengar tuturan dari Baha'
Ya Semalam, sehabis isya' kedua orang tua Rani beserta Rani datang dan mendiskusikan tentang pejanjian Zain, yang akan menikahi Rani
Karena selama 2 minggu ini, Rani m3ncoba menghubungi Zain sama sekali tidak bisa di hubungi, dan memang sengaja Zain memblokir nomer Rani yang sebelumnya terus menghubungi dan mengganggunya
" Kamu kurang Zain punya istri sehebat Jihan, kurang Jihan untukmu? sehingga kami mau berpaling darinya? masih mau cari yang lain" ucap Abah Hasan tegas
" Dan Loe itu satu satunya orang bodoh yang gue kenal, dan sayangnya loe kok Adek gue, dan kenapa dengan mudahnya loe menjanjikan pada mereka untuk kembali pada Rani, seorang yang membuatmu dulu terluka, bukan hanya loe tapi Jihan yang gak tau jadi korban trauma loe atas dia, " sambung Baha' memaki Zain
" Udah kaya kamu sekarang nak, udah hebat dan banyak uang ya nak,? sehingga membuatmu ingin mengeluarkan banyak uang untuk memberi nafkah ke pada 2 istri iya?" saut Umi Zahra yang sudah kembali di antara mereka
Zain masih terdiam dan belum menjawab, dia serasa di serang saat ini, rahasia yang dia sembunyikan akhirnya bobol juga, ini belum terdengar oleh Jihan, kalau keluarga Zain sudah mengetahui, bila Jihan tau Jihan makin bisa marah
Dan itulah kehebatan Jihan, dia sebagai korban yang seharusnya senang karena ada yang membelanya, tapi dia malah makin benci dengan Zain kalau Zain sendiri tidak bisa menjaga dan menutupi aibnya sendiri
persis kaya bojo ku klu pkai dapur