Aku ingin menjadi satu-satunya tempat pulang yang paling kau rindukan.
Untuk kita saling merawat dan membenahi kepingan hati yang hancur karena cinta masa lalu mu.
Aku adalah satu-satunya jiwa yang bahkan tidak memperdulikan tekanan batinku sendiri demi cinta yang telah ditakdirkan untukku.
Aku akan menaklukan hatimu, melepas lelah mu, mengukir tawamu, membuang duka mu.
Hingga kita bahagia.
Kisah ini mengisahkan pengorbanan seorang istri dalam meyakinkan hati suaminya. Berperang dengan masa lalunya. Dan menerima perjodohan yang telah di atur matang oleh kedua keluarga berketurunan Ningrat.
Sanggupkah seorang Roro Dwini Hadiningrat memperjuangkan cintanya...?
Mari, ikuti kisah ku.
Terima Kasih🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : SENYUM DALAM TANGIS
"Apakah ada cinta dalam pernikahan kalian mbak?" Winda memberanikan diri menelisik rumah tangga atsannya tersebut.
Dwini terkesiap tatkala mendengar pertanyaan itu muncul dengan polosnya dari seorang Winda.
"Maaf mbak. Mbak tidak harus menjawab pertanyaaan konyol dari saya. Maafkan saya yang telah lancang ingin tau urusan rumah tangga orang lain bahkan atasan saya sendiri."
Winda mendadak merasa tidak enak.
Dwini segera mentralkan suasana hatinya. Dan berusaha untuk tetap menunjukkan keharmonisan rumah tangganya.
"Saat kita mendengar kata perjodohan, selalu di kaitkan dengan kata paksaan, di paksa atau semacamnya. Tetapi dalam hubungan kami. Perjodohan merupakan impian antara kami satu sama lain mbak. Kami sudah sangat saling mengenal sejak kecil. Mas Bimo adalah pangeran pelindung saya sejak kecil. Masa itu sangat indah, aku merasa seperti putri yang di hinggapi lalat pun tidak ia biarkan. Sebegitu sayangnya ia padaku. Namun, kami terpisah karena orang tua di pindah tugaskan, pendidikan kami juga pekerjaan ini. Maka, ketika mendapatkan kesempatan untuk bertemu denganku, sepertinya mas Bimo tidak ingin menyia-yiakan kesempatan dan tidak ingin lagi berpisah denganku. Sehingga pernikahan kami terkesan mendadak." Bela Dwini pada pernihakannya. Senyum yang Dwini uraikan pada mimik wajahnya tentu sangat meyakinkan Winda yang dengan serius menyimak ceritanya. Hanya Dwini yang tau, betapa senyum itu ia balut dalam tangis dalam hatinya.
"Waah... cinta sejati. Kalian memang berjodoh ya mbak. Aku bisa bayangkan, bagaimana manisnya pak Bimo memperlakukan mbak Dwini. Kekasih masa kecil dan menjadi miliknya selamanya. So Sweet." Winda berceloteh dengan sembarang.
"Tidak juga semanis itu, sebab sepertinya Anin lumayan membekas di hatinya." Dwini kembali mengulik soal Anin.
"Ah... Anin itu hanya tempat transit. Tidak ada yang berkesan dalam hubungan kilat dan berjarak jauh mereka mbak. Dan, Anin tampak sangat jatuh cinta akut pada calon suaminya itu, begitu juga sebaliknya."
"Oh... ya. Tetapi sepertinya mas Bimo susah move on dari Anin...?" Dwini kembali memancing.
"Ha...ha...ha. Mbak Dwini hanya cemburu saja mungkin. Atau Pak Bimo hanya bercanda. Tapi aku bisa pastikan, jika Anin tidak akan mungkin menjadi pelakor dam rumah tangga mbak. Anin tidak bertipe seperti itu mbak. Percayalah." Winda meyakinkan Dwini.
"Saya hanya bercanda. Iya, mas Bimo hanya bercanda. Maklum lah Mbak Win. Di rumah hanya berdua, jika tidak saling bercanda kebayangkan sepinya rumah." Dwini mengalihkan topik. Seolah rumah tangganya memang normal seperti kebanyakan rumah tangga lainnya.
"Masih lama mbak mainnya." isi pesan teks pada ponsel Dwini.
"OTW pulang mas." Balas Dwini.
"Mbak Win... mas Bimo sudah di rumah. Saya pulang dulu ya." Pamitnya.
"Waah... baru sebentar ninggalin rumah sudah di kangenin suami. Semoga cepat isi ya mbak." Doa Winda pada Dwini.
"Amin... terima kasih mbak Win."
Dwini sudah tiba di rumah dinas jabatan milik suaminya. tampak di sana seorag Bimo yang tampak duduk santai di depan televisi berbalut pakaian casual dan celana pendek di atas lututnya.
Dwini langsung membersihkan dirinya, kemudian ke dapur untuk memanaskan makanan yang telah ia siapkan untuk mereka makan malam. Kemudian mandi.
Saat ia beranjak mendekati suaminya dengan maksud mengajaknya makan. Tiba-tiba saja Bimo berkata : "Apa saja yang kalian bicarakan sampai kamu lupa waktu. Bahkan suamimu pulang kerja kamu masih di tempat orang."
"Maaf mas, kebablasan." Jawab Dwini dengan nada rendah dan merasa bersalah.
"Jangan di ulangi." Ucap Bimo pendek.
"Baik." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut seorang Dwini.
Kemudian mereka telah berada di meja makan yang sama untuk menikmati makan malam yang selalu saja Dwini siapkan dengan begitu sempurna.
Sesungguhnya akhir-akhir ini Bimo sangat menikmati akan kehadiran Dwini istri bonekanya itu. Ia sadar, kini ia lebih terawat dan tidak serepot dulu saat masih sendiri, terutama soal makan dan persiapan pakaian kerjanya. Tetapi, ia terlanjur gengsi untuk memulai hubungan baiknya pada Dwini.
Perlahan, nama Anin sesungguhnya semakin geser dari hatinya. Belum lagi kabar pernikahan Anin pada akhir bulan depan telah sampai ketelinganya dari Jovan tentu saja membuatnya semakin panas dan sedikit dendam degan Darel, pria pilihan Anin.
FLASHBACK ON
"Gimana...rasanya sudah menikah...?" tanya Jovan saat mereka berdua saja di kantor saat Jovan piket dan Bimo terlihat sengaja untuk tida cepat pulang.
"Biasa saja." Jawab Bimo.
"Masa...?"
"Beneran."
"Kok beda dengan yang aku rasakan...? Aku ingat dulu, bahkan untuk berangkat bekerjapun aku malas. Rasanya selalu mau dekat dan bergelung saja dalam selimut yang sama dengan istri. Ada apa dengan rumah tangga kalian...?" kepo Jovan pada Bimo.
"Mas Jo tau sendiri. Adik mas Bimo terlanjur nongkrong di sini." Ucapnya memegang dadanya.
"Sudahlah... Anin bahkan akan menikah bulan depan. Apa iya mas Bimo masih belum bisa move on dari Anin. Apa istimewanya Anin dari istri mu yang bahkan 3kali lebih cantik dan baik dari adikku." Ucap Jovan meyakinkan Bimo.
"Entah lah mas Jo, rasa cinta dan penasaranku masih terlalu bbesar untuk Anin."
"Mas Bimo, aku malah baru tau dari ayah. Ternyata Anin dan Darel telah memiliki hubungan spesial bahkan sebelum ia ke desa ini. Makanya begitu di lamar Emil, Anin langsung terima, bahkan di ajak nikah pun langsung oke." Cerita Jovan.
"Masa...? artinya kemarin saat kami pacaran aku hanya sebagai selingkuhanya...?" tanya Bimo makin penasaran.
"Persisnya sih aku ga tau. Sepertinya mereka hanya dekat, tapi main hati, ga jadian. Tapi ... gimana ya. Petak umpet kali. Ga ngerti juga akunya."
"Gimana sih?"
"Gini... mereka sudah lama dekat tapi ga jadian. Deketnya banget. Emil sudah sering kerumah, tapi bukan sebagai kekasih. Kayaknya Anin nunggu di tembak gitu. Tapi ga dapat respon dari Emil. Trus dianya malah ngilang, pindah ke Bandung. Nah... saat itu mas Bimo masuk. Trus... gercep kan kemaren. Door....!!! langsung iya aja olehnya."
"Berarti aku cuma pelarian Anin dong...?"
"Kalau itu hanya Anin yang tau."
"Artinya, saat ibu bilang, aku sudah di jodohkan. Anin bagai dapat kartu AS buat putuskan hubungan kami dong."
"Bisa jadi."
"Padahal, jika ibu bertemu langsung dengan Anin. Aku yakin, ibu juga akan luluh. Tapi waktu itu, Anin tidak mau di ajak ketemu ibu." Kenang Bimo ke masa itu.
"Sudahlah... kalian tidak berjodoh. Nikmati saja hidangan yang tersedia mas Bro. Mbak Dwini pilihan terbaik orang tua mas Bimo, cantik... mas Bimo yakin tidak tertarik dengannya. Udah goal kan...?" Jovan menebak asal.
"Stt... rahasia perusahaan."
"Masa belum... sexy looo itu. Yakin cuma di anggurin." Goda Jovan.
"Apaan..." Kilah Bimo dengan wajah yang sedikit memerah karena menahan malu.
"Jangan mas bilang tuh berlian belum di apa-apain yaak. Kecuali mas ga normal." Jovan semakin berani menggoda komandannya tersebut.
"Waah... kamu melecehkan senjataku?? Kamu tau sudah berapa wanita klepek-klepek setelah merasakan gempuranku, hah?"
"Ya... kali aja. Ga bisa di pake. wkwkwkwkkk.
Bercanda Ndan."
FLASHBACK OFF
Bersambung...
*semua kesalahan suami diperjelas salah dan dibuat dicap kesalahan fatal dan harus dapat balasan dulu
tapi kesalahan istri malah dibenarkan dan dianggap bukan kesalahan
ini lah contoh pemikiran munafik wanita yang dibawa kedalam karya novel
dsini dengan pria lain ketemuan, berintrkasi sebagai teman yang fakta sudah sangat keterlaluan dianggap hal biasa
emang susah kalau pemikiran wanita egois dibawa kedalam novel