Cerita berlatarkan negara luar
Meira seorang gadis berusia 21 tahun, ia tinggal bersama seorang ayahnya yang hanya tinggal sendiri karena kedua orangtuanya telah berpisah saat Meira masih berusia 7 tahun. Ibu Meira menikah lagi dengan seorang aktor terkenal, sementara Meira menjalani kehidupan seperti biasa bersama ayah nya yang hanya memiliki satu perusahaan kecil.
"Meira.. tolong teruskan perusahaan itu demi papa." ucap papa Meira, dan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia meninggalkan putrinya untuk selamanya.
*
Suatu saat perusahaan mengalami penurunan drastis hingga Meira harus meminta pertolongan pada perusahaan besar yang di pimpin oleh pria dingin.
"Permohonan mu saya terima dengan satu syarat." ucap si pria itu.
"A-apa?"
"Menikahlah dengan ku."
Ucapan itu membuat Meira terkejut bagaikan di sambar petir di siang bolong. Namun rencananya terhalang oleh seseorang.
Simak yuk 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Yuanxian group
Di tengah kesibukannya, Alexi di ganggu dengan beberapa panggilan yang terus berdering di ponselnya itu. Sekilas ia melirik ke arah ponselnya yang tak hentinya terus berdering. Dilihatnya panggilan dari seorang wanita yang di beri nama *Queen Fire" julukan Alexi pada mama nya yang kalau sekalinya marah bisa bisa membuat semua panas karena amukannya termasuk suaminya sendiri.
Alexi hanya membuang napasnya dan mengabaikan panggilan tersebut, sampai akhirnya Nino datang dan menghampirinya dan memberikan ponsel miliknya.
"nyonya tuan." ucap Nino menyodorkan ponselnya.
"aishh..." desis Alexi sambil mengambil ponsel Nino.
"yakk!!! anak kutub! kenapa kau mengabaikan telpon ku hah? apa kau sudah tidak memperdulikan ibu mu sendiri?" teriak Hana di balik ponselnya.
"apa lagi kali ini?"
"jangan terlalu banyak bekerja, bersiaplah untuk berkencan nanti malam."
"dan satu lagi, selesai dari perusahaan pulang ke rumah utama calon istri mu menunggu di rumah mama." ucapan terakhir Hana sebelum ia menutup telponnya.
Alexi menyeringai senang setelah mengetahui kalau Meira bersama dengan mamanya. Senyuman yang akhir-akhir ini sering pria itu keluarkan membuat Nino sedikit lebih santai setelah sekian lama ia menemani Alexi dengan penuh ketegangan akhirnya sekarang ada kelonggaran.
"dimana karyawan yang bertugas di Florence?"
"segera kemari tuan."
"apa tuan akan membalas perbuatan mereka sekarang?"
"gak perlu terburu-buru, biarkan mereka merasa menang."
"baiklah"
Selang beberapa menit, seorang pria yang ditugaskan untuk menyamar sebagai karyawan Florence pun datang menemui Alexi. Ia memberikan beberapa bukti nyata untuk memutar balikkan fakta yang sebenarnya. "kamu boleh kembali, dan saya akan segera mentransfer bonus kamu." ucap Alexi.
"terimakasih tuan."
*
Waktu berlalu begitu cepat, setelah selesai dengan urusannya, Alexi bergegas pergi meninggalkan perusahaannya dan segera menemui mamanya di di rumah utama. Sebelum sampai di rumah utama ia mampir di sebuah toko bunga untuk membelikan bunga tulip kesukaan mamanya. Diantara deretan toko bunga itu, terdapat satu toko pernak-pernik, pandangan Alexi tertuju pada sebuah boneka kucing yang begitu lucu terpajang dekat jendela. Seketika ia teringat bedengan gadis kecil nya yang memiliki aegyo seperti kucing.
Pria itu pun berjalan masuk ke toko tersebut dan membawa pulang boneka itu dengan beberapa barang lainnya. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Alexi segera kembali masuk ke dalam mobil nya yang di ikuti oleh Nino.
**
Rumah utama
Cukup lelah Meira menemani Hana jalan-jalan, saat nya kini ia duduk santai di tepi sebuah kolam halaman belakang yang tentunya di temani dengan Hana. Selama berjam-jam Meira bersama dengan Hana, selama itu juga ia mendengarkan ocehan Hana yang menceritakan masa kecil Alexi hingga dia dewasa dan memegang perusahaan yuanxia.
"haahhh... akhirnya anak itu akan segera melepas masa lajangnya, aku kira dia akan menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan Nino." ucap Hana bernafas dengan lega.
"apa sebelumnya dia tidak pernah dekat dengan seorang wanita?"
"dulu aku dengar dia pernah dekat dengan seorang wanita, namun pada ujungnya dia di khianati, dan mungkin sejak itu juga dia gak pernah dekat dengan wanita lain."
"ahh gitu." saut Meira sambil mengangguk-angguk.
Di tengah obrolan santai kedua wanita itu, terdengar suara langkah kaki seseorang menghampiri nya. Dan ya, itu adalah Alexi, ia datang dengan membawa barang yang di belinya tadi. Tanpa sepatah kata Alexi menyodorkan satu buket bunga yang di belinya untuk sang mama.
"yaaa... anak kutub, ternyata perhatian juga kamu."
"tunggu. . ." sambung Hana yang memperhatikan putranya dari samping kanan, kiri, depan belakang. "apa kamu hanya membeli satu? mana buat calon istri mu?" tanya Hana.
"nih.." pria itu memberikan sebuah paper berwarna baby pink.
"apa ini? kenapa kamu tidak memberikannya bunga?"
"selera orang berbeda, siapa tau dia alergi bunga." ucap Alexi dengan asal nyeplos dan pergi ke ruangan lain.
"ch, dasar anak menyebalkan."
"apa yang dia berikan untuk mu?"
"sebentar, biar aku membukanya."
Meira segera membuka paper bag itu yang ternyata isinya adalah sebuah boneka kucing dan beberapa jepitan rambut.
"Yaasshhh... apa-apaan dia ini? untuk apa dia memberikan semua ini? apa dia pikir kamu anak kecil?" tanya Hana yang tidak mengetahui makna dari barang-barang tersebut.
Meira mengambil boneka tersebut dan memegang dengan kedua tangannya, seketika ia teringat dengan ucapan Alexi tempo lalu kalau dia menggemaskan seperti kucing peliharaannya, dan sebuah jepitan rambut karena Alexi sering melihat Meira memakainya pada beberapa kali mereka bertemu. Menyadari arti dari semuanya, gadis itu tersenyum senang, karena nyatanya Alexi telah memperhatikannya selama ini.
"tunggu disini, mama akan mengajarinya bagaimana memperlakukan wanita dengan baik." ucap Hana.
Belum sempat Meira bicara, Hana telah berlalu meninggalkan Meira seorang diri. Ia pun kembali duduk dan menyedot minumannya yang terletak di sebuah meja.
**
Mansion Sakha
"permisi tuan, sesuai dengan laporan yang anda minta wanita yang tadi membawa nona Meira adalah nyonya Goo Hana ibu dari tuan muda Alexi." ucap Regan.
"kemana dia membawanya pergi?"
"hanya berjalan-jalan di sebuah mall dan yang terakhir kemungkin dia membawa ke rumah nya."
"wanita itu, akan menjadi penghalang untuk aku mendapatkan gadis itu."
"dan satu lagi, manager produksi yuanxian telah klarifikasi semuanya dan bahkan mereka memberi izin pihak media untuk mengecek beberapa produk mereka di gudang, hingga berita yang tersebar di tarik kembali." jelas Regan.
"heh, hubungi sekretaris Bai lakukan langkah berikutnya."
"baik tuan."
Sakha mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Meira.
Di sebuah mansion, tepatnya di sebuah halaman belakang sebuah ponsel berdering beberapa kali, seseorang yang kebetulan berada disana mengambil ponsel itu dan menerima panggilan tersebut.
"kamu dimana? apa malam ini ada waktu?" tanya Sakha.
"dia sibuk, gak ada waktu untuk menemui mu." saut Alexi yang menerima telpon Sakha dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Tak lama setelah Alexi menjawab telpon, Meira kembali dan mencari ponsel nya yang tertinggal. Alexi hanya terdiam memperhatikan Meira yang sibuk mencari sana-sini. Ia pun mengalihkan pandangannya dan menatap pria di dekatnya.
"dimana ponsel ku?"
Alexi hanya mengangkat kedua bahunya dan berpura-pura tidak mengetahuinya.
"aishh.. aku begitu yakin tadi meninggalkannya disini, kenapa bisa hilang begitu aja? apa sebuah ponsel bisa berjalan sendiri?" gerutu Meira yang terus mencari.
Saat ia membelakangi Alexi, pria itu menarik tangan Meira hingga membuatnya berbalik dan tepat berada di hadapan Lexi dengan posisi yang begitu dekat. "ini kah yang kau cari?" tanya pria itu menunjukkan sebuah ponsel.
Saat Meira hendak mengambil ponsel nya, Alexi mengangkat ponselnya lebih atas, hingga membuat gadis itu kesusahan untuk meraihnya. "hei.. kembalikan ponsel ku." ucap Meira yang terus meronta.
Alexi melingkarkan sebelah tangan nya di pinggang Meira dan mendekatkan tubuhnya hingga kini posisi mereka saling menempel. "putuskan semua hubungan yang bersangkutan dengan Sakha!" ucap Alexi dengan begitu dekat dan suara yang menekan.
"wahh.. pemandangan yang begitu indah, sepetinya mama datang di waktu yang gak tepat." ucap Hana yang tiba-tiba muncul di samping mereka.
"malaikat penyelamat" gumam Meira yang langsung merebut ponselnya di tangan Alexi saat dia lengah.
***
Bersambung. . .
katanya gadis pintar tapi kok bodoh
selalu bertindak tanpa pikiir terlebih dahulu
meski Meira udah 2 kali ke kantor Lexi ttp aja yang pertama kan dia hanya di bagian depanperusahaan