ini cerita gue...
Dimana gue harus di jodohkan sama pria yang usianya jauh banget dari gue, dan dia juga seorang duda. It's a nightmare!
Tapi pada akhirnya gue juga mulai suka sama si duda ganteng ini. Tapi gue harus menempuh perjalanan sulit untuk memperjuangkan cinta gue. this is my story, I am the eldest Lady Master of my family.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eldest Lady Master 21
.
Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari Minggu. Lilo masih terlelap dalam tidurnya, terlebih dia kelelahan setelah mendaki kemarin.
"Ma... Kak Lilo belum bangun?" tanya Liona.
"Belum... Biarkan saja. Dia itu masih kelelahan." jawab Muvita.
"Sayang banget! Padahal aku pengen ngajakin dia buat jalan-jalan. Hari ini di rumah paman Aldi sedang ada promo menu sarapan baru dari restorannya. Aku ingin kesana untuk meminta padanya. Tapi sepertinya aku harus pergi sendirian..." Liona memanyunkan bibirnya kesal.
"Kita bisa pergi bersama. Papamu sedang ada tugas. Jadi kita bisa pergi berdua. Kakakmu masih sangat kelelahan. Jadi biarkan dia beristirahat." jawab Muvita.
"Beneran? Mama beneran mau nemenin aku?"
Muvita menganggukan kepalanya.
"Iya, ayo! Mama juga ingin mengobrol banyak dengan mereka." jawab Muvita.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang! Aku akan mengambil tas dan mengganti sepatu ku dulu. mama tunggu di sini!" Liona berlari dengan kencang menuju ke kamarnya, dia memakai sepatunya, dia juga dengan cepat mengambil tas ransel kecil mewah miliknya.
Dia berjalan keluar dari kamarnya, sekilas dia melihat kamar kakaknya yang sedikit terbuka pintunya.
"Kak Lilo... Kakak udah bangun?"
"Mm.... Kakak abis mandi. Badan kakak bau, semalem kakak enggak mandi." jawab Lilo.
"Kakak mau ikut dengan ku? Aku akan pergi bersama mama ke restoran paman Aldi..."
Lilo menggelangkan kepalanya
"Enggak! aku mau tidur lagi! Aku masih sangat mengantuk." tolak Lilo.
"Oh... Ya udah, aku sama mama berangkat sekarang... Kakak jaga rumah ya..." .
"Mm..." jawab Lilo singkat.
"Da-da kakak..." Liona melambaikan tangannya sembari berlari untuk segera menemui Muvita
Lilo melepaskan handuk yang dia pakai untuk menutupi tubuhnya. Dia mengambil gaun tidur miliknya kemudian memakainya tanpa memakai pakaian dalamnya.
Dia masih sangat mengantuk, dan ingin segera kembali tertidur.
Hanya dalam sekejap saja, Lilo sudah kembali melayang dalam dunia mimpinya yang begitu indah.
Sementara Muvita dan Liona sudah berangkat ke tempat yang ingin mereka datangi.
Ting tong ting tong
Suara bel pintu berbunyi
Dengan tergopoh-gopoh asisten rumah tangga menemukannya
Terlihat Jarvis yang segera tersenyum ramah padanya.
"Tuan... Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita yang berusia sekitar tiga puluhan tahun yang merupakan asisten rumah tangga di rumah besar itu.
"Apa paman Abrian di rumah?" tanya Jarvis.
"Tuan Abrian berangkat pagi-pagi sekali untuk tugas." jawab asisten rumah tangga.
"Oh... bagaimana dengan aunty Muvita?" tanya Jarvis lagi
"Nyonya baru saja pergi ke restoran tuan Aldi bersama putri kedua." jawab asisten rumah tangga keluarga Lilo.
'putri kedua? Liona kan? itu berarti si Eldest Lady Master masih ada di rumah kan?' batin Jarvis
"Jadi... Lilo ada di rumah?" tanya Jarvis dengan senyuman yang terus merekah karena begitu senang.
"iya, tapi nona Lady Master masih tertidur." jawab asisten rumah tangga itu
"Kamu mengenal ku kan? Aku adalah pria yang di jodohkan dengannya?" asisten rumah tangga bernama Siti itu menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Iya tuan. Saya masih mengingatnya." jawab mbak Siti.
"Tunjukkan saja di mana kamarnya. Aku akan menemuinya sendiri." pinta Jarvis.
"Di lantai dua, kamar nomor dua dari sini." jelas Mbak Siti.
"Oh... Terimakasih." Jarvis segera menyelonong masuk untuk menuju ke kamar Lilo.
Dia tidak peduli jika di rumah itu ada cctv atau semacamnya yang merekam gerak-geriknya, dia hanya ingin bertemu dengan calon istrinya, jadi dia pikir kalaupun keluarga dari Lilo mengetahuinya, maka mereka juga tidak akan melakukan apapun.
"Nomor dua dari sini... Pasti ini." Jarvis berdiri di depan sebuah pintu kamar yang dia yakini adalah kamar Lilo.
Jarvis melihat Lilo dari pintu yang sedikit terbuka.
Dia tersenyum lebar saat dia menemukan kamar yang tepat.
Perlahan-lahan dia berjalan masuk ke dalam. Dia tidak ingin membangunkan Lilo dari tidurnya. Terlebih Lilo terlihat benar-benar lelap seperti seseorang yang sangat kelelahan.
Wajah Jarvis memerah saat melihat tubuh Lilo yang hanya memakai gaun tidurnya, dan begitu jelas memperlihatkan lekuk tubuhnya yang memang tidak memakai pakaian dalamnya.
"Astaga... Sepertinya dia benar-benar ingin menggodaku..." ucapnya seraya berjalan mendekatinya.
Sudut bibirnya terangkat saat dia melihat dengan jelas dan lebih dekat.
"Sangat indah untuk ukuran anak SMA..." ucapnya.
Jarvis bergerak perlahan-lahan untuk berbaring di sebelah tubuh Lilo setelah dia melepaskan sepatunya, dia juga melapaskan jasnya dan melemparnya ke sembarang tempat.
"Benar-benar seperti kucing yang sangat menggemaskan saat dia tertidur lelap seperti ini..." Jarvis mendekatkan wajahnya pada wajah Lilo, dia bergerak perlahan-lahan sampai bibirnya menyentuh bibir Lilo
"Mmhhh...." Lilo melenguh saat Jarvis ******* bibirnya dengan lembut.
'shit! Aku tidak bisa mengendalikan diriku!' gerutu Jarvis dalam hatinya.
Jarvis kembali mencium bibir Lilo, namun kali ini dia sangat berhati-hati. Dia tidak ingin Lilo sampai terbangun dan pasti akan marah-marah saat mengetahui jika dia mencuri ciumannya.
Jarvis melapaskan ciumannya, dia melihat wajah cantik Lilo yang maiah terlelap dalam tidurnya.
"Dia seperti putri tidur... Sangat cantik..." wajah Jarvis kembali memerah saat melihat dada Lilo yang terlihat jelas.
gaun tidur berbahan satin silk membuat tubuh Lilo yang tidak memakai apapun di dalamnya terlihat jelas. Dan itu membuat Jarvis semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Shit! Dia benar-benar tahu cara menyiksaku!"
Jarvis kembali ******* bibir Lilo yang begitu manis. Rasanya tidak akan ada puasnya saat merasakannya. Dia akan terus dan terus ingin mengulanginya lagi dan lagi.
"Benar-benar manis..." ucap Jarvis.
Lilo perlahan-lahan membuka matanya, saat dia merasakan hangatnya nafas seseorang yang menerpa wajahnya.
Jarvis sudah kembali ingin mencium bibir Lilo, namun dia menghentikannya, saat melihat Lilo membuka matanya.
"Paman duda? Loe di sini?"
"Iya... Aku kemari karena aku merindukanmu... Aku ingin memelukmu dan menciummu... Kamu tidak membalas pesan dariku. Jadi aku langsung mendatangi mu saja untuk mendapatkan balasan secara langsung." jawab Jarvis
Jarvis kini bergerak mencium leher Lilo yang begitu menggodanya.
"Paman... Mama bilang, kalau paman tidak boleh menggigit leher ku lagi. Paman harusnya menggigit dadaku saja. Itu akan tertutupi oleh pakaian ku."
"Huh?"
Jarvis menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Dia menatap wajah cantik Lilo dengan sejuta pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.
"Sepertinya telingaku bermasalah..." ucap Jarvis.
"Jangan gigit leher gue! gigit dada gue! loe paham?!!" ucap Lilo dengan kesal.
Jarvis tertawa geli mendengar apa yang baru saja Lilo katakan.
"Tapi kalau elo udah nikahin gue." tambah Lilo dengan wajah yang memerah.
"Bagaimana jika aku menggigit dulu, baru setelah itu kita menikah... Kita seharusnya mencicipi dulu sebelum membeli kan?"
"Cih! loe pikir gue kue kering lebaran!" sungut Lilo, dia menyikut dengan keras perut Jarvis.
"Ouch! Sakit Lilo sayang..."
.
piiisssss
yg bener aja Jarvis mau nyari pngacara buat Andara.
kaya Dika tegas,GK mudah dibohongi bisa baca pikiran org kalo ada yg mau nrbuat jahat
Jarvis gak ada tegas tegasnya ciihhh lemah