Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gertakan Birokrasi
Angin sore Daan Mogot berhembus kencang membawa debu jalanan dan aroma asap kendaraan. Di pelataran ruko Bengkel Keberkahan, ketegangan membeku. Dua pria berjas rapi dari Asosiasi Bengkel dan Seksi Pengawasan Perizinan dengan bernama tag Pak Wawan dan rekannya—berdiri tegak memegang map dokumen kuning berstempel dinas. Di samping mereka, Pak Teguh Prabowo, pemilik bangunan ruko, tampak menyeka keringat di dahinya dengan raut cemas.
Shevi dan Dika yang baru saja memarkir motor matic pasca-penyelesaian krisis pinjol dika melangkah maju mendekati teras.
"Shev, ini Pak Wawan dari Seksi Pengawasan Perizinan Usaha dan Asosiasi Bengkel Wilayah," ucap Pak Teguh Prabowo cepat, suaranya terdengar tidak tenang. "Mereka bilang ada aduan masyarakat terkait kelayakan operasional dan izin domisili usaha komersial ruko ini."
Pria bernama Pak Wawan yang berkumis tebal dan bermata tajam melangkah maju. Tanpa rasa ramah, dia merapikan kacamata berbingkai tebalnya lalu mengeluarkan lembaran kertas berkop resmi dari map kulitnya.
"Selamat sore. Saudara Shevi, ya?" sapa Pak Wawan dengan nada dingin dan penuh tekanan birokrasi. "Kami menerima laporan resmi bahwa tempat ini melakukan aktivitas perbengkelan skala menengah tanpa dilengkapi Surat Izin Usaha Perdagangan yang tuntas, AMDAL penanganan limbah oli bekas, serta surat rekomendasi kelayakan teknis dari asosiasi bengkel lokal Jakarta Barat."
Dika yang berdiri di samping Shevi seketika mengepalkan tangan kuat-kuat. Setelah Shevi mempertaruhkan empat juta rupiah uang kas bengkel demi menyelamatkan keluarga Dika jam dua siang tadi, loyalitas Dika pada tempat ini berada di tingkat tertinggi.
"Pak! Ruko ini baru berjalan hitungan minggu!" potong Dika dengan nada tinggi. "Soal limbah oli, kami punya penampungan drum khusus dan dibuang secara berkala ke pengepul resmi! Lagipula izin operasional ruko ini disewakan resmi oleh Pak Teguh Prabowo!"
"Dika, tahan emosimu," ucap Shevi dengan suara teratur. Jemari tangannya mengisyaratkan sahabatnya untuk tidak terpancing.
Shevi menatap lurus tepat ke arah mata Pak Wawan. Pengalaman Shevi menghadapi intrik perkotaan membuatnya paham arah permainan ini. Laporan aduan masyarakat yang mendadak muncul persis setelah Asep Babi terdesak bukan sebuah kebetulan. Ini adalah serangan balasan berbentuk gertakan birokrasi dari jaringan lama Asep Babi yang panik melihat kontrak logistik Mbak Gita jatuh ke tangannya.
"Pak Wawan," panggil Shevi dengan suara tebal dan berbobot. "Sebagai penyewa yang taat hukum, saya paham regulasi perizinan usaha di DKI Jakarta. Izin usaha mikro kami sudah terdaftar secara elektronik melalui sistem OSS sejak ruko ini beroperasi. Mengenai penanganan limbah oli, kami punya kontrak penampungan resmi dari pengepul berizin yang dokumennya tersimpan rapi di kasir."
Shevi melangkah ke meja kasir, mengambil map merah, lalu meletakkannya di atas meja kayu di hadapan Pak Wawan.
"Silakan diperiksa. Semua kuitansi pembuangan limbah dan bukti registrasi NIB bisnis kami sah secara hukum," tambah Shevi.
Pak Wawan tertegun sesaat. Dia tidak menyangka seorang mekanik muda ber-wearpack yang mengelola bengkel ruko baru bisa merespons tuduhan birokrasi dengan runtut, teratur, dan memiliki penguasaan dokumen yang presisi.
Pak Wawan membuka map merah tersebut, membolak-balik lembaran kuitansi dan cetakan NIB dengan alis berkerut. Namun, alih-alih melunak, pria itu justru terkekeh pelan, berusaha mengembalikan dominasi posisinya.
"NIB elektronik itu cuma izin dasar, Saudara Shevi," kilih Pak Wawan sambil menepuk dokumen tersebut. "Untuk operasional komersial yang memegang kontrak armada korporasi besar seperti Mbak Gita, Asosiasi Bengkel Wilayah punya standar khusus. Kalau dalam tiga hari Saudara tidak bisa menyerahkan Sertifikat Kelayakan Mekanis dan Surat Rekomendasi Asosiasi, kami terpaksa menerbitkan Surat Peringatan Pertama dan menyegel sementara aktivitas hidrolik di ruko ini."
Pak Teguh Prabowo yang mendengar kata penyegelan semakin khawatir. "Pak Wawan, tolonglah... ini bisa dibicarakan baik-baik, kan? Apakah tidak ada jalur rekomendasi sementara?"
Pak Wawan melirik rekannya, lalu menyunggingkan gestur penuh arti ganda. "Sebenarnya ada jalur pengurusan rekomendasi kilat melalui verifikasi lapangan khusus Asosiasi. Tapi ada biaya sertifikasi administrasi darurat... sekitar lima juta rupiah."
Mendengar nominal lima juta rupiah yang dilempar tanpa rasa malu, Dika mengepalkan jarinya hingga buku jarinya memutih. Itu bukan biaya sertifikasi resmi, melainkan uang pemerasan berselimutkan pasal perizinan!
Shevi memandangi wajah Pak Wawan dengan sorot mata fokus. Di dalam benaknya, kalkulasi dingin berputar keras. Sisa kas aktif di kantong dan laci kasirnya saat ini hanya tersisa tujuh ratus lima puluh ribu rupiah akibat pengeluaran emergency empat juta rupiah untuk menyelesaikan krisis pinjol Dika siang tadi. Bahkan jika Shevi memiliki uang lima juta rupiah sekalipun di rekeningnya, prinsip hidupnya menolak keras berkompromi kotor.
Memberi makan oknum pemeras sama saja dengan mengkhianati harga dirinya dan merusak keberkahan usaha yang dibangun dari keringat jujur. Sekali dia tunduk pada pemerasan birokrasi ini, mereka akan terus datang meminta jatah setiap bulan.
"Lima juta rupiah untuk lembar rekomendasi Asosiasi?" tanya Shevi dengan suara datar.
"Betul. Itu untuk biaya inspeksi teknis darurat agar bengkel Saudara tidak disegel," jawab Pak Wawan percaya diri, merasa Shevi tersudut oleh gertakannya.
Shevi melipat kedua tangannya di dada, menatap Pak Wawan dengan keteguhan mutlak.
"Bengkel Keberkahan berdiri atas dasar hukum dan kejujuran, Pak Wawan," tegas Shevi tanpa ragu. "Saya tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya di luar ketentuan retribusi resmi daerah. Kalau Bapak mau menerbitkan Surat Peringatan Pertama, silakan terbitkan sekarang juga di atas meja ini."
Pak Wawan dan rekannya terkejut. Mereka tidak mengira Shevi akan menolak mentah-mentah gertakan tersebut dengan keberanian penuh.
"Kamu berani menantang Asosiasi dan Dinas, Shevi?!" gertak Pak Wawan dengan wajah memerah.
"Saya tidak menantang siapa pun, Pak. Saya hanya menjalankan bisnis sesuai hukum yang berlaku," balas Shevi teratur. "Silakan keluarkan surat peringatannya. Namun ingat, draf kontrak kami dengan perusahaan logistik Mbak Gita didampingi oleh tim hukum korporat mereka. Kalau ruko ini disegel secara sepihak tanpa prosedur pembuktian pelanggaran yang sah, tim hukum korporat Mbak Gita yang akan mempertanyakan keabsahan surat Bapak ke tingkat dinas provinsi."
Penyebutan nama tim hukum korporat Gita yang dilempar Shevi memukul mental Pak Wawan dan rekannya. Mereka tahu betul besarnya pengaruh jaringan korporasi logistik tersebut di Jakarta Barat. Jika urusan ini naik ke tingkat inspektorat provinsi, posisi mereka sebagai oknum yang bermain mata dengan jaringan lama Asep Babi terancam hancur.
Pak Wawan meremas map kuningnya dengan jemari gemetar. Dia sadar, pemuda di depannya ini bukan mekanik awam yang gampang diintimidasi kertas izin.
"Bagus... Kita lihat sampai sejauh mana ketahanan dokumenmu, Shevi!" ancam Pak Wawan dengan suara tertahan. "Kami beri kamu waktu tiga hari untuk melengkapi seluruh berkas kelayakan teknis secara resmi di kantor dinas! Kalau tidak lengkap, jangan salahkan kami!"
Tanpa menunggu balasan lagi, Pak Wawan dan rekannya berbalik cepat, melangkah keluar ruko dan masuk ke sedan hitam mereka yang langsung melaju kencang meninggalkan halaman Daan Mogot.
Pak Teguh Prabowo menghela napas cemas, menatap Shevi. "Shev... kamu nekat sekali. Mereka punya akses ke penertiban lapangan."
Shevi menepuk bahu pemilik ruko itu dengan mantap. "Pak Teguh tidak perlu takut. Mereka cuma gertak sambal kiriman dari jaringan Asep Babi. Kalau kita berikan uang lima juta rupiah hari ini, bulan depan mereka akan minta sepuluh juta. Kita akan urus Sertifikat Kelayakan Teknis itu lewat jalur resmi dan transparan tanpa uang pelicin."
Di balik kesadarannya yang fokus pada langkah taktis, indikator Sistem Keberkahan di pikirannya merespons keteguhan moral Shevi secara otomatis di latar belakang menuju pembuktian integritas berikutnya.
Shevi menatap Dika yang berdiri kokoh di sampingnya. "Dik, persiapkan dokumen dan kendaraan. Kita tidak boleh cuma bertahan di dalam ruko. Besok pagi, kita jalan ke Balai Latihan Kerja dan Lembaga Sertifikasi Otomotif Jakarta Barat. Kita urus Sertifikat Kelayakan Teknis resmi atas nama Bengkel Keberkahan lewat jalur ujian kompetensi murni!"
Meski sisa kas aktifnya saat ini tersisa pas- pasan, Shevi tidak berniat menyuap siapa pun. Dia akan membungkam para pemeras itu dengan melengkapi seluruh legalitas teknis bengkelnya secara sempurna lewat jalur kompetensi dan keahlian sejati