Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA CEMARA
Suasana kafe begitu tenang dengan musik yang mengalun pelan. Kirana duduk di sudut bersama tiga orang temannya. Sambil menunggu pesanan datang, semua sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Wah," seru Nisa tiba-tiba sambil menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara matanya melotot melihat ke layar ponselnya. "Bukankah itu Ayahmu, Ran? Lalu... perempuan yang berjalan di belakangnya itu siapa?"
Kirana pun mencondongkan tubuhnya melihat ke layar ponsel Nisa.
"Eh, baca caption-nya," timpal Rani lalu mengambil ponsel dari tangan Nisa dan membacakan lirih. "Keluarga Cemara mengacau sekolah di hari pertama... apa maksudnya?"
Dalam video status WhatsApp kakak iparnya Nisa, terlihat jelas, Waluyo berjalan di depan sambil menggandeng Dara, dan satu langkah di belakangnya, Sutami mengikuti sambil menenteng tas Dara.
Perhatian Kirana justru tertuju pada hal itu. Pada cara Sutami berjalan, pada cara Dara secara refleks mencari tangan Sutami ketika ada ibu-ibu yang berbisik-bisik. Dada Kirana terasa panas dan sesak. Ia merasa tidak nyaman dan tidak ingin mengakui Sutami sebagai istri baru ayahnya.
"Woy!" kata Nisa masih sambil menepuk pundak Kirana. "Siapa nama ibu barumu itu, cantik juga!" timpal Nisa.
"Ayahmu pandai mencari ibu buatmu, jauh lebih muda dari men—"
BRAK!
Kirana memukul meja dengan keras. "Bisakah kalian diam?!" bentaknya dengan wajah memerah.
Suasana kafe yang semula ramai seketika hening, semua mata tertuju ke arah meja Kirana. "Dia hanya babu baru Ayahku!" suara Kirana mulai bergetar. "Aku tidak sudi memiliki ibu lagi! Mengerti?!" tegasnya.
"Eh, e... maaf Ran. Aku...."
Kirana meraih tasnya, lalu berdiri cepat hingga membuat kursi yang semula didudukinya jatuh terdorong ke belakang. Tanpa menunggu komentar lagi dari dua temannya, ia meninggalkan tempat itu, meninggalkan dua temannya yang terpaku terheran dengan sikap Kirana.
"Aku cuma nanya penasaran, kenapa dia semarah itu?" celetuk Rani.
"Sst, udah. kita kasih dia waktu. Mungkin dia cuma malu karena ibu barunya terlalu muda. Perhatiin deh, kan jatuhnya kayak jadi kakak buat dia," sahut Nisa.
"Sialan! Kenapa babu kloning itu terus saja ngelunjak!" teriak Kirana tampak kesal setelah ia duduk di dalam taksi, menatap kesal ke layar ponselnya. Lebih tepatnya ponsel mendiang ibunya yang ia simpan.
Sejak ibunya tiada, Kirana-lah yang mengambil alih tanggungjawab memantau setiap informasi dari grup kelas dan grup orang tua, masih menggunakan ponsel mendiang.
.........
Di dalam mobil menuju ke rumah, udara terasa begitu berat.
Di kursi belakang, Dara tertidur lelap di pangkuan Sutami. Kepalanya bersandar pada dada Sutami. Napasnya masih sedikit tersengal sisa menangis tadi dan wajahnya masih meninggalkan bekas air mata.
Di kursi depan, Waluyo menggenggam kemudi. Matanya fokus lurus ke jalan. Tidak ada percakapan apa pun, hanya suara mesin mobil dan sesekali klakson dari luar. Suasananya sangat kaku dan dingin, padahal di dalam kepala Sutami, rasanya begitu berisik.
'Dia pasti kecewa karena aku tidak becus mengawasi Dara, di hari pertama sekolah! Apa dia akan marah besar nanti? Tapi, bagaimana wajahnya bisa tetap tenang dan sedatar itu dari tadi? Astaga, aku bahkan masih gemetar kalau mengingat kejadian tadi!' batin Sutami sambil menatap kosong ke jalanan.
Tangannya kemudian sibuk. Sebentar merapikan rambut Dara, lalu mengusap punggungnya. Sebentar kemudian membenahi selimut kecil yang menutupi punggung Dara. Ia butuh melakukan sesuatu agar tidak gugup.
Dari pantulan kaca spion dalam, Waluyo melirik sekilas. Ia melihat Sutami yang tampak pucat sambil memeluk Dara erat seolah takut anak itu terbangun.
Waluyo mendengus pelan, bukan karena marah, lebih kepada lelah. "Kau baik-baik saja?" tanyanya datar dan pelan.
Sutami agak terkejut. "Iya," jawab Sutami singkat. Nyaris berbisik. "Maaf, aku—"
"Terima kasih," potong Waluyo cepat.
Sutami mengernyit. "Eh?"
Waluyo mengerem sedikit karena lampu merah. Ia baru sadar telah memotong ucapan Sutami. "Oh, kau bilang apa tadi?" ralatnya. "Aku tidak mendengarnya, jalanan agak ramai."
"Oh, tidak apa-apa," jawab Sutami.
Jawaban paling aman yang keluar begitu saja dari mulutnya. Padahal di dalam kepalanya ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan. 'Bagaimana dia bisa cepat tahu bukti dari rekaman CCTV? Bagaimana dia bisa dengan mudah menyetujui bimbingan konseling itu? Apakah orang seperti dia akan benar-benar datang nanti? Apakah aku juga harus ikut?'
Lampu hijau menyala, mobil kembali melaju dengan situasi di dalam mobil kembali hening dan kaku hingga akhirnya tiba di pelataran rumah.
Mesin dimatikan. Waluyo melepaskan sabuk pengaman, ia turun lebih dulu, melangkah cepat memutari mobil menuju pintu belakang.
"Sini, Dara biar aku gendong," katanya seraya membungkuk dengan kedua tangan terulur. Wajahnya masih terlihat datar.
"Jangan, nanti malah bangun, kasihan... aku bisa kok," jawab Sutami canggung. Ia sudah memposisikan tubuh, satu tangan menopang punggung Dara, satu tangan lagi bersiap menumpu.
"Hm, baiklah. Hati-hati." Waluyo tidak memaksa. Ia justru membuka pintu lebih lebar. Satu tangannya memegang gagang pintu, tangan satunya lagi ia letakkan di bingkai atas pintu mobil, tepat di bawah atap, untuk melindungi.
Sutami bergerak turun perlahan. Tubuhnya agak miring karena menggendong Dara. Saat itulah kepalanya hampir terantuk. Namun tangan Waluyo sudah berjaga di sana, telapak tangannya yang lebar menahan ujung atap mobil.
"Pelan-pelan," ucap Waluyo pelan, sangat dekat.
Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Sutami dapat mencium samar wangi parfum Waluyo yang bercampur keringat. Sementara Waluyo dapat mencium jelas aroma sampo di rambut Sutami.
Sutami mendongak, pandangan mereka bertemu sepersekian detik. Detak jantung Sutami seketika tidak beraturan.
"Te... terima kasih," kata Sutami terbata, tapi segera menunduk dan melangkah keluar, lebih cepat dari seharusnya.
Waluyo masih diam di tempatnya. Tangannya masih menempel di bingkai pintu. Ia melihat punggung Sutami yang gugup dan langkah kakinya yang tidak seimbang karena menahan beban Dara.
Ia menghela napas pelan lalu mengikuti langkah Sutami seolah bersiap. "Kalau berat bilang saja, jangan dipaksakan," ujarnya dingin, tapi memperhatikan.
Sutami mengangguk tanpa menoleh. "Iya. Tidak berat kok, Pak."
Dara yang berada dalam gendongan mengigau kecil dan semakin erat memeluk leher Sutami.
Waluyo mengambil langkah lebih lebar, mensejajarkan dengan Sutami. "Tadi itu... Terimakasih karena sudah bertahan di sana untuk Dara." Kalimat itu jatuh begitu saja, pelan dan terdengar lebih hangat dari biasanya.
Sutami tersenyum, entah kenapa wajahnya tersipu malu setelah mendengar kalimat lugas pria yang berjalan di sampingnya itu. "Bukankah itu memang tugasku... di surat perjanjian."
'Oh, tidak! Kenapa mulutku ini, kenapa aku malah mengungkit hal itu! Apa pantas untuk situasi ini?' pekik batin Sutami yang menyesali jawaban lugu yang keluar dari mulutnya yang tak ia sadari hanya jawaban untuk menutupi rasa gengsi dan debar jantung yang sedikit memburu.
Klank! Brak!
Belum sempat Waluyo menjawab, langkah mereka terhenti tepat di tangga pertama untuk naik teras rumah. Tepat di depan kaki Sutami, tergeletak sebuah ponsel yang retak layarnya karena dilempar Kirana yang berdiri bersedekah dada di ambang pintu, seolah sengaja menghadang.
"Mulai sekarang, aku nggak sudi ngurusin grup sekolahnya Dara!"
...****************...
Bersambung....
rasain tuh 😏