NovelToon NovelToon
A Saintess From The Flower Street

A Saintess From The Flower Street

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.

Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Masalah

“Carlisle belum datang?”

“Kakak pergi memeriksa wilayah beberapa hari yang lalu. Karena dia datang ke sini mewakili Ayah, kurasa dia berniat memeriksa semuanya sampai ke setiap sudut.”

“Benar. Dia memang sangat mirip dengan ayahmu.”

Countess Rochester menggerutu.

Brianna kemudian berkata, “Hmm, apa Kak Carlisle tidak akan datang? Aku ingin bertemu Kak Carlisle.”

“Jangan khawatir. Kurasa dia akan kembali sebelum Anoxi Glory.”

Anoxi Glory tinggal sekitar sepuluh hari lagi.

Memikirkan bahwa ia akan bertemu Carlisle lagi, ekspresi Violet seketika berubah.

“Kak Cedric, apakah kamu tidak senang Brianna ada di sini?”

“Ya. Tidak sama sekali.”

Cedric menjawab tegas dengan wajah masam dan hendak melarikan diri ke kamarnya. Namun, kerah bajunya sudah lebih dulu ditangkap Brianna.

Saat Cedric berseru kecil, Countess Rochester berkata, “Ya ampun, Cedric. Kau harus akrab dengan adikmu.”

“Adik perempuanku bukan dia, tapi Violet!”

Cedric menunjuk Violet dengan jarinya.

Seketika, wajah Countess Rochester dan Brianna sama-sama berubah.

Violet terkejut ketika tatapan mereka tiba-tiba beralih kepadanya.

Sementara Cedric, yang baru saja mengatakan hal itu, diam-diam meraih tangan Violet dan menariknya pergi.

“Hei, ayo.”

Entah mengapa, Violet merasa aneh.

Selama ini, ia mengira Cedric selalu memandang rendah dirinya karena ia hanyalah seorang rakyat jelata. Namun, di depan orang lain, Cedric justru mengakuinya sebagai adik.

Bahkan Ledian pun belum pernah secara terang-terangan menyebut Violet sebagai adiknya di hadapan orang lain.

Saat hampir terseret oleh Cedric, Violet menoleh ke belakang.

Brianna sedang tersenyum manis kepadanya.

“Kenapa kau membawaku ke kamarmu?”

“Kalau aku pergi ke kamarku, Brianna pasti akan datang seenaknya. Ah, padahal kami hanya bertemu sesekali, tapi tetap saja menyebalkan. Aku tidak mengerti bagaimana Kakak-Kakak bisa bersikap biasa saja terhadapnya. Kak Carlisle selalu serius, sedangkan Kak Ledian malah terus tersenyum. Tapi bagaimanapun juga, menurutku dia tetap menyebalkan.”

Cedric mengacak-acak rambutnya sambil mengeluh. Entah kenapa, Violet mulai merasa sedikit takut pada anak laki-laki ini.

“Ah, aku benar-benar membencinya!”

“Sebenci itu?”

“Tentu saja!”

Sepertinya dia benar-benar membencinya dari ujung kepala sampai ujung kaki, pikir Violet.

“Gadis itu jauh lebih buruk darimu. Meskipun kau berasal dari kalangan bawah, kau masih jauh lebih baik darinya. Kau juga lebih cantik!”

Perkataan itu jelas tidak sopan, tetapi Violet tahu Cedric mengatakannya tanpa maksud buruk, jadi ia tidak terlalu tersinggung.

Sudah lama Violet tidak bertemu dengan gadis seusianya. Karena itu, keberadaan Brianna justru tidak membuatnya merasa terganggu seperti Cedric.

Ledian mengatakan bahwa Brianna adalah gadis yang sangat manis.

Dan memang benar, gadis itu begitu manis.

Rambut keemasannya yang tergerai dan sedikit bergelombang mirip dengan rambut Ledian, sementara sepasang mata biru tua membuatnya tampak cantik seperti seorang putri dari negeri dongeng.

Violet sempat ingin bertanya tentang Brianna, lalu menoleh kepada Cedric.

Namun, Cedric sudah seenaknya berbaring di tempat tidur Violet. Ia berguling-guling sambil terus mengeluh.

“Aku benciiii...”

Melihat tingkahnya, Violet mulai merasa Cedric agak menyedihkan.

Apakah begini rasanya jika aku benar-benar punya seorang kakak?

Berbeda dengan Ledian yang berwibawa dan memiliki pembawaan layaknya seorang bangsawan, Cedric justru terus berguling-guling di atas tempat tidur.

Sampai akhirnya Meirra masuk dan memarahinya habis-habisan, lalu mengusirnya dari kamar.

......................

“Salam, Saintess.”

Brianna menyapa Violet yang sedang berjalan menyusuri koridor kastel.

Di belakangnya, beberapa pelayan kastel serta beberapa wajah asing yang tampaknya merupakan pelayan pribadinya ikut berjalan. Para pelayan kastel terlihat kembali terpikat pada nona muda yang telah lama tidak berkunjung itu.

Berbeda dengan Brianna, tidak ada seorang pun yang mengikuti Violet. Sebenarnya, Meirra masih ada, tetapi saat itu dia sedang membersihkan kamar. Seharusnya ada pelayan lain yang mendampingi Violet, tetapi sejak kejadian ketika Violet pergi dari kastel tanpa memberi tahu siapa pun dan banyak pelayan mendapat hukuman, tidak ada lagi yang ingin mengikutinya.

Gadis yang mengenakan gaun jingga cerah itu memeluk sebuah boneka cantik. Bentuknya mirip dengan boneka yang pernah diberikan Marquis kepadanya sebelum pergi ke wilayah kekuasaannya, sehingga tanpa sadar pandangan Violet tertuju pada boneka itu.

Namun, Brianna segera menyembunyikannya di belakang punggung, seolah tidak ingin boneka itu direbut.

“Salam, Nona Brianna.”

Mendengar sapaan Violet, Brianna memasang wajah tidak senang. Sapaan Violet terdengar begitu tenang dan anggun. Tidak ada satu pun cela yang menunjukkan bahwa dirinya seorang rakyat jelata, apalagi tatapan rendah diri yang biasanya dimiliki orang-orang dari kalangan bawah.

Pendidikan dan tata krama Violet pun tidak jauh berbeda dari nona-nona bangsawan lainnya. Bahkan, karena pernah belajar etiket di ibu kota, gerak-geriknya justru terlihat jauh lebih anggun.

Brianna kemudian tersenyum manis.

“Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang Saintess. Dan aku sangat senang karena kau ternyata seumuran denganku."

Saat Violet masih memilih kata-kata untuk menanggapi ucapan Brianna, seorang pelayan di belakang gadis itu terkekeh dan berkata dengan nada berlebihan, “Aduh, Nona kami memang baik sekali, ya.”

Violet tahu betul ada sindiran terselip dalam ucapan pelayan itu.

Brianna lalu meraih lengan Violet.

“Aku sudah lama sekali ingin punya teman!”

Brianna mengatakannya sambil tersenyum cerah. Violet pun menyadari bahwa gadis itu ternyata tidak seburuk yang selama ini dia bayangkan.

Ketika tersenyum dan mendekat seperti itu, wajah Brianna justru terlihat semakin manis.

Violet akhirnya ikut tersenyum tipis dan menjawab dengan malu-malu, “Ini merupakan suatu kehormatan, Nona.”

......................

Musim semi tampaknya mulai tiba. Udara yang perlahan menghangat membuat para pelayan membawa teh ke teras.

Violet merasa gugup karena ini adalah pertama kalinya dia berbincang dengan gadis bangsawan seusianya. Namun, Brianna memperlakukannya dengan ramah, sehingga Violet merasa lebih tenang.

Dengan wajah manisnya, Brianna meminta para pelayan untuk meninggalkan mereka.

“Kami akan berbicara berdua. Jangan ikut campur.”

Para pelayan pun menurut. Salah seorang dari mereka tersenyum gemas melihat tingkah nona mereka, lalu menyerahkan sebuah lonceng kecil berwarna keemasan kepada Brianna.

“Panggil kami jika Nona membutuhkan sesuatu.”

Violet sendiri baru tahu bahwa ada lonceng semacam itu.

“Kak Ledian bilang Saintess adalah orang yang sangat baik.”

“.....”

“Aku juga pernah mendengar dari Ledian bahwa Nona adalah gadis yang sangat manis.”

Brianna tersenyum cerah mendengar ucapan Violet.

Sebenarnya, pikiran Violet masih agak kacau. Dia tidak begitu yakin apakah cara mereka berbicara sudah sesuai dengan tata krama yang benar. Sikap sopan Nona Brianna di hadapannya juga terasa sedikit berlebihan, dan entah mengapa berbeda dari apa yang pernah diajarkan Countess Loraine kepadanya.

Meski begitu, Violet tetap mengikuti etiket yang telah dia pelajari.

“Aku ingin Kak Carlisle cepat kembali.”

“Benarkah?”

“Kak Carlisle sangat baik. Setiap kali aku datang, dia selalu mengajakku berkeliling wilayah. Aku berharap dia juga mau melakukannya saat Anoxi Glory nanti.”

Violet tidak begitu senang ketika pembicaraan beralih pada Carlisle.

Ternyata, bangsawan muda yang begitu dingin itu juga bersikap sangat baik kepada sepupu kecilnya yang manis ini. Tentu saja, dia tidak mungkin menebas leher seseorang tepat di depan Brianna.

Memikirkan hal itu entah mengapa membuat Violet kesal. Dia menggigit bibirnya dan menjadi lebih pendiam dari biasanya.

Melihat perubahan sikap Violet, Brianna tersenyum samar sebelum mengulurkan boneka yang tadi disembunyikannya.

“Ini untukmu, Saintess. Ambillah.”

“Eh? Kenapa kamu memberikan boneka ini padaku.”

“Karena, kamu seperti menginginkannya.”

“Tidak, aku...”

Sebenarnya, Violet hanya memandang boneka itu karena bentuknya mirip dengan boneka yang diberikan Marquis kepadanya. Namun, dia tidak tega mengatakan hal itu dan akhirnya menerima boneka tersebut. Brianna sudah berbaik hati memberikannya, jadi Violet merasa tidak enak jika harus menolaknya.

Begitu Violet menerima boneka itu tanpa banyak bicara, Brianna kembali tersenyum tipis dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Violet mengucapkan terima kasih, lalu mengamati boneka itu dengan saksama. Sebenarnya, boneka ini tidak secantik yang diberikan Marquis kepadanya. Rambutnya tidak begitu berkilau, dan warna matanya juga terlihat lebih kusam.

Meski begitu, karena boneka ini pemberian teman barunya yang cantik, Violet merasa dia harus menjaganya dengan baik. Dia pun tersenyum dan kembali mengucapkan terima kasih.

Namun, Violet merasa ada sesuatu yang aneh ketika Ledian datang.

“Jadi, kalian ada di sini. Aku dengar dari para pelayan kalau kalian sedang minum teh.”

Beberapa pelayan berdiri di belakang Ledian, sambil membawa hidangan ringan tambahan. Ledian tersenyum lembut sambil memandangi kedua adik perempuannya yang menggemaskan.

Saat itulah Brianna tiba-tiba menangis dan langsung memeluk Ledian.

Ledian pun memeluk sepupu dari pihak ibunya yang tiba-tiba datang kepadanya, lalu menatap Violet seolah bertanya apa yang terjadi.

Tentu saja, Violet juga tidak tahu mengapa Brianna menangis.

Apa dia sakit?

Violet merasa khawatir. Dia turun dari kursinya dan menghampiri mereka.

“Kak Ledian!”

Brianna menangis begitu sedih hingga Violet dan Ledian hanya bisa memandanginya dengan bingung.

“Bolehkah aku dibelikan satu boneka lagi?”

“Apa maksudmu?”

“Bukan, aku hanya...”

“Bukankah bonekamu ada di sana?”

Ledian berkata sambil menunjuk boneka yang sedang dipegang Violet.

Brianna menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Yang itu sudah menjadi milik Saintess.”

Mendengar itu, Ledian menatap Violet.

“Nona Brianna yang memberikannya kepadaku.”

Entah mengapa, Violet merasa tatapan yang tertuju kepadanya tidak lagi bersahabat. Namun, dia tetap berkata dengan tenang.

Saat itu, Countess Rochester rupanya melihat keributan tersebut dan berjalan ke arah mereka. Begitu melihat ibunya, Brianna menangis semakin keras hingga terisak-isak.

Suara para pelayan yang berbisik-bisik pun terdengar.

“Ada apa ini? Kenapa Brianna menangis seperti ini?”

Brianna memeluk erat pinggang Ledian. Pandangan Countess Rochester kemudian beralih pada boneka yang berada di tangan Violet. Seketika, matanya menyipit.

“Bukankah itu boneka yang diberikan ayahmu sebagai hadiah? Lalu, kenapa Saintess yang memegangnya? Coba jelaskan, Saintess. Mengapa boneka Brianna ada di tanganmu?”

Nada bicara Countess Rochester terdengar tajam.

Violet sempat kebingungan, tetapi dia menjawab dengan jujur.

“Nona Brianna sendiri yang memberikannya kepadaku.”

“Tidak mungkin. Itu adalah hadiah yang diberikan ayahnya saat ulang tahunnya yang kedua belas. Kau bilang dia memberikan boneka yang paling disayanginya kepada Saintess?”

Mendengar itu, tangisan Brianna kembali terdengar semakin keras.

Ledian pun berkata dengan raut wajah bingung, “Violet, bagaimana kalau boneka itu dikembalikan kepada Brianna?”

“Tidak. Aku sendiri yang memberikannya kepada Saintess. Tadi dia terlihat begitu menginginkan boneka itu.”

“Anak ini benar-benar! Itu bukan boneka biasa. Tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, bagaimana mungkin kau memberikannya begitu saja kepada orang lain?”

Countess Rochester menegur Brianna dengan keras.

Mata biru Ledian kemudian tertuju pada Violet. Tadi Brianna sendiri yang mengatakan akan memberikannya, lalu mengapa keadaan berubah seperti ini?

Violet masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dia menduga Brianna mungkin berubah pikiran. Karena itu, Violet mengulurkan boneka tersebut.

“Tidak perlu.”

Countess Rochester menolaknya dengan dingin.

“Aku akan membelikanmu boneka yang lebih bagus saat kita pergi ke ibu kota, jadi berhentilah menangis. Astaga, benar-benar tidak masuk akal. Bagaimanapun juga, meski kau berasal dari kalangan rendah....”

Sindiran yang dilontarkan secara terang-terangan itu membuat Violet kehilangan kata-kata. Apa pun yang dia katakan sekarang, dia pasti akan dianggap sebagai pihak yang bersalah.

Violet memandang Ledian, tetapi pria itu bahkan tidak meliriknya. Tatapannya hanya tertuju pada Brianna yang masih berada dalam pelukannya.

Perasaan tidak enak mulai menyelusup ke dalam hati Violet.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa sendirian, seolah tidak memiliki tempat di antara mereka.

-

“Apa itu?”

Violet segera kembali ke kamarnya, seolah ingin melarikan diri dari situasi yang membuatnya tidak nyaman. Namun, begitu masuk, ia mendapati Cedric sedang bermalas-malasan di dalam.

Cedric kemudian menunjuk boneka yang dibawanya.

Meirra yang melihat Violet akhirnya kembali sempat tersenyum dan bertanya mengapa dia baru datang. Namun, tatapan Meirra kemudian beralih pada Cedric, seolah terang-terangan menyuruhnya segera pergi karena dia tidak menyukai kehadiran Tuan Muda bungsu itu di sana.

“Meirra, sepertinya aku yang salah.”

Violet menatap Meirra dengan pandangan kosong.

Guncangan yang baru saja dialaminya masih begitu kuat hingga tidak bisa dilupakan. Tatapan semua orang seolah menyudutkannya, seakan-akan dia adalah pihak yang bersalah.

Violet sudah berkali-kali menerima tatapan yang merendahkan dirinya. Namun, menerima tatapan penuh permusuhan dari begitu banyak orang sekaligus adalah sesuatu yang belum pernah dia alami.

Permusuhan tanpa alasan itu membuat Violet begitu terpukul hingga pikirannya terasa kosong.

“Apa yang terjadi, Nona? Dan boneka itu dari mana?”

“Nona Brianna memberiku boneka itu, tetapi tiba-tiba dia menangis. Aku berniat mengembalikannya, tetapi Countess mengatakan tidak perlu.”

Violet masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Terlebih lagi, kenyataan bahwa Ledian mengabaikannya saja sudah cukup membuat Violet sangat terpukul.

Cedric bertanya, “Tapi kalau dia yang memberikan boneka itu, kenapa dia malah menangis?”

“Aku juga tidak tahu....”

Meirra memasang wajah serius. Dia terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu, lalu tiba-tiba terkekeh.

“Nona kecil itu ternyata sedang melakukan sesuatu yang cukup menarik.”

“Eh?”

Violet mendongak. Meirra tersenyum tipis.

“Nona, Anda benar-benar tidak mengerti? Nona Brianna sedang mencari masalah dengan Anda.”

“.....”

“Apa maksudmu Meirra?” Cedric mengerutkan keningnya.

“Tidak mungkin. Waktu memberikan boneka itu, Nona Brianna jelas-jelas tersenyum lebar.”

“.....”

Baik Meirra maupun Cedric sama-sama tidak bisa menjawab ucapan polos itu. Namun, Meirra mengusap kepala Violet dan berkata, “Orang-orang akan mengira Nona menggunakan kedudukannya untuk merebut boneka milik Nona Brianna.”

“Itu tidak masuk akal. Aku benar-benar tidak melakukannya. Seperti yang kau tahu, aku sudah punya boneka yang lebih cantik.”

“Ya, aku tahu.”

Meirra menjawab saat Violet merasa tidak terima.

Violet benar-benar tidak mengerti. Mengapa Brianna sengaja menciptakan situasi seperti itu?

Reputasi Violet sudah buruk sejak awal. Dia berasal dari kalangan rakyat jelata, jauh di bawah kedudukan Brianna, dan hanya sedikit orang yang menyukainya. Jadi, mengapa Brianna harus repot-repot mencari masalah dengannya?

Sebenarnya, dalam hal menerima kenyataan bahwa orang lain mungkin tidak menyukainya, Violet tergolong lebih dewasa dibandingkan anak-anak seusianya. Dari kejadian di pesta ulang tahunnya, dia juga sudah belajar bahwa seseorang bisa bersikap pura-pura.

Namun, Violet tidak pernah membayangkan bahwa orang yang bersikap pura-pura bisa sampai menjebak dan menertawakan orang lain demi mendapatkan sesuatu.

Violet benar-benar tidak bisa memahami alasan Brianna melakukan semua itu.

“Hei, percaya saja padaku.”

Tentu saja, Violet tidak percaya pada Cedric.

Violet kembali tenggelam dalam pikirannya.

......................

Violet tetap diam di dalam kamarnya. Cuaca perlahan mulai menghangat, tetapi ia justru semakin sering menghabiskan waktu di kamar, bahkan lebih lama dibandingkan saat musim dingin.

Sempat terpikir olehnya untuk menemui Ledian dan meluruskan kesalahpahaman, tetapi ketika melihat Ledian bersama Brianna, Violet mengurungkan niatnya dan kembali ke kamar. Ledian sedang memandang Brianna dengan tatapan hangat.

Brianna memang seorang nona muda yang disayangi banyak orang. Kepribadiannya yang ceria dan penuh semangat membuatnya mudah disukai.

Berbeda dengan Brianna, Violet pernah membuat keributan hingga beberapa pelayan kehilangan pekerjaan. Hal itu bahkan sempat menimbulkan ketegangan antara Meirra dan salah seorang pelayan lainnya.

Untungnya, semua orang di tempat ini takut pada Meirra, sehingga tidak ada yang berani memperlakukannya sembarangan.

Sementara itu, Cedric entah mengapa tampak begitu bersemangat. Setiap kali melihat Violet, dia sesekali memasang senyum jahil, tetapi Violet sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan.

Barulah Violet mengetahui ulah Cedric ketika dia keluar untuk melihat taman bunga, sekadar untuk mengalihkan pikirannya.

“Aaaaah!”

Brianna menjerit.

Roknya tiba-tiba terangkat tinggi ke udara, memperlihatkan celana putih yang dikenakannya di balik rok. Violet hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

“Apa-apaan ini....”

“Kenapa? Bukankah kau menuduhnya telah mengambil boneka darimu?”

Cedric berkata dengan santai.

Wajahnya tampak begitu puas, tetapi Violet langsung mengerutkan kening ketika Brianna mulai menangis terisak-isak.

Sudah kuduga.

Mengapa dia melakukan hal sebodoh ini?

“Hiks! Saintess, jangan bilang Anda menuduh saya! Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Jangan-jangan Anda yang menyuruh Kak Cedric melakukan ini?”

“.....”

“Hei, siapa yang bilang begitu?! Aku sendiri yang ingin melakukannya!”

Cedric berteriak, ia tidak percaya mendengar tuduhan itu.

Meirra juga hendak mengatakan sesuatu, tetapi Brianna lebih dulu melanjutkan, “Padahal Kak Cedric tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Semua ini baru terjadi setelah dia bertemu Saintess.”

“.....”

“Aku melihatnya sendiri! Kak Cedric sedang berbicara dengan Saintess dengan gembira ketika dia mencari serangga untuk dimasukkan ke dalam sepatuku! Jelas sekali Saintess yang menyuruhnya!”

“Saintess tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada Cedric, Nona.”

Violet mengerutkan kening. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, apalagi mengapa Brianna sampai bersikap seperti ini.

Dadanya terasa sesak karena menahan rasa sedih. Selama ini, Violet sudah cukup lelah menjadi bahan bisik-bisik orang atas sesuatu yang tidak pernah dia lakukan. Dia tidak ingin lagi dituding atas perbuatan yang bahkan bukan ulahnya.

“Kalau begitu, kenapa Nona Brianna justru membenciku? Aku tidak pernah melakukan apa pun. Setelah memberikan boneka itu kepadaku, kenapa kau malah menangis? Aku sudah memiliki boneka yang diberikan Marquis sebagai hadiah, jadi aku tidak membutuhkan boneka milikmu. Aku juga tidak pernah memintanya, apalagi memaksamu memberikannya.”

“Benar, benar!”

Cedric langsung mengiyakan, tetapi Meirra buru-buru menghentikannya.

Brianna kembali terisak.

“Ada apa?”

Tangisan Brianna terdengar begitu keras hingga Ledian yang kebetulan sedang berada di sekitar sana datang menghampiri.

Setidaknya, ada satu hal yang cukup melegakan. Countess Rochester, yang gemar berjalan-jalan, sedang pergi keluar untuk sementara.

“Kak Cedric dan Saintess, mereka berdua....”

“Apa yang kau bicarakan?!”

Cedric langsung berteriak.

Mendengar suaranya yang meninggi, para pelayan yang berdiri di belakang Brianna mulai berbisik-bisik kepada Ledian.

“Benar, Tuan Muda! Nona Brianna terus diganggu oleh Tuan Muda Cedric.”

“Benar. Aku juga melihatnya sendiri.”

Mereka terus berbisik di antara satu sama lain.

“Hei, apa hubungannya kalau aku mengganggu dia dengan Saintess?”

Cedric berkata dengan kesal.

“Saintess-lah yang menyuruh Tuan Muda Cedric melakukannya. Astaga, benar-benar tidak tahu malu.”

Salah satu pelayan Brianna mulai menyindir.

Mendengar itu, Meirra langsung bisa membayangkan seberapa banyak ibu dan anak dari keluarga Rochester telah membicarakan Violet di belakangnya.

“Sepertinya di Flower Street hanya diajarkan hal-hal buruk, ya?”

Ucapan itu terdengar sangat menghina Violet.

“Jaga ucapanmu!”

Begitu mendengarnya, wajah Ledian seketika mengeras. Dia membentak dengan suara dingin, wajahnya yang biasanya lembut kini berubah karena amarah.

Pelayan yang dimarahi itu langsung menciut. Namun, dia masih menundukkan pandangan dengan angkuh, seolah dirinya sama sekali tidak melakukan kesalahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!