NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 - Sebuah Alasan

Cuaca sore ini cukup mendung—bahkan gumpalan awan abu-abu sudah merangsek sejak siang hari, menyisakan udara yang terasa cukup hangat sekaligus lembap. Pada awal bulan November seperti saat ini, semua wilayah secara merata umumnya memang sudah memasuki masa peralihan menuju puncak musim hujan.

Di dalam kamarnya, Kinan tampak sibuk berdandan di depan cermin kecil di atas meja. Kali ini, ia berdandan amat beda dibanding hari-hari biasanya. Penampilan ini ia siapkan khusus untuk agenda yang bisa dibilang cukup spesial—meski di balik polesan makeup-nya, kantung mata tipis akibat kurang tidur lantaran terlalu banyak overthinking semalaman tak bisa sepenuhnya tersembunyi.

"Hmm... kayaknya yang ini cocok buat sore ini," gumam Kinan pada bayangannya di cermin.

Ia memiringkan wajah, mencoba lipstik merahnya yang sedikit lebih menyala dibanding lipstik harian yang biasa ia gunakan.

Tepat setelah Kinan selesai menilai penampilannya dengan senyum puas, ponselnya di atas kasur mendadak berdering— menampilan panggilan video call grup dari Mika dan Alya. Kinan bergegas meraih ponselnya lalu menekan tombol hijau.

"Widiiiih... tampil spesial banget neng hari ini!" goda Mika serta-merta begitu layar menampilkan paras Kinan.

"Apaan sih? Biasa aja, kok," balas Kinan santai.

"Merah bener bibirnya, Kin," sahut Alya mengomentari polesan di wajah sahabatnya.

"Loh, iyakah?! Emang terlalu merah, ya?! Berlebihan, ya? Keliatan gak cocok, ya? Apa mending pake yang biasanya aja, ya?!" cerocos Kinan beruntun. Matanya membelalak cemas dan gelisah.

Selama ini Kinan memang tak pernah berdandan mencolok; ia selalu tampil ala kadarnya dengan makeup minimalis karena memang kurang suka menjadi pusat perhatian. Namun sore ini, entah apa yang merasukinya, ia mendadak berani mencoba untuk tampil beda di hadapan Nathan.

Gelak tawa Alya dan Mika meledak puas seketika melihat reaksi panik sahabat mereka itu.

"Apa emang seaneh itu, ya?" tanya Kinan lagi. Kali ini, raut wajahnya menekuk cemberut.

"Bukan.... bukan aneh, Kin! Bukan gak cocok atau berlebihan!" jelas Alya cepat-cepat di antara sisa tawa ringannya.

"Terus?"

"Bagus kok, serius! Cocok banget malahan. Cuman ya… beda aja dari Kinan yang kita kenal. Ya, kan, Mik?"

"Bener tuh, Al! Kayaknya emang cakepan dandan begitu deh daripada dandan simpelmu yang biasanya. Apalagi warna bibirnya... Bener-bener manis dan menggoda," sahut Mika, menempelkan wajahnya mendekati kamera ponsel dengan senyum jahil.

Kinan hanya bisa membuang napas, tersenyum malu mendengar pujian bercampur godaan dari kedua sahabatnya.

"Emang ya, harus bener-bener tampil maksimal buat di depan orang spesial~" goda Alya lagi.

"Hati tuh emang gak bisa boong, gak sih? Gitu aja kemaren masih ngeles dengan beribu alasan ’cuman bentuk terima kasih blablabla’... Huuuuuu!" timpal Mika makin semangat memanasi situasi.

Kinan tak henti-hentinya tersipu malu. Wajahnya merona merah sembari buru-buru memalingkan pandangan dari layar ponsel. "Udah... udah, ah! Berhenti ngomong aneh-aneh, kalian berdua! Aku mau berangkat dulu, ntar malah terlambat!"

"Semangat ya kencannya! Nanti cerita ke kita selengkapnya, Kin! Aku tunggu lho!" pesan Mika.

"Di luar mendung banget hari ini. Buruan berangkat, daripada nanti bibir merahmu luntur kena hujan!" goda Alya menimpali.

"Dah... Dah!" sahut Kinan cepat sembari melambaikan tangannya ke layar ponsel, lalu tergesa-gesa mematikan panggilan video call tersebut.

Kinan beranjak berdiri, meraih tas selempang cokelatnya di atas kasur, lalu memasukkan ponsel ke dalamnya. Ia melangkah kembali ke depan cermin besar di tembok kamarnya sebentar untuk merapikan helai rambut dani memantapkan rasa percaya dirinya.

Namun, tepat saat ia memutar gagang pintu dan melangkah keluar kamar, langkahnya mendadak terhenti. Ibunya yang secara tak sengaja sedang lewat di depan kamarnya seketika mematung, menatap pangling pada penampilan anaknya sore ini.

"Bu, aku mau keluar dulu. Mungkin nanti gak sampe Maghrib juga udah pulang," ucap Kinan bergegas menghampiri sembari mencium punggung tangan ibunya.

"Mau pergi ke mana kamu, Nak?" tanya ibunya. Pandangannya masih tak lepas mengamati detail paras Kinan.

"Emm... Kinan mau nugas sama temen di luar, Bu. Mumpung lagi libur juga," jawab Kinan, berusaha melempar alasan yang paling masuk akal.

"Nugas?" Ibunya menaikkan sebelah alis, kembali memperhatikan penampilan Kinan dari atas sampai ke bawah. "Nugas… apa ‘nugas’, Nak?" goda sang ibu sembari tersenyum penuh makna.

"Y-ya nugas, Bu…" sahut Kinan gugup. Dari raut muka ibunya, ia tahu persis apa arti senyuman itu. Wajahnya yang seketika memerah kini benar-benar tak sanggup lagi ia sembunyikan.

"Oh... anak Ibu mau pergi ‘nugas’..." ulang ibunya dengan nada yang sengaja diseret-seret—sukses membuat Kinan semakin salah tingkah dan kehabisan kata-kata.

"Ah, udah ah, Bu. Kinan mau berangkat dulu, keburu telat ntar."

Kinan memotong cepat, lalu bergegas melangkah menuju pintu depan untuk berangkat. Sebanyak apa pun ia mencoba menampik semua tuduhan sahabat dan ibunya, tak bisa dipungkiri bahwa memang ada sesuatu yang tumbuh dan mengubah Kinan yang biasanya.

Sementara itu di tempat lain…

Nathan tampak sudah rapi dengan pakaian santai, siap untuk agenda pertemuan bersama Kinan. Dari raut wajahnya, Nathan terlihat begitu tenang dan kasual seperti biasanya—sangat berbanding terbalik dengan Kinan di sana yang sejak tadi dilanda debar tak menentu.

Nathan melangkah perlahan menuruni anak tangga turun ke lantai satu kos. Di ruang tamu, tampak ketiga teman kosnya sedang asyik berkumpul menikmati rujak buah. Begitu sosok Nathan menampakkan diri di depan mereka, ketiga temannya itu langsung menghentikan kunyahan dan mengalihkan pandangan padanya.

"Rapi bener sore-sore gini… Mau kencan ya, Nath?" celetuk Riki sembari menggigit irisan mangga yang baru dicocol sambal.

"Wah, ini nih! Gak perlu diragukan lagi sih, Rik! Udah pasti ini mau jalan sama cewek," timpal Devan ikut-ikutan menatap curiga.

Nathan tak membalas godaan itu. Ia hanya diam dengan wajah datar memandangi teman-temannya, lalu melangkah menuju pintu depan.

"Semangat, ya, Nath!" celetuk Denis sembari mengepalkan tangannya ke arah Nathan.

"Bawa main ke sini, Nath, kapan-kapan! Gak usah malu-malu lah. Penting jangan kayak Devan," celoteh Riki menambahkan, diselingi tawa tengil.

Mendengar namanya diseret-seret, Devan seketika menoleh tajam ke arah Riki. "Hah? Maksudmu apa, Rik?"

Riki sama sekali tak memperdulikan lirikan sengit Devan. Ia dengan santai mengambil irisan kedondong di atas piring dan mencelupkannya ke mangkuk sambal. Sementara itu, Nathan hanya berdiri memandangi kegaduhan mereka bertiga dengan tatapan datar—tanpa memberikan respons berlebih. Namun, tepat sebelum tangannya mendorong pintu, seulas senyum tipis mendadak terukir di bibirnya.

Di jalanan kota, Kinan yang sudah menempuh lebih dari setengah perjalanan menuju Arima Cafe beberapa kali melirik gelisah ke langit, Awan mendung gelap kian tebal, menutupi cahaya sore.

"Kayaknya emang bakal turun hujan lebat bentar lagi. Semoga aja bisa sampe duluan sebelum deres," gumam Kinan dengan raut wajah waswas. Ia memacu sepeda motornya sedikit lebih cepat menerobos hembusan angin dingin.

Sementara itu, di dalam Arima Cafe yang hangat, Nathan rupanya sudah lebih dulu tiba. Ia duduk bersandar di salah satu sudut meja yang berdampingan langsung dengan jendela kaca besar yang menghadap tepat ke area parkir.

Beberapa kali pandangan mata Nathan menatap ke luar jendela, menyaksikan gerimis yang mulai menempel basah di permukaan kaca. Ia menghela napas pelan, lalu tenggelam dalam lamunan panjang—berharap cewek yang ditunggunya segera tiba.

Seorang pelayan melangkah mendekat dan menyodorkan buku menu, membuat lamunan Nathan seketika buyar. Ia menoleh dan menatap pelayan itu.

"Silahkan dilihat-lihat dulu menunya, Kak," tawar pelayan cewek itu ramah.

"Aku masih nunggu seseorang," jawab Nathan sembari melempar senyum tipis.

"Oh, baik, Kak. Nanti kalo mau pesan, tinggal panggil kami aja, ya."

Nathan mengangguk pelan. Setelah pelayan itu berlalu, pandangannya kembali tertuju ke luar jendela kaca. Rintik gerimis perlahan berubah menjadi hujan yang kian deras. Nathan kembali termenung, menunggu dalam gelisah kedatangan seseorang.

Tak lama berselang, sebuah sepeda motor dengan pengendara memakai jas hujan merapat ke area parkir. Sosok itu buru-buru melepas jas hujannya, meletakkannya di atas motor, lalu berlari kecil menerobos hujan masuk ke dalam kafe.

Di dekat pintu masuk, Kinan berdiri sembari membetulkan posisi helai rambutnya yang sedikit basah. Matanya melirik ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan tempat duduk Nathan.

Saat pandangannya menyapu area sudut jendela kaca, ia melihat Nathan yang sedang mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat.

Kinan menghela napas lega, lalu berjalan pelan menghampirinya.

Di tempat duduknya, tatapan Nathan mendadak terkunci rapat. Matanya terpaku memperhatikan Kinan yang mengenakan Gingham Midi Dress berwarna terracotta. Penampilan itu memancarkan kesan estetik dan kasual yang anggun, ditambah sebuah senyuman manis yang membuat Nathan benar-benar semakin tak sanggup memalingkan pandangannya.

"Ah, m-maaf banget ya jadi agak telat," ucap Kinan seraya tergesa-gesa duduk di kursi tepat di hadapan Nathan.

Nathan masih terdiam, tatapannya belum sepenuhnya lepas dari paras anggun Kinan. Baru setelah sekian detik berlalu, kesadarannya kembali.

"Ah, iya… gak apa-apa," ujar Nathan buru-buru, berusaha keras agar tidak tampak salah tingkah.

Untuk beberapa saat, pandangan mereka saling bertemu dalam keheningan yang serba canggung. Baik Kinan maupun Nathan mendadak bingung untuk memulai obrolan. Nathan yang biasanya selalu tenang, datar dan cenderung dingin pun mendadak ikut mati angin. Padahal kemarin di chat mereka bisa mengobrol dengan sangat lancar, namun tatap muka secara langsung sare ini menghadirkan nuansa yang benar-benar jauh berbeda.

"A-ah... t-terima kasih banget ya buat tempo hari," tutur Kinan terbata-bata, tiba-tiba memberanikan diri memecah kecanggungan di antara mereka.

Nathan tak seketika menanggapi. Ia hanya terpaku menatap mata Kinan. Ada jeda beberapa saat yang hening hingga akhirnya ia mengangguk pelan sembari mengedipkan mata. "Ah... iya."

"A-aku... aku gak tau bakal kayak gimana keadaannya kalo gak ada kamu saat itu. Jadi.... yah, sekali lagi terima kasih banyak."

Lagi-lagi Nathan hanya bergeming menatap mata Kinan tanpa langsung bersuara. Tak lama berselang, senyum tipis yang sarat akan rasa bersalah terukir di bibirnya. "Harusnya aku yang minta maaf sama kamu."

Mendengar perkataan tak terduga itu, dahi Kinan seketika berkerut.

"M-minta maaf? Minta maaf buat—"

Nathan menyela cepat sebelum Kinan sempat menyelesaikan kalimatnya. "Buat kata-kataku malam itu."

Kinan sempat memiringkan kepala bingung, belum sepenuhnya mengerti maksud perkataan Nathan. Namun, beberapa saat kemudian, ingatan tentang kejadian malam itu mendadak terputar ulang di kepalanya—tentang kalimat tegas yang Nathan lontarkan saat pasang badan di depan Romi.

Seketika, wajahnya tersipu malu, terlambat memahami arah pembicaraan Nathan.

"Jangan....berani...kau...nyentuh...kekasihku."

Kalimat itu terngiang kembali begitu jelas.

"Mungkin... waktu itu aku berlebihan,” lanjut Nathan menjelaskan. Ia melepaskan tatapannya dari Kinan, mengalihkan pandangan ke luar jendela kaca yang kian buram tertutup titik air. “Kata-kata itu keluar gitu aja. Aku bener-bener gak bermaksud seperti itu."

"Eh, gak kok! Itu bukan masalah," potong Kinan cepat sembari menggelengkan kepala.

Saat Nathan kembali menoleh padanya seusai mendengar jawaban itu, Kinan tersenyum manis yang tulus. Nathan yang melihatnya tak sanggup menahan diri untuk tidak ikut tersenyum. Dinding canggung yang tadinya membentang di antara mereka perlahan-lahan runtuh begitu saja.

Sementara di luar kafe, hujan deras mengguyur kian lebat. Suara gemuruh air yang menghantam atap dan jalanan saling bertumpuk harmonis dengan musik yang mengalun di dalam kafe.

Tak berselang lama, mereka memanggil pelayan dan memesan makanan serta minuman hangat. Tak butuh waktu lama, kurang dari 15 menit seluruh pesanan pun sudah terhidang di atas meja. Maklum, sore menjelang malam apalagi dengan kondisi hujan deras itu pengunjung tak terlalu pada untuk ukuran kafe berkonsep cozy yang tak terlampau besar tersebut.

"Selamat menikmati ya, Kak. Nanti kalo mau pesan lagi, tinggal panggil kami aja," ucap pelayan cewek itu setelah menata cangkir dan piring di meja.

Kinan tersenyum ramah. "Terima kasih banyak."

"Kakak berdua bener-bener keliatan pasangan yang serasi deh," celetuk pelayan cewek itu tiba-tiba sembari tersenyum penuh makna, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan meja.

Seketika wajah Kinan memerah, tersipu malu, menundukkan kepala berpura-pura sibuk mencari sesuatu. Namun, ketika ia memberanikan diri mencuri pandang ke arah Nathan, tatapan cowok itu yang sedang memperhatikannya justru membuat Kinan semakin salah tingkah.

Lalu keheningan merayap kembali di antara mereka, bahkan ketika keduanya mulai mencicipi makanan dan minuman yang tersaji. Hingga akhirnya Kinan kembali memecah canggung dengan membuka topik obrolan.

"Umm... ngomong-ngomong, beberapa hari setelah kejadian di malem itu, aku sempet minta nomermu dari Alya. Ah, maksudku Vendara,” tutur Kinan pelan. “Awalnya dia keliatan ragu banget pas aku minta. Ya emang seharusnya gitu, sih… Tapi setelah aku jelasin alesannya ke dia, akhirnya dia mau. Dan... yah, gitu deh, makanya aku bisa chat kamu."

Nathan yang sedang mengunyah panekuk pesanannya mengangguk paham. "Gak banyak orang yang punya nomer kontakku, kecuali emang udah kenal cukup lama. Dan Vendara salah satunya. Kalo dia mau ngasih ke kamu, berarti emang gak masalah."

Mendengar hal itu, rasa penasaran mendadak muncul di benak Kinan. "Dia itu salah satu temen deketku, kami udah kenal hampir dua tahun lebih. Kalo kalian?"

"Hmm... mungkin dari semester-semester awal kuliah, seingetku."

"Kenalnya dari klub basket, ya?" tebak Kinan.

Nathan hanya mengangguk pelan sembari menyuapkan potongan panekuk berikutnya ke dalam mulut. Kinan pun menyusul menikmati pesanannya. Untuk sejenak, hanya terdengar alunan musik dan gemuruh hujan yang membasahi jalan.

Setelah menelan minumannya, Kinan kembali memberanikan diri membuka topik obrolan baru.

"Oh, iya. N-nathan, kamu kuliah jurusan apa? Aku sendiri Sastra Indonesia angkatan 2023," tanya Kinan, berusaha mencairkan suasana.

"Sasindo? Berarti kita satu fakultas. Aku Sastra Inggris, seangkatan denganmu. Kamu pengen jadi guru?"

Kinan tersenyum lebar sekaligus terkejut. Ia tak menyangka ternyata mereka berkuliah di satu fakultas yang sama, dimana gedung perkuliahannya bahkan berdampingan. Terlebih lagi, mereka berada di tahun angkatan yang sama. Tak mengherankan juga Kinan bisa bertemu dengan Nathan saat akan menemui dosen pembimbingnya dulu.

"Hmm..." Kinan mengangguk pelan. "Jadi guru itu emang cita-citaku dari kecil, makanya aku ambil jurusan itu. Kalo kamu sendiri, kenapa ambil Sastra Inggris? Apa kamu emang ada rencana buat kerja ke luar negeri atau semacemnya?"

Untuk sekian detik, raut wajah Nathan sempat berubah masam dan meredup. Namun, dengan cepat ia menguasai ekspresinya kembali. "Iseng aja."

"Cuman iseng?"

"Sebenernya, dari kecil aku suka banget baca novel berbahasa Inggris dan belajar hal-hal baru yang mungkin belum aku tau sebelumnya,” terang Nathan. “Selama hal itu menarik, aku bakal terus coba pelajari sampe sekarang."

"Kamu punya cita-cita? Atau keinginanmu di masa depan gitu?" cecar Kinan lagi.

"Cita-cita, ya?” Nathan terdiam sejenak, menatap rintik hujan. “Mungkin sekarang gak ada. Aku cuman pengen menjalani hidup yang damai. Itu aja."

"Ohh..." Kinan mengangguk-angguk, menangkap impresi misteri terselubung di balik sosok Nathan.

Obrolan di antara mereka mengalir kian lancar tanpa rasa canggung lagi. Banyak kisah yang saling mereka tukarkan, hingga tanpa terasa waktu sudah bergulir hampir dua jam lamanya. Nathan yang biasanya tak banyak bicara, sore ini secara mengejutkan sanggup mengimbangi antusiasme Kinan yang haus menceritakan banyak hal kepada sosok yang tengah berusaha ia kenali lebih dalam.

Di atas meja, piring dan gelas pesanan mereka sudah hampir kosong sepenuhnya. Sementara di luar, guyuran hujan pun perlahan mereda,menyisakan gerimis tipis yang masih jatuh.

"Kamu baru kerja di cake shop, ya?" tanya Nathan tiba-tiba.

"Emm... baru tiga bulanan, sih. Sekitar awal agustus kemaren. Niat awalnya cuman buat ngisi liburan semester, tapi makin kesini malah makin betah kerja di sana. Padahal semester ini jadwalnya bareng sama praktik mengajar di sekolah."

Nathan mengangguk pelan. "Apa gak capek ngelakuin semuanya sekaligus?"

"Sejujurnya sih, kadang ngerasa capek banget. Apalagi kalo cake shop lagi rame-ramenya, kadang libur aja kayak gak kerasa libur. Tapi ya… sejauh ini semuanya masih baik-baik aja dan berjalan lancar. Kalo kamu sendiri gimana?"

"Semester sekarang ngambil sisa mata kuliah wajib sekaligus nyelesein skripsi."

"Nyelesein skripsi?" Kekehan Kinan tertahan.

"Hmm... harusnya bakal sidang minggu ini."

Kinan tertegun mengagumi pencapaian Nathan. Ia sungguh tak menyangka progres akademik cowok di hadapannya itu ternyata sudah jauh melampaui dirinya.

"Oh.. iya, kamu sendiri kan salah satu pelanggan tetap di cake shop, emang udah dari kapan?" tanya Kinan penasaran.

"Dari kapan? Hmm, mungkin bisa dibilang dari awal-awal cake shop itu berdiri, pas aku masih kelas tiga SMA."

"Serius?!" Raut wajah Kinan membelalak terkejut. "Tapi emang sekarang pun banyak anak SMA yang nongkrong di sana, sih. Tempatnya emang bener-bener cocok buat anak-anak muda—semua kalangan sih tepatnya."

Ketika gerimis benar-benar telah reda dan langit sore juga sudah perlahan berganti menjadi temaram senja, mereka akhirnya memutuskan untuk menyudahi obrolan panjang tersebut. Keduanya perlahan melangkah keluar kafe bersama menuju area parkir.

"Terima kasih ya, udah mau ngeluangin waktu," ujar Kinan yang sudah mengenakan helm dan duduk di atas motornya.

"Harusnya aku yang bilang terima kasih, udah mau nraktir dan ngobrolin banyak hal," balas Nathan, berdiri santai di samping motor Kinan sembari tersenyum tipis.

Kinan tersenyum begitu manis. Paras cantiknya terpapar cahaya senja yang indah. "Aku pulang dulu, Nath."

"Hati-hati."

Lambaian tangan Nathan mengiringi kepergian Kinan, memandangi punggung cewek itu yang perlahan menghilang di antara kendaraan yang berlalu-lalang.

Nathan kemudian melangkah menuju motornya yang terparkir tak jauh dari sana. Sebelum memutar kunci kontak, ia sempat terdiam sejenak.

"Terima kasih banyak... Mungkin inilah alasannya," gumam Nathan pelan pada dirinya sendiri yang tampak lebih bahagia sore itu.

Beberapa saat kemudian, ketika langit benar-benar semakin gelap, Nathan yang baru saja tiba di kos kembali di sambut oleh ketiga temannya. Kali ini Nathan tak langsung menuju kamarnya; ia duduk di antara mereka bertiga. Meski ketiga temannya langsung menghujani Nathan dengan rentetan pertanyaan kepo, Nathan hanya terkekeh diam tanpa membeberkan jawaban pasti.

1
Rey
Panjang bener chapter kali ini 😄
Ryn Takumi: Kebablasan 🤣
total 1 replies
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!