Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grand Duke Aghasa Luelle
Rambut merah bak bunga mawar khas keluarga Luelle. Terlihat tetap menawan dibawah cahaya rembulan dengan perpaduan keemasan dari lampion yang terpasang disetiap sudut kota.
Tubuh tinggi dan tegap terbalut zirah perak yang memiliki motif berbeda dari ksatria lain, dengan jubah merah pekat yang tersampir di pundaknya serta pedang panjang yang tersimpan rapih di pinggang.
Visualnya yang tak hanya sekedar dikenali namun sangat disegani. Tidak hanya di kota Ador yang merupakan wilayah utama Grand Duchy Luelle, tapi juga satu Kekaisaran Reis.
Bahkan namanya selalu terdengar di Kekaisaran lain,
Pedang Reis
Ksatria Darah dari Reis,
Grand Duke Aghasa Luelle. Yang juga merupakan adik dari permaisuri kekaisaran Reis.
“Bagaimana dengan bedebah itu?”
Raut wajah datar dengan pandangan tegas memandang ke depan. Tubuhnya tetap tegak di atas kuda meskipun telah cukup lama ikut turun langsung dalam memantau penjagaan keamanan di malam sebelum hari pertama perayaan cahaya.
Derix - Ajudan Pribadi sang Grand Duke, menundukkan kepalanya pelan. “Saya telah mengirim sejumlah ksatria berkuda untuk mengejarnya, Tuan.”
Dahi Aghasa mengernyit tidak suka. “Malam sebelum perayaan, bahkan belum hari utama perayaan itu sendiri sudah terjadi kekacauan?”
“Maaf, Tuan.” Derix dengan perasaan menyesal telah mengecewakan sang tuan hanya dapat menunduk dengan mengendalikan kuda hitamnya di belakang tubuh tegap Aghasa.
Berdecak pelan. “Setelah ini pastikan untuk meningkatkan latihan para ksatria Luelle.”
“Baik,” jawab Derix sontak.
Mendengus menahan amarah, Aghasa kembali memperhatikan keadaan malam sebelum perayaan. Terlihat jelas warga yang berkerumun menyaksikan penangkapan pencuri yang bernasib sial karena tidak mengira bahwa sang grand duke sendiri yang memimpin penjagaan malam ini.
Dahi Aghasa mengernyit kala menangkap sesuatu yang menarik atensinya di tengah
kerumunan yang terlihat cukup jelas dari atas kuda putih gagah yang ia naiki.
Jelas-jelas tadi ia melihat, helaian rambut bewarna merah terkibas angin pelan di tengah-tengah kerumunan. Rambut panjang namun terlihat kecil.
Apa itu seorang anak kecil perempuan dengan rambut bewarna merah? Tidak mungkin.
Rambut merah itu menghilang seolah tenggelam di kerumunan membuat Aghasa semakin menyipitkan pandangannya untuk memastikan.
Di Kekaisaran Reis bahkan satu Benua Astra, hanya keturunan Luelle yang mampu memiliki warna bak bunga mawar merah yang pekat, itupun hanya beberapa keturunan yang terpilih.
Bahkan tiga anak sang kakak – para pangeran Kekaisaran Reis, ketiganya tidak dapat memiliki warna rambut keluarga Luelle dan malah mengikuti sang ayah, juga dikarenakan gen keturunan keluarga kaisar yang merupakan Archmage, sangat mendominasi.
‘Tunggu sebentar! Anak perempuan dengan rambut merah?’ Tersadar sesuatu, Aghasa lantas meloncat turun dari atas kuda dan dengan cepat kakinya mengambil langkah lebar menuju titik yang menarik atensinya.
Derix yang melihat sang tuan tergesa juga mengikuti dengan posisi sigap mengeluarkan pedang dari sarungnya. Dirinya berpikir bahwa sang tuan melihat satu kejahatan lagi di malam sebelum perayaan.
‘Kenapa para ksatria sangat lalai sih?! Sampai membuat grand duke sendiri turun tangan lagi’ keluhnya dalam hati.
Sementara itu, jantung Aghasa berdegup kencang. Perasaan tegang dan mendebarkan ini bahkan tidak pernah ia rasakan meski saat dirinya memenangkan perang besar kala itu.
Ia berharap yang dilihatnya tadi bukanlah halusinasi. Namun ia juga memiliki sedikit rasa takut untuk mengetahui kenyataan setelahnya.
“Minggir.”
Bariton tegas Aghasa meredam kebisingan dari orang-orang disekitar. Sontak, seluruh raga membungkuk, memberi hormat akan kedatangan pemimpin wilayah mereka. Para warga serentak membuka akses jalan agar sang grand duke dapat dengan leluasa untuk masuk.
Tenggorokan Aghasa tercekat. Napasnya seolah tertahan untuk beberapa detik dengan tubuh mematung akan pemandangan di depannya.
Derix yang baru dapat menyusul langkah Aghasa menatap bingung kenapa sang tuan yang berhenti dan berdiri kaku. Ia lantas menelusupkan pandangannya ke samping untuk melihat pemandangan apa sebenarnya yang berada di depan mata sang grand duke.
Seorang gadis kecil dengan tubuh kurus yang menurutnya pandangannya berusia sekitar 5 tahun, tengah terbaring di atas tanah sembari terengah-engah seolah udara di sekitarnya menghilang.
Mata Derix terbelalak. Dirinya sudah terbiasa dan tidak terlalu terkejut kala melihat pemandangan seseorang tengah sekarat karena ia menghabiskan masa mudanya di medan perang.
Namun yang sekarat di depan matanya kali ini adalah seorang gadis kecil dengan rambut merah bak mawar, khas keluarga Luelle!
Derix berusaha kembali melihat ke arah sang tuan. Ingin memberitahunya apa yang juga telah di lihat oleh sang Grand Duke. “Tu-tuan ... Itu-“
Ucapan Derix terpotong saat tubuh Aghasa lebih dulu berlari dengan cepat menghampiri sosok gadis kecil yang tengah berusaha untuk tetap bernapas.
Dengan kedua tangan yang bergetar, Aghasa memeluk tubuh rapuh gadis itu. Dapat dilihatnya iris keemasan yang keruh karena kelopak mata gadis kecil itu yang sedikit terbuka, semakin membuat perasaannya semakin tak karuan.
“Apa yang kau lihat?! Cepat panggil penyihir penyembuh!”
Sang Grand Duke terlihat kehilangan kendali. Raut wajah yang biasanya tegas dan datar itu terlihat sedikit ketakutan?
Derix yang akhirnya tersadar karena bentakan Aghasa, lantas berbalik menuju pusat perkumpulan ksatria yang bertugas malam ini dengan cepat.
“Bernapas, bernapaslah dengan pelan.” Tangan yang terbalut sarung tangan hitam
itu dengan pelan menyentuh pipi Angel yang kehilangan ronanya.
“Maafkan aku... Kumohon, bertahanlah sedikit lagi.“
Terlihat kelopak mata Ella mengedip pelan. Ditengah kesadarannya yang hampir menghilang, Ella merasa ia tidak mau memberontak karena orang asing yang memeluknya ini berniat menolong bahkan terlihat khawatir akan dirinya?
Namun pandangan sayu yang perlahan mulai menutup itu juga menatap Aghasa bingung.
Menurutnya wajar jika ada sedikit dari beberapa orang yang masih akan khawatir melihat seorang anak kecil yang kesulitan bernapas, tergeletak sendirian dan mengenaskan di tengah keramaian.
Tapi kenapa pria ini terlihat seperti ingin, menangis?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Haah, huh – “
Napas gadis kecil yang tertidur di atas ranjang besar dengan selimut yang memeluknya, terdengar stabil.
Berbeda dengan beberapa saat ketika ia di bawa. Ella mengeliat pelan, matanya berkedip untuk menyesuaikan cahaya.
Sedetik kemudian ia terkejut mendapati dirinya berbaring di sebuah kasur megah nan empuk dengan selimut hangat yang tebal menyelimuti tubuh kecilnya.
‘Apa aku sudah mati?' Tubuh Ella perlahan duduk bersandar. Memperhatikan keadaan sekitar tempat dirinya berada. Satu kalimat yang terlintas di benaknya ‘Sangat megah dan mewah’.
Sebuah kamar yang bahkan lebih besar dari bangunan Panti Asuhan Greys. Ornamen cantik di setiap sudut dinding putihnya. Juga perabotan besar seperti lemari, meja rias, bahkan ada beberapa sofa besar yang terlihat tidak kalah empuk dari kasur yang tengah ia tempati.
‘Sebenarnya, sekarang aku berada dimana ya?’ Yang pasti, Ella tidak merasa bahwa tempat ini berbahaya, mungkin.
Sekelibatan kenangan sebelum ia kehilangan kesadaran mulai muncul. Ella mengingat bahwa sebelumnya ada seorang pria menggunakan baju yang bagus memeluk dirinya yang tengah sekarat.
‘Apakah ksatria pria itu yang membawaku?’
Tubuh Ella tersentak kaget kala menyadari sesuatu. Tepat di samping kanan ranjang, di atas nakas putih gading yang dilihatnya, terdapat tas juga gumpalan kain yang ia bawa.
'Ah, ternyata tuan ksatria itu menyimpannya untukku’
Namun sedetik kemdan, dengan panik Ella beranjak turun dari kasur yang sebenarnya masih ingin ia tiduri setelah puas dengan pikirannya. ‘Bagaimana ini? Aku tidur di atas
kasur ini padahal tubuhku sangat kotor’
Tangan gadis kecil itu dengan sigap membersihkan debu-debu yang menurutnya
ada karena ia tidur di atasnya. Ella juga merapihkan tata letak bantal dan melipat selimut sebisanya.
Baginya selimut yang terbuntal acak itu kini terlihat cukup rapih. Dilihat dari cahaya remang di dalam kamar juga suasana yang sunyi.
“Sepertinya ... masih, malam,” monolognya.
Ella mengambil barang bawaannya, memeluk benda-benda berharga baginya dan kembali berbaring di atas lantai tepat di samping bawah ranjang besar.
Tertidur di lantai bersih yang halus ini dibanding kasur keras yang kotor di panti asuhan merupakan sebuah kenyamanan bagi dirinya.
“Besok, aku ... harus, ber-terima kasih,” lirih Ella sebelum kantuk kembali memeluk kesadarannya.