Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. sakit Cinta apa sakit hati?
Tubuh Ethan terasa panas-dingin bergantian. Ia masih berbaring di sofa ruang kerjanya, setelah Sonia sekretarisnya, mengantar teh hangat dan botol berisi air panas untuk dikompres, guna meredakan rasa nyeri yang masih terasa di bagian vitalnya. Sejak tadi, kepalanya ikut berdenyut pusing, menahan rasa sakit yang mungkin saja membuat area itu bengkak.
"Dokter Rudi sebentar lagi sampai, Pak. Tadi katanya masih di jalan," lapor Sonia si Sekretaris umum.
Yang paling gelisah justru Marcus. Ia meringis ngeri membayangkan dirinya sendiri. Entah bagaimana rasanya kalau Shela menyerang dirinya, mungkin bakal lebih parah lagi dari Ethan saat ini.
"Kamu kenapa bisa punya pacar yang begitu, hah?! Argh, aduh sakit sekali!"
"Aduh, maaf, bang. aku juga tak menyangka dia berani melakukan itu padamu. Maaf ya..." Marcus sungguh serba salah. Mau memarahi Shela, ia takut, kalau kekasihnya sedang emosi, susah sekali membujuknya.
"Cih, kalau dia jadi istriku, langsung kuceraikan sekarang juga! Awas saja kalau sampai aku tak bisa punya anak gara-gara pacarmu itu! Besok punyamu kutendang juga sampai bengkak dan kamu mampus!"
"Hah?! Apa katamu?!" Marcus menelan ludah susah payah. Astaga, ini salah Shela, kenapa malah dia yang kena imbasnya? Dasar pacar sialan.
Ethan membetulkan posisi botol air panas di pahanya, lalu memejamkan mata. Pikirannya berkecamuk, apa yang salah dengan pernikahannya kali ini? Mungkin lebih baik dia meminta maaf pada Nayla saja nanti.
"Permisi, Pak Direktur. Dokter Rudi sudah datang di depan. Langsung dipersilakan masuk?" tanya asistennya, Pak Dewo.
"Tadi Pak Marcus menelepon saya. Aduh, Tuan Muda Ethan sakit apa ya?" Dokter keluarga Argantara itu berkerut heran sambil mengeluarkan peralatan medis dari tasnya, melihat Ethan yang terus meringis kesakitan.
"Dokter, ini gara-gara dia... tolong periksa baik-baik. Sial, sejak tadi sakit sekali!"
"Astaga!!" Dokter Rudi melotot kaget saat Ethan memperlihatkan area yang sakit dengan wajah memelas.
"Argh, sakit sekali... mungkin bengkak?"
Setelah diperiksa dan diobati dokter pribadinya, dengan pesan tegas agar dokter itu tutup mulut soal musibah yang menimpanya, Ethan memilih pulang ke apartemen. Kalau ia pulang ke rumah ibunya, pasti akan ditanya macam-macam kenapa tiba-tiba sakit begini. Kalau ke Penthouse dan disana ada Bibik Wina, pelayan tua itu pasti juga bakal melapor pada orang tuanya. Dan itu lebih gawat.
Jadilah Ethan memilih menginap di apartemen. Dia menelepon Nayla dulu, mengabarkan bahwa ia pulang ke apartemen karena kondisi tubuhnya yang sakit kini disertai demam sejak siang tadi.
"Minum dulu obatmu, bang. Ini aku ganti kompresnya ya, taruh di kepala juga," ujar Marcus. Ia menemani kakak sepupunya itu karena iba. Hari mulai menjelang malam, namun demam Ethan belum juga turun.
"Argh, aku tak tahan lagi... Marc, bantu aku ke kamar saja ya. Badanku sakit semua. aku mau jadi tidur saja"
"Baiklah... hati-hati berdiri. Kenapa efeknya sampai demam begini sih?"
Tadi Marcus sudah menelepon Angga dan Dimas, mengabarkan teman-temannya soal sakit Ethan. Mereka bilang akan datang. Dimas akan membawa Selvi, pacar barunya, menjenguk sekalian membawa kue buatan pacarnya.
Ethan berjalan tertatih menuju kamar, membungkus tubuhnya yang menggigil dengan selimut, Badannya masih demam, Tiba-tiba bel pintu berbunyi nyaring.
Ting-nong, ting-nong!
"Itu pasti Angga dan Dimas sudah datang tunggu aku buka pintu dulu." Marcus berlari cepat ke depan untuk membukakan pintu. Namun ia langsung terpaku di tempat melihat siapa yang datang.
"Hei, aku ke sini mau menjenguk Ethan! Kenapa kau yang sibuk melarang sih?!"
"Haish, bang! Kamu itu kan sibuk, ajak saja istrimu pergi sana! Temanku malah tambah sakit kalau melihat ide konyol dan anehmu itu!"
"Niat baik malah dianggap buruk. Dengar ya, minyak tangkur ini sangat ampuh untuk mengobati bengkaknya! Dasar orang aneh! Pokoknya aku mau masuk dan memberikan ini ke Ethan!"
"Tak boleh! Hei, Herina bawa suamimu yang aneh ini pergi jauh-jauh! Dan bawa juga minyak tangkur buaya aneh itu!"
Dengan wajah bingung, para istri yang ikut serta hanya diam menonton keributan dua orang itu. Begitu juga Marcus, yang nyaris tak bisa berkata-kata melihat mereka berdua saling mendesak dan ribut tanpa ada yang mau mengalah.
"Pulang sana! Kalau kau masuk dan kasih minyak tangkur aneh itu ke Ethan, bukannya sembuh, burung temanku malah tambah parah!"
"Tapi ini obat ampuh lho ini minyak ampuh buat burung dia!"
"KALIAN BISA DIAM TIDAK?! Ini malah ribut di depan pintu orang!! cepat masuk" Suasana langsung hening. Dimas mengusap tengkuknya malu, dan Angga berdecak kesal karena dimarahi si bungsu.
"Marcus... Bang Ethan ada di dalam? Sakit apa dia?" tanya Herina
"A-anu sakit flu kak, panas demam gitu eh" jawab Marcus tergagap, mana mungkin dia berani bilang yang sebenarnya, asli yang tahu sakit Ethan cuma Angga dan Dimas di duo rese yang sekarang masih ribut di depan pintu.
"Bang Ethan, ini aku bawakan kue cake buatan aku sendiri lho, nanti dimakan ya biar cepat sehat lagi" Herina istri Angga dan Selvi maju menyodorkan rantang berisi bubur dan kue.
Kedua wanita itu langsung masuk ke dalam tanpa peduli pada keributan di depan pintu apartemen.
Sementara para suaminya masih ribut di depan pintu, Dimas dan Angga berebut masuk sambil saling memelintir tangan dan rebutan minyak aneh yang dibawa Angga.
"Ah, Dimas Arifana! Aku mau masuk!"
"Tak boleh! Buang dulu minyak anehmu itu Angga sinting! Jangan masuk bawa minyak tangkur itu!"
"Ethan harus diobati dengan ini! Resep minyak tangkur buaya ini warisan leluhurku dan pasti manjur!"
"Ya Tuhan... percuma juga kutegur mereka sama-sama edan," keluh Marcus. Dia menggeleng lalu masuk duluan, membiarkan dua orang aneh itu menyelesaikan pertengkaran mereka siapa yang bisa lebih dulu masuk.