NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Haaaa, leganya," ucap Brian.

"Sudah babnya?" tanya Revangga.

"Sudah." Brian mengambil posisi duduk di sebelah Elvian.

"Lanjutkan perkataan elo tadi," ucap Revangga.

"Oh, itu. Jangan-jangan kakek elo sama nyokap elo ada apa-apa lagi," bisik Brian memancing.

"Apa-apaan, sih?!" sahut Elvian tidak terima.

"Ya ... gitulah." Brian memperagakan tangannya di depan bibir, meniru gestur orang yang sedang berciuman.

"Jangan aneh-aneh, deh. Masa kakek sama nyokap gue begituan," tukas Elvian, bergidik ngeri.

"Ya ... siapa tahu, kan?" goda Brian lagi.

Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari pintu luar apartemen.

Tok! Tok! Tok!

"Halo? Apa ada orang di dalam?" Panggilan pertama terdengar dari Langit.

"Spada woi, bangke! Buka pintunya!" Marlo mulai menggedor kasar.

"Punten paket! Paket, woi ...!" timpal Lee tidak mau kalah.

"Sabar, Toyib!" teriak Brian kesal dari dalam.

Ceklek.

Pintu terbuka. Brian langsung menyandarkan tubuhnya di kosen pintu. "Kirain pengemis dari mana."

"Gak disuruh masuk, nih?" tanya Langit.

"Ya masuk tinggal masuk. Biasanya juga langsung nyelonong kayak maling," cibir Brian.

"Bangke!" umpat Marlo sambil melangkah masuk, diikuti yang lain.

Mereka pun berkumpul di ruang tengah apartemen tersebut.

"Ngapain ke sini? Tumben?" tanya Elvian keheranan.

"Malam nanti ada balapan. Kalian mau ikut?" ajak Langit langsung ke inti tujuan.

"Ayolah, gas! Sudah lama juga gak balapan. Di mana? Jam berapa? Semalam berbuat apa~" Brian malah mendadak bernyanyi.

"Malah nyanyi! Di tempat biasa," potong Marlo ketus.

"Siapa lawannya?" tanya Elvian memastikan.

"Siapa lagi kalau bukan geng si buluk itu," ucap Resta sinis.

"Tidak. Kalian tidak boleh balapan," potong sebuah suara tegas. Rupanya Tian baru saja pulang dari minimarket, menaruh kantong belanjaannya di meja.

"Ayolah, Kak. Kami janji ini yang terakhir," bujuk Brian dengan wajah memelas.

"Tetap tidak boleh. Kalian selalu saja janji, tapi tidak pernah ditepati. Mirip janji pejabat yang selalu ingkar," tegas Tian tidak bisa dibantah.

"Sekali ini kami janji. Sumpah, gak akan balapan lagi! Kalau kami ingkar, biar Langit disambar petir!" seru Brian telanjur nekat.

Sontak, Langit melototkan matanya. "Loh, kok gue, sih?! Kan elo yang janji, kenapa gue yang disambar petir?!"

"Elo, kan, Langit. Kalau elo disambar petir gak akan sakit, dong. Kan sesama langit," sahut Brian dengan logika asalnya.

"Gak nyambung, goblok!" umpat Langit frustrasi.

Pokoknya tidak boleh. Titik, gak pakai tanda seru!" lerai Tian telak.

"Tap—"

Belum sempat Brian mendebat, Tian sudah melototkan matanya yang bulat. Nyali Brian langsung menciut.

"Haaaa, iya, iya. Kak Tian cerewetnya sudah mirip ibu-ibu," gerutu Brian pasrah.

"Kakak cerewet juga demi kebaikan kalian," sahut Tian melembutkan suaranya.

"Terima kasih, Kak. Berkat Kak Tian, kami bisa hidup dengan aman dan tanpa beban. Kalau gak ada Kak Tian, mungkin kami lebih memilih pergi dari dunia ini," ucap Lee dengan nada tulus.

Mendengar itu, tatapan Tian berubah serius. "Jangan bilang begitu. Kalian harus kuat. Kalian harus mandiri dan buktikan kepada mereka kalau kalian bisa hidup bahagia di atas kaki sendiri."

Tian menarik napas dalam-masam, menahan emosi. "Kalau kalian sampai melakukan hal nekat, mereka tidak akan peduli. Mungkin mereka justru senang kalian tidak ada. Makanya, kalian harus tetap hidup. Buktikan tanpa mereka, kalian bisa sukses, mandiri, dan selalu bisa tertawa." Kedua mata Tian mulai berkaca-kaca.

"KAMI AKAN SELALU BAHAGIA DAN TERTAWA!" teriak mereka serempak untuk mencairkan suasana.

"Huuu ... kok gue jadi melow gini, sih. Hiks," ucap Lee sambil pura-pura menyeka air mata yang telanjur menetes.

"Daripada melow, mending kita nyanyi!" usul Brian semangat.

"SETUJU!"

"Lagu apa, Bro?" tanya Marlo.

"Begadang!" usul Resta.

"Gue gak hafal," sahut Lee cepat.

"Elo mah mana hafal, elo kan bukan asli Indonesia," cibir Langit.

"Lagu ini aja. Musik, mainkan!" seru Brian memimpin.

Brian pun mulai bernyanyi dengan heboh:

"Hei, kenapa kamu kalau nonton dangdut

Sukanya bilang buka sitik JOSS!

Apa karena pakai rok mini jadi alasan~"

"Elo cowok, Bro?!" sela Langit keheranan mendengar liriknya.

Brian mengabaikannya dan lanjut bergoyang:

"Sukanya abang ini, lihat-lihat bodi yang seksi~

Senangnya abang ini, intip-intipku pakai rok mini~

Ici kiwir, ici kiwir! LOLE LOLE JOSS JOSS!"

"Asyikkk! Mantap, Bro, lanjutkan!" seru Revangga ikut terhibur.

"Gantian, Bro! Gue juga mau nyanyi," potong Marlo merebut perhatian.

"Nu na hi nu na hi nu, nuhya~

Nu na hi nu na hi nu, nuhya~

Nu na hi nu na hi nu, nuhya~"

Belum sampai bagian refrain, Lee langsung merebut paksa mikrofon di tangan Marlo.

"Hei, sempak Firaun! Elo nyanyi lagu apa, sih? Nina-ninu nina-ninu doang!" protes Lee kesal.

"Masa elo gak tahu lagu itu, Bro?" Marlo heran. Lee hanya menggeleng polos.

"Judulnya Kasih Sayang Seorang Ibu," jawab Marlo bangga.

"Baru tahu gue, Bro," gumam Lee melongo.

"Gue juga mau nyanyi, Bro. Ehem, ehem. Cek, cek, satu, dua. Marlo bapaknya boti, cek, cek!" Lee mengetes mikrofon sambil meledek.

"Woi! Elo kok tahu? Jangan-jangan elo seme-nya bokap gue, ya?!" tuduh Marlo tidak terima.

"Enak aja! Gue jadi seme bokap elo yang keriput itu? Sorry to say, ya," tolak Lee bergidik.

"Belum tahu aja elo bokap gue gimana. Walau sudah tua, bokap gue itu cantik dan aduhai, tahu! Banyak berondong yang dekatin bokap gue. Elo mau lihat fotonya gak?" tawar Marlo bangga.

"Coba, mana fotonya? Gue mau lihat," tantang Lee penasaran.

Marlo mendadak berubah pikiran dan menyembunyikan ponselnya. "Sorry, gak minat pamerin foto bokap. Entar elo naksir lagi. Masa gue punya bapak baru yang seumuran sama gue."

"Mau lihat aja pelit amat, Mar. Sudahlah, gue mau nyanyi lagu lain aja. Musik!" Lee kembali mengambil alih.

"Sonnagarajil hae, naneun jeonhyeo singyeong sseuji anhne~

Nareul yoghaneun neoui geu iyuga mwodeun gane~"

"Itu lagu apa, Cok? Gue gak ngerti," sela Elvian sambil mengerutkan kening.

"Lagu Korea, Bro! Idol-nya BTS," jawab Lee bangga.

"Hanya elo yang ngerti. Kan elo asli Korea, sedangkan kami asli Indonesia," sahut Resta masuk akal.

Setelah itu, yang lain hanya menonton dalam diam.

"Huuu ... gak ada yang benar kalian kalau nyanyi," ejek Tian sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Seketika, mereka semua terdiam. Tidak ada lagi yang bernyanyi atau saling melempar ejekan. Perubahan drastis itu membuat Tian kebingungan. Biasanya, ketujuh pemuda ini sangat ribut. Sekarang, suasananya mendadak sunyi sepi bak kuburan.

"Tumben kalian diam? Biasanya berisik kayak ayam betina yang mau bertelur," sindir Tian.

"Kita lagi mikir, Kak," jawab Brian pelan.

"Mikir apaan? Kayak kalian punya pikiran aja," ejek Tian bermaksud bercanda.

"Kak Tian kok bilang begitu? Masa kita gak punya pikiran," protes Elvian.

"Kalau kita gak punya pikiran, kayak hewan, dong. Kencing sama ee di sembarang tempat," timpal Brian polos.

Tian tertawa kecil. "Iya, maaf. Kakak mau tanya, apa yang sebenarnya lagi kalian pikirkan?"

"Masa depan, Kak," jawab Revangga pelan namun serius.

"Masa depan seperti apa yang kalian pikirkan?" tanya Tian, kini menyimak dengan saksama.

"Ya, masa depan seperti pekerjaan apa yang bisa bikin kita cepat kaya. Kami ingin buktikan ke keluarga kami, kalau kami bisa sukses tanpa bantuan mereka," jawab Resta mewakili isi hati yang lain.

Tian tersenyum lembut, lalu menepuk pundak Resta. "Jangan terlalu dipikirkan sampai stres. Jalani saja dulu pekerjaan kalian yang sekarang. Soal yang lain, pikirkan nanti. Yang penting sekarang kalian bahagia dulu."

Tian memandangi mereka satu per satu. "Kalian juga masih muda, senang-senang saja dulu. Tapi ingat, jangan sampai kelepasan memakai barang terlarang atau sampai mencuri. Kakak sangat tidak suka itu."

"Kami tahu batasan kok, Kak. Jadi Kak Tian gak perlu khawatir," sahut Brian menenangkan.

"Ya sudah, kalian sebaiknya tidur. Jangan begadang, tidak baik buat kesehatan. Lagipula besok kalian masih harus kuliah dan bekerja, kan?" nasihat Tian.

"Besok kami libur kuliah, Kak. Mungkin kami cuma mau buka bengkel aja," jawab Langit.

"Ya sudah, tidur sana. Besok pagi Kakak bangunin kalian buat buka bengkel," ucap Tian final.

Mereka pun berpamitan lalu berjalan menuju kamar masing-masing. Apartemen ini memiliki empat kamar, jadi mereka bisa membagi diri untuk tidur berdua di tiap kamar.

Menatap pintu-pintu kamar yang tertutup, Tian mengembuskan napas panjang.

"Mereka semua hebat karena bisa bertahan sampai sekarang," gumam Tian lirih. Ia kemudian mengusap perut ratanya dengan pandangan sendu. "Haaaa ... seandainya kamu bisa bertahan di perut Buna, Sayang, pasti kamu sudah besar sekarang. Maaf, gara-gara Buna, kamu tidak bisa melihat dunia."

Dengan langkah berat, Tian melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri. Di atas kasur, tampak Revangga yang sudah tertidur pulas.

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!