Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cakra Bukan Pendatang!
Malam hari, kediaman keluarga Pak Sekdes terlihat sangat ramai. Padahal hari masih Maghrib, tapi orang yang menghadiri acara pelamaran satu-satunya anak Pak Anton sangat banyak. Bukan apa-apa, warga desa sangat menghargai Pak Anton dan Buk Hayati. Pembawaan kedua orang itu sangat baik dan tak segan menolong dengan cuma-cuma kalau ada warga yang membutuhkan. Ya, namanya juga Sekretaris Desa, pasti selalu sigap menolong warganya.
"Buk Sekdes, ini telurnya dibelah aja, baru dikasih saus atasnya ya?" Ucap Marni saat melihat Buk Hayati yang sudah rapi melenggang cepat ke arah kamar mandi.
"Karepmu, Mar! Semuanya aku serahkan ke kalian..." Jawab Buk Hayati terburu-buru, sebab sudah ndak tahan untuk segera menuntaskan hajatnya di kamar mandi.
"Tuh, lihat! Kalau bantuin rewang tuan rumahnya kayak Buk Sekdes gini enak... Gak selalu apa-apa diatur. Semuanya diserahkan ke tukang masak, jadinya kita ndak segan toh." Ucap Yanti.
Ibu-ibu yang lain mengangguk setuju.
"Sudah, jangan banyak ngobrol. Lanjutkan saja nempatin makanannya, nanti keburu tamunya datang." Peringat Rasmi menengahi. Yang lain segera mengangguk dan kembali sibuk.
Di satu sisi, Tara Pratiwi sedang didandani. Wanita cantik itu dipaksa memakai kebaya warna mahogani oleh ibunya dan sepupu perempuannya, Rahma.
"Mbak, aku kenapa harus pakai baju gini toh?... Kan baju biasa juga bisa, kesuen!" Ucap Tara mengeluh.
"Pakai, Tar! Kamu mau lamaran, bukan mau main bola!" Peringat Rahma tegas.
Tara menghela napas pasrah. Dengan gerakan malas-malasan, Tara mulai bersiap memakai kebayanya.
"Ya Allah, Tar! Baju kaosmu dibuka dulu loh! Masa mau didobel? Ya ndak bagus kelihatannya!" Ucap Rahma keras, menggelengkan kepala.
"Masa aku mau telanjang, Mbak? Aneh banget sih."
Rahma menghela napas panjang—bisa-bisa dia naik darah mengurusi Tara yang dablek begini. Rahma merangsek maju, dengan cepat dia menarik kaos Tara dan membukanya cekatan.
"Eh! Loh Mbak, mau ngapain... aku malu!" Ucap Tara. Aneh memang, sama sesama wanita dia malu, sedangkan sama Cakra, keluar rumah pakai daster tanpa daleman saja dia ndak malu!
"Alah, ndak perlu malu. Aku juga punya, Tar. Malah punyaku lebih gede dari punyamu!" Ucap Rahma tanpa filter.
Tara hanya manyun. "Ya beda, Mbak kan sudah dipakai menyusui suami sama anak... Aku mah belum, ini masih sekel ya, belum tercemar!" Ucapnya membantah.
Namun tangannya dengan cekatan mulai memakai kemben dan korset, setelah itu melapisinya dengan kebaya berwarna mahogani yang memperlihatkan bagian punggung mulusnya. Rambutnya disanggul rapi. Mbak Rahma yang memang pekerjaannya sebagai MUA sangat pandai merias wajah dan menata rambut Tara. Dengan menyisakan baby hair Tara bergelombang di sisi wajah, penampilannya terlihat sangat anggun dan indah.
Tara mematut penampilannya di depan cermin. 'Ya ampun, aku cantik banget,' puji batinnya sendiri.
Tak lama terdengar ketukan dari pintu. Mbak Rahma segera membukanya.
"Mana Tara, Mbak?" Tanya Sasa yang baru saja tiba.
"Ada di dalam... Masuk, Sa."
Sasa segera menerobos masuk. Pandangannya langsung tertuju pada sang sahabat yang sedang duduk manis di depan meja rias.
"Ya Allah... Tar! Kamu cantik banget!" Puji Sasa mendekat dengan mata berbinar.
Tara hanya tersenyum malu-malu.
"Aku ndak nyangka, kamu mau lamaran sama bapaknya bocah waktu itu loh." Ucap Sasa sembari menggenggam hangat tangan sahabatnya.
"Aku juga ndak nyangka..." Ucap Tara lemah.
"Wis, tapi ndak apa-apa... Denger-denger selain satpam BRI, Cakrawala itu anaknya juragan tebu, Tar!" Bisik Sasa tepat di telinga Tara.
Tara seketika menoleh. "Masa?" Ucapnya tak percaya.
Sasa mengangguk mantap. "Bapaknya kalau ndak salah namanya Ade Mas. Iya, Pak Ade... Yang punya pabrik gula di ujung desa sana kui loh!"
Tara mengerutkan dahinya. Pabrik gula... Seingatnya, pabrik gula itu tempat Tara suka grapyakan main kalau habis pulang sekolah dulu. Kalau memang begitu, berarti Cakrawala bukan orang pendatang. Dia memang orang daerah sini saja, hanya saja mereka baru bertemu sekarang. Tara hanya manggut-manggut mendengarnya.
Tak lama, terdengar suara ramai-ramai dari arah depan. Mereka bisa mendengar si MC mulai berbicara melalui mikrofon, menyambut kedatangan rombongan keluarga pria.
Tiba-tiba Tara merasakan jantungnya berdetak tak karuan... Telapak tangannya mendadak dingin.
"Sabar, Tar! Yang kuat... jangan gugup," peringat Sasa seraya menggenggam kuat tangan sahabatnya.
Tara mengangguk pelan. "Aku agak deg-degan gimana gitu loh, Sa..." Ucapnya jujur. Sasa hanya tersenyum menguatkan.
Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, Tara dan Sasa akhirnya mendengar nama Tara dipanggil oleh MC di luar.
"Ayok, Tar. Sudah dipanggil itu," ucap Rahma.
Tara mengangguk. Pelan-pelan dia mulai bangkit berdiri, lalu berjalan dengan anggun keluar dari kamar yang memang langsung menghadap ruang tamu.
Saat pintu kamar dibuka, langkahnya sempat terhenti. Matanya mengedar mencari keberadaan Cakra. Lalu tatapannya jatuh pada pria berbadan besar yang tengah menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangan... Tara rasanya hendak tertawa ngakak melihat tingkah grogi Cakra, apalagi saat tangan seorang wanita di sampingnya menepis dan memaksa Cakra agar membuka matanya.
"Ini dia calonnya... Ayu tenan, yo..." Puji para tamu yang hadir.
Tara berjalan melangkah pelan, merunduk sopan, lalu menyalimi satu per satu keluarga Cakra yang duduk di sana. Hingga sampailah Tara tepat di depan Cakra.
Cakra sangat menunggu momen di mana Tara menyalami tangannya. Dan saat jemari lembut Tara menyentuh kulit tangannya, Cakra merasakan jantungnya berdetak berkali-kali lipat lebih cepat.
"Sudah! Kalau begitu, langsung ke intinya saja!..." Ucap MC menyadarkan semua orang.
"Mbak Tara, piye? Kedatangan Mas Cakra mau ngelamar sampean jadi calon istrinya. Apa Mbak Tara mau?"
Seketika seluruh ruangan menjadi hening. Semua orang menahan napas, menunggu jawaban dari Tara yang masih terdiam sejenak.
"Aku!..." Ucapan Tara terhenti di udara.
Hal itu sukses membuat perasaan Cakra berada di ujung tanduk—was-was setengah mati, takut kalau-kalau Tara mendadak berubah pikiran dan menolaknya!
•♡•♡•♡•
°
°
°
Halo!
Kira-kira Mbak TarTar Jawab Apa ya?
Aku penasaran rek!
coba kalian Tulis di komentar Ya /Ndak 😅
sukses slalu y 🫶🫶🫶