Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Cahaya lampu temaram dari lampu gantung kristal di sudut penthouse utama memantulkan bayangan dua jiwa yang kini saling merapat dalam keheningan malam. Kalimat tulus yang baru saja terucap dari bibir Rangga—menyatakan bahwa kebahagiaan Rania adalah tanggung jawab mutlaknya—berhasil menghancurkan sisa-sisa tembok pertahanan terakhir yang selama ini dibangun oleh wanita itu.
Rania mendongakkan wajahnya. Matanya yang indah kini telah berkaca-kaca, dipenuhi oleh genangan air yang siap tumpah kapan saja. Ia menatap lurus ke dalam bola mata hitam legam Rangga, melihat ketulusan mutlak yang terpancar tanpa ada kepalsuan sedikit pun di sana.
Melihat raut wajah istrinya yang sarat akan luka batin masa lalu dan kelegaan yang teramat besar, Rangga merentangkan kedua tangannya lebar-lebar—sebuah gestur terbuka yang mengundang, menawarkan tempat perlindungan paling aman di dunia ini.
Tanpa berpikir dua kali, Rania langsung menyambut rentangan tangan itu. Ia menerjang maju, membenamkan wajahnya ke dada bidang Rangga, dan melingkarkan kedua tangannya erat-erat memeluk pinggang suaminya.
Seketika itu juga, tangisan Rania pecah sejadi-jadinya. Di pelukan pria yang dulunya ia anggap sebagai musuh bebuyutan sekaligus suami kontrak yang menyebalkan itu, Rania melepaskan seluruh beban hidup yang selama bertahun-tahun ia pikul sendirian.
Ia menangis keras, mengeluarkan isak isakan yang teramat pilu. Dengan suara serak bergetar, Rania mulai mengadu dan mengeluh tentang semua perlakuan tidak adil yang ia terima sepanjang hidupnya.
"Mas Rangga..." rintih Rania di sela-sela tangisannya, menyebut panggilan itu dengan nada penuh manja dan kepedihan yang mendalam. "Hiks... Kenapa... kenapa dari dulu aku selalu dianggap tidak ada, Mas? Kenapa Ibu dan Ayah selalu membedakanku dengan Kak Resti? Apapun yang kulakukan selalu salah... aku selalu disalahkan, selalu dituntut untuk sempurna, tapi tidak pernah sekalipun dihargai..."
Rangga tertegun dalam diam. Mendengar ratapan dan aduan jujur dari istri yang selama ini selalu memasang topeng garang dan ketus itu membuat hatinya bergeming ngilu. Selama ini, ia hanya melihat Rania sebagai wanita keras kepala yang suka mendebat. Namun di balik cangkang luar yang berduri itu, tersimpan jiwa seorang anak kecil yang haus akan kasih sayang, pengakuan, dan kehangatan keluarga yang tidak pernah ia dapatkan dari orang tuanya sendiri.
Pria itu akhirnya mengerti. Ia mengerti mengapa Rania begitu defensif, mengapa wanita itu selalu sinis, dan mengapa air matanya begitu mudah tumpah ketika benteng pertahanan itu akhirnya dijebol oleh kenyataan pahit.
Dengan gerakan yang penuh kelembutan luar biasa—sebuah gestur yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun seumur hidupnya—Rangga menunduk, lalu mengelus dengan sangat lembut kepala Rania yang bersandar di dadanya. Jemari besarnya menyisir helai-helai rambut hitam istrinya berulang-ulang, menyalurkan rasa aman, ketenangan, dan kepastian bahwa kini ia tidak sendirian lagi di dunia ini.
"Menangislah, sayang... Keluarkan semuanya," bisik Rangga parau, mengecup puncak kepala Rania dengan penuh kasih. "Mulai sekarang, ada aku. Kau tidak perlu lagi berjuang sendirian."
Di tengah isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi, Rania yang sudah kehilangan kendali atas dirinya akibat terlalu terbawa emosi mendadak menarik napas panjang dengan bunyi nyaring—menyedot ingusnya dengan tidak tahu malu tepat di permukaan jas kerja mewah berbahan wol mahal milik Rangga.
Permukaan jas desainer kelas dunia seharga puluhan juta rupiah itu basah kuyup oleh air mata dan ingus Rania. Namun, di luar dugaan, Rangga sedikit pun tidak mempermasalahkannya. Pria yang biasanya paling anti bila ada setitik debu atau noda menempel di pakaian kerjanya itu justru mengeratkan dekapannya, membiarkan jas mahalnya berantakan total demi memberikan kenyamanan bagi wanita yang ada di dalam pelukannya.
Di belahan bumi yang lain, ribuan kilometer jauhnya dari kemegahan penthouse keluarga Pratama di Jakarta, sebuah pemandangan kontras dan mengenaskan sedang terjadi di kota mode Paris.
Di dalam sebuah kamar apartemen sewaan berukuran sempit yang berbau lembap di pinggiran kota Paris, Resti Santoso duduk melongo di atas lantai beralas karpet tipis dengan mata terbelalak kosong. Di sekitarnya, koper-koper besar berserakan dalam keadaan terbuka, memperlihatkan pakaian-pakaian bermerek yang kini sudah tampak kusut dan tidak tertata.
Kehidupan mewah dan impian manis yang selama ini diagung-agungkan oleh Resti di kota romantis itu telah resmi berubah menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan.
Beberapa hari lalu, agensi model internasional ternama yang diklaim akan merekrutnya ternyata terbukti sebagai sebuah sindikat penipuan agen palsu internasional. Seluruh uang tabungan yang ia bawa dari Indonesia—bahkan sebagian besar uang kiriman sembunyi-sembunyi dari ibunya—telah terkuras habis oleh janji-janji manis palsu para pencatut agensi tersebut. Paspornya sempat ditahan, kontrak kerjanya fiktif belaka, dan impiannya untuk menjadi model papan atas Eropa hancur lebur berkeping-keping dalam sekejap mata.
Tidak ada lagi sisa-sisa keanggunan seorang model sosialita sombong. Wajah Resti tampak kusam tanpa riasan, lingkaran hitam tercetak jelas di bawah matanya, dan rambut indahnya tampak tidak terurus. Dengan sisa-sisa uang di dompetnya yang hanya cukup untuk membeli tiket pesawat kelas ekonomi berbiaya murah, Resti dipaksa mengepak kopernya dan pulang ke Indonesia dengan tangan kosong, menanggung malu yang teramat besar.
Hari berganti. Penerbangan malam dari Paris menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta mendarat dengan mulus.
Resti menyeret kopernya keluar dari terminal kedatangan dengan langkah gontai dan punggung yang membungkuk menahan lelah serta rasa frustrasi. Ia tadinya berharap, setibanya di Jakarta, ia akan disambut oleh pelukan hangat orang tuanya, atau setidaknya ia bisa kembali mendompleng kekayaan keluarga Pratama melalui status pernikahannya dengan Rangga—yang ia yakini masih belum bisa melupakannya.
Namun, tidak ada satu pun anggota keluarganya yang menjemput di bandara. Dengan menaiki taksi online bermeter argo, Resti langsung menuju ke rumah besar orang tuanya.
Setibanya di kediaman keluarga Santoso, suasana rumah tersebut terasa jauh lebih sepi dan suram dari biasanya. Tidak ada pelayan yang membukakan pintu dengan sigap. Ketika Resti mengetuk pintu dan masuk dengan kunci cadangan, ia mendapati ayah dan ibunya duduk di ruang tamu dengan wajah pucat pasih, dikelilingi oleh tumpukan berkas-berkas hukum perusahaan yang berantakan.
"Ibu! Ayah!" panggil Resti lemas, menjatuhkan kopernya di dekat pintu. "Aku pulang..."
Sarah dan Andre mendongak serempak. Melihat putri kesayangan mereka pulang dalam keadaan kusut, compang-camping, dan membawa kegagalan total, alih-alih disambut dengan pelukan haru, Sarah justru menjerit histeris.
"Resti?! Ya Tuhan, anakku! Kamu dari mana saja?! Perusahaan kita hancur! Kita hampir jatuh miskin!" ratap Sarah histeris sambil memeluk putrinya yang berantakan.
Di tengah kebingungan dan syok hebat akibat sambutan keluarganya yang mengenaskan, Resti mencoba menanyakan duduk perkaranya. Dengan terbata-bata, Andre menceritakan seluruh malapetaka yang menimpa keluarga mereka: mulai dari kebangkrutan proyek, ancaman sita bank, hingga bagaimana mereka terpaksa menyerahkan seluruh kepemilikan saham perusahaan atas nama Rania demi mendapatkan suntikan dana penyelamatan dari Rangga Pratama.
Mendengar nama Rania disebut-sebut sebagai penyelamat sekaligus pemilik sah perusahaan keluarga, tubuh Resti terdorong mundur ke belakang. Matanya membelalak lebar, napasnya tercekat hebat.
"R-Rania?! Adikku itu?!" suara Resti melengking tinggi tidak percaya. "Bagaimana mungkin anak bodoh dan ceroboh itu bisa memiliki perusahaan kita?! Dan... dan di mana Rangga?! Kenapa Rangga membiarkan hal itu terjadi?!"
Tanpa memedulikan penjelasan lebih lanjut dari kedua orang tuanya yang sedang stres berat, Resti langsung menyambar tas tangannya kembali. Didorong oleh rasa penasaran, rasa iri yang membara, dan ego yang terluka parah, ia memesan taksi malam itu juga menuju ke penthouse mewah milik Rangga Pratama. Resti ingin melihat sendiri kebenaran berita gila tersebut—ia ingin merebut kembali apa yang seharusnya menjadi haknya.
Lima puluh menit kemudian, taksi yang ditumpangi Resti berhenti di depan loby privat gedung pencakar langit tempat penthouse Rangga berada. Berbekal kartu akses lift VIP lama yang masih ia simpan secara diam-diam, Resti menaiki lift langsung menuju lantai teratas.
Ding.
Pintu lift terbuka. Resti melangkah keluar dengan napas memburu dan hati yang bergemuruh penuh amarah. Ia berjalan cepat menuju pintu utama penthouse milik Rangga. Tanpa mengetuk dengan sopan, ia menekan kode sandi pintu utama yang dulu pernah ia hafal di luar kepala.
Klik...
Sistem keamanan pintu terbuka karena kode tersebut rupanya belum sempat dihapus oleh sistem. Resti langsung mendorong pintu masuk dan menerobos masuk ke dalam ruangan utama penthouse yang megah itu.
"Rangga! Rania!" panggil Resti dengan suara lantang, melangkah masuk ke ruang tengah.
Langkah kaki Resti seketika terhenti kaku di ambang batas ruang keluarga. Matanya membelalak lebar, dan seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir turun ke kaki, merasakan hantaman kenyataan yang jauh lebih telak daripada kegagalannya di Paris.
Di hadapannya, di bawah temaram lampu hangat ruang tengah, berdiri Rangga Pratama dan Rania.
Rangga sedang merangkul pinggang Rania dengan begitu protektif dan penuh kelembutan, sementara Rania—dengan mengenakan pakaian rumah yang rapi dan wajah yang tampak segar serta memancarkan aura kebahagiaan sejati—sedang tersenyum manis mendengarkan bisikan suaminya. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis tertindas yang dulu sering dibuli; wanita di hadapannya kini benar-benar tampil seutuhnya sebagai Nyonya CEO yang dihormati dan dicintai secara mutlak oleh suaminya.
Resti berdiri terpaku, menelan ludah mentah-mentah dengan tenggorokan yang terasa kering kerontang. Koper impiannya hancur, tahta keluarganya direbut adiknya, dan pria yang dulu ia tinggalkan begitu saja kini tampak begitu memuja wanita yang paling ia benci di dunia ini.
•
•
•
•
Menurut kalian gimana sama bab ini? kalo aku mau Rangga sama Rania cerai, soalnya aku suka banget sama karakter Resti, namanya juga bagus kok Resti Santoso😍 Oke udah diputuskan Rangga sama Rania cerai dan Rangga kembali ke pelukan Resti Horeee🥳🥳 sampai jumpa di bab selanjutnya😉 aku mau rayain dulu👋