"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan
Aroma lembab, karat besi dan uap air laut yang asin menusuk tajam ke dalam rongga hidung Kayna. Kesadarannya merayap kembali secara perlahan, membawa serta rasa pening yang menusuk di kepalanya akibat pengaruh cairan kimia pembius.
Saat Kayna mencoba menggerakkan kedua tangannya, rasa perih langsung menjalar di kulit pergelangan tangannya. Kedua tangannya terikat erat di belakang sandaran kursi kayu berdebu dengan tali tambang kasar.
Kayna membuka matanya yang terasa berat. Pandangannya remang-remang, hanya diterangi oleh sebuah lampu pijar tua yang berayun pelan di langit-langit atap seng yang tinggi. Suara hempasan ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga dan derak seng yang dihantam hujan deras menunjukkan bahwa kemungkinan ia berada di pinggiran laut.
"Sudah bangun, Nona Muda?"
Sebuah suara serak dan dingin terdengar dari kegelapan di depan Kayna. Langkah kaki yang berat dan teratur mendekat, memantul di atas lantai semen yang dingin dan basah.
Seorang pria berpakaian hitam namun memiliki rahang yang kokoh melangkah keluar dari bayang-bayang. Bekas luka jahitan yang memanjang di lehernya terlihat mengerikan di bawah cahaya lampu yang berkedip. Di tangannya, pria itu memegang sebatang cerutu yang menyala, mengepulkan asap tebal berbau tajam.
Samuel.
Kayna menyipitkan mata, dadanya naik turun karena napas yang memburu ketakutan. "S-siapa kau...? Kenapa kau membawaku ke sini?!"
Samuel terkekeh pelan. Ia menyedot cerutunya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya tepat ke arah wajah Kayna, membuat wanita muda itu batuk terengah-engah.
"Aku? Aku adalah orang yang tahu betul siapa sebenarnya 'pangeran penolong' yang selama ini menidurkanmu di atas kasur sutra," ujar Samuel dengan nada sinis penuh ejekan. "Namaku Samuel. Dan kau, Nona Kayna... adalah tiket emasku untuk menghancurkan kekaisaran busuk yang dipimpin oleh Mara."
"Mara...?" desis Kayna, bibirnya yang pucat gemetar. "Apa hubungannya Mara dengan kalian?! Dia hanya seorang pengusaha! Dia..."
"Pengusaha?!" Samuel meledak dalam tawa histeris yang terdengar menggema di dalam gudang kosong itu. Pria tua membungkuk, mendekatkan wajahnya yang penuh kerutan tegang hingga berjarak hanya beberapa senti dari wajah Kayna. "Betapa malangnya dirimu, Nona. Kau dikurung dalam kebohongan manis oleh seorang iblis!"
Kayna menggelengkan kepalanya. "Bohong! Kau bohong!"
"Damara Veldens bukan sekadar CEO Veldens Management yang tampan dan terhormat," bisik Samuel dengan nada penuh racun. "Dia adalah pemimpin tertinggi Mafia Lexans! Seorang pembantai berdarah dingin yang mengendalikan perdagangan senjata api ilegal dan jaringan bisnis gelap! Pria yang kau sebut calon suami itu... memiliki tangan yang ternoda oleh darah ratusan orang!"
Kata-kata Samuel menghantam kesadaran Kayna bagaikan petir di siang bolong. Suasana di dalam kepala Kayna seketika bergemuruh. semuanya mendadak menyatu membentuk sebuah teka-teki mengerikan.
Pria penyayang yang selama ini memeluknya... adalah seorang pimpinan mafia?
"Kau pasti tidak percaya, bukan?" sambung Samuel seraya tersenyum culas. "Amnesiamu adalah berkah terbesarnya. Sebelum kecelakaan itu, kau sangat membencinya! Kau menolak pertunangan itu, kau berteriak padanya, dan kau berusaha lari darinya! Tapi setelah kau hilang ingatan, Damara memanfaatkan keadaan itu. Dia memanipulasimu, berpura-pura menjadi pria yang paling kau cintai, hanya agar dia bisa memiliki tubuh dan jiwamu secara utuh!"
"Tidak... tidak mungkin..." Kepala Kayna semakin berdenyut hebat. air mata mulai menetes dari sudut mata Kayna. Rasa mual membuncah di perutnya. Kebenaran yang disampaikan secara brutal ini rasanya terlalu berat untuk ditanggung oleh otaknya yang rapuh. Memaksanya untuk mengingat semuanya.
"Tapi tenang saja," Samuel menarik pistol revolver perak dari balik jasnya dan mengelus laras dingin senjata itu di pipi mulus Kayna. "Malam ini, sandiwara indah itu akan berakhir. Damara akan datang ke sini. Dan ketika dia tiba... aku akan membuatnya berlutut dan menyaksikan sendiri bagaimana aku menghancurkan harta paling berharganya."
Tepat ketika kalimat Samuel berakhir,
BOOOOOOM!
Sebuah ledakan dahsyat menghantam pintu besi utama gudang! Pintu tebal berbobot ratusan kilogram itu terlempar jatuh ke lantai semen dengan dentuman memekakkan telinga, menciptakan gelombang angin keras yang menerbangkan debu-debu tua di udara.
Para anak buah Samuel yang berjaga di sekeliling gudang langsung mengokang senjata mereka dengan panik. "Ada serangan! Mereka ada di sini!"
Namun, serangan balasan yang datang sama sekali tidak memberi mereka kesempatan untuk bertindak.
Dor! dor! dor
Suara tembakan berulang kali terdengar. Dalam hitungan detik, empat orang anak buah Samuel jatuh tersungkur ke tanah dengan lubang peluru tepat di tengah dahi mereka. Darah segar menyembur basah melintasi semen dingin.
Kayna menjerit tertahan, menutup matanya ketakutan melihat pembantaian yang terjadi di depan matanya.
Dari balik kabut asap ledakan dan derasnya hujan yang menerobos masuk dari pintu yang hancur, sebuah sosok melangkah masuk secara perlahan.
Damara.
Pria itu berdiri tegap di tengah kegelapan. Setelan jas hitam mewahnya basah kuyup oleh air hujan, tetapi tidak ada sedikit pun keraguan dalam langkah kakinya. Di tangan kanannya, Mara menggenggam sebuah pistol khusus berperedam suara yang masih mengepulkan asap tipis. Di belakangnya, Carlos dan James berdiri dengan senapan serbu taktis, menjaga setiap sudut gudang dengan presisi.
Namun yang membuat dada Kayna sesak hingga nyaris berhenti bernapas bukan cuma senjata-senjata itu, melainkan ekspresi wajah Mara.
Wajah tampan berdarah Indo-Belanda yang biasa menatapnya dengan binar kehangatan kini sepenuhnya lenyap. Yang tersisa hanyalah sepasang mata gelap tanpa emosi, dingin, dan memancarkan aura membunuh yang begitu pekat. Ia terlihat persis seperti apa yang dikatakan Samuel, seorang iblis.
"Lepaskan pergelangan tanganmu dari kulitnya, Samuel," suara bariton Mara bergema di dalam gudang. Rendah, tenang, namun mengandung intimidasi maut yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.
Samuel menyeringai panik. Dengan gerakan cepat, ia menarik tubuh Kayna dari kursi, merenggut rambut panjang Kayna hingga wanita itu merintih sakit, dan menempelkan laras pistol revolver perak tepat di pelipis Kayna.
"Jangan maju satu langkah pun, Damara!" teriak Samuel dengan napas berburu-buru, menjadikan Kayna sebagai tameng hidupnya. "Satu langkah lagi... dan aku akan meledakkan kepala wanita tercantikmu ini! Kuantar dia ke neraka sebelum kau sempat menyentuhnya!"
Mara menghentikan langkahnya. Sepasang matanya bergeser perlahan dari Samuel menuju Kayna.
Ketika manik mata gelap itu bertabrakan dengan tatapan Kayna yang dipenuhi air mata dan rasa tidak percaya, ada jeda beberapa detik di mana aura membunuh Mara bergetar.
"M-Mara...?" cicit Kayna dengan suara bergetar, menatap pria yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia bersandar. "Apakah... apakah semua yang dikatakannya benar...? Siapa kau sebenarnya...?"
Pertanyaan polos nan penuh luka dari Kayna menghantam dada Mara lebih keras daripada peluru mana pun. Namun, Mara tidak bisa berbohong lagi di tempat ini, di antara tumpukan mayat dan aroma darah yang menyengat.
Mara tidak menjawab pertanyaan Kayna. Sebaliknya, ia memutar pandangannya kembali pada Samuel. Senyuman tipis yang sangat mengerikan terukir di bibirnya.
"Dasar Martin tidak berguna. Dia bahkan mengirim mu untuk urusan seperti ini?" kata Mara. "Kau ingin hard drive itu, bukan? Kau ingin jalur logistik kakekku?" Mara melangkah maju setengah senti, tidak memedulikan gertakan Samuel. "Ambil semuanya. Ambil seluruh kekuasaan Lexans jika kau sanggup."
"Tapi jika kau berani menembakkan pelurumu..." tatapan Mara mendadak mengunci mata Samuel dengan kegelapan yang tak terukur. "...aku tidak hanya akan membunuhmu. Aku akan memburu seluruh keturunanmu, menghancurkan setiap orang yang pernah mengenalmu, dan memastikan namamu dihapus dari sejarah."
"Kau gila, Damara!" jerit Samuel yang mulai gemetar hebat melihat tidak adanya ketakutan di mata Mara. jarinya mulai menekan perlahan . "Kau pikir aku takut padamu?!"
"Coba saja," desis Mara maut.
Satu detik yang membekukan. Suara gesekan hujan di luar seolah terhenti. Di tengah kepungan maut dan rahasia besar yang baru saja terbongkar, Kayna menatap kedua pria di depannya dengan kesadaran yang runtuh sepenuhnya. Dunia aman yang dibangunkan Mara untuknya telah hancur berkeping-keping, digantikan oleh kenyataan berdarah yang mengerikan!
Dor!
...●Bersambung●...