Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Keanehan Edgard
"Hari ini... hari ini sangat panas sekali. Aku butuh sedikit angin segar," kilah Edgard gugup, memberikan alasan yang terdengar sangat dipaksakan. "Maaf, aku akan menunggu di luar saja."
Tanpa menunggu respons atau jawaban dari yang lain, Edgard langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan terburu-buru keluar dari ruang tengah mansion, seolah-olah sedang dikejar oleh bahaya yang tak kasat mata.
Melihat tingkah laku sepupunya yang tidak biasa itu, Jonah terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aneh sekali anak itu. Bukankah di dalam ruangan ini sudah sangat sejuk karena pendingin ruangan?"
Komentar Jonah mengundang senyuman tipis dari beberapa orang di sana, namun tidak bagi Scarlett. Gadis keturunan Pegasus itu menatap pintu keluar yang baru saja dilewati Edgard dengan sepasang mata ungu yang memicing tajam. Insting dan penciuman magisnya kembali berbisik bahwa sepupu werewolf-nya itu sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar yang sangat mengusik ketenangannya.
"Kakek tidak bisa menemani kalian semua lebih lama di sini," ucap William tiba-tiba, suaranya yang bariton mengalihkan perhatian seisi ruangan.
Pria imortal itu merapikan jubah tipisnya dengan gerakan anggun. "Sebab, sebentar lagi kakek harus segera berangkat menuju Moon Island untuk mengunjungi kakek kalian, Jason. Sudah lama sekali kakek tidak pulang dan menjenguknya di sana."
Mendengar penuturan William, Violet yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum maklum, sudah mengetahui rencana perjalanan sang suami.
Sementara itu, para sepupu dan cicit di ruangan tersebut mengangguk paham, menghormati tugas dan ikatan keluarga kuno yang selalu dijaga ketat oleh sang penyihir agung.
Di luar mansion, Edgard yang sedang bersandar pada pilar teras tidak sengaja mendengar sayup-sayup percakapan dari dalam ruang tengah tersebut berkat pendengaran werewolf-nya yang tajam. Begitu kalimat William tercerna sepenuhnya di kepala, Edgard seketika mengembuskan napas panjang.
Bahu tegap pemuda delapan belas tahun itu yang semula tegang mendadak merosot lega. Rasa syukur yang luar biasa membuncah di dalam dadanya. Setidaknya, untuk beberapa waktu ke depan, ia bisa bernapas dengan aman karena sang Archmage pemegang sihir psikometri itu akan berada sangat jauh dari Luminara. Jalannya untuk melacak keberadaan gadis Siren itu kini terbuka lebar tanpa perlu takut rahasianya terendus oleh sang kakek.
"Lalu, apa Kakek akan menginap di sana?" tanya Scarlett, menatap kakeknya dengan rasa ingin tahu.
"Tidak, mungkin Kakek akan langsung kembali nanti sore. Sekitar tiga puluh menit lagi Kakek baru akan berangkat ke sana," jawab William hangat. "Kakek akan bersiap-siap dulu di atas. Kalian semua bersenang-senanglah di sini."
Pria imortal itu kemudian bergegas melangkah menuju ruang kerja pribadinya. William berniat menyiapkan beberapa botol ramuan magis berharga untuk dibawa pergi.
Bukan tanpa alasan, ini merupakan ritual wajib bagi seorang Archmage sebelum melakukan perjalanan jauh. Ia harus selalu siap sedia jika sewaktu-waktu ada makhluk yang membutuhkan pertolongannya, baik di tengah perjalanan maupun setibanya di Moon Island nanti.
****
Dua puluh menit berlalu dengan begitu cepat di dalam ruang tengah mansion. Suasana yang semula tenang perlahan berubah riuh saat anak-anak Elisa mulai rewel dan tidak bisa diam.
Karena tidak ingin suara tangisan bayi kembarnya mengusik tidur lelap putri kecil Violet yang baru saja terlelap, Elisa pun berinisiatif mengajak ketiga suaminya untuk membawa anak-anak mereka keluar ruangan.
"Sayang, bawa mereka bertiga keluar dulu, ya," perintah Elisa lembut kepada Jonas, Jonah, dan Josiah.
Ketiga pria tampan itu mengangguk serempak dengan patuh. Mereka masing-masing menggendong satu bayi mereka yang mulai merengek, lalu melangkah bersama-sama menuju halaman mansion yang sangat luas dan asri.
Tepat saat mereka melintasi area teras, pandangan ketiga bersaudara itu langsung tertuju pada sesosok pemuda yang tengah berbaring di atas sofa panjang beranda. Itu Edgard.
Pria werewolf muda itu tampak sudah terlelap dengan posisi berbantalkan lengan, wajahnya terlihat sangat kelelahan seolah-olah energinya baru saja terkuras habis karena didera rasa bersalah yang teramat sangat sepanjang malam.
"Lihat bocah itu," ucap Josiah sambil terkekeh pelan, menunjuk Edgard dengan dagunya agar tidak membangunkan keponakan mereka yang sedang tertidur pulas.
Kita harus membangunkannya, sebentar lagi sudah jam makan siang," ucap Jonas sembari melangkah maju. Tanpa aba-aba, ia menaruh tubuh mungil Jacelyn tepat di atas dada tegap Edgard.
Seketika itu juga, sepasang mata Josiah dan Jonah melotot sempurna.
"Kenapa kau malah menaruh Jacelyn di sana?!" protes Elisa kaget.
"Lihat saja nanti, Sayang. Bayi kita ini akan membantu membangunkan Edgard. Kalau aku atau kalian yang membangunkannya, serigala pemarah itu pasti akan langsung mengamuk," bisik Jonas penuh keyakinan.
Ia lalu menunduk menatap putrinya, "Sayang, bangunkan pamanmu yang pemalas ini."
Bayi mungil itu seolah mengerti perintah sang ayah.
Plak! Plak! Plak!
Jacelyn menepuk-nepuk pipi Edgard dengan telapak tangan kecilnya yang gembul. Meskipun masih bayi, darah campuran yang mengalir di tubuhnya membuat kekuatan fisik Jacelyn berada jauh di atas manusia dewasa. Tepukan beruntun yang cukup keras itu seketika berhasil menarik kesadaran Edgard kembali ke permukaan.
Di sekelilingnya, suara kekehan renyah langsung terdengar riuh.
"Astaga, Jace..." Edgard tersentak bangun, refleks mendudukkan tubuhnya sambil menahan pinggang Jacelyn dengan kedua tangan agar bayi itu tidak terjatuh. Ia mengerjapkan matanya linglung, menatap sekeliling dengan wajah gusar.
"Apa yang kalian tertawakan?"
"Ternyata rencanamu berhasil, Jonas. Dia langsung melek," ucap Jonah di sela tawanya.
"Kau terlihat sangat lucu, Edgard. Aku bersumpah belum pernah melihat penampilanmu sekacau ini sebelumnya," timpal Josiah meledek. Mereka berdua kemudian menarik kursi dan ikut duduk santai di teras mewah tersebut.
Namun, suasana santai itu mendadak terusik saat suara derap langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Sesosok pemuda dengan aura magis lautan yang kuat melangkah memasuki area beranda. Dialah Kaelen, sepupu Mermen mereka.
"Kaelen! Hei, Bro, dari mana saja kau?" sapa Josiah riang menyadari kedatangannya. "Akhir-akhir ini kami jarang sekali melihatmu berkunjung ke kastil."
Pria keturunan ras campuran—Vampir, Demon, dan Mermaid—itu bertanya sembari tangannya bergerak menyuapi salah satu anak laki-lakinya yang bernama Jayden.
"Benar," timpal Jonas, si sulung. Manik mata hitam kelamnya menatap penasaran pada sang sepupu. "Nenek Nerissa bilang kau sedang sibuk mengejar seorang gadis yang katanya sudah terikat dengan mate lain. Aku jadi penasaran, siapa sebenarnya gadis itu?"
Kaelen hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan misteri, lalu menarik sebuah kursi teras untuk bergabung. "Kau percaya saja pada gosip murahan seperti itu. Aku tidak sedang mengejar siapa pun, tapi aku memang sedang berusaha menjaga dan mendapatkan hati mate-ku sendiri. Bahkan, dia sudah menelan The Heart Pearl milikku."
Kaelen menarik napas sejenak, tatapannya menerawang jauh. "Dan apa yang kau katakan memang benar, dia sudah memiliki mate lain. Karena itu, aku ingin meyakinkan hatinya bahwa akulah yang terbaik untuknya."
"Wow, aku tidak menduga jika kau akhirnya berhasil menemukan mate-mu! Apakah dia kekasih manusiamu yang bernama Alana itu?"
Edgard menyahut, berusaha mengalihkan gemuruh di dadanya sendiri. Pria werewolf berambut biru terang dengan netra merah itu terkekeh geli sembari membetulkan posisi gendongannya pada Jacelyn.
"Bukan, bukan dia. Aku sudah lama putus dengan Alana," jawab Kaelen tenang, meskipun ada kilat kecemasan yang melintas cepat di matanya.
"Soal siapa mate-ku yang sekarang, aku belum siap memberitahukannya pada kalian. Dia... belum sepenuhnya siap menerima takdir bersamaku."
"Lalu siapa? Ah, aku jadi teringat ucapanmu saat kita masih di Akademi Luminara dulu. Kau pernah bilang jangan terlalu mencintai seseorang karena nanti kau bisa sakit hati. Sepertinya kau sedang memakan ucapanmu sendiri, Kaelen,"