"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa
Malam telah menyelimuti Jakarta.
Lampu-lampu kota berpendar dari balik dinding kaca penthouse milik Arsen Malik.
Hari yang panjang di Malik Media akhirnya berakhir.
Pintu apartemen terbuka.
Arsen dan Senja masuk hampir bersamaan.
Begitu meletakkan tas di atas sofa, Senja langsung mengembuskan napas panjang.
"Capek juga ya..."
Arsen hanya mengangguk kecil sambil melepaskan jasnya.
"Saya mandi dulu ya, Pak."
"Iya."
Senja tersenyum kecil sebelum masuk ke kamarnya.
Tak lama kemudian...
Suara pintu kamar mandi terdengar tertutup.
Arsen baru saja hendak membuka beberapa dokumen yang ia bawa dari kantor ketika ponselnya bergetar.
Bu Ratih.
Tanpa berpikir panjang, Arsen segera mengangkatnya.
"Selamat malam, Bu."
Terdengar suara Ratih di seberang sana.
"Nak Arsen..."
"Maaf mengganggu."
"Tidak apa-apa, Bu."
"Apakah kalian sudah sampai di apartemen?"
"Sudah."
"Senja sedang mandi."
Ratih mengembuskan napas lega.
"Syukurlah..."
Beberapa detik kemudian...
Nada suaranya berubah pelan.
"Nak..."
"...sebisa mungkin jangan sampai Senja tahu kalau Ibu menelepon."
Tatapan Arsen langsung berubah serius.
"Ada apa, Bu?"
Ratih terdiam sejenak.
"Sore tadi..."
"...Ibu menerima sebuah paket."
Arsen langsung berdiri dari duduknya.
"Paket?"
"Iya."
"Padahal Ibu tidak pernah memberi tahu siapa pun kalau Ibu berada di vila."
"Isinya?"
"Sebuah foto lama..."
"...dan ancaman."
Rahang Arsen mengeras.
"Ibu tidak apa-apa?"
"Alhamdulillah, tidak."
"Tapi..."
"Saya takut."
"Bukan untuk diri saya."
"Saya takut sesuatu terjadi pada Senja."
Keheningan menyelimuti kedua ujung telepon.
Arsen memandang ke arah pintu kamar Senja yang masih tertutup.
Kemudian ia berkata pelan,
"Bu..."
"Maaf sebelumnya."
"Saya sudah mengetahui tentang keluarga Bagaskara."
Ucapan itu membuat Ratih membeku.
Beberapa detik...
Tak terdengar jawaban.
Hanya napas Ratih yang sedikit bergetar.
"Saya juga sudah mengetahui..."
"...tentang Valery Walker."
Ratih perlahan memejamkan mata.
Ternyata...
Rahasia itu memang tidak mungkin disimpan selamanya.
"Bu..."
Arsen kembali berbicara.
"Saya tidak akan memaksa Ibu menjelaskan semuanya malam ini."
"Tapi saya mulai mengerti..."
"...kenapa dulu Ibu mengizinkan Senja bekerja di Malik Media."
Ratih membuka matanya perlahan.
Sudut bibirnya terangkat menjadi senyum tipis.
Senyum yang bercampur lega dan haru.
"Jadi..."
"...kamu akhirnya menyadarinya."
"Iya, Bu."
"Saya belum tahu seluruh kebenarannya."
"Tapi saya tahu satu hal."
"Apa itu, Nak?"
Arsen menatap pintu kamar Senja sekali lagi.
"Laki-laki yang selama ini mengincar Senja..."
"...bukan orang yang bisa saya remehkan."
"Karena itu..."
"...percayakan Senja kepada saya."
"Saya pastikan..."
"...tidak akan ada siapa pun yang menyentuhnya."
Ratih menundukkan kepala.
Air matanya perlahan menetes.
Selama lebih dari dua puluh tahun...
Untuk pertama kalinya...
Ia merasa tidak lagi memikul beban itu sendirian.
"Semoga..."
Suara Ratih bergetar pelan.
"...kamu benar-benar bisa saya andalkan, Arsen Malik."
Arsen tersenyum tipis.
"Bukan semoga, Bu."
"Melainkan pasti."
Di saat yang sama...
Pintu kamar Senja perlahan terbuka.
Arsen spontan menoleh.
Dan tanpa sadar...
Ia segera mengakhiri panggilan telepon itu sebelum Senja sempat mengetahui dengan siapa ia berbicara.
"Pak?"
Senja keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Masih kerja?"
Arsen memasukkan ponselnya ke saku.
"Iya."
"Sedikit lagi selesai."
Namun di balik jawaban singkat itu...
Arsen telah berjanji pada dirinya sendiri.
Apa pun yang terjadi...
Ia tidak akan membiarkan sejarah dua puluh tiga tahun lalu terulang kembali.
Arsen memandangi pintu kamar Senja yang telah kembali tertutup.
Beberapa saat...
Ia tetap berdiri di tempatnya.
Apartemen kembali sunyi.
Hanya suara gemericik air dari kamar mandi Senja yang sesekali terdengar samar.
Arsen mengembuskan napas panjang.
Lalu berjalan menuju dinding kaca besar yang menghadap gemerlap lampu Kota Jakarta.
Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana.
Tatapannya kosong.
"Sebenarnya..."
"Apa yang terjadi pada keluarga Bagaskara?"
Semakin banyak jawaban yang ia temukan...
Semakin banyak pula pertanyaan baru yang muncul.
Valery Walker.
Ratih.
Kecelakaan dua puluh tiga tahun lalu.
Dan...
Devan.
Arsen memejamkan mata sejenak.
"Kenapa Devan bisa mengetahui semua ini lebih dulu?"
"Apa dia memang sedang melindungi Senja..."
"...atau justru memanfaatkannya?"
Ucapan Devan kembali terngiang di kepalanya.
"Kalau kamu gagal menjaganya... aku akan mengambilnya."
Arsen mengepalkan rahangnya.
Bukan.
Devan bukan sekadar mengancam.
Tatapan pria itu...
Benar-benar menginginkan Senja.
Namun untuk alasan apa...
Arsen belum mampu menebaknya.
Ia kembali mengembuskan napas panjang.
Tatapannya perlahan beralih pada pantulan dirinya di kaca.
"Dan..."
"Kenapa aku dipindahkan ke kantor pusat dua tahun lalu?"
Selama ini ia selalu menganggap kepindahan itu murni keputusan bisnis.
Tetapi sekarang...
Semuanya terasa seperti potongan puzzle yang mulai saling berkaitan.
"Apa ini juga keputusan Ayah?"
"Apa Ayah sebenarnya sudah mengetahui sesuatu tentang keluarga Bagaskara?"
Pikirannya langsung tertuju pada satu orang.
Adrian Malik.
Ayahnya.
Sudah hampir dua tahun...
Hubungan mereka nyaris tidak ada.
Tak ada telepon.
Tak ada makan malam keluarga.
Bahkan percakapan mereka terakhir lebih menyerupai perdebatan daripada obrolan antara ayah dan anak.
Arsen menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Jarinya perlahan meraihnya.
Nama Ayah masih tersimpan di daftar kontak.
Ia menatap nama itu cukup lama.
"Apa aku harus menghubunginya?"
Egonya menolak.
Namun...
Kalau memang Adrian Malik mengetahui sesuatu...
Maka itu bisa menjadi satu-satunya jalan untuk melindungi Senja.
Arsen mengusap wajahnya pelan.
"Kalau memang demi Senja..."
"Apa aku harus mengesampingkan semua masalah kami?"
Klik.
Pintu kamar terbuka.
Arsen spontan menoleh.
Senja keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Beberapa helai rambut masih basah menempel di pipinya.
"Pak?"
Arsen segera meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
"Iya?"
"Bapak belum mandi?"
Senyum kecil muncul di wajah Senja.
"Kalau kelamaan nanti masuk angin, lho."
Arsen menatap Senja beberapa detik.
Lalu sudut bibirnya ikut terangkat tipis.
"Iya."
"Saya mandi dulu."
Tanpa disadari Senja...
Kehadirannya selalu mampu menghentikan kekacauan di dalam kepala Arsen.
Namun justru karena itulah...
Arsen semakin yakin.
Ia harus menemukan seluruh kebenaran.
Sebelum masa lalu itu datang dan merebut Senja darinya.
Arsen selesai mandi.
Ia mengenakan kaus hitam polos dan celana training abu-abu, penampilan yang sangat jarang dilihat orang lain selain Senja.
Begitu keluar dari kamar mandi...
Aroma masakan memenuhi apartemen.
Arsen mengernyit.
Langkahnya mengikuti aroma itu menuju dapur.
Senja sedang berdiri membelakanginya.
Rambutnya yang masih sedikit lembap diikat asal menggunakan jepit rambut.
Ia mengenakan piyama panjang berwarna krem dengan celemek sederhana.
Sedang mengaduk dua mangkuk mi kuah.
"Bukannya sudah malam?"
tanya Arsen.
Senja menoleh lalu tersenyum.
"Lapar."
"Bapak juga belum makan banyak tadi."
Arsen terdiam.
Hal sekecil itu...
Senja masih memperhatikannya.
"Saya kira Bapak juga lapar."
"...jadi saya masak sekalian."
Beberapa menit kemudian...
Mereka duduk berhadapan di meja makan.
Tidak ada pembicaraan berat.
Senja justru bercerita tentang kejadian lucu di divisi kreatif sebelum ia menjadi asisten Arsen.
Tentang printer yang pernah rusak.
Tentang rekan kerja yang salah mengirim desain.
Tentang dirinya yang pernah dimarahi supervisor karena salah membawa kopi.
Arsen hanya mendengarkan.
Sesekali...
Sudut bibirnya terangkat.
Melihat Arsen tersenyum, Senja langsung menunjuknya.
"Nah!"
"Bapak senyum."
Arsen mengangkat sebelah alis.
"Memangnya kenapa?"
"Jarang."
"Bapak lebih sering cemberut."
Arsen menggeleng kecil.
"Kamu terlalu banyak bicara."
"Hehe..."
Senja hanya tertawa.
Tawa yang sederhana.
Namun mampu membuat seluruh kepenatan di kepala Arsen perlahan menghilang.
Setelah makan selesai...
Senja membawa kedua mangkuk ke wastafel.
"Sini."
ucap Arsen.
"Biar saya yang cuci."
Senja langsung menoleh kaget.
"Hah?"
"Bapak?"
"Iya."
"Nggak usah."
"Saya aja."
Arsen sudah lebih dulu mengambil mangkuk dari tangan Senja.
"Kamu istirahat."
Senja sampai bengong.
CEO Malik Media...
Mencuci mangkuk bekas makan mereka.
Pemandangan itu terlalu aneh.
Tanpa sadar Senja tersenyum kecil.
Entah kenapa...
Apartemen yang biasanya terasa dingin...
Malam ini justru terasa seperti rumah.
Saat Senja sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat...
Arsen berdiri sendirian di balkon.
Ia kembali membuka daftar kontak.
Tatapannya berhenti pada satu nama.
Papa.
Jarinya menggantung di atas layar.
Lama.
Sangat lama.
Lalu...
Ia menekan tombol Call.
Terdengar nada sambung pertama.
Babak baru pun dimulai.