NovelToon NovelToon
Azura And The Lost King

Azura And The Lost King

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: HikmahToo

Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.

Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.

Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.

Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.

Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.

Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.

Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.

Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?

Takhtanya...

Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?

up rutin. 06:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

weekend yang berubah arah

Hiruk pikuk Kota Jakarta seolah tak pernah mengenal kata sepi. Apalagi di akhir pekan. Jalanan dipenuhi kendaraan, trotoar dipadati pejalan kaki, dan pusat perbelanjaan menjadi tujuan banyak keluarga menghabiskan waktu bersama.

Sama halnya dengan Azura saat ini, dia duduk di atas motor dengan wajah sangar, mencengkram erat setang motor, sesekali menatap tajam pada lampu lalulintas.

Excel yang duduk di depan justru tersenyum lebar, dia sibuk dadah-dadah pada teman sekelasnya ketika bertemu di lampu merah.

"Aku mau ikut main sama Kaka aku, kamu mana bisa, kan gak punya Kaka" teriak Excel pada teman di sebelahnya yang berada di dalam mobil bersama orangtuanya.

Azura ingin sekali membekap mulut Excel karna dia malu-maluin.

"Aku juga nanti punya Kaka kok," balas temannya.

Excel mendengus, menyilangkan kedua tangannya, menatap remeh pada temannya. "Gimana bisa? Kamu kan anak pertama? Kamu gak bakalan bisa punya kakak" cibir Excel.

Temanya terlihat tidak suka, dia buru-buru menutup jendela mobil.

"Dek! Bisa diem gak sih!" Sinis Azura kesal.

Excel mendengus, memeletkan lidah pada mobil temannya lalu menatap ke depan.

Tak lama, terdengar suara tangis dari dalam mobil, di susul teriakan anak itu. "Aku gak mau tau, pokoknya aku mau punya Kaka bunda!"

Azura sedikit meringis, tak berani melirik samping sebab malu.

Dan langsung menarik gas motornya begitu lampu berubah hijau.

Leon hanya duduk diam di belakang, sesekali tersenyum tipis karna dia bisa keluar rumah.

Walaupun harus mendengar ocehan Azura sepanjang jalan.

Ya gimana ya, Azura sekarang udah kayak ibu yang lagi bonceng suami sama anaknya. Kan dia malu gitu!

Harusnya dia kan yang di bonceng Leon, lah ini malah kebalik, gimana dia gak bete.

Azura memarkirkan motornya di depan sebuah mall, terdiam sejenak menunggu Excel dan Leon turun.

Azura memutar mata jengah.

Masih tak terima harus boncengan bertiga seperti ibu-ibu yang mengantar suami dan anaknya jalan-jalan.

Leon menatap takjub bangunan megah di depannya, matanya berkeliling menatap banyaknya orang yang berlalu lalang.

"Lo gak usah norak! Inget ya, jangan malu-maluin gue!" Peringat Azura, menatap Leon sinis.

Excel mendelik tak suka, segera mengambil tangan Leon. "Kaka jangan marah-marah terus, emang mau cepet tua?" Cibirnya.

Leon mengalihkan pandangan, menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.

"Kamu juga sama! Awas aja bikin ulah, pulang sendiri!" Azura menarik tangan Excel pelan membawanya masuk.

Di ikuti Leon yang juga tangannya di tarik Excel.

"Kita ngapain ke sini kak? Katanya mau main? Kok malah belanja" tanya Excel tak suka.

Azura tak menjawab, dia terus membawa Excel dan Leon berjalan.

'*jadi ini adalah pasar*?' batin Leon.

Leon terus menoleh ke kanan dan kiri. Cahaya dari etalase toko memantul di matanya. Musik terdengar dari segala arah. Orang-orang berjalan tergesa-gesa tanpa saling mengenal. Baginya, tempat ini jauh lebih ramai daripada pasar terbesar di Lunaventia.

Leon sedikit merunduk, mendekatkan kepalanya pada Azura.

"Ini pasar yang kalian sebut?" Bisiknya pelan.

Azura sedikit melotot karna nafas pemuda itu mengenai telinganya geli.

Azura mengangguk singkat, kini mereka sudah sangat seperti pasangan suami-istri yang tengah berjalan-jalan.

Leon kembali mendekatkan wajahnya." Lihat patung itu" tunjuknya pada manekin yang berada di sisi mereka, dan Azura refleksi melihatnya.

Dia menukik alis bingung." Kenapa emang?"

Leon kembali berbisik "pakainya sangat kurang kain, apa mereka tidak mampu membeli kain tambahan sehingga di biarkan begitu saja?"

Azura menampol kepala Leon, dengan melotot seram. "Gue bilang gak usah malu-maluin! di sini emang gitu, Lo nya aja yang ketinggalan zaman!" Tekan Azura.

Leon memegangi kepalanya. Demi apapun, hanya Azura lah manusia pertama yang berani memperlakukannya kasar seperti ini, bahkan binatang pun tidak pernah se kasar ini. tapi Leon tak bisa apa-apa, dia hanya bisa menatap tajam dengan kesal, tak mampu membalas entah kenapa.

Azura dan kedua pengikutnya kini berdiri di depan pintu bioskop.

TRING

Azura melihat notifikasi di ponselnya.

Tiffany: Ra, Lo udah sampe??

Azura: udah, ini udah mau masuk, Lo di mana?

Tiffany: sebelumnya maaf nih ya, tadinya.

gue hampir

mau ke sana, tapi Gabriel ngajak

gue jalan.

Azura: gitu ya kalo udah punya cowo, tapi

ya gimana?

Tiffany: maaf banget Ra, mungkin lain kali.

Azura: ywdh gpp.

Azura menggembungkan pipinya kesal, menutup ponsel tanpa melihat balasan dari Tiffany.

"Kenapa kak? Kok gak masuk?" Tanya Excel.

Azura menggeleng. "Kita ke tempat lain aja, temen Kaka jadi main"

Azura menatapi Leon yang juga menatapnya.

Meski masih sering kesal pada Leon, Azura tahu pemuda itu setidaknya bisa menjaga Excel dan tidak akan meninggalkannya sendirian.

"Le, Lo bisa jagain Excel bentar gak? Gue ke toilet dulu"

Azura kemudian pergi tanpa menunggu jawaban Leon.

Sudah lima menit, namun Azura belum juga kembali. Excel yang kesal mengetuk-ngetuk kan sepatunya pada lantai.

"Kak Ara mana sih? Lama banget, apa dia bab ya?"

Kepalanya celingukan mencari Azura.

Leon berjongkok di depan Excel, kakinya sedikit pegal Karna terlalu lama berdiri.

"Nama kakak mu Azura?" Tanyanya.

"Hmm... Kalo nama om siapa," sedetik kemudian Excel sadar. "Iya, kita belum kenalan ya om, padahal om udah lama tinggal di rumah aku, tapi aku gak tau nama om siapa" katanya dengan cengiran lucu, yang mampu membuat Leon kembali teringat pada adiknya di istana.

Leon tersenyum lembut, mengulurkan tangannya pada Excel. "Kau bisa memanggilku Leon,"

Excel menerima uluran tangan itu antusias. "Om juga bisa panggil aku Excel hihi,"

Setelah beberapa saat menunggu, Azura Kembali dari toilet.

"Kaka lama banget sih! Ngapain aja tadi?" Sentak Excel dengan berdecak pinggang.

"Maaf ya, kamu laper kan? Belum sarapan juga tadi, mending kita cari makan dulu" ajak Azura, yang langsung di angguki Excel.

" Yuk kak, aku laper banget makanya marah-marah." Katanya, lalu melirik Leon dan memegangi tangannya." Ayo om kita cari makan"

Leon mengangguk pelan, mensejajarkan langkahnya dengan Azura, dan Excel yang berada di tengah-tengah mereka.

Mereka bertiga sudah berada di salah satu resto yang berada di salah satu mall.

Excel dan Azura antusias memilih-milih makanan yang ada di buku menu. "Ini aja dek, enak ini kamu belum pernah nyoba kan?" Kata Azura.

Excel menggeleng. "Enggak ah kak, inimah makanan orang tua, tuh banyak lemaknya, nanti aku kolesterol"

Azura mengangga menatap adiknya yang asbun itu.

"Sejak kapan rendang jadi makanan khusus orang tua? Ngada-ada! Udah gak usah milih-milih, ini aja!" Kata Azura kesal.

Leon hanya diam memperhatikan interaksi kedua Kaka beradik yang tengah berdebat itu.

"Gak mau! Aku maunya ayam!" Excel memanyunkan bibirnya, menatap Azura sebal.

Azura sedikit menyipitkan matanya. "Emang kamu mau jadi botak?" Ucapnya pelan.

Excel sedikit melebarkan mata. "Hah?" Tanya tak mengerti.

" Iya, ayam kan makanan si Ipin, kalau kamu makan ayam, kamu bakal botak" katanya santai.

Excel mendelik tak terima. " Dapet kolaborasi dari mana tuh kak?"

Azura tak menghiraukan, dia menatap Leon.

" Kalo Lo mau makan apa?"

Leon terlihat berpikir sejenak. "Apa saja, aku tidak pemilih" jawabnya pelan.

Azura mengangguk, menyerahkan buku menu itu pada waiters yang mengangguk sopan.

"Azura?"

Panggil seseorang yang membuat Azura spontan menoleh karna mengenal suaranya.

"Kak...ka Rafael?"

Leon ikut mengangkat kepala menatapi pria asing di depannya.

Bersambung...

1
gendiz
semangat lanjutkan menulisnya 💪 kalau sempat mampir baca karyaku juga ya
HikmahToo: iya kak✨ makasih udah mampir
total 1 replies
MayAyunda
mampir tor
HikmahToo: makasih kak🙏😍
total 1 replies
HikmahToo
guys jangan lupa kasih bintang nya ya, maacih
MayAyunda
lanjut kak
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
semangat buat penulis 💚
HikmahToo: makasih ka✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!