NovelToon NovelToon
The Shadow For Revenge

The Shadow For Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aliet's

Di tempat semua orang yang sedang berjuang demi mengubah masa depan, hanya beberapa anak yang tengah berjuang demi membalaskan dendam. Ini adalah akademi bagi para bangsawan yang ingin mengubah masa depan dan memperjuangkan kemerdekaan mereka.

Pembantaian keji terhadap keluarga ternama dengan pasukan militer yang kuat, kini hanya tersisa nama. Sebagai satu-satunya yang terselamatkan, ia mengambil langkah untuk membalaskan dendam keluarganya. Panah api itu tak kunjung berhenti menembak, bangunan besar itu kini dilapisi oleh api, di setiap penjuru bangunan penuh dengan api dan asap.

Matanya membulat sempurna, wajahnya menegang, jari-jari kecilnya bergerak perlahan, kakinya melangkah ke depan, hanya satu langkah sebelum seseorang menahannya dari belakang. Satu tangannya terulur ke depan, berharap ini hanyalah mimpi. Kini pandangannya gelap setelah seseorang di belakangnya mulai menutup pandangan nya.

5 Tahun setelah Tragedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliet's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Pangeran (1)

​"Kau awasi saja dari sini, jangan menghalangi Kapten..." ucap Eric yang rupanya terbangun akibat hawa pekat di dalam ruangan. Pemuda ras burung itu menatap lurus ke arah punggung Elouis dengan sorot mata yang tampak begitu sendu. Sebagai sesama petarung, Eric tahu ada sesuatu yang hancur di dalam diri Elouis setelah keluar dari ruangan Ludwig tadi.

​Vincent seketika didera kebimbangan yang luar biasa. Jika ia pergi keluar untuk mengawasi Elouis dan Kael yang sudah pasti akan beradu pedang sampai hancur-hancuran, lalu siapa yang akan menjaga Kazel dan Eric di ruang medis ini? Sedangkan Edith saat ini sudah pasti sudah terjun bebas ke dalam dunia mimpinya.

​Vincent menghela napas panjang, lalu membenarkan letak kacamatanya dengan tegas. "Baiklah... Saya akan tetap di sini," ucap Vincent, memilih keputusan paling rasional untuk menjaga sisa anggota tim yang lumpuh.

​"Bagus. Karena jika kau nekat mendekat, kau bisa saja ikut terpotong di dekat kami nanti," sahut Elouis tanpa menoleh.

Kael perlahan turun dari ranjangnya dengan gerakan sedikit sempoyongan akibat sisa demam yang membakar tubuhnya. Tatapan matanya luar biasa dingin dan berbahaya, memancarkan aura haus darah khas Segel Kedua.

Namun, entah karena pengaruh wibawa Elouis atau insting hewannya yang mendeteksi bahaya murni dari sang Kapten, Kael kali ini menjadi jauh lebih pendiam dan fokus dibanding saat dia mengamuk di hutan kemarin.

​Sambil menggenggam erat hulu pedangnya, Elouis berbalik dan melangkah keluar menuju lapangan belakang yang sunyi, diikuti oleh siluet Kael yang berjalan dalam diam layaknya bayangan maut.

Kini, Elouis dan Kael telah berada di tengah lapangan luas yang sudah lama tidak terpakai, terletak jauh di sudut belakang akademi dan terisolasi sepenuhnya dari gedung utama. Tempat yang sempurna untuk menumpahkan darah dan amarah tanpa perlu khawatir akan ada mata-mata yang mengusik.

​Sret!

​Elouis melemparkan pedang panjang milik Kael yang langsung ditangkap dengan presisi sempurna oleh cowok itu. Tanpa membuang waktu, Kael langsung menghunus bilah besinya dari sarungnya, membiarkan kilatan tajam memotong kegelapan malam. Elouis sendiri ikut menarik keluar satu bilah pedang andalam miliknya.

Ia mengambil posisi kuda-kuda rendah yang kokoh, bersiap sepenuhnya untuk menerima serangan brutal sekaligus melancarkan serangan balik yang mematikan.

​"Aku tidak akan menahan diri atau merasa segan sedikit pun kali ini, Kael," ucap Elouis dengan suara rendah yang sarat akan ancaman murni.

​"Dengan senang hati aku menemani malammu yang penuh amarah ini, Kapten," balas Kael dengan nada yang tak kalah rendah dan berbahaya.

​Zraash!

Tanpa aba-aba lagi, Kael langsung menerjang maju ke depan bagai kilat hitam. Langkah kakinya yang dipicu energi Fase Feral menghentak bumi dengan kuat.

​TRANGGGG!

​Suara benturan keras dua bilah pedang besi itu menggema nyaring membelah kesunyian malam. Percikan api magis mencuat di antara kedua senjata mereka saat kedua remaja itu saling menekan kekuatan dengan sekuat tenaga.

Tekanan angin yang dihasilkan dari bentrokan perdana tersebut begitu masif, hingga membuat pasir dan debu di bawah pijakan kaki mereka meledak dan menyebar dengan liar ke segala penjuru tempat.

TRANG! TRANG! TRANG!

Bilah besi mereka saling mengikis cepat. Kael bergerak liar menggunakan insting predator Fase Feral—tebasan brutalnya mengincar titik fatal tanpa celah.

​Sret!

​Elouis memiringkan tubuh seujung kuku, menghindari mata pedang Kael. Menghentakkan kaki, ia memutar tubuh dan membalas lewat tebasan melingkar dari bawah.

​KLANGGGG!

​Kael menyilangkan pedang menahan benturan, namun daya dorong sihir Elouis melempar tubuhnya mundur beberapa meter ke belakang.

​Di bawah temaram bulan, Elouis menatap Kael dingin. "Jika kau payah, aku akan membuangmu," ucapnya menohok.

​Sepasang mata merah Kael bergetar hebat. Amarahnya mendidih. "Ada apa dengan ucapanmu itu!! Aku tidak akan membiarkannya!!" geram Kael liar.

​GRRR... Hawa kemerahan tubuh Kael meledak dua kali lipat. Ia menerjang maju bagai badai hitam.

​Melihat itu, Elouis tersenyum samar. Poni rambutnya menutupi kilatan sepasang mata keperakan yang mendadak berubah mengerikan.

SREEEEET!

​Elouis menghunus bilah pedang kedua dari balik jubahnya dengan cepat. Ia segera mengambil posisi kuda-kuda gaya dua pedang tahap kedua.

​Wushhhh!

​Aura keperakan berputar membungkus kedua bilah pedangnya.

​"Aku tidak suka pembuat onar," ucap Elouis dingin.

​"Oh... lalu, kau akan apa?" tanya Kael penuh tantangan, memangkas sisa jarak di antara mereka.

​"Tentu saja, mendidik orangku."

​Tepat setelah kalimat itu terucap, Elouis melesat keras, mengayunkan kedua bilah pedangnya secara bersamaan menyambut terkaman Kael.

​BOOOM! TRANGGGG!

TRANG! CRASH!

​Kedua bilah pedang Elouis menjepit mata pedang Kael, menahan hantaman liar itu tepat di depan dadanya. Kael menggeram, menekan seluruh berat tubuhnya ke depan demi meruntuhkan pertahanan ganda sang kapten. Namun, Elouis dengan cepat memutar pergelangan tangannya, menggeser arah pisau hingga senjata Kael tergelincir ke samping.

​Sret!

​Memanfaatkan celah itu, Elouis mengayunkan pedang kirinya secara horizontal, mengincar pundak Kael. Kael yang memiliki insting hewan tajam langsung melompat mundur ke udara, menghindari tebasan tajam yang sempat memotong beberapa helai rambut hitamnya.

​Belum sempat Kael menginjakkan kakinya kembali ke tanah, Elouis sudah melesat di bawahnya. Kecepatan dua pedang tahap kedua miliknya benar-benar berada di tingkat yang berbeda.

​"Kau lengah, jangan membiarkan musuh berada di belakangmu," ucap Elouis dingin dari balik punggung Kael.

Kael membelalak terkejut. Ia berbalik secepat kilat, mengayunkan pedangnya secara membabi buta untuk menghalau serangan yang datang dari titik butanya.

​TRANG! TRANG! KLANGGGG!

​Tiga benturan keras kembali terjadi dalam hitungan detik. Kekuatan dua pedang Elouis yang dilapisi aura keperakan murni mulai mengikis dominasi hawa kemerahan Fase Feral milik Kael. Napas Kael mulai memburu berat, sementara Elouis masih menatapnya dengan pandangan tenang namun mengintimidasi.

​"Kau lemah, jangan lupakan teknik dasar, Kael," ujar Elouis sembari menahan pedang Kael yang gemetar di bawah tekanan dua bilahnya. "Tenagamu tidak dapat mengikuti amarahmu."

​"Arghh! Sial! Aku tahu, aku tahu!!" sentak Kael dengan nada frustrasi yang teramat sangat.

​Meskipun kepalanya dipenuhi amarah, tubuh Kael secara instingtif langsung bergerak menghentak, menyalurkan sisa energinya dengan benar sesuai dengan instruksi yang baru saja didiktekan oleh Elouis. Ia memutar tumpuan kakinya untuk menstabilkan keseimbangan yang sempat goyah.

"Kalau begitu, usahakan lebih keras lagi," balas Elouis, lalu menghentakkan energinya untuk mendorong Kael kembali menjauh.

BOOM!

​Kael terdorong mundur, namun langsung menancapkan pedangnya ke tanah untuk mengerem. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia mencabut bilahnya kembali dan melesat maju, mengabaikan otot-otot tubuhnya yang mulai menjerit protes.

​TRANG!

​Satu tebakan vertikal Kael hantamkan dari atas, yang langsung ditangkis silang oleh kedua pedang Elouis. Remaja harimau itu menekan ke bawah dengan sisa seluruh berat badannya, sementara Elouis menahan hantaman itu tanpa bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya berdiri.

​"Masih belum cukup," desis Elouis.

​Dengan satu hentakan pergelangan tangan, Elouis mematahkan kuncian pedang mereka. Ia bergerak secepat kilat, memutar tubuh dan melayangkan satu tendangan telak ke arah perut Kael yang sedang terbuka tanpa perlindungan.

​DUAK!

​"Ugh!" Kael terbatuk kencang, tubuhnya terlempar beberapa meter ke belakang sebelum akhirnya jatuh berguling di atas pasir lapangan yang dingin.

Pedang besi miliknya terlepas dari genggaman, berdenting nyaring sebelum menancap di tanah tak jauh dari posisinya. Kael terengah-engah di atas tanah, hawa kemerahan Fase Feral di sekujur tubuhnya perlahan meredup drastis, menyisakan tubuh lelah yang kini benar-benar telah mencapai batas maksimalnya setelah dipaksa mengikuti ritme bertarung sang kapten.

​Elouis tidak mengejar. Ia menurunkan kedua bilah pedangnya, menatap siluet anggotanya yang kini terkapar tak berdaya dengan dada yang naik-turun drastis menahan lelah.

Elouis menyarungkan kembali kedua bilah pedangnya ke balik jubah dengan satu gerakan mulus. Langkah kakinya yang tenang memecah keheningan lapangan saat ia berjalan mendekat ke arah Kael yang masih terkapar di atas pasir. Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangan kanannya ke depan untuk membantu cowok itu berdiri.

​"Bagaimana suhu tubuhmu, sudah kembali normal?" tanya Elouis, suaranya kini telah kehilangan nada dingin yang mematikan tadi, berganti dengan nada datar khasnya yang menyiratkan kepedulian tersembunyi.

​Kael mendongak sejenak, lalu meraih dan menerima uluran tangan erat sang kapten untuk menarik tubuhnya bangkit berdiri walau kakinya masih sedikit gemetar.

​"Jauh lebih baik... Terima kasih, El. Tapi, lain kali tolong lebih lembut sedikit padaku," balas Kael sembari menyunggingkan sebuah senyuman getir, sembari mengusap perutnya yang masih terasa sedikit ngilu akibat tendangan telak Elouis tadi.

​Elouis melepaskan genggaman tangannya begitu Kael berhasil berdiri dengan tegak. Ia menatap Kael dari atas ke bawah, memastikan tidak ada cedera fatal pada fisiknya.

"Bersikap lembut tidak akan membuatmu sembuh dan keluar dari Fase Feral seperti ini, benar kan?" balas Elouis retoris, mengingatkan dengan logis kalau metode kasarnya justru yang menyelamatkan akal sehat Kael malam ini.

​Kael terkekeh rendah, rasa frustrasinya kini menguap sepenuhnya berganti dengan rasa hormat yang kian menebal pada gadis di hadapannya. "Ah, benar juga... Hal itu tidak akan membuatku pulih dengan lebih cepat," aku Kael pasrah, membenarkan argumen telak dari kaptennya.

​Dengan berakhirnya duel maut tersebut, malam yang semula mencekam dan penuh amarah di tim The Shadow Eagle perlahan-lahan mulai mendingin, menyisakan kelelahan fisik yang siap mereka tuntaskan di ruang istirahat.

​"Masih sanggup berdiri sendiri atau perlu aku bantu?" tanya Elouis sembari menatap kaki Kael yang tampaknya sudah berada di ambang batas.

​Kael mendesah pasrah, wajahnya memelas. "Bantu aku... Kau sudah membuat kedua kakiku hampir kehilangan fungsinya sekarang," balas Kael sembari menunjuk kedua tungkak kakinya yang memang sedang gemetar hebat akibat kelelahan ekstrem.

​Elouis mendengus samar, namun tetap mengulurkan pundaknya. Akhirnya, dengan sisa tenaga yang ada, Elouis memapah tubuh bongsor Kael perlahan menuju arah ruang medis. Namun, dalam perjalanan membelah lorong sepi yang remang-remang itu, siluet sesosok orang tiba-tiba muncul dari balik pilar, menghadang jalan mereka tepat sebelum jarak mereka semakin dekat dengan area medis.

​Remaja lelaki yang berdiri menghadang mereka memiliki penampilan yang sangat mencolok; rambutnya berwarna perak berkilau dengan sepasang netra merah darah yang menatap tajam. Ia adalah Pangeran Kedua—Dominic Walther Anastasius Waldenz, adik kandung dari sang Putra Mahkota, Ludwig.

Elouis dan Kael seketika menghentikan langkah, menatap waspada dan tajam ke arah sang pangeran. Sebaliknya, Dominic justru tersenyum penuh arti. Langkah kakinya bergerak maju, mengikis jarak di antara mereka hingga menyisakan ruang yang cukup dekat untuk saling meraih satu sama lain.

​"Selamat malam, Yang Mulia Pangeran Kedua... Apakah Anda membutuhkan sesuatu dari kami di jam seperti ini?" tanya Elouis formal setelah membungkuk singkat memberikan penghormatan, diikuti oleh Kael di sampingnya yang menahan bobot tubuhnya dengan tegang.

​"Sesuatu?" Dominic terkekeh rendah, tatapan merahnya mengunci langsung ke arah sepasang mata keperakan Elouis. "Aku membutuhkan sekutu yang kuat, untuk merebut takhta kekaisaran ini dari kakakku," ucap Dominic dengan teramat lugas, tanpa ada niat untuk menyembunyikan ambisi pemberontakannya sama sekali.

​Atmosfer lorong yang semula sunyi seketika kembali menegang, namun Elouis tidak membiarkan ekspresi wajahnya berubah.

​"Kami tidak tertarik akan hal berisiko seperti itu, Yang Mulia..." balas Elouis instan, menolak mentah-mentah tawaran politik maut tersebut.

Pangeran muda itu tidak tampak tersinggung sama sekali; ia justru menyunggingkan senyuman ramah yang tampak begitu tulus, walau sepasang netra merah darahnya tetap mengunci lurus ke arah Elouis tanpa beralih sedikit pun.

​Dominic berdehem sejenak meredakan keheningan sebelum kembali membuka mulutnya. "Hmm... Tidak mau, ya? Baiklah, aku tidak berniat untuk memaksamu menjadi sekutuku saat ini," ucapnya santai, seolah pembicaraan barusan bukanlah tentang pengkhianatan tingkat tinggi.

​"Terima kasih atas pengertian Anda yang begitu besar, Yang Mulia," balas Elouis, sedikit melonggarkan ketegangannya namun tetap waspada.

​"Tidak, tidak perlu seformal itu. Kalau sekutu terlalu berat... bagaimana jika kita berteman saja?" tawar Dominic tiba-tiba dengan binar mata jenaka. "Hanya saat kita berdua berada di lingkungan akademi ini," lanjutnya, membatasi hubungan agar tidak tercium oleh mata-mata luar.

​Elouis terdiam sesaat, menimbang risiko di balik senyuman sang pangeran kedua yang penuh motif terselubung ini.

​"Izinkan saya untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu, Yang Mulia," balas Elouis dengan nada diplomatis, tidak memberi jawaban pasti namun juga tidak menolak mentah-mentah jabat tangan sang pangeran.

Elouis dan Kael akhirnya kembali ke ruang medis. Berkat duel tadi, emosi Kael melandai dan ia sudah bisa mengendalikan diri sepenuhnya.

​Suasana ruangan kembali sunyi. Di sudut ranjang, Elouis merebahkan tubuh lelahnya. Sepasang matanya menatap pantulan cahaya bulan di jendela, sementara pikirannya secara samar mereka ulang kejadian menegangkan beberapa saat lalu bersama Pangeran Kedua.

​Saat di lorong tadi, setelah Elouis meminta waktu untuk mempertimbangkan tawaran itu, Dominic tidak langsung pergi. Pangeran itu melangkah maju hingga berdiri tepat di sisi Elouis. Matanya melirik tajam ke arah iris mata keperakan milik Elouis, sebelum akhirnya membisikkan sesuatu dengan suara yang teramat pelan di dekat telinganya.

​"Aku menunggu jawaban pasti. Dua hari," bisik Dominic mutlak. Kemudian, ditutup dengan senyuman ramah yang tampak palsu, ia langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan lorong.

​'Seenaknya saja orang itu. Apa yang bisa dia berikan jika aku menjadi temannya?' batin Elouis, lalu menghela napas kesal mengingat kelakuan licik sang pangeran.

Elouis mengubah posisinya menjadi duduk bersandar. Ia mengulurkan tangan, menyibak tirai pembatas yang menghalangi pandangannya dari keempat rekannya.

​"Vincent, apa aku bisa meminta bantuanmu?" tanya Elouis tenang.

​Vincent yang belum tertidur langsung menoleh. "Tentu saja, apa pun akan saya lakukan jika Anda yang memintanya," balasnya patuh.

​"Tolong cari tahu mengapa Pangeran Dominic mengincarku. Ini sudah terjadi untuk ketiga kalinya," ucap Elouis datar. Kalimat itu seketika membuat tiga orang yang masih terjaga di ruangan itu tersentak kaget.

​"Dominic? Hahaha... Sepertinya dia menginginkan kelompok ini untuk jaminan masa depannya, benar?" sahut Eric menduga-duga. Elouis mengangguk pelan sebagai pembenaran.

​"Sial, tahu begitu seharusnya kubunuh saja dia tadi," gumam Kael kesal dari atas ranjangnya, emosinya kembali tersulut mengingat kelakuan sang pangeran di lorong.

"Saya akan segera mencari tahu. Ada beberapa kenalan saya dari kelas khusus yang dipimpin oleh senior Arthur," balas Vincent menenangkan. "Ini mudah, koneksi saya berada di sekitar lingkungan para Pangeran."

​"Satu hari, kau sanggup? Dia memintaku menjadi temannya, dan hanya memberi waktu dua hari sebelum menagih jawaban," tuntut Elouis.

​Vincent membungkuk hormat dari tempatnya. "Akan saya usahakan semampu saya. Satu hari."

Setelah urusan spionase selesai, atensi Elouis kini beralih pada pemuda berambut hijau di sudut lain.

​"Eric, bagaimana kondisimu? Kau ingin bertarung juga untuk meredakan emosimu?" tanya Elouis santai.

​"Ahh..." Mata Eric seketika melirik ke arah Kael yang penampilannya saat ini tampak sangat kotor, berantakan, dan babak belur akibat duel tadi. Eric meneguk ludah ngeri. "Aku... baik-baik saja sejauh ini, terima kasih tawarannya, Kapten."

​"Kau hanya cari alasan karena takut melawan Kapten, kan?" sahut Kael mengejek, sambil tetap fokus membersihkan noda pasir di bilah pedang besi miliknya.

​"Benar begitu, Eric?" tanya Elouis memastikan, menatap Eric dengan pandangan menyelidik yang membuat bulu kuduk merinding.

​"Tidak! Bukan seperti itu! Tapi aku benar-benar merasa baik-baik saja sekarang, sungguh!" elak Eric panik, setengah mati berusaha meyakinkan kaptennya agar tidak diseret ke lapangan dalam kondisi malam yang sudah sedingin ini.

......................

Satu tahun berlalu dengan begitu cepat. Lambat laun, Elouis kini telah berhasil naik ke tingkat selanjutnya di akademi. Sesi kelas khusus yang diadakan setiap satu bulan sekali pada malam hari pun sudah menjadi rutinitas yang sangat biasa baginya.

​Kehidupan akademi tak lagi membosankan seperti dulu. Kini, teman-teman yang dahulu tidak pernah ia miliki selalu setia berada di sisinya, siap menopang satu sama lain.

​Langkah kaki Elouis terdengar tegas dan percaya diri menyusuri koridor. Rambut panjangnya yang indah berkibar perlahan mengikuti ritme angin pagi, sementara sepasang matanya yang menawan menatap lurus ke depan dengan binar yang jauh lebih lembut.

​"Selamat pagi, Senior Elouis! Semoga hari Anda menyenangkan," sapa seorang murid baru yang berpapasan dengannya, membungkuk sopan penuh rasa hormat.

​Elouis mengangguk singkat namun ramah sebagai balasan, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tenang menuju kelasnya.

Elouis kini sudah duduk tenang di dalam kelasnya. Suasana di sekitarnya terasa tidak biasa. Edith sibuk membaca buku tentang pengobatan, Vincent tampak begitu serius meneliti lembaran arsip, duo kembar Kael dan Kazel tekun menatap buku di hadapan mereka, sementara Eric duduk bersandar dengan kedua mata terpejam rapat seolah sedang bermeditasi.

​Elouis mengamati kelima rekannya satu per satu. Merek yang biasanya bising kini mendadak tenang dan tenggelam dalam kesibukan masing-masing, membuat Elouis merasa teramat bingung.

​"Apa ada yang ingin kalian katakan? Tidak biasanya kalian duduk diam dan tenang seperti ini," ucap Elouis pelan, namun sanggup membuat mereka tersentak kaget bersamaan.

​Eric yang awalnya menutup mata langsung membelalak instan. Kael dan Kazel melirik takut-takut ke arah Elouis dengan pelipis yang mulai meneteskan keringat dingin.

​"T-tidak ada... Kami hanya ingin diam dan tenang saja," elak Eric dengan cengiran kaku.

​"Hmm... Kael, ada apa? Katakan padaku," tuntut Elouis, langsung mengunci target paling lemah dalam menyembunyikan rahasia.

Sebelum menjawab, Kael melempar pandangan minta tolong pada Kazel dan Edith, namun keduanya cepat-cepat mengalihkan wajah ke arah lain. Kael panik lalu menatap Eric dan Vincent, tapi dua orang itu malah makin pura-pura sibuk dengan urusannya sendiri.

​"Sialan..." gumam Kael merutuki pengkhianatan rekan-rekannya. Pasrah, ia akhirnya memberanikan diri menatap mata keperakan sang kapten. "Sebenarnya... kami melakukan ini semua setelah mendengar gosip itu, El..."

​Elouis memiringkan kepalanya sedikit, makin tidak mengerti. "Gosip...? Gosip yang bagaimana? Ada banyak gosip yang beredar di akademi ini. Katakan... gosip apa yang belum pernah kudengar?"

Kael mengangguk pelan, menyuarakan kecemasan terselubung mereka. "Gosip tentang kau yang merasa malu karena sikap kami yang kekanak-kanakan... lalu kau akan melupakan kami, dan... berpaling berteman dengan anak-anak itu..."

​"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas, anak-anak siapa...?" tanya Elouis, alisnya bertaut tipis.

​"Siapa lagi jika bukan komplotan Pangeran Dominic?" sahut Eric akhirnya membuka suara, menyuarakan rasa terancamnya. "Mereka terlihat begitu berbeda dengan kita. Mereka berkelas dan tak segan menunjukkan kekuatannya secara terbuka. Bagaimana dengan kita yang terus bersembunyi?"

​Elouis memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang yang sarat akan rasa lelah menghadapi kelakuan rekan-rekannya ini.

​"Jadi maksud kalian... kalian bersikap sok rajin dan tegang seperti ini agar aku tidak direbut atau dipandang sebelah mata oleh mereka?" cetus Elouis membedah motivasi konyol mereka.

​Keempat orang itu kompak mengangguk pelan bersamaan, membenarkan tebakan Elouis tanpa ragu.

​"Bodoh," desis Elouis singkat namun menohok.

​Ia menatap satu per satu wajah rekannya dengan pandangan tegas. "Justru karena itu kita berbeda. Untuk apa repot-repot memedulikan gosip tak berdasar seperti itu? Kita adalah kita. Kalian juga memiliki seseorang di belakang kalian secara adil... jadi untuk apa bersikap menjadi orang lain? Dasar bodoh."

1
Miu.Nuha
yaahh selesai deh, padahal lagi tegang2nya...
Miu.Nuha
mereka bisa bercakap2 dgn saling batin begitu? hebat juga ya 👍 seperti esper gitu...
Miu.Nuha
ada untungnya ya El
tpi kamu harus tetap waspada dn jaga dirimu baik2 👍
-Thiea-
dia udah siap sepenuhnya menghadapi ujian apapun. udah ditempa dari kecil soalnya.
-Thiea-
terlalu banyak basa-basi. mending langsung mulai aja. udah gak sabar di elouis.
Filan
kak, ini panjang banget. apa 2500?
ali: tambah 3 kak.. aku kebablasan nulisnya
total 3 replies
Mingyu gf😘
Ayoo, kamu pasti bisa, demi membalas darah kedua orang tuamu
Filan
tegang sekali saling mengintai
Mingyu gf😘
Bersyukur masih ada pengawal setia yang mau menolong satu satunya anggota keluarga yang tersisa
Filan
waduh, berburu
Filan
mau ngapain bocah malam-malam. sibuk amat bukannya tidur.
Myz Pena
semoga aja kael dan kezil kawan yang baik untuk elois
Myz Pena
Vincent ternyata kemampuannya hebat juga ya...
ginevra
iya sih kalian terlalu lama tatap2an. ayolah gas dimulai kelasnya
ginevra
terus gimana Lou? mending di tengah2 kan ya
Xlyzy
yey kalian satu kelas aman deh kalau gutu
Three Flowers
banyak yang kembar karena lahir dari ras binatang ya?
ali: iyaa kakk, aku riset dulu sebelum bikin cerita ini hehe
total 1 replies
Three Flowers
kukira Noah itu laki-laki, ternyata perempuan
Three Flowers
memang sesuatu banget kalo sekelas sama bestie🥳
Myz Pena
rasain si carlo akhirnya bisa kalah juga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!