NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Buruk Untuk Keluarga Kakek Santoso

Dokter tiba tak lama kemudian.

Setelah memeriksa dengan teliti, mengukur tekanan darah dan mendengarkan detak jantung Kakek Santoso, wajah pria itu berubah serius.

“Tekanan darahnya melonjak sangat tinggi, dan ada tanda‑tanda awal gangguan pada jantung,” ucap dokter dengan nada tegas. “Beliau harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lengkap dan penanganan yang lebih memadai. Ini enggak boleh ditunda lagi, Pak Heru.”

Tanpa membuang waktu, tubuh Kakek Santoso dengan hati‑hati digendong oleh Pak Heru, dibawanya tubuh tua itu keluar rumah. Nadia segera mengikuti, dia bergegas membuka pintu mobil agar Pak Heru bisa meletakkan tubuh Kakek Santoso di kursi belakang.

Setelah itu, Nadia langsung ikut duduk di sebelahnya.

"Mbak Nadia antar kakek duluan ya. Saya perlu menyiapkan beberapa hal untuk dibawa ke rumah sakit. Saya juga mau menghubungi keluarga Kakek dulu."

Nadia mengangguk, tanpa diminta pun dia pasti akan menemani Kakek Santoso.

Di sepanjang perjalanan, Nadia berdoa tanpa henti agar lelaki yang sudah begitu berjasa dalam hidupnya tetap selamat. Mobil melaju membelah jalan berkelok menurun dari bukit, memecah kesunyian desa yang mulai beranjak sore.

Sementara itu, Pak Heru tetap tinggal di kediaman Kakek Santoso. Langkahnya tergesa namun tetap teratur. Ia segera masuk ke kamar Kakek Santoso, mengemas baju ganti, obat‑obatan rutin yang biasa diminum, berkas rekam medis, serta segala keperluan pribadi lainnya ke dalam sebuah tas besar.

Setelah semua siap, ia duduk sejenak di meja kerja tua milik tuannya, menghela napas panjang sebelum akhirnya meraih telepon rumah. Tugas berat menanggung kabar buruk ini kini ada di pundaknya.

Ia tahu betul betapa rumitnya hubungan dalam keluarga besar Santoso. Kakek Santoso memiliki dua orang putra. Anak sulungnya adalah Pak Haris—ayah dari Aga—yang lahir dari pernikahan dengan istri sahnya. Namun, jauh di masa lalu, saat masih muda dan terjebak dalam kekhilafan sesaat, Kakek Santoso sempat memiliki hubungan lain dengan asisten kerjanya, yang kemudian melahirkan anak kedua bernama Pak Wahyu.

Peristiwa itu menjadi aib dan amarah yang tak pernah benar‑benar hilang dari ingatan Pak Haris. Ia merasa posisinya terancam, dan sejak saat itu ia mengecam keras ayahnya, menuntut agar seluruh harta dan warisan hanya jatuh kepadanya semata. Jika Kakek Santoso berani memberikan sedikit saja kepada Wahyu, Pak Haris mengancam akan memutuskan hubungan sepenuhnya dan membuat keributan besar. Akibatnya, Pak Wahyu hanya mendapatkan sedikit sekali dukungan harta, dan keduanya tak pernah bertegur sapa lagi.

Bertahun‑tahun berlalu, Pak Wahyu akhirnya menikah dengan wanita asal Inggris dan menetap di sana. Namun, jauh berbeda dengan sikap dingin Pak Haris yang lebih sering sibuk mengurus kekayaan dan jabatan, justru Pak Wahyu yang setiap minggu tak pernah lupa menelepon, menanyakan kabar ayahnya, mengirimkan oleh‑oleh, dan menaruh perhatian tulus meski terhalang benua dan samudera.

Pak Heru memutar nomor telepon Pak Haris terlebih dahulu. Butuh waktu lama hingga panggilan tersambung.

“Ada apa, Heru? Aku sedang sibuk,” suara Pak Haris terdengar datar, kaku, dan terburu‑buru dari seberang telepon.

“Maaf mengganggu waktu Anda, Pak Haris,” jawab Pak Heru sopan namun bergetar. “Saya mau menyapaikan kabar kurang baik. Bapak... pingsan mendadak di rumah, Pak. Tapi sekarang sudah dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang kondisinya cukup serius.”

Ada keheningan sejenak di ujung telepon. “Apa? Bagaimana bisa bisa terjadi? Bukannya selama ini beliau baik-baik saja.”

“Beliau sering mengeluh pusing belakangan ini, tapi selalu menolak diperiksa. Saya sudah berusaha menyarankan beliau untuk check up, tapi beliau bersikeras menolak. Maafkan saya, Pak Haris.”

“Baiklah, aku akan segera berangkat ke sana,” ucap Pak Haris singkat, lalu sambungan telepon terputus tiba‑tiba.

Pak Heru meletakkan gagang telepon perlahan, kemudian menghela napas berat. Ia sudah menduga reaksi itu. Setelahnya ia menekan nomor berikutnya—nomor yang sudah tersimpan lama, nomor yang selalu dijawab dengan hangat. Kali ini panggilan tersambung lebih cepat.

“Halo?” suara Pak Wahyu terdengar ramah dan ceria meski samar karena sambungan jarak jauh. “Ada kabar apa hari ini, Pak? Bapak sehat, kan? Kemarin aku kirimkan obat herbal dari sini, semoga sudah sampai.”

Mendengar nada bicara yang begitu tulus, hati Pak Heru makin terasa sesak. “Selamat siang, Pak Wahyu. Ini saya, Heru, Pak. Maaf menghubungi di waktu yang kurang tepat. Obatnya sudah sampai dengan selamat. Tapi… saya minta maaf harus menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan.”

Suasana di seberang sana seketika berubah hening. “Apa yang terjadi dengan Bapak, Heru?”

“Bapak... pingsan mendadak, Pak. Sekarang beliau sedang dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang tekanan darahnya naik drastis. Kondisinya masih dalam pemantauan.”

“Apa?!” Seruan kaget terdengar jelas. “Bagaimana bisa? Beliau kemarin masih berbicara denganku lewat video call, beliau kelihatan baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba pingsan?”

“Kejadiannya tiba‑tiba sekali, Pak. Saya sendiri juga kaget waktu menemukan beliau pingsan di ruang kerjanya.”

Pak Heru bisa mendengar suara langkah kaki tergesa‑gesa di seberang sana, seolah Pak Wahyu segera bergegas bersiap.

“Terima kasih sudah memberitahuku, Heru. Tolong jaga Bapak baik‑baik sampai aku tiba. Aku akan segera mengurus penerbangan pulang. Aku akan berangkat hari ini juga, secepat mungkin. Dan… tolong sampaikan juga pada Haris kalau aku akan datang. Apa pun yang terjadi, Bapak adalah ayahku juga.”

“Baik, Pak. Semoga perjalanan Bapak tidak ada kendala dan Pak Wahyu sampai di Indonesia dengan selamat.”

Setelah sambungan terputus, Pak Heru menatap keluar jendela rumah tua itu. Langit mulai berubah jingga kemerahan. Ia tahu, kedatangan Pak Wahyu nanti pasti akan memicu konflik lama yang sudah tertutup debu selama puluhan tahun. Pak Haris tak akan menyambut kehadiran adiknya dengan baik. Namun, di saat kritis seperti ini, di saat nyawa orang tua mereka sedang dipertaruhkan, tak ada yang bisa mencegah seorang anak untuk datang menemui ayahnya.

Sementara itu, di ruang gawat darurat rumah sakit, Nadia duduk menunggu di bangku kayu yang terasa keras dan dingin. Tas berisi berkas laporan masih ia genggam erat di pangkuannya, seolah menjadi satu‑satunya pegangan yang tersisa. Matanya terus menatap pintu tertutup di depan sana, tempat di mana Kakek Santoso sedang ditangani dokter. Ia belum sempat menghubungi siapa pun, belum sempat memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Satu hal yang Nadia tahu, kalau Kakek Santoso masuk rumah sakit, pasti Pak Heru menghubungi keluarganya, dan... ada kemungkinan laki-laki itu akan datang ke tempat ini....

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!