Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Atap Baru , Luka Lama
Prosesi pernikahan itu berlangsung sederhana dan terburu-buru. Tidak ada pesta meriah, tidak ada dekorasi bunga yang mewah. Hanya akad nikah di KUA setempat disaksikan oleh beberapa tetangga dekat dan keluarga inti. Bagi Viona, hari itu bukanlah hari kebahagiaan, melainkan hari penguburan terakhir atas masa lalunya bersama ayah.
Pernikahan Rani dan Pak Wahyu menjadi jembatan bagi mereka untuk melangkah masuk ke dalam kehidupan baru yang asing. Rumah di daerah Candisari itu memang besar, bersih, dan nyaman—jauh lebih layak daripada rumah kontrakan sempit yang selama ini mereka tinggali. Namun bagi Viona, setiap sudut rumah itu terasa dingin dan penuh dengan bayangan orang asing.
Kamar Viona berada di lantai dua, bersebelahan langsung dengan kamar Zidan. Dinding pemisah di antara keduanya tipis, terbuat dari gypsum yang bahkan tidak mampu menahan suara langkah kaki atau ketukan pintu. Malam pertama di rumah baru itu, Viona terbaring di atas kasur empuk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, namun tidurnya tidak nyenyak. Ia mendengarkan setiap suara dari balik dinding, seolah mencari tanda-tanda bahwa kehadiran Zidan adalah ancaman nyata, bukan sekadar imajinasi ketakutannya.
Esok paginya, realitas itu datang dalam bentuk yang paling membosankan sekaligus menyakitkan: rutinitas!
Viona turun ke ruang makan dengan rambut masih basah sehabis mandi. Ia mengenakan kaos oblong longgar dan celana pendek, penampilan khas gadis rumahan yang tidak peduli pada penilaian orang lain. Namun, saat matanya menangkap sosok Zidan yang sudah duduk rapi di meja makan, ia merasa perlu menarik ujung kaosnya agar tidak terlalu terbuka.
Zidan sudah siap bekerja. Kemeja putihnya licin tanpa kerutan, dasinya terikat sempurna, dan aroma kopi hitam pekat menguar dari cangkir di tangannya. Ia sedang membaca berita di tablet, wajahnya fokus dan serius. Pak Wahyu dan Rani tampak bahagia, berbincang ringan tentang rencana renovasi kecil di taman belakang.
"Pagi, Vion," sapa Rani ceria, menunjuk kursi kosong di sebelah Zidan. "Duduk sini, Nak. Sarapan sudah siap."
Viona mengangguk kaku. Ia berjalan menuju kursi itu, mencoba untuk tidak menatap pria di sebelahnya secara langsung. Namun, aura Zidan terlalu kuat untuk diabaikan. Pria itu tidak menoleh, tidak menyapa, hanya memberikan anggukan singkat.
"Makan," perintah Zidan tiba-tiba, suaranya datar tanpa nada memerintah yang kasar, namun tetap terdengar seperti instruksi. Matanya masih tertuju pada tablet. "Jangan telat kuliah. Aku antar jam tujuh tepat."
Viona tercekat. "Aku... aku bisa naik angkot sendiri, Kak. Tidak perlu repot-repot."
Zidan akhirnya menoleh. Tatapan cokelat gelap itu menelusuri wajah Viona sebentar, lalu turun ke piring nasi goreng yang masih utuh di depan gadis itu.
"Ibu sudah bilang kamu akan tinggal di sini. Artinya, tanggung jawab keselamatanmu juga sebagian menjadi tanggung jawabku. Naik angkot dari Candisari ke kampusmu di kota lama butuh waktu empat puluh menit dengan macet pagi ini. Dengan mobil, lima belas menit. Pilihannya jelas."
Kalimat itu logis. Rasional. Dan itulah yang membuatnya semakin menyakitkan. Zidan tidak menawarkan tumpangan karena perhatian atau kasih sayang kakak-adik. Ia menawarkannya karena efisiensi dan logika. Seolah-olah Viona hanyalah variabel dalam persamaan matematika kehidupannya yang harus dioptimalkan.
"Baik," jawab Viona pelan, menunduk pada nasinya. Rasa pahit di mulutnya bukan berasal dari makanan.
Perjalanan ke kampus dalam mobil sedan hitam Zidan adalah siksaan tersendiri. Hening menguasai kabin mobil yang ber-AC dingin itu. Zidan menyetir dengan tenang, satu tangan di setir, satu tangan bersandar di konsol tengah. Viona duduk di kursi penumpang depan—posisi yang dipaksakan oleh Zidan karena "lebih aman"—dan memandangi jalanan Semarang yang familiar namun kini terasa berbeda.
"Kamu jurusan apa?" tanya Zidan tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya tidak bernada basa-basi, murni ingin tahu fakta.
"Sastra Inggris," jawab Viona singkat.
Zidan mengangguk. "Bagus. Bahasa adalah alat komunikasi yang penting. Jangan sia-siakan."
Jeda lagi. Lalu, "Kamu punya pacar?"
Pertanyaan itu datang begitu mendadak hingga Viona hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia menoleh tajam ke arah Zidan, mata membelalak. "Apa hubungannya dengan kuliahku?"
Zidan tetap menatap jalan, ekspresinya tidak berubah.
"Hubungan asmara di usia kuliah bisa mengganggu fokus akademik. Statistik menunjukkan mahasiswa yang terlibat hubungan serius memiliki IPK rata-rata 0,5 poin lebih rendah. Saya hanya memastikan investasiku tidak terbuang sia-sia."
Investasi. Kata itu menusuk hati Viona lebih dalam daripada pisau. Jadi begitulah cara Zidan melihatnya. Bukan sebagai manusia, bukan sebagai adik tiri yang perlu dijaga perasaannya, tapi sebagai aset pendidikan yang harus dikelola agar tidak rugi.
"Aku tidak punya pacar," jawab Viona dingin, menatap lurus ke depan.
"Dan IPK-ku 3,8. Jadi jangan khawatirkan investasimu, Kak. Aku tahu cara mengurus diriku sendiri."
Zidan melirik sekilas, sudut bibirnya tertarik naik sepersekian detik. "3,8? Lumayan. Pertahankan."
Mereka tiba di kampus. Zidan menurunkan Viona di gerbang utama, persis seperti yang ia janjikan. Saat Viona membuka pintu mobil, Zidan berkata,
"Jam empat sore. Aku jemput di sini. Jangan terlambat."
Viona menutup pintu mobil dengan sedikit lebih keras dari yang diperlukan. Ia berdiri di pinggir jalan, menonton mobil hitam itu melaju pergi, meninggalkan debu dan kehampaan. Teman-temannya yang melihat kejadian itu berbisik-bisik, mata mereka penuh pertanyaan. Viona tersenyum paksa, berpura-pura tidak peduli, padahal di dalam dada, rasa malu dan amarah bercampur aduk menjadi racun yang perlahan mengalir ke seluruh tubuhnya.
Minggu-minggu berikutnya berlalu dalam pola yang sama. Zidan adalah kakak tiri yang sempurna secara teknis: tepat waktu, menyediakan kebutuhan finansial, memastikan keamanan, dan memberikan nasihat akademis yang masuk akal. Namun, ia juga adalah dinding es yang tak pernah bisa ditembus. Tidak ada candaan, tidak ada pertanyaan tentang perasaan, tidak ada momen kehangatan familiar yang biasa terjadi antar saudara.
Bagi Viona, setiap interaksi dengan Zidan adalah pertarungan batin. Di satu sisi, ia membenci sikap dingin dan arogan pria itu. Di sisi lain, ia tidak bisa menyangkal bahwa Zidan adalah pria paling menarik yang pernah ia temui. Ketegasannya, kecerdasannya, bahkan cara bicaranya yang blak-blakan—semuanya menciptakan gravitasi yang menarik Viona masuk lebih dalam, meski ia tahu itu adalah orbit yang berbahaya.
Suatu malam, tiga minggu setelah pindah, Viona terbangun karena suara gaduh dari kamar sebelah. Dinding gypsum itu benar-benar tidak berguna. Ia mendengar Zidan berbicara di telepon, suaranya rendah namun tegas.
"...Tidak, Ayah. Aku sudah bilang, aku tidak akan menikahi perempuan yang dipilihkan untukku hanya karena alasan bisnis. ...Ya, aku tahu konsekuensinya. ...Karena aku tidak mencintai dia. Cinta bukan transaksi, Yah. Bahkan untukmu."
Viona terpaku di tempat tidur, jantungnya berdetak kencang. Kalimat terakhir itu bergema di kepalanya: Cinta bukan transaksi.
Ironi yang menyakitkan. Zidan menolak pernikahan karena prinsip cinta, namun memperlakukan Viona layaknya transaksi investasi pendidikan. Apakah pria itu benar-benar percaya pada cintanya sendiri, atau itu hanya standar ganda yang ia terapkan pada orang lain?
Keesokan paginya, saat sarapan, Viona menatap Zidan dengan tatapan baru. Ada api di matanya yang sebelumnya hanya berisi kebencian. Sekarang, ada rasa ingin tahu. Dan sesuatu yang lebih berbahaya: harapan.
"Kamu begadang tadi malam?" tanya Viona, suaranya datar.
Zidan menatapnya, alisnya sedikit terangkat. "Kenapa?"
"Tidurmu tidak nyenyak. Aku dengar kamu bicara sendiri."
Wajah Zidan mengeras sejenak, lalu kembali datar. "Dinding rumah ini memang tipis. Maaf jika mengganggumu."
"Bukan soal gangguan," balas Viona, menatap lurus ke mata Zidan. "Soal prinsip. Kamu bilang cinta bukan transaksi. Tapi perlakuanmu padaku... rasanya seperti transaksi juga."
Hening. Pak Wahyu dan Rani saling pandang, tidak mengerti apa yang dibicarakan anak-anak mereka. Zidan menatap Viona lama, matanya menyelami kedalaman emosi gadis itu. Untuk pertama kalinya, Viona melihat retakan di topeng dingin itu. Bukan kemarahan. Bukan penolakan. Tapi... kejutan?
"Kau salah menilai, Viona," ucap Zidan akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya.
"Aku memperlakukanmu seperti investasi karena itu satu-satunya bahasa yang kupahami untuk melindungi seseorang tanpa melibatkan emosi yang rumit. Emosi itu bias. Logika itu adil. Jika aku memperlakukanmu seperti adik kandungku sendiri—dengan kasih sayang buta—aku mungkin akan gagal melihat ketika kau membuat kesalahan fatal. Aku memilih menjadi penjaga yang objektif, bukan kakak yang subjektif."
Penjelasan itu masuk akal. Sangat masuk akal. Dan justru itulah yang membuatnya semakin menyakitkan. Zidan tidak membencinya. Zidan tidak acuh tak acuh. Zidan memilih untuk menjaga jarak karena ia menganggap itu bentuk perlindungan terbaik.
Viona menunduk, menatap nasinya yang mulai dingin. Ia menyadari bahwa tembok di antara mereka bukan dibangun dari kebencian, tapi dari filosofi hidup Zidan yang kaku. Dan untuk menembusnya, ia tidak bisa menggunakan amarah atau rayuan. Ia harus membuktikan bahwa emosinya bukan bias, tapi kebenaran yang tidak bisa diukur dengan logika manapun.
"Aku mengerti," bisik Viona pelan. Lalu ia mengangkat kepala, menatap Zidan dengan tekad baru di matanya.
"Tapi suatu hari, Kak... aku akan membuatmu percaya bahwa ada hal-hal di dunia ini yang nilainya tidak bisa dihitung dengan statistik.
Zidan menatapnya, diam. Lalu, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tersenyum. Bukan senyum sinis. Tapi senyum kecil, hampir tak terlihat, yang mencapai matanya.
"Aku tunggu pembuktiannya, Adik," jawab Zidan lembut.
Dan di situlah, di tengah sarapan pagi yang hening, Viona menyadari bahwa perasaannya telah bergeser. Ini bukan lagi sekadar kebencian pada kakak tiri yang dingin. Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih salah tempat daripada yang pernah ia bayangkan.
Cinta ini memang salah tempat. Tapi Viona baru saja memutuskan untuk tidak peduli pada tempatnya. Ia akan mencintai Zidan, meski logika pria itu mengatakan itu tidak masuk akal. Meski dunia mengatakan itu tabu. Meski Zidan sendiri mungkin tidak akan pernah membalasnya dengan cara yang ia inginkan.
Karena kadang, cinta tidak meminta izin untuk hadir. Ia menempati ruang yang seharusnya kosong, dan mengubah segalanya menjadi abu-abu.