NovelToon NovelToon
UNDYING

UNDYING

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: yersya

"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."

"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."

"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."

"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Setelah kematian tragis yang merenggut nyawaku di tangan ayah Rania saat itu, sebuah kesadaran pahit membakar benakku: sekalipun aku bertarung mati-matian dan entah bagaimana berhasil melumpuhkan gerombolan bajingan di bangunan itu, tragedi ini tidak akan pernah usai sebelum akar permasalahannya dicabut sampai ke fondasinya.

​Satu-satunya cara adalah menghancurkan kejahatan ini dari titik awalnya. Maka, demi meretas takdir yang membusuk, aku memaksakan diriku untuk bunuh diri.

​Lagi. Dan lagi.

​Meskipun aku sudah melewati deretan kematian yang tak terhitung jumlahnya, dan meskipun logika kecilku tahu bahwa aku akan terus terbangun kembali, rasa sakit yang mencekik dan kengerian menjemput maut tetap menjadi monster yang teramat sangat menakutkan. Ada satu titik di mana jiwaku hancur meluruh; aku sempat menyerah total, meringkuk dalam kegelapan dan keputusasaan. Namun, setiap kali bayangan senyuman tulus Rania melintas di ruang hampa ingatan, api di dadaku kembali menyala. Aku harus bangkit. Aku harus menyelamatkannya.

​Hingga akhirnya, jarum waktu berhasil kutarik mundur jauh ke belakang.

​Senin, 4 Mei 2021

Pukul 06.00

​Pagi yang dingin dan berembun. Langkah kaki teratur dari sesosok pria paruh baya membelah trotoar sepi.

​“Ah, selamat pagi, Om!” seruku riang, mengikis jarak sembari melukis senyuman palsu yang kubuat secerah dan setulus mungkin.

​Pria itu terhenti. Ayah Rania menoleh, sedikit tersentak kaget mendapati presensiku di fajar yang masih remang. “Eh, pagi juga, Luna.” Matanya menyapu penampilanku dari atas ke bawah. “Apa kamu sedang jogging?” tanyanya melihatku tampil lengkap dengan celana training, hoodie, dan sepatu lari.

​“Iya nih, Om. Kebetulan banget bisa ketemu Om di jalan,” jawabku diiringi tawa kecil yang ramah.

​Tentu saja itu bohong. Aku sudah berdiri membeku menunggunya di persimpangan ini sejak satu jam yang lalu.

​“Wah, rajin sekali kamu,” Ayah Rania terkekeh pelan, menyerap umpan keramahanku. “Andai saja putriku mau bangun pagi-pagi untuk menggerakkan badan seperti ini.”

​“Hehe. Rania memang dasarnya agak susah bangun pagi sih, Om.”

​“Kamu ini tidak hanya pandai dalam akademik, tapi jago olahraga juga. Terlebih lagi kamu cantik sekali. Pasti beruntung sekali pacarmu nanti.”

​“Ah, Om bisa saja. Aku sebenarnya belum punya pacar kok, Om.”

​“Benarkah?”

​“Iya, Om. Aku sebenarnya ingin cepat-cepat punya pacar juga... tapi malah didahului sama Rania, hehe.”

​DEK.

​Detik itu juga, kalimat yang terucap santai dari bibirku menghantamnya bagai petir. Tubuh Ayah Rania seketika mendadak kaku sempurna. Senyum keramahan di wajahnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh mata yang membelalak lebar dengan pupil yang mengecil liar.

​“Apa yang... kamu katakan?” suaranya yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi bisikan parau yang sangat dingin. “Rania punya... pacar?!”

​Kena kau, Bajingan.

​Aku memalsukan raut wajah kaget dan bersalah, seolah-olah aku baru saja membeberkan rahasia besar yang terlarang. “A-apa Om tidak tahu? A-aku... aku sering melihat Rania berduaan dengan seorang pria di malam hari...”

​“Di mana kamu melihat mereka?!” desaknya, menatapku tajam penuh paranoia yang membakar otaknya.

​“Di... di bangunan terbengkalai yang proyeknya tidak selesai itu...”

​SRAK!

​Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, sebuah tangan kekar melayang cepat dan mencengkeram erat tenggorokanku!

​“O-Om... apa yang... Om... lakukan...?!” racauku terbata-bata, meraba lengannya sembari berpura-pura panik luar biasa.

​Cengkeramannya kian menguat tanpa ampun, menutup pasokan oksigen ke paru-paruku. Pria itu menatapku dengan pandangan membunuh yang gila, hingga perlahan-lahan, warna di sekelilingku meredup, memudar, dan duniaku kembali tergelap total.

​Hasp... HASP!

​Kesadaranku terlempar kembali ke permukaan. Aku tersentak, meraup napas dalam-dalam saat sensasi dingin dan kasar langsung menyapu kulitku.

​Aku terbaring di atas lantai semen yang lembap dan berdebu. Ketika aku mencoba menggerakkan tanganku untuk menyapu wajah, kedua pergelangan tanganku menegang—terikat erat dengan tali tambang plastik ke belakang punggungku.

​Aku menegakkan tubuh, mengedarkan pandangan. Struktur beton tanpa dinding, tiang-tiang pancang yang menjorok, dan hembusan angin kencang yang membawa buir-bulir air hujan deras di luar. Dari tingginya pandangan dan deru badai yang mengamuk, sepertinya aku berada di lantai empat bangunan terbengkalai ini.

​Aku menata raut wajahku, memancarkan kepanikan dan ketakutan yang teramat sangat ketika mendengar derap langkah kaki mendekat dari arah tangga.

​"O-Om?! Kenapa aku diikat?! Tolong lepaskan aku, Om!" jeritku histeris, menyamarkan kepalan tanganku yang terikat di belakang.

​Ayah Rania keluar dari kegelapan lorong. Pakaian kerjanya basah kuyup oleh hujan. Wajahnya yang memucat dipenuhi urat-urat emosi yang bertonjolan di pelipis. Di tangannya, ia memegang sebatang kayu balok.

​"Tutup mulutmu!" bentaknya keras, suaranya bersaing dengan gemuruh petir di luar. "Jelaskan semuanya padaku sekarang! Siapa bocah miskin yang bersamanya?! Sejak kapan Rania menemui pria itu?! JELASKAN!"

​Aku menarik napas panjang dan mulai membeberkan segalanya. Aku menceritakan persis seperti apa yang pernah diceritakan Rania padaku di garis waktu lalu: tentang bagaimana Rania tak sengaja bertemu pria seumuran kami yang kelaparan tiga bulan lalu, tentang gantungan kunci yang jatuh, tentang hujan deras yang memaksa mereka berteduh di sini, hingga momen-momen manis di mana mereka saling berbagi makanan, membaca buku, dan memberi dukungan belajar di malam hari.

​Setiap untaian kata yang keluar dari bibirku bertindak seperti minyak tanah yang disiramkan ke dalam api cemburu di kepala pria gila itu. Nafas Ayah Rania kian memburu, matanya memerah menahan gairah kepemilikan yang terdistorsi.

​"Cukup... CUKUP!" teriaknya histeris, mengangkat kayu balok itu tinggi-tinggi. "Gadis tidak tahu diri! Anak tidak tahu untung! Aku yang merawatnya, aku yang memberinya makan, tapi dia malah menyerahkan senyumannya pada bocah sampah tak berguna itu?!"

​"Om, tenanglah! Dengarkan aku dulu!" potongku, memiringkan tubuhku ke depan, meminjam suara tulus yang bisa mengoyak pertahanannya. "Om itu ayahnya! Harusnya Om senang kalau Rania menemukan seseorang yang membuat hidupnya lebih berwarna! Seorang ayah yang baik seharusnya membimbing dan melindungi kebahagiaan anaknya, bukan malah memenjarakan dan mencemburuinya seperti ini!"

​"Tahu apa kamu soal jadi orang tua, Bocah?!"

​"Aku tahu bagaimana rasanya dicintai dengan tulus!" balasku lantang, menyuarakan rasa muak yang sudah menumpuk di dasar jiwaku dari puluhan garis waktu lalu. "Coba Om pikirkan baik-baik! Apa yang akan terjadi jika Rania tahu bahwa ayahnya sendiri—orang yang paling ia percayai di dunia ini—memiliki pikiran menjijikkan dan gila seperti ini padanya?! Dia tidak akan pernah menyayangimu lagi! Rania akan membencimu! Dia akan merasa jijik setiap kali melihat wajahmu!"

​Kata 'jijik' dan 'membenci' menghantam sarafnya yang paling rapuh.

​"DIAM KAU!"

​BUGGG!

​Sebuah tinjauan mentah dari kepalan tangannya mendarat telak di pipi kananku. Kepala terlempar ke samping, sudut bibirku kembali pecah mengalirkan cairan hangat amis. Belum sempat aku memulihkan keseimbanganku, jemari kakunya mencengkeram jambakan rambutku dari belakang, menarik kepalaku mendongak dengan kasar hingga tengkorak kepalaku terasa ingin tanggal.

​"Tutup mulutmu yang lancang itu! Rania mencintaiku! Dia milikku! Aku tidak sudi melihatnya tersenyum pada jantan lain!" ocehnya melantur, meracau penuh kebiadaban dengan mata membelalak gila. "Aku akan membunuh bocah itu! Aku akan menghancurkan Rania di depan matanya sendiri agar dia tahu siapa pemilik tubuh dan jiwanya yang sebenarnya!"

​Mendengar bayangan neraka yang ingin ia timpakan pada Rania sekali lagi, benteng kesabaranku meledak total. Rasa amarah murni yang terakumulasi dari ribuan rasa sakit kematianku membakar dadaku.

​"Kau bukan ayahnya... KAU CUMA MONSTER SAKIT JIWA!" teriakku tepat di depan wajahnya.

​Dengan seluruh sisa tenaga di tubuhku, tanpa peduli pada pergelangan tanganku yang terikat rapat, aku memutar pinggulku dan menolakkan seluruh bobot badanku, membenturkan tubuhku ke tubuhnya dalam satu dorongan kejut yang sangat keras.

​BUMP!

​Ayah Rania yang sedang berdiri terlalu dekat dengan tepi lantai empat yang terbuka dan licin tersentak kaget. Kaki kirinya terpeleset di atas semen basah yang tersiram air hujan.

​"E-eh?!"

​Matanya membelalak horor saat keseimbangannya hilang total. Lengannya menggapai-gapai udara secara refleks, mencoba mencengkeram pakaianku, namun ujung hoodie-ku terlepas dari jemarinya.

​Pria itu jatuh terlentang melampaui batas batas lantai empat.

​"AAAAAHHHHHHH—!"

​Jeritannya terputus seketika, tertutup oleh gemuruh suara hujan yang menghantam bumi.

​BRUAAAKKK!

​Bunyi dentuman hantaman keras benda tumpul berdengung dari dasar bangunan.

​Aku terengah-engah, berlutut di tepi lantai empat dengan napas memburu dan dada yang naik-turun hebat. Hujan deras langsung membasahi wajah dan menyapu darah di sudut bibirku. Dengan memaksakan diri, aku merayap pelan mendekati tepi beton, lalu menundukkan kepala menatap ke bawah.

​Di atas tanah lapang berlumpur di lantai dasar, tubuh Ayah Rania terbaring kaku dalam posisi ganjil, tak bergerak sama sekali. Darah merah pekat mulai mengalir, menyatu dengan genangan air hujan.

​Namun, perhatianku tak tertuju pada jasad itu.

​Di samping tubuh kaku tersebut, sesosok gadis mungil berbaju overall cokelat berdiri membeku di bawah guyuran hujan deras. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi makanan dan buku-buku pelajaran terjatuh ke dalam lumpur.

​Rania. Dia baru saja tiba untuk menemui pria yang ditaksirnya. Dan dia... menyaksikan seluruh jatuhnya sang ayah dari puncak gedung secara langsung.

​"Ayah...? AYAH?!"

​Jeritan histeris Rania memecah suara badai. Gadis itu menjatuhkan dirinya ke lumpur, berlutut dan memangku kepala ayahnya yang bersimbah darah.

​"Ayah, bangun! Ayah, ini Rania! Jangan bercanda, Ayah! AYAHHH!" Rania menangis histeris, meraung-raung meremas kemeja basah ayahnya, mengguncang-guncang tubuh dingin itu sembari terus menerus memanggil namanya tanpa henti.

​Aku menatap pemandangan itu dari lantai empat. Air mataku tumpah, menyatu dengan dinginnya air hujan yang membilas wajahku.

​Aku berhasil mencabut akar permasalahannya. Rania tidak akan pernah dijagal oleh gerombolan bajingan itu lagi. Tapi melihat sahabat terbaikku meraung hancur di bawah sana mengandungi jasad ayahnya sendiri... jiwaku kembali bertanya-tanya: 

Apakah keselamatan Rania harus selalu dibayar dengan harga yang semenyakitkan ini?

1
Sarah
For real. 😂
Sarah
Unik sekali, konflik bab 1: Mencari Paman. 😂😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!