Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 02
Lihatlah, betapa luar biasanya kedua anak ini. Bahkan di saat mereka mengetahui kebenaran bahwa ayah mereka meninggal di luar negeri sedikit banyaknya karena perbuatannya pun mereka tetap menganggapnya.
"Kakek harus tetap sehat, jaga emosi dan jangan terlalu banyak berpikir keras. Urusan perusahaan ada paman Wan yang membantu kakek." ucap Rean seraya merapikan alat medianya setelah memeriksa keadaan sang kakek.
"Kenapa kalian begitu luar biasa di saat ayah kalian-"
"Paman Wan, bantu kakek berbaring. Aku sudah selesai." ucap Rean yang tidak ingin membahas hal ini dengan kakeknya.
Menurutnya membahas masalah yang sudah berlalu sama menyakitkannya. Jadi lebih baik tapi dia membalasnya lagi.
"Tinggal lah beberapa hari lagi sampai acara tahunan. Kakek akan mengenalkan kalian-"
"Kami tidak tertarik dengan dunia bisnis kek." potong Sean yang seakan tau keinginan kakeknya.
"Kakek mohon, setidaknya kalian harus hadir menemani kakek. Lagi pula usia kalian sudah memasuki ke 30. Jadi kakek rasa sudah saatnya mengenal dunia luar selain para pasien kalian." ucap kakeknya membuat Rean hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
"Baiklah, kami akan tinggal untuk beberapa hari lagi." putus Rean, dan Sean yang sudah sepakat.
Mendengar hal itu membuat kakek Pratama langsung bersemangat. Dia bahkan langsung memerintahkan Asisten pribadinya untuk segera menyiapkan kamar mereka yang sudah lama tidak di tinggali.
"Kami pamit kek." Rean dan Sean langsung pamit.
Mereka pergi ke kamar mereka masing-masing. Tapi Sean kembali menghampiri kakaknya di dalam kamar yang terlihat sedang membaca buku.
"Rean..." panggil Sean mendekat.
"Ya?" jawab Rean menutup bukunya.
"Apa kau tidak merasa aneh dengan kakek? Maksud ku, kakek seperti tengah merencanakan sesuatu." ucapnya pada sang kakak.
"Aku tau. Kakek mengkhawatirkan kesibukan kita."
"Lalu apa kau mulai mengenal seseorang?" tanya Sean yang ingin tau sesuatu dari kakaknya itu.
"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mengenal dunia luar. Jika memang kakek ingin menjodohkan ku dengan wanita lain, aku siap jika memang aku bisa. Tapi aku tak dia ingin memaksa." jawab Rean.
Dia melihat adik kembarnya yang terlihat berdiam diri seperti itu.
"Lalu kau sendiri, apa yang kau lakukan?" tanya Rean.
Sean menatapnya, apakah dia harus menceritakan semua ini atau tidak.
"Dua hari yang lalu, aku bertemu seorang gadis muda yang membawa ibu temannya ke rumah sakit. Bahkan dia yang membayar semua Administrasi dan deposito rumah sakit untuk ibu temannya. Tapi hari ini aku melihatnya di kecewakan. Bahkan temannya itu memarahinya habis-habisan hingga membuatnya menangis lalu pergi. Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi sepertinya teman laki-lakinya itu merasa di rendahkan karena aksinya yang membayar deposito rumah sakit sebelum melakukan operasi."jelas Sean panjang lebar membuat Rean mulai menarik benang merah disini.
"Lalu?"
Sean menggelengkan kepalanya, tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Apa aku harus mencari tau siapa gadis itu?" tawar Rean pada Sean.
"Tidak perlu. Aku hanya tidak yakin bisa bertemu dengannya lagi atau tidak. Setidaknya aku tau siapa namanya."
"Siapa?" tanya Rean penasaran.
"Embun Wijayanto. Putri satu-satunya keluarga Wijayanto." jelas Sean membuat Rean tersenyum.
"Ternyata kau lebih cepat dari yang ku kira." ungkapnya tentang sang adik.
"Bagaimanapun aku adalah dokter bedah saraf yang paling terkenal saat ini. Kehebatan ku dan ketelitian ku tidak bisa di anggap remeh. Jadi hal seperti ini saja tidak sulit bagiku." jawabnya penuh kesombongan membuat Rean hanya tersenyum saja untuk itu.
"Sudah malam, tidurlah. Besok kita lari pagi. Aku rasa sudah lama kita tak dai melakukannya."
"Oke!" jawab Sean cepat menutup pembicaraan mereka malam ini.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh