"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Meja Hijau dan Runtuhnya Harga Diri
Lantai pualam Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi itu terasa dingin, sedingin tatapan mata Aruna yang menatap ruang sidang dengan ketenangan yang mematikan. Udara di koridor pengadilan terasa sesak oleh aroma duka dan dendam dari berbagai pasangan yang sedang mengadu nasib, namun di sudut VIP koridor, Adrian Adiwangsa berdiri dengan dagu terangkat, mengenakan setelan jas terbaiknya seolah-olah dia sedang menghadiri penandatanganan kontrak bisnis besar, bukan perceraian.
Di sampingnya, Nyonya Widya Adiwangsa terus menggenggam tas mahalnya, menatap Aruna yang duduk di kursi kayu panjang dengan pandangan jijik. Aruna sengaja datang dengan pakaian yang tampak "biasa"—sebuah tunik abu-abu tanpa perhiasan mencolok, wajahnya dipoles tipis, memberikan kesan wanita yang sedang terpuruk namun tetap rapi.
"Ingat, Mas. Jangan beri dia celah. Pengacaranya pasti akan mengemis hak gono-gini," bisik Widya dengan suara yang ditekan.
Adrian hanya mendengus. Di dalam tas kerjanya, ia sudah menyiapkan draf sakti: bukti bahwa Aruna meninggalkan rumah tanpa izin (nusyuz) dan draf surat wasiat palsu yang sudah dimodifikasi untuk menekan hak Aruna.
Di Dalam Ruang Sidang
Suasana di dalam ruang sidang begitu hening saat Ketua Majelis Hakim mengetukkan palu pembukaan. Adrian duduk di sisi kanan bersama tim pengacaranya yang tampak sangat agresif, sementara Aruna duduk di sisi kiri, didampingi oleh seorang pengacara muda dari firma hukum Paman Aldo yang sengaja diperintahkan untuk "berpura-pura lemah" di awal.
"Berdasarkan draf kesepakatan yang diajukan pihak Penggugat dan Tergugat," suara Hakim bergema, "bahwa pihak Tergugat, saudara Adrian Adiwangsa, hanya bersedia memberikan 10% dari total harta bersama sebagai kompensasi gono-gini, mengingat pihak Penggugat, saudari Aruna, telah meninggalkan kediaman bersama tanpa izin suami sebelum putusan ditetapkan. Bagaimana pihak Penggugat?"
Pengacara Adrian tersenyum sinis. Dia yakin Aruna akan berteriak protes. Adrian bahkan sudah menyiapkan kalimat balasan untuk menghina kemiskinan Aruna di depan hakim.
Namun, Aruna perlahan berdiri. Suaranya terdengar sangat tenang, jernih, dan tanpa getaran emosi sedikit pun. "Saya menerima keputusan tersebut, Yang Mulia. Saya tidak akan menuntut lebih dari 10% itu. Saya hanya ingin proses ini selesai hari ini juga. Harta bisa dicari, namun ketenangan batin tidak bisa dibeli."
Tok! Tok! Tok!
Hakim mengetukkan palu. "Dengan ini, Majelis Hakim memutuskan mengabulkan gugatan cerai saudari Aruna terhadap saudara Adrian Adiwangsa. Putusan cerai resmi ditetapkan."
Adrian tertegun. Ia mematung di kursinya. Kemenangan ini terasa... aneh. Ia berhasil mengamankan 90% hartanya, namun melihat ketenangan Aruna yang begitu mudah melepaskan segalanya, ada lubang ego yang mendadak menganga di dadanya. Aruna tidak mengemis. Aruna tidak menangis. Aruna justru tampak seperti orang yang baru saja membuang sampah yang sangat busuk dari tangannya.
Konfrontasi di Koridor Pengadilan
Begitu keluar dari ruang sidang, Adrian langsung mengejar langkah Aruna di koridor yang mulai sepi. Ia menarik lengan Aruna dengan kasar, memaksanya berbalik.
"Aruna! Berhenti!" bentak Adrian.
Aruna menepis tangan Adrian dengan gerakan yang sangat dingin, seolah tangan suaminya adalah benda kotor yang menjijikkan. "Sekarang kamu tidak berhak menyentuhku, Adrian. Kita sudah bukan siapa-siapa lagi."
Adrian tertawa pahit, tawanya terdengar pongah namun sarat akan paranoia. "Aruna, kamu jangan menyesal! Ini keputusanmu sendiri. Sekarang hidupmu bukan urusanku lagi. Aku sudah memberikan 10% itu, meski sebenarnya kamu tidak layak mendapatkannya."
Ia melangkah maju, mencoba mengintimidasi Aruna dengan bayangan masa lalu. "Sebenarnya, jika kamu mau sedikit saja menurunkan egomu... jika kamu mau nurut dan meminta maaf pada Ibu... mungkin kamu bisa kembali lagi padaku dan kita bisa rujuk. Aku masih punya belas kasihan untuk wanita sepertimu."
Aruna menatap Adrian dengan pandangan yang sarat akan rasa kasihan—bukan kasihan karena cinta, tapi kasihan melihat kebodohan pria di hadapannya. "Tidak, terima kasih. Aku sudah cukup lama menjadi istri yang tidak pernah kamu anggap ada. Kembali padamu? Itu sama saja dengan kembali masuk ke dalam liang kubur yang sudah aku tinggalkan."
"Halah! Kamu melakukan ini semua sengaja, kan?!" Adrian menunjuk wajah Aruna dengan emosi yang meledak. "Kamu sedang bermain tarik ulur denganku! Kamu pikir dengan bertingkah dingin begini aku akan mengejarmu? Aku tahu betul, Aruna... kamu itu masih bucin sama aku. Kamu tidak mungkin bisa hidup tanpa aku!"
"Dulu... iya," jawab Aruna singkat, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Adrian. "Dulu aku memang sebodoh itu. Tapi sekarang? Bagiku, kamu hanyalah orang asing yang kebetulan pernah singgah di hidupku sebagai pelajaran pahit. Tidak ada perasaan apa pun lagi. Bahkan benci pun sudah tidak bersisa, karena kamu tidak cukup berharga untuk aku benci."
Wajah Adrian memerah padam. Kalimat "orang asing" itu menghantam egonya lebih keras daripada tamparan fisik. "Kamu...! Baik! Jika itu maumu! Sekarang kamu akan hidup menggelandang! Kamu tidak punya apa-apa lagi tanpa aku! Dan dengar ini baik-baik... si Aldo, pamanmu yang kamu banggakan itu, dia sudah membuangmu, Aruna! Dia tidak akan membantumu sepeser pun! Aku mau tahu, wanita mandul sepertimu bisa bertahan hidup berapa lama di jalanan?!"
Aruna tersenyum tipis—sebuah senyum misterius yang membuat bulu kuduk Adrian meremang. "Aku sudah putuskan tidak akan pernah kembali lagi. Dan aku sangat berharap, dalam sisa hidupku, aku tidak perlu lagi bertemu dengan wajahmu."
(Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, Adrian. Karena pertemuan kita selanjutnya adalah saat aku menyaksikan kehancuranmu tanpa sisa,) batin Aruna dengan kepuasan kelam.
"Sudah berani menantang kamu sekarang ya? Baik! Aku ingin tahu apa langkah bodoh selanjutnya yang akan kamu lakukan!" Adrian berteriak, suaranya menggema di koridor.
Kehadiran Valerie dan Ciuman Beracun
Tiba-tiba, suara derap sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Valerie muncul dengan gaun merah menyala yang sangat provokatif, kontras dengan suasana pengadilan yang seharusnya formal. Ia langsung merangkul lengan Adrian, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan gaya yang sangat teatrikal.
"Mas... sudah beres sidangnya?" tanya Valerie dengan nada manja yang sengaja dikeraskan agar Aruna mendengar. "Baguslah... akhirnya gembel ini pergi juga. Sekarang kita bisa leluasa, Mas. Aku sudah tidak sabar ingin menikmati 'batangmu' yang perkasa itu di rumah kita tanpa ada gangguan wanita mandul ini lagi..."
Valerie melirik Aruna dengan tatapan penuh kemenangan, bibirnya menyunggingkan senyum menghina, sengaja memancing emosi Aruna dengan kata-kata vulgar tentang hubungan ranjangnya dengan Adrian.
Aruna mendengus, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat elegan. "Cih... batang perkasa?" Aruna menatap Adrian dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Dasar pasangan murahan. Yang satu merasa perkasa dengan kepalsuan, yang satu lagi merasa menang dengan barang bekas yang sudah tidak laku."
Wajah Valerie berubah kaku. "Apa kamu bilang?!"
"Aku bilang, kalian berdua cocok," lanjut Aruna, suaranya tenang namun menusuk. "Sampah memang tempatnya di tempat pembuangan, bukan di istana."
Amarah Valerie memuncak. "Kurang ajar kamu, Aruna!"
Tangan Valerie melayang di udara, mencoba mendaratkan tamparan keras ke pipi Aruna. Namun, Aruna bukan lagi Aruna yang dulu. Dengan gerakan yang sangat cepat, Aruna menangkap pergelangan tangan Valerie di udara, mencengkeramnya begitu kuat hingga Valerie memekik kesakitan.
Plaakkk!
Dengan tangan kirinya, Aruna membalas dengan sebuah tamparan yang jauh lebih keras. Suara hantaman kulit itu bergema di koridor. Valerie terjerembap ke samping, memegangi pipinya yang seketika memerah dan panas.
"Berani ya kamu tampar aku...!" teriak Valerie histeris.
Melihat kekasihnya diserang, insting pelindung Adrian yang salah arah bangkit. "Aruna! Kamu keterlaluan!" Adrian melangkah maju, tangannya terangkat hendak memukul Aruna untuk membela Valerie.
Namun, Aruna sudah mengantisipasi itu. Saat Adrian bergerak maju, Aruna memutar tubuhnya sedikit dan melepaskan sebuah tendangan yang sangat bertenaga, tepat mengarah ke "burung" atau selangkangan Adrian.
DUG!
Mata Adrian melotot. Napasnya terhenti seketika. Seluruh kekuatannya seolah ditarik paksa dari tubuhnya. Adrian jatuh berlutut, lalu tergeletak di lantai koridor sambil memegangi selangkangannya. Suara rintihan tertahan keluar dari tenggorokannya yang tercekat. Rasa sakit yang luar biasa hebat membuat wajahnya berubah pucat membiru.
"Kamu... kamu..." Adrian merintih, tubuhnya meringkuk seperti udang di lantai pengadilan yang dingin.
Aruna berdiri tegak di atas tubuh Adrian yang merana, menatapnya dengan tatapan penguasa. "Sekarang kamu tidak punya hak sedikit pun atas diriku. Ingat, Adrian Adiwangsa... detik ini kita sudah resmi bercerai. Jika kamu atau wanita murahanmu ini berani menyentuhku lagi, aku pastikan bukan hanya burungmu yang hancur, tapi seluruh hidupmu."
Aruna merapikan tuniknya yang sedikit kusut, lalu berbalik memunggungi mereka.
Valerie, dengan rambut yang acak-acakan dan pipi yang bengkak, merangkak mendekati Adrian yang masih merintih di lantai. Ia mencoba membangunkan Adrian dengan tangan yang gemetar.
"Ayo Mas... bangun! Jangan ladenin gembel gila itu!" Valerie berteriak, suaranya melengking penuh kebencian, namun di dalam matanya ada rasa takut yang mulai merayap melihat kekuatan Aruna yang sebenarnya. "Dia cuma sampah yang sedang frustrasi karena jatuh miskin! Ayo bangun, Mas!"
Aruna terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun. Di luar gedung pengadilan, iring-iringan mobil hitam mewah milik Purnama Group sudah menunggu. Ia melangkah keluar dari kegelapan masa lalunya, menuju cahaya pembalasan yang sesungguhnya. Di lantai koridor itu, Adrian masih meringkuk menahan sakit, sebuah perlambang dari kehancuran maskulinitas dan kekuasaannya yang baru saja dimulai.
Permainan babak pertama telah berakhir, dan Aruna Wijaya baru saja mencetak skor kemenangan mutlak.
Your slide deck on Aruna's revenge and her strategic move during the divorce trial is ready! Feel free to take a look and let me know if you'd like to make any edits.