"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 ~ Aku Sudah Punya Anak?!
Ailin memandang mereka dengan raut menuntut penjelasan. Juan berdehem pelan, sebelum mengumpulkan keberanian untuk menjawab.
"Karena ...."
"Mama, jangan malah sama papa lagi!" Tiba-tiba seorang anak perempuan memeluk kaki Ailin. Wanita itu sedikit terperanjat, kedua matanya yang merah memandang anak kecil yang tampak asing itu.
"Kamu ... siapa?" Ailin kembali berjongkok, kali ini di depan anak yang terlihat mirip dengan Juan. Wanita itu ingin memegang bahu sang anak, namun anak itu menghindar. Tampak takut pada Ailin.
"Kenapa kamu seperti takut padaku? Aku enggak makan orang kok, apalagi anak selucu kamu." Ailin menarik sudut bibirnya lebar. Tersenyum lembut dan kembali mengangkat tangannya, ia mengusap-usap lengan anak itu. Kesedihan yang tadi sempat menguasainya, kini perlahan lenyap entah kemana hanya karena melihat anak selucu ini.
"A-aku Lian Xie," ucap sang anak dengan terbata. Kedua matanya menatap sang ibu tidak percaya. Meski takut dimarahi, ia juga penasaran dan ingin merasakan sentuhan hangat sang ibu yang seperti ini.
Sedangkan Ailin membulatkan matanya, ia menoleh untuk menatap Juan. "Xie? Adikmu?"
Pria itu menutup mata dan menghela napas pelan. "Putriku."
"Oh, putri. Apa? Putri? ... Ja-ja-jadi milikku juga?"
Juan mengangguk, sementara Ailin membulatkan kedua bola matanya dan membuka mulutnya lebar.
"Aku sudah punya satu anak?" pekik wanita itu tanpa sadar. Saat itu dari arah samping, sebuah tangan kecil lainnya datang dan menepisnya yang tengah memegang bahu Lian.
"Lepaskan adikku!" titahnya dan menarik sang adik ke belakang tubuhnya.
Ailin yang masih kaget itu semakin syok. Ia kembali menoleh pelan pada Juan, menyadari kemiripan dua anak itu dengan sang suami. "Du-dua?"
Lagi-lagi pria itu mengangguk, tersenyum tipis saat melihat wajah Ailin yang tampak menggemaskan. "Hem, kembar."
Saat itu juga Ailin yang tengah berjongkok akhirnya luruh di lantai. Kepalanya pusing, hampir saja jatuh pingsan. "Dua kan? Tidak ada yang ketiga?" tanya Ailin memastikan, ia bisa pingsan benaran kalau memang benar ada yang ke-tiga atau ke-empat.
"Baru dua, Ailin. Yang ke-tiga ... belum jadi." Juan membalas dengan senyum tipis, membuat Ailin langsung menutup wajahnya karena malu.
Namun tanpa sengaja mengintip dari celah jarinya. Curi pandang pada sang suami yang tengah menggodanya. Tanpa sadar ia ikut tersenyum malu, menurutnya wajah Juan berkali-kali lipat tampannya saat tersenyum seperti itu.
"Ka-kakak ngomong apa, sih? A-aku mau ke toilet dulu." Wanita itu bangun, lalu berlari ke sembarang arah. Namun baru beberapa langkah ia berbalik, menatap mereka dengan canggung.
"Toi-let di-mana?"
"Nyonya, biar saya antar," ujar seorang pelayan paruh baya dengan wajah keibuan. Ailin mengangguk, mengikuti wanita itu dengan patuh. Sementara Juan yang melihat tingkah sang istri jadi tertawa kecil tanpa sadar.
"Baru hari pertama pulang ke rumah, tuan sepertinya sudah luluh. Aku belum pernah melihatnya tertawa tulus dalam lima tahun ini. Nyonya, bahkan aku yang hanya seorang asisten sangat berharap agar Anda kehilangan ingatan selamanya." Asisten Wu membatin sembari menatap punggung Ailin yang semakin menjauh. Pria itu lalu menatap Juan yang masih memasang senyum tipisnya.
"Papa." Kedua anak itu memeluk lengan sang ayah.
"Mama ... kenapa tidak malah-malah lagi?" tanya Lian ingin tahu.
Juan mengusap rambut sang putri. "Mama lupa masa lalu. Tugas kalian sekarang, jadilah anak baik, ambil hati mama!"
"Mama lupa? Belalti, mama lupa kalau dia tidak suka kami, ya?"
Juan mengangguk, namun anak lelakinya tidak terima. "Aku tidak percaya dia bisa berubah."
"Dulu dia juga pernah berjanji mau ajak kami main. Tapi dia malah pergi."
"Tapi ... tadi sentuhan mama sangat hangat ... Aku mau coba, Papa. Aku mau dekat sama mama." Lian memandang sang ayah dengan semangat. Kedua matanya memancarkan binar penuh harap.
Juan menyambut pelukan sang putri. Kembali mengelus kepalanya dengan sayang. "Anak baik."
"Pokoknya aku enggak mau! Wanita jahat itu enggak akan bisa berubah. Kamu mau coba, coba saja kalau mau dicuekin lagi! Aku mau pulang ke rumah nenek saja."
Anak lelaki yang bernama Kean Xie itu menghentakkan kakinya. Ia berlari pergi, namun tidak sengaja menabrak Ailin yang baru kembali.
"Wanita jahat!" pekiknya dan berlari pergi, membuat Ailin membelalakkan kedua matanya. Wanita itu menoleh pada Juan yang tersenyum.
"Dia anakku atau bukan?" tanyanya dengan heran.
.
.
.