Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Rasa Kecewa
Ayra pulang ke rumah kostnya dengan wajah lesu dan tak ada semangat. Murung sembari duduk di sofa ruang tamu. Dia merasa kesal bercampur kecewa. Lebih tepatnya sedih yang tak karuan. Dia mengusap kasar wajahnya sambil berdecak dan menggusar rambutnya acak-acakan.
"Ahhhh," desah Ayra cukup kuat.
Dari balik pintu kamar, Stevi melihat keluar dan berjalan ke arah ruang tamu yang nyatanya sudah duduk sahabatnya itu, Ayra. Stevi hanya menggeleng kepalanya saja. Dia seolah tahu apa yang telah dialami oleh Ayra.
"Woi, muka jangan ditekuk. Males aku lihatnya. Kalau kamu udah nggak tahan jadi sekretaris pak Bagas, ya tinggal bilang aja sama dia, beres deh urusan. Atau jangan-jangan kamu yang nggak mau lepas dari...," ujar Stevi panjang lebar, namun perkataannya dipotong oleh Ayra.
"Sulit untuk bilang ke Bagas. Nggak semudah apa yang kamu bayangin, Stevi. Masalahnya...ahhh, udah lah percuma kamu nggak ngerti," kesal Ayra memejamkan matanya sambil bersandar di sofa.
"Hemm, iya iya aku ngerti. Maaf deh kalau aku salah. Mungkin ini bukan masalah pekerjaan, tapi ada sangkut pautnya sama hubungan kalian dulu, iya kan?" tanya Stevi pelan, dia takut salah bicara pada Ayra.
"I-iya tapi bukan masalah perasaan antara aku dan Bagas. Aku hanya menolongnya saja sebagai sekretaris. Itu saja kok," ujar Ayra menjelaskan.
"Iya aku paham. Dan juga, saking cintanya sama kamu, pak Bagas itu nggak mau jauh dari kamu. Hehehe," ungkap Stevi menjahili Ayra.
Ayra melotot ke arah Stevi dengan memukulkan bantal ke arah Stevi.
"Aduhhh, sakit Ayra!" teriak Stevi mengaduh.
"Makanya kalau bicara dipikir dulu," protes Ayra.
"Ya aku kan cuma bilang aja," ujar Stevi mengelak.
"Udah ah, aku mau mandi. Males ngomong sama kamu," ucap Ayra melangkah masuk ke kamarnya.
Hari berikutnya, di kantor Ayra banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan, mulai dari laporan bulanan hingga berkas perjanjian kontrak yang harus disusun dengan rapi untuk dia berikan kepada Bagas. Semua itu akan di tanda tangani dengan baik dan rapi. Karena sosok Bagas adalah lelaki yang tidak suka dengan pekerjaan yang kacau alias tidak rapi seperti tidak sesuai dengan urutannya.
Jadi Ayra harus menyusunnya dengan urutan yang paling mudah untuk dia sampaikan pada Bagas hingga proses penandatanganan selesai.
"Ini terakhir, berkas saat meeting kemarin dengan bapak...," belum sempat Ayra berbicara, terdengar bunyi telepon dari handphone Bagas.
DERT DERTTTT
"Sebentar Ay, aku angkat telepon dulu," ujar Bagas.
"Silahkan," jawab Ayra.
Bagas pun mengangkat telepon dari seseorang. Wajah Bagas pun berbinar saat melihat nama yang tertera di layar handphone nya.
"Haloo Beb, ada apa?" ucap Bagas dengan nada bahagia.
DEG
Ayra yang mendengar kata beb dari mulut Bagas, rasanya hatinya sedikit tergores. Tidak, sepertinya hati Ayra sakit, sakit sekali. Serasa tertusuk duri yang sangat tajam dan tertancap ke lapisan kulit yang paling dalam, rasanya tuh sakit sekali.
"Apa kau merindukanku, beb?" tanya Bagas yang masih bersuara lantang hingga tersenyum bahagia.
Namun Ayra masih mematung berdiri dihadapan Bagas. Tapi saat mendengar Bagas kelihatan begitu mesra saat berkata kepada seseorang di telepon, hatinya mulai panas dan rasa tak sanggup untuk mendengar lebih lama lagi.
Akhirnya Ayra memutuskan untuk hendak melangkahkan kakinya berjalan keluar ruangan Bagas. Tapi dengan cepat Bagas berdiri dan mencekal tangan Ayra dengan kuat. Dengan sengaja Bagas menghentikan langkah Ayra yang hendak pergi dari hadapannya.
"Tunggu sebentar Ay, jangan pergi dulu," ucap Bagas yang masih memegang handphone nya.
Ayra diam tanpa kata, dia berhenti tepat saat Bagas mencekal tangannya. Mau dia tepis tangan Bagas, tapi takut disangka cemburu oleh Bagas. Lalu Ayra hanya bersabar menunggu Bagas berbicara di telepon bersama seseorang itu.
"Nanti sambung lagi, beb. Aku banyak kerjaan di kantor. See you beb," ucap Bagas dan mengakhiri panggilan telepon itu.
Ayra yang mendengar itu pun mencoba untuk menetralkan suasana hatinya saat ini. Dia mencoba untuk tersenyum di hadapan Bagas walau hatinya merasa kecewa.
"Aku selesaikan dulu tanda tangan ini, baru kamu bisa pergi Ay," ujar Bagas yang tidak sadar masih memegang tangan Ayra.
"Maaf Pak, saya hanya tidak ingin mengganggu pembicaraan Bapak tadi," kata Ayra lembut dan senyum manis buatannya.
Setelah itu Ayra dengan pelan menarik tangan Bagas untuk menjauhkan tangan Bagas dari dirinya.
"Oh, maaf Ay. A-aku nggak sengaja tadi," Bagas berbicara gugup.
"Tidak apa-apa," jawab Ayra pelan.
Ayra masih menunggu tanda tangan dari Bagas. Namun Bagas lebih memilih untuk menatap Ayra dalam.
"Aku hanya tidak ingin kamu pergi dari sini Ay," gumam Bagas bersuara parau. Tapi sayang, Ayra tidak terlalu mendengarnya.
"Apa yang Bapak katakan?" tanya Ayra.
"Ah, tidak ada," sangkal Bagas.
Bagas mulai sadar saat mendengar suara Ayra. Untung saja Ayra tak mendengar ucapan Bagas tadi, bisa-bisa Ayra pasti akan penasaran dengan kalimat dari Bagas itu. Walau satu kalimat, tapi banyak mengandung arti yang sangat bermakna.
Bagas pun mulai menanda tangani berkas yang terakhir. Dia agak sedikit gugup. Apalagi saat dia mengangkat telepon dari seseorang membuat dia takut kalau-kalau Ayra akan salah paham. Namun Bagas menyangkal perasaan was-was dihatinya terhadap pikiran Ayra.
"Ada lagi?" tanya Bagas menetralkan suasana hening itu.
"Tidak ada, kalau begitu saya permisi Pak," ucap Ayra melangkah pergi.
Bagas hanya menjawab dengan dengungan saja.
"Ayra!" tiba-tiba Bagas memanggil Ayra membuat wanita itu berhenti melangkah.
Ayra sontak berbalik ketika Bagas memanggil dirinya.
"Kamu manggil saya, eh maksudnya Bapak manggil saya?" ucap Ayra, jujur dia tidak fokus. Hatinya masih saja merasa kurang baik.
"Emm...itu...yang barusan itu...," ucap Bagas sedikit terbata, dia berusaha mau menjelaskan tapi apalah daya, mulutnya tidak bisa meneruskan perkataannya yang akan dia layangkan pada Ayra.
Ayra mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan Bagas, alias tidak mengerti sama sekali.
"Itu...bisa buatkan aku kopi? Aku kangen sama kopi buatan kamu," Bagas nyengir salah tingkah.
Ayra menghela nafasnya pelas, dia kira ada hal yang akan dibahas penting kepadanya, ternyata dirinya disuruh buatkan kopi untuk sang mantan.
"Iya, akan aku buatkan, tunggu sebentar," ujar Ayra dengan nada suara yang pelan dan sopan.
Ayra pun melanjutkan langkahnya sambil menekuk wajahnya dengan muka manyun, kakinya dia hentakan ke lantai dengan sedikit kesal. Entahlah, hatinya serasa masih kecewa dengan yang dia dengar Bagas bertelepon tadi. Padahal mulutnya berkata bahwa dirinya akan baik-baik saja. Nyatanya hati dan pikirannya lain, yaitu tidak baik-baik saja.
Sedangkan di dalam ruangan, Bagas merutuki dirinya sendiri dengan sangat menyesal. Pikirannya tidak tenang dan cemas bila si Ayra akan memandang dirinya adalah lelaki yang sudah memiliki kekasih. Padahal nyatanya tidak sama sekali.
"Arghhh, Ayra aku harap kamu tidak salah mengartikan diriku," kata Bagas, dia menghela nafasnya dalam sambil mengetuk-ngetuk jari-jari tangannya diatas meja kerja sembari menunggu kopi yang dibuatkan oleh Ayra.
Bersambung....