Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Bagas melihat hp nya masih merekam, hanya layar hp nya sedikit retak. Ia segera mengambil ponselnya mematikan rekaman itu.
Bu Windy, Bu nana putri langsung mengambil kotak obat, ketiga nya dengan hati hati mengobati luka memar di pelipis, sudut bibir si Bagas.
Tidak ada yang berani bertanya alasan kenapa Bagas berkelahi dengan Joko, padahal semua orang tau Bagas tipikal anak yang sabar sedangkan Joko itu tipikal anak pendiam yang baik di mata semua orang.
Setelah kejadian itu semua orang tidak ada bisa tertidur nyenyak sampai pagi nya. Begitu juga pak yahman, pak Rusdi dan pak Yanto.
Kini ketiga pria dewasa itu masih membicarakan hal aneh yang terjadi pada Joko.
“Saya rasa apa yang sudah pak yahman ceritakan ini seperti berkaitan dengan sosok pamali” sahut pak Yanto karena kemarin ia mencoba bertanya ke Bu Windy namun beliau tetap diam menoleh bicara.
“Saya rasa juga begitu pak, apalagi katanya Arga anak dari almarhum pak gusto itu ngeliat tingkah laku Joko kemarin itu mencurigakan.” Balas pak yahman
“Tapi kita gak bisa asal percaya saja pak, bagaimana kalau abis sholat subuh ini kita tanyakan langsung ke Bagas. Saya yakin dia tidak mungkin akan memukul Joko tanpa alasan yang jelas”
Ketiga nya pun langsung pergi dari ruang tamu untuk sholat subuh. Namun sebelum pak yahman mengikuti yang lain dari belakang ia mendengar suara yang aneh.
"Dasar manusia lemah, hanya tugas mudah seperti itu pun tidak bisa, kamu dan ayahmu memang lemah dan bodoh"
Pak yahman sontak kaget mendengar suara berat itu, ia langsung membalikkan badannya ke arah pintu.
Dengan langkah kaki yang berat, pak yahman mengintip dari balik hordeng jendela. Betapa terkejutnya ia melihat sosok yang begitu menyeramkan.
Mulut nya berlumuran darah begitu kental sampai membasahi badannya, kukunya seperti kuku manusia hanya saja ini lebih tajam.
“Maaf … aku sudah hampir berhasil melakukan nya tadi malam … hanya saja satu orang itu menggagalkan rencana ku”
Ujar Joko dengan terbata-bata, tubuh nya bergetar kecil merasakan aura begitu mencekam dari sosok di besar di depan nya.
Sosok yang dibangunkan oleh sang ayah di masa lampau, hanya untuk memenuhi keinginannya semata.
Sosok itu mendengus marah, ia mengulurkan tangannya menekan kuku kukunya yang tajam ke leher joko.
"jika sampai malam Jum'at Kliwon kamu tidak bisa membawa apa yang aku minta. Dirimu lah yang akan aku renggut "
Perlahan sosok itu menghilang bersama angin yang berhembus kencang di hadapan Joko yang hanya diam mematung mendengar ancaman tadi.
Jantung nya berdetak begitu kencang nyaris membuat ku pingsan tadi, Joko mengeluarkan kantong hitam dari sakunya.
Ia menatap benda tersebut dengan tekad membara. “Apapun yang terjadi, bahkan mati sekalipun aku akan melakukan nya. Seperti yang ayah ku lakukan dulu”
Joko kembali memasukkan kembali kantong tersebut ke saku, dan menunggu pintu villa terbuka.
Pak yahman yang melihat kejadian itu matanya terpaku seolah tidak percaya dengan yang ia lihat.
Kejadian nya begitu singkat, namun membekas dalam di benak pak yahman. Ia langsung berbalik membelakangi jendela.
‘jika ayah Joko pernah melakukan hal nekat seperti yang dilakukan joko. Apakah kemungkinan besar kejadian seperti ini pernah terjadi dahulu? … Atau mungkin itu adalah alasan warga diam saja?’
Pak yahman memijat keningnya ia merasakan pusing memikirkan semua nya, mata nya melirik jam sudah lewat subuh.
Tidak mau membuang buang waktu pak yahman bergegas melaksanakan shalat subuh sendirian.
__________________________________
“Baik semuanya, seperti yang kita tau kejadian tengah malam tadi. Joko dan ketiga teman nya tidak diizinkan pergi. Kalian tetap di villa sambil diawasi oleh pak Rusdi”
Jelas pak yahman mata nya melirik tajam ke arah Joko yang seolah tidak takut dengan tatapan nya.
‘anak ini benar-benar tidak bisa dibiarkan, aku harus bertanya kepada pak Bayu. Siapa tahu beliau tau kejadian apa yang pernah terjadi di kampung ini’
“Untuk yang ikut pencarian hari ini hanya Bagas, Farhan, Dimas, putri, Risma, Cantika, Andi, Rido, Ucup dan Alman saja. Sisa nya tetap di villa”
Nama nama yang dipanggil oleh pak yahman langsung berjalan berdiri di dekat nya. Pak Yahman dapat melihat ekspresi bingung di wajah murid cewek nya itu.
Mereka pun langsung berjalan menuju depan gardu masuk kampung, yang sudah disepakati oleh para warga dan pak Bayu.
Sepanjang perjalanan pak yahman memperhatikan bagaimana kehadiran putri seolah seperti pelindung yang membuat teman teman cewek nya tidak merasakan hawa dingin sama sekali.
“Ughh kenapa dingin banget yah?” Gumam Andi merasakan hawa dingin pagi ini lebih dingin dari biasanya.
“Positif thinking aja cuy, mungkin karena masih pagi makanya dingin” sahut Ucup yang sebenarnya ia juga merasakan hawa dingin itu.
Mata nya menoleh ke arah teman teman nya yang lain, hanya sebagian kecil dari mereka yang merasakan hawa dingin.
Kecuali putri, Risma dan Cantika lalu Bagas, Farhan dan dimas mereka tampak biasa saja. Seolah tak merasakan apa yang ia rasakan.
Melihat itu ucup jadi keheranan. ‘mungkin mereka memang sudah terbiasa sama suhu dingin kayak gini kali yah’
Sesampainya di gardu masuk kampung beberapa warga dan pak Bayu sudah menunggu. Hanya para ibu ibu dan Bu mekar saja yang tidak kelihatan.
Saat sampai pandangan pak Bayu langsung tertuju ke dua orang yang tidak lain adalah Bagas dan Putri.
“Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat nak?” Bisik pak Bayu pada Arga yang berdiri tegak di belakang nya.
“Saya yakin seratus persen pak, pengelihatan saya tidak pernah salah seperti almarhum bapak saya” balas bisik Arga dengan begitu yakin.
Mendengar Arga yang begitu yakin dengan apa yang ia lihat, dan ditambah pak Bayu memang mengenal baik sosok pak Bayu. Tidak alasan untuk nya tidak mempercayai Arga.
“akhirnya kalian sampai juga” ujar pak Bayu basa basi, sebelum ia bertanya ke hal lain yang ingin ia tanyakan.
“Maaf yah sudah membuat yang lain menunggu lama” kata pak yahman merasa tidak enak membuat semua orang menunggu.
“Tidak apa-apa pak, kita semua juga baru sampai belum lama kok” sahut Arga dengan tersenyum ramah.
“Sebelum kita melakukan pencarian hari kedua, mari lah kita berdoa dulu agar Alfin dan bunga segera menemukan jalan keluar dan dapat kembali tanpa kehilangan satu anggota tubuh nya. Berdoa dalam hati dimulai”
Semua orang langsung mendudukkan kepala mereka dengan tangan menengadah.
“Berdoa selesai, nah sekarang mari kita cari. Tapi sebelum itu untuk nak Bagas dan Putri bisa kesini sebentar”
Ucap pak Bayu memanggil kedua nya.
Mendengar namanya dipanggil kedua nya agak bingung, namun mereka tetap melangkah maju ke arah pak Bayu.
“Iya ada apa ya pak?” Tanya putri dengan sopan. Jujur ini kali pertama ia melakukan pencarian karena sebelumnya ia tidak ikut.
“Bapak mau kalian jalan lurus saja sambil teriak panggil Alfin dan bunga yah. Nanti kamu dan yang lain bakal mengikuti dari belakang”
Bagas dan Putri yang mendengar itu mereka saling menatap satu sama lain, dan mengangguk kecil.
“Baik pak” kedua nya pun langsung melangkahkan kaki mereka serempak sambil memanggil nama Alfin dan bunga.
Sedangkan di belakang pak Bayu mengeluarkan tasbih, dan meminta semua orang membaca ayat kursi dengan lantang.