NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:39.6k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Setelah customer butik Luo berkurang, Bai Anshu gegas mengutarakan maksud kedatangannya.

"Ini herbal tonik dan pil obat untuk kakak Chenji, aturan minumnya masih sama."

Bai Anshu meletakkan bundelan ramuan terbungkus kertas minyak, serta botol porselen dimeja yang menjadi pembatas atara dirinya dan keluarga Luo.

"Terimakasih...!" ucap tuan beserta nyonya Luo, disusul Luo Chenji.

"Maaf paman, sudah sejauh mana proses pembuatan set peralatan operasi..? apa masih lama..?" tanya Anshu.

"Bahan bakunya baru tiba dua hari lalu dari negara barat. Menurut pengerajin pandai besinya, butuh tiga minggu sampai satu bulan untuk membuat pisau bedah itu." balas tuan Luo.

Bai Anshu meringis mendengarnya. Ia sudah menunggu begitu lama, ini masih dituntut untuk bersabar lagi satu bulan.

Bai Anshu menatap Luo Chenji prihatin. Masa satu tahun hidupnya harus dihabiskan diatas kursi roda, pendidikannya tertunda, kebebasan bersosialisasi terenggut.

Bosan, sudah pasti. Nelangsa, apa lagi.

Semoga saja tidak sampai gila, atau kehilangan keceriaan serta kepercayaan diri.

"Semoga tidak sampai selama itu kita menunggu. Meski set peralatan operasi banyak itemnya, tapi aku rasa tak terlalu rumit pembuatannya." sahut Anshu mencoba menghibur.

"Iya, semoga saja..!"

Bai Anshu memeriksa kondisi Luo Chenji, memberi pijatan lembut pada mata kaki yang bergeser.

Berkat kekuatan kayu serta energi spiritual dari batu bintang lima warna, Bai Anshu mampu memulihkan sendi tersebut, dan membantu regenerasi tulang yang retak.

Perbincangan berlanjut kepersoalan produksi dan penjualan fashion rancangan Bai Anshu.

Baru empat hari dipasarkan, paviliun Luo sudah meraup keuntungan bersih dua ribu tael.

Sudah bisa dibayangkan, berapa laba dalam satu bulan nanti. Terlebih, jika seluruh desain Bai Anshu diluncurkan, butik Luo pasti akan makin naik daun.

Wajah berseri Bai Anshu kian berbunga-bunga saja, netra jernihnya dipenuhi bintang-bintang berkilauan.

Semudah ini mencari uang jika kita memiliki bakat, tekad dan keinginan.

Cukup memberikan gambar puluhan model prodak fashion, duduk manis, uang akan datang sendiri mengetuk pintu rumah setiap bulan.

Pelanggan menara Luo kembali berdatangan, Bai Anshu dan Meng-Meng pamit.

Tujuan berikutnya pengerajin pandai besi.

Mesin gerinda, amplas, gergaji ulir, pinset, cawan pemanas lem, mesin las mini, Bai Anshu order untuk kepentingan produksi bunga bludru dan asesoris.

Tempat kedua percetakan paman Chun.

Selanjutnya kios biji-bijian, lapak jagal babi, kios susu domba, dan toko kelontong.

"Shu-ya, ini siapa..?" tanya Pei Dayan, melihat wajah asing yang datang menggendong gandum.

"Paman, dia kakak Meng-Meng dari desa Dongshan. Mulai sekarang kakak Meng akan bekerja denganku."

Meng-Meng membungkuk, menyapa Pei Dayan sopan.

Bai Anshu juga memberitahu Meng-Meng, asal usul Pei Dayan, pasangan Su, nenek Pan dan Pan Qiao.

Gerobak sapi melaju pelan, sesekali bergoyang kasar jika melewati jalanan terjal bergelombang.

Satu roti daging berukuran besar, menjadi menggajal perut yang mulai keroncongan.

"Nenek Pan, selain manisan, buah Haw bisa diolah menjadi Guodanpi. Em, kita juga bisa menggunakan buah-buahan seperti Persik, Kesemek, Loquat, dan Jujube." beritahu Bai Anshu.

Senyum penuh semangat langsung nenek pan dan Qiao torehkan.

"Shu-ya, apa kau berkenan mengajari kami bagaimana cara membuatnya..?" tanya hati-hati Pan Qiao.

"Tentu, aku juga meliki resep bermacam rasa maltosa, permen, juga banyak camilan. Jika ada yang berminat belajar, bagaimana kalau diakhir pekan nanti semua berkumpul diaula desa..?"

Bukan hanya nenek Pan dan cucu bungsunya yang setuju. Pei Dayan, kakek serta nenek Su, turut bersemangat ingin ambil bagian.

Beruntung, diwilayah sekitaran banyak lokasi untuk berdagang. Jadi, penduduk tak perlu bersaing meski menjual prodak yang sama.

Selain dikota, ada dermaga, pasar umum didesa Gangshan, serta kota Prefektur.

Gangshan, desa makmur yang dihuni kalangan menengah keatas, dihuni enam ratus kepala keluarga.

Jarak tempuhnya enam puluh menit dari Huanshan jika menaiki pedati.

Kalau menuju kekota Tiankeng melewati jalur utama selatan, ke Gangshan melalu jalan barat.

Yang lebih dekat dari Gangshan ialah desa Qingshan, Bushan, Washan dan enam desa lainnya.

Kalau dari kota Tiankeng, jarak tempuhnya kisaran dua jam.

Oleh sebab itu, ada penduduk dari beberapa desa lebih memilih berdagang atau berbelanja dipasar Gangshan.

Meski tidak selengkap dan seluas dipasar kota, persedian prodak juga relatif terbatas, tapi bazar Gangshan tak pernah ditinggalkan oleh para penjaja barang dagangan.

Seperti warga Huanshan, sejak memutuskan untuk memulai berbisnis, kepala desa Pei langsung mengatur lokasi untuk masing-masing rumah tangga jika prodak yang akan dijual itu sama.

Sistem pemilihannya juga bukan asal tunjuk, namun melalui undian seperti arisan.

Contoh saja manisan Haw. Selain nenek Pan, ada dua warga lagi yang menjualnya didermaga dan pasar Gangshan.

Begitu juga panekuk kucai telur, dan mie acar ikan. Selain kakek nenek Su, paman Jang, ada keluarga lain yang berbisnis tersebut didua lokasi berbeda.

Oleh sebab itu, tak ada namanya gontok-gontokan, saling sikut, atau pun nyinyir. Sebab semua sudah diatur secara adil oleh paman Pei dan para tetua desa.

Sesampainya dirumah, Bai Anshu memperkenalkan Meng-Meng pada seluruh anggota keluarga serta karyawan pabrik sabun.

"Tuan muda...!" sapa Meng-Meng pada Bai Hanzi.

"Ah, kakak yang dimenara Yuelao itu ya..?" balas Hanzi.

Meng-Meng tersenyum "benar tuan muda..!"

"Kakak, aku tidak suka panggilan itu, cukup A-Hanzi saja." ujar Bai Hanzi cemberut.

"Ya, aku juga tidak mau dipanggil tuan muda, itu sangat menggelikan." sambar Bai Jinyu, bertolak pinggang dari tempat duduknya.

Meng-Meng terkekeh, senyumannya semakin manis saja "Baik-baik, A-Hanzi, A-Jinyu, salam...!"

Hanzi dan Jinyu menyengir kuda "salam kakak Meng-Meng...!"

Setelah makan, Meng-Meng langsung disibukkan dengan urusan dapur produksi sabun. Ia mencetak, menjemur lalu mengemas bersama para karyawan wanita.

Selesai meracik adonan, Bai Anshu mengecek ginseng yang dipagari dengan bambu dan jerami dikebun belakang rumah.

Berkat air suci, ginseng itu tumbuh dengan sangat baik. Belum juga genap satu bulan, namun batangnya sudah sebesar ibu jari orang dewasa.

"Berapa lama ginseng ini bisa digali..?" tanya Anshu, seraya memercikkan air suci keakar tanaman.

"Dua tahun...!" jawab Xingxing.

Satu alis Anshu naik tinggi "secepat itu..?"

"Ya, air suci yang setiap hari kau berikan, membuat pertumbuhan ginseng setara dengan seratus tahun."

Mata Bai Anshu membola, bibir ranumnya menganga lebar "benarkah..?"

"Ya...!"

Bai Anshu terpekik senang, ia membelai posesif dahan dan daun ginseng sembari berdendang riang.

"Jika ingin mendapatkan bijinya, pelihara selama tiga tahun."

Bai Anshu mengangguk "oke...!"

Puas bermain bersama kebun ginsengnya, Bai Anshu kembali kepabrik sabun.

Ia membantu mencetak, mengemas, menghitung sekalian menata dalam keranjang kemas.

Tiga hari pengerjaan siang dan malam, stok sabun sudah mencapai tujuh ribu batang.

Tiga ribu pesanan serikat dagang Dao, dua ribu orderan menara Guangdong, yang wajib diselesaikan dalam waktu dua hari kedepan.

"Kakak Meng, besok ajak sekalian ibu dan kedua adikmu ya..? pembuatan sabun butuh tenaga lagi." kata Anshu berubah pikiran.

"Baik...!"

Terimakasih sayang selalu berbagi rezeki dan suport. Berkah selalu 🙏

1
Erna Fkpg
wah kira kira tokonya dibuat usaha apa lagi sama syu er
Datu Zahra
kaya raya wes pokoknya 🥳
Sabrina
Romansa anak muda mulai bermekaran nih🤭
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻSENJA
wakakaak 😂
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻSENJA
pengetahuan anshu ga kaleng2 emang
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻSENJA
ini berkat bai anshu 💪
Datu Zahra
cakep, rumah baru dan perasaan baru, uhuy 🤩
Nur Janah
Mksh ka udah up lgi...🙏🙏🙏
Maria Lina
makasih bnyk"ya thor ud ditambah 1 bab lgi 🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍
Santi
ada bunga2 yg mekar,, 🤭
Maria Lina
mkasih ya thor sll up double tiap har..ni ky ksh vote biar outhor tetap 💪💪💪🙏🙏😍😍
ainie lee
next kak
Erna Fkpg
terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
gula dan saus laris manis, bakal gempar ada gula murah
Datu Zahra
akhirnya ada up juga, thanks kak 🫶
Maria Lina
iy kk aku suka klo outhor nya tiap hari up double"thor ya
Nur Janah
makin seru ceritanya,
mksh ka udah double up di hari minggu,,🤭🤭moga sehat sllu,💪
Maria Lina
kok siang thor ud ditunggu dri subuh lo thor..tpi makasih thor ud up ny n dikira gk lgi 🙏🙏😍😍
Datu Zahra
lanjut kak
Datu Zahra
good job Anshu 🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!