NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29

Elena melangkah keluar dengan wajah ceria, sementara Riven membuntutinya hingga ke depan pintu.

Saat Elena menarik gagang pintu dan bersiap melangkah, Riven tiba-tiba bersuara, “Mulai hari ini, aku menghapus akses biometrikmu dari apartemen ini.”

Elena menoleh sambil mengedikkan bahu.

“Tidak masalah. Yang penting jangan hapus nomor rekeningku dari sistem perbankanmu. Aku masih butuh banyak pasokan uang,” balasnya santai.

Riven hanya menggeleng pelan melihat tingkah adiknya.

Begitu pintu tertutup dan ia memastikan Elena benar-benar masuk lift lalu pergi, Riven berjalan menuju panel biometrik di dinding. Jemarinya dengan cekatan mengetik beberapa perintah pada layar sentuh, lalu memilih opsi untuk menghapus sidik jari Elena dari daftar akses.

Beberapa detik kemudian, notifikasi bertuliskan “Fingerprint Deleted Successfully” muncul di layar.

Setelah selesai, Riven berbalik dan kembali menaiki tangga menuju lantai atas, tempat Angie sedang menunggunya.

Riven melangkah kembali ke dalam kamar. Senyum tipis terukir di bibirnya saat mendapati Angie masih bergeming di atas ranjang, menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur.

Selimut tebal membungkus sebagian tubuh wanita itu, sementara sepasang tangannya meremas ujung kain dengan gugup.

”Adikmu? Sering ke sini?”

“Ya. Tapi sudah ku hapus sidik jarinya. Tenang saja dia tidak akan bisa masuk lagi.” Kata Riven.

“Kau loyal sekali padanya.”

“Itu uang tutup mulut.” Kata Riven.

Angie hanya tersenyum canggung entah apa yang sedang ia pikirkan.

Riven meraih ponselnya yang sudah meredup. Setelah mengetik beberapa baris pesan singkat, ia meletakkan kembali benda pipih itu di atas nakas.

“Kita mandi dulu. Setelah itu aku harus menghadiri rapat,” ujar Riven, menjeda kalimatnya sejenak.

“Sebelum ke kantor, aku akan mengantarmu pulang. Tapi kalau kau memilih tetap di sini, aku akan jauh lebih senang. Sebentar lagi barang-barangmu akan tiba, aku sudah meminta seseorang

menyiapkannya.”

Angie menelan ludah samar. Segala perkataan Riven mengalir begitu cepat, hingga ia kesulitan mencernanya.

“Ya… tapi aku harus pergi ke suatu tempat.” Tanpa bisa merespon semua perkataan Riven, karena saat itu Riven sudah melepaskan celana panjangnya.

Riven mengernyit samar. “Ke mana?”

“Ke… rumah seorang teman.”

“Baik. Aku yang akan mengantarmu.”

Angie langsung menggeleng cepat. “Ti—tidak perlu, Riv. Aku bisa pergi sendiri.”

“Tidak.” Suara Riven terdengar tenang, namun tak menerima bantahan. “Aku yang akan mengantarmu.”

Pria itu melangkah mendekati sisi ranjang. Dengan gerakan lembut, Riven menyingkap selimut yang membungkus tubuh Angie. Tanpa banyak bicara, ia menyelipkan satu lengannya di balik punggung dan lengan lainnya di bawah lipatan lutut wanita itu.

Dalam satu gerakan mulus, tubuh Angie telah berada di dalam dekapannya.

“A-ah! Riv… mau ke mana?” seru Angie spontan. Refleks, ia melingkarkan lengannya ke leher Riven agar tidak terjatuh.

Riven menatapnya sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang menawan. “Tenang saja. Aku hanya membawamu ke kamar mandi.”

Ia berhenti sejenak di ambang pintu, lalu berbisik dengan nada rendah yang intim, “I’ll help you bathe.”

Seketika, rona merah menjalar di wajah Angie. “A… aku bisa mandi sendiri,” bisiknya, nyaris kehilangan suara akibat gugup.

Riven mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka. Ruangan bernuansa marmer itu bermandikan cahaya hangat yang memantul lembut di setiap sudut, menciptakan atmosfer yang tenang.

Dengan hati-hati, ia menurunkan Angie hingga kedua kaki wanita itu menyentuh lantai yang dingin.

Namun, sebelum benar-benar melepaskannya, sepasang tangan Riven tetap bertengger di pinggang Angie, menopangnya agar tidak kehilangan keseimbangan.

“Pelan-pelan,” bisiknya lirih.

Angie mengangguk samar. Tubuhnya yang masih terasa lemas membuat jemarinya tanpa sadar mencengkeram lengan kokoh Riven sebagai tumpuan.

Riven memutar keran wastafel, membasahi selembar handuk kecil yang lembut dengan air hangat, lalu memerasnya hingga kesat.

“Aku hanya akan membantumu membersihkan bagian yang sulit kaujangkau. Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, katakan saja.”

Angie menatap sepasang netra Riven selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pasrah. “Baik…”

Dengan gerakan penuh kehati-hatian, Riven mengusap perlahan lengan Angie menggunakan handuk hangat tersebut. Sentuhannya begitu lembut, memastikan tidak ada tekanan yang akan mengusik rasa sakitnya. Sesekali, pria itu menjeda gerakannya, hanya untuk memastikan ekspresi Angie tetap tenang.

“Masih sakit?” tanyanya, memecah keheningan.

“Sudah jauh lebih baik.”

Riven mengembuskan napas lega yang samar. “Syukurlah.”

Setelah selesai membantu menyeka bagian-bagian yang sekiranya sulit dijangkau, Riven menyerahkan selembar handuk bersih yang baru ke tangan Angie. “Selebihnya, kau bisa melakukannya sendiri.”

Angie menerima handuk itu, menatap Riven dengan kilat heran yang samar di matanya.

Seolah bisa membaca pikiran wanita itu, Riven menambahkan, “Aku akan menunggu di luar pintu. Kalau kau membutuhkan sesuatu atau mendadak merasa pusing, panggil saja namaku.”

Riven berbalik untuk melangkah pergi, namun suaranya yang lembut kembali menahan pergerakan pria itu.

“Riv…”

Pria itu menoleh, menaikkan sebelah alisnya.

“Terima kasih. Tapi lebih baik kita melakukannya bersama.”

”Mm…?”

“Maksudku… mandi. Kita bisa mandi bersama,” ralat Angie cepat. Wajahnya kian memanas saat menyadari kalimatnya sendiri. “Kau juga harus segera ke kantor, bukan? Kita bisa menghemat waktu jika… melakukannya bersama.”

Angie memaksakan sebuah senyuman, lalu buru-buru memalingkan wajah, tak sanggup membalas tatapan Riven.

Senyuman samar terbit di bibir Riven, tampak begitu menawan sekaligus berbahaya. “Tapi, aku tidak bisa menjamin apa pun jika kita berada di bawah shower yang sama.”

Mendengar itu. Detak jantung Angie bertalu hebat, namun ia memberanikan diri menatap sepasang netra kelam di hadapannya. “Aku… tidak keberatan.”

Jawaban singkat itu seketika meruntuhkan benteng pertahanan Riven.

Hanya dengan beberapa patah kata dari Angie, segalanya berubah menjadi sinyal hijau yang mustahil diabaikan. Bagi Riven, menahan diri di hadapan wanita ini selalu menjadi hal paling mustahil di dunia. Bahkan jauh lebih sulit daripada harus membereskan investor yang rumit.

Tanpa membuang waktu lagi, Riven kembali melangkah mendekat, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka. Lalu menghidupkan shower dengan air hangat.

Perlahan dan dengan gerakan telaten Riven menyapu tubuh Angie dengan sabun, membersihkan kulit mulus Angie dengn gerakan lembut.

Namun, kelembutan itu rupanya memiliki batasnya sendiri. Niat awal Riven untuk sekadar membersihkan diri dan merawat tubuh Angie perlahan terkikis seiring dengan setiap sentuhan kulit mereka yang licin oleh busa sabun di bawah kucuran air hangat.

Aroma lavender dan mint dari sabun aromaterapi yang menguar di udara kamar mandi yang beruap justru terasa seperti stimulan baru.

Ketika jemari besar Riven mengusap lekuk pinggang Angie, ia bisa merasakan tubuh gadis itu bergetar kecil, sebuah respons alami yang membuktikan bahwa Angie pun merasakan getaran yang sama.

Riven mematikan kran shower. Ia membalikkan tubuh Angie agar menghadap ke arahnya, mengunci pinggang mungil gadis itu dengan kedua tangannya, lalu mendesaknya perlahan hingga punggung polos Angie menyentuh dinding marmer kamar mandi yang dingin.

Kontras antara dinginnya marmer dan kehangatan tubuh Riven yang masif membuat Angie membelalak kecil, menatap langsung ke dalam sepasang manik mata Riven yang kembali menggelap sepenuhnya.

Bersambung

1
Hanima
Lanjut Rivvv
Hanima
😍😍
evanindia
paham, paham tpi d blkang lain lagii nihh c angie....
evanindia
iya wajar klo loyal am adek sndri mh....
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
afifah
Seru
evanindia
panggilan utk kaka.a luar biasa nii elana 😄
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor
wiliss
salting kk?
wiliss
😅😅
wiliss
perhatian bgt ya riv...
Rudy satria
nama "musang"begitu cocok untuk riven emak kelakuannya kaya musang🤣🤣🤣
Rahmat Soiku: bls apaan sih g terbaca dilayar hp
total 11 replies
Rudy satria
antara Maruk dan rakus beda dikit ya Riv,tapi entah kenapa dari awal nggk respek Ama pasangan yang satu ini,bang author bisa nggk sih di ganti alurnya tentang Gavin dengan cwe yang di jodohkan 😔😓
evanindia: wow baru tau gue sejak kapan dy ilang arah 🤣
total 26 replies
Rudy satria
boleh nggk si bilang" KAMU ITU MURAHAN RIF DUAKALI KETEMU DI RAYU DIKIT LANGSUNG BILANG SAYANG" kesel aku😓
afifah: aku mengakak so hard denger kata murahan🙏🤣
murahan itu kalau gonta ganti pasangan terus cowo nya mokondo miskin . ini gentle gini dikata murahan. tolong ya allah lulusan apa kak sskolahnya? 🙏🙏🙏
lagi pula ini cerita tidak tahu alurnya di percepat atau nggak. terus kalau boleh tanya kenapa lama kelamaan komenn nya nggak nyambung dan nggak mutu? nggak berdasar 🥲
total 4 replies
wiliss
merasa di cintai bgt sm riven aku klo jd angie
wiliss
😋😘😘😘😘
wiliss
gk papaa bang santae aja
Hanima
Lanjuttt
evanindia
Riven kerja² jgn kokopan trus am angie 🙊🙊
evanindia
ps tmen q juga samaa wehh 0 4x 😵😵😵
Hanima
🔥🔥
Hanima
Lanjut Akak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!