Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tujuh
"Sudah cukup mainnya ya, kita cari makan dulu, setelah itu kita belanja kebutuhan kalian, kalian boleh beli apa pun yang kalian mau." ucap pak Galih.
Ketiga anaknya terdiam, apa benar papanya itu papanya, apa benar dia sudah berubah? itu lah yang ada di pikiran anak anak itu sekarang.
"Papa tau kalian pasti belum bisa menerima semua ini, tapi kalian juga harus ingat! papa pernah bilang, klau papa akan berubah jadi orang tua dan suami yang lebih baik dari sebelumnya." ucap Pak Galih dengan tatapan penuh kesungguhan.
Ketiga anak itu menatap mata sang papa mencari kebohongan di sana, namun tidak ada mereka temukan.
"Baiklah, klau papa sudah bilang kami boleh membeli apa pun yang kami suka, jadi papa jangan marah klau kami belu apa pun itu, dan menguras isi kantong papa." ancam Gibran memangku tangan di dadanya.
"Silahkan, beli apa pun itu, papa tidak keberatan kalian menguras isi kantong papa." ucap Galih tersenyum lepas, tidak masalah anaknya beli apa pun itu, silahkan mereka melakukan apa pun, asal anak anak dan istrinya kembali menerimanya, masalah uang, nanti dia bisa mencarinya lagi, yang terpenting saat ini, anak anak dan istrinya sudah mulai kembali membuka pintu maaf untuknya.
"Ayo, kita cari makan dulu bang, kak, kita butuh tenaga untuk menjelajahi mall ini, dan kita juga butuh tenang untuk membawa belanjaan kita nanti." semangat Gibran.
"Terserah kamu saja." pasrah Ares, dia pun ingin melihat papanya nanti, setelah uangnya habis mereka kuras, apa kah dia akan marah, atau biasa saja.
"Kalian mau makan apa?" tanya pak Galih menatap satu persatu anaknya.
"Gimana klau kita makan sea food aja? " ucap Gibran, bocah gembul itu memang sangat menyukai makanan sea food.
"Ayo.... " ajak Laras ikut berbinar.
Ares Laras dan Gibran jalan di depan, Soraya dan Galih mengikuti langkah anak anaknya dari belakang, Pak Galih menggenggam tangan sang istri.
Bu Soraya terlonjak kaget merasakan genggaman sang suami, reflek bu Soraya melirik ke arah sang suami.
Pak Galih yang di lirik, tersenyum lembut dan mengedipkan mata genit, menggoda sang istri.
Bu Soraya mencoba melepaskan tangan sang suami, namun sayang tangan itu tidak bisa lepas dari tangannya.
"Jangan di lepas, tetap lah seperti ini, dulu kita juga sering bergenggaman tangan." ucap pak Galih lirih.
Bu Soraya melirik sinis dan juga memberengut kesal, pasrah mendapat perlakuan dari suaminya itu.
Pak Galih tersenyum tipis karena istrinya tidak lagi memberontak.
"Kita makan di sini aja! " seru Gibran menunjuk restoran sea food di mall itu.
Mereka masuk dan mencari meja yang cukup untuk mereka berlima.
"Pesan lah, apa pun yang kalian mau." ucap pak Galih memberikan daftar menu kepada anak anaknya.
"Pesan makannya cukup untuk di makan saja, jangan berlebihan, klau pesan terlalu banyak nanti bisa mubazir." seru sang ibu.
"Baik ma, walau rasanya aku ingin pesan semua menu, karena semua terlihat sangat enak." keluh Gibran.
"Dasarnya gembul, hanya makanan yang ada di pikiran mu." ejek Ares mengacak rambut sang adik.
"Tentu saja, hidup itu untuk makan." ceplos Gibran santai.
Bu Soraya hanya geleng geleng kepala mendengar ucapan anaknya itu.
"Biar mama aja yang pesankan, kita tinggal makan." ucap Ares memberikan buku menu kepada sang mama.
Bu Soraya memesan beberapa menu dan setiap menu bisa mereka cicipi bersama.
Udang saos padang, cumi krispi, kerang tumpah, cah kangkung dan beberapa menu lainnya, mereka menikmati makan malam pertama kalinya di restoran mewah itu.
Ada penyesalan teramat dalam di hati Pak Galih, andai dulu dia tidak selalu mengikuti ucapan sang ibu, mungkin keadaannya tidak seperti ini.
"Brengsek kau Galih, tega kau membuat anak dan istrimu menderita selama ini." umpat pak Galih kepada dirinya sendiri.
"Makan lah pa, makanan itu tidak akan masuk ke mulut papa klau hanya di tatap saja." ejek Gibran, setelah mengucapkan kata kata tajam itu, dia kembali sibuk dengan makanannya.
Sementara bu Soraya dan Ares saling tatap, dan terkekeh geli, memang anak bungsu itu bermulut tajam kepada papanya.
Pak Galih pun tersenyum tipis, tidak ada raut marah di wajahnya, dia tau anaknya mulai perhatian kepadanya hanya saja gengsinya masih tinggi.
"Papa bukan tidak mau makan, hanya saja klau papa ikut makan jatah kamu akan berkurang." goda pak Galih.
Gibran melotot kesal ke arah sang papa.
"Papa pikir aku serakus itu, bisa menghabiskan makanan sebanyak ini." sewot Gibran tidak terima.
"Nggak rakus, hanya bisa menghabiskan beberapa piring saja." kekeh Laras ikut menggoda sang adik.
"Yaaa..... Kan sayang klau tidak di makan, kata mama kan nggak boleh menyia nyiakan makanan nanti mereka sedih, jadi terpaksa aku makan." sela Gibran tidak mau di salahkan.
"Iya iya, terserah kamu saja, cepat habiskan makananya, nanti mallnya ke buru tutup, nggak jadi kamu belanja." lerai Ares, klau tidak di lerai, khawatir jadinya akan panjang.
"Tuh, kak. Dengar apa kata abang, cepatan makan, jangan ajak aku ngobrol mulu." ucap Gibran melanjutkan makannya.
Laras hanya mendengus sebel dan menjulingkan matanya, adiknya mana mau kalah bicara.
"Biarkan anak anak ke toko itu, kita ke sana ya! " ajak pak Galih mengajak sang istri ke toko perhiasan.
"Buat apa? " heran bu Soraya, karena suaminya menarik tangan bu Soraya masuk ke toko perhiasan.
"Tentu saja untuk cari perhiasan, masa mau beli beras." kekeh pak Galih.
Bu Soraya hanya mendengus kesal.
"Selama malam ibu dan bapak, ada yang bisa kami bantu? " ramah pelayan toko perhiasan MAS itu.
"Tolong carikan model terbaik untuk istri saya, tidak perlu besar, tapi elegan di pakai olehnya, ehhh... tunggu, klau dapat model couple dengan putri kami, dia masih usia 12th." ucap Galih memberi tahu pelayan toko MAS itu.
Bu Soraya melotot tidak percaya, suaminya membelikannya perhiasan, bukan hanya dirinya tapi juga sang putri.
"Baik Pak, tunggu sebentar ya." sahut pelayan ramah, lalu mengambil barang yang akan dia berikan kepada pak Galih dan bu Soraya.
"Ngapain papa membawa mama ke toko itu? " tunjuk Laras.
"Mungkin mau menyogok mama dengan sekilo MAS." celoteh Gibran cuek.
"Dasar kau ini, apa tidak bisa ngomongnya tidak lebay begitu." kesal Laras.
"Yaa... Si kakak, harusnya kakak Aamiinkan ucapan ku, kan lumayan itu, biar uang papa tidak terus di monopoli sama keluarganya, sekali ini mumpung papa lagi waras, kita kuras uangnya." oceh Gibran tidak mau kalah.
Ares mengacak gemes kepala adik bontotnya itu.
"Anak kecil, bisa bisanya kau sangat licik seperti ini." kekeh Ares.
"Harus dong, itu milik kita loh."
Bersambung.....
geraam banget liatny ,,
yg bnyyyykkkk doooongggg /Drool/
tenang dek keluarga dari ibumu pasti menerima kalian🫂