Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Timbal Balik
Jam istirahat seperti biasanya, Oca dan dua sahabatnya sudah duduk di kursi kantin. Andira dan Kinan asyik melihat foto yang ditunjukkan Andira saat ia bersama Bryan di sebuah kafe yang baru buka.
Kinan bahkan sudah berencana mengajak Devan ke sana, sementara Oca tetap sibuk menghabiskan baksonya tanpa terlalu memedulikan kehebohan mereka.
Hingga tiba-tiba Andira berceletuk, "Eh, Ca. Gimana hubungan lo sama Dirga?"
Oca yang sedang mengunyah bakso langsung menoleh. "Biasa aja tuh. Nggak gimana-gimana.”
"Ah, yang bener," timpal Kinan. "Gue ngerasa si Dirga tuh emang beneran suka deh sama lo.”
Oca memutar bola matanya.
"Ya ampun. Kalian kebanyakan baca novel, deh. Gue sama Dirga tuh nggak sedekat itu. Cuma karena tugas kelompok sama dia minjemin gue baju olahraga, belum tentu dia suka sama gue."
Andira dan Kinan saling pandang, lalu kompak tertawa.
"Eh, tapi serius deh," lanjut Andira. "Kalau misalnya nanti Dirga beneran nembak lo, lo bakal jawab apa?"
Pertanyaan itu membuat Oca terdiam beberapa detik, lalu ia mengangkat bahu santai.
"Ya gue tolak lah."
"Loh, kenapa?" tanya Kinan penasaran.
Oca kembali menyuap sebutir bakso ke mulutnya sebelum menjawab. "Soalnya gue sama dia baru kenal. Masa langsung nerima."
"Masuk akal sih," gumam Andira sambil mengangguk. "Tapi..." Kinan kembali tersenyum usil. "Kalau ternyata dia ganteng, baik, terus perhatian?"
Oca tertawa kecil. "Ya tetep aja. Gue nggak segampang itu nerima orang.”
Belum sempat Kinan membalas, bel berbunyi menandakan jam istirahat telah usai. Mereka segera membereskan sisa makanan sebelum kembali ke kelas.
Hari itu pelajaran berlangsung seperti biasa. Hingga menjelang jam pulang, wali kelas mereka datang membawa sebuah map. berisi pengumuman. Suasana kelas yang semula ramai perlahan mulai tenang.
"Perhatian semuanya," ucap beliau sambil meletakkan map di atas meja. "Besok sekolah akan mengadakan turnamen basket antar kelas. Kegiatan belajar akan dipersingkat, kemudian pertandingan akan dilanjutkan di lapangan sekolah. Bagi yang ingin menonton dan memberikan dukungan kepada teman-temannya, dipersilakan datang ke lapangan."
Ucapan itu langsung disambut riuh seisi kelas.
"Asik! Besok nggak belajar full!" seru salah satu siswa dari bangku belakang.
"Wah, akhirnya jadi juga turnamennya!"
"Semoga kelas kita menang, deh."
"Katanya anak-anak kelas sebelah jago main basket semua."
"Lah, emang kita takut?"
Ucapan itu langsung disambut tawa beberapa siswa. Suasana kelas kembali riuh dengan obrolan tentang pertandingan besok.
Andira yang duduk di samping Oca ikut menoleh. "Eh, bukannya Dirga ikut tim basket sekolah, ya?"
"Iya," sahut Kinan sambil mengangguk. "Kalau nggak salah dia pemain inti."
Oca hanya mengangkat bahu sambil menutup bukunya. "Terus kenapa?"
Andira dan Kinan saling pandang, lalu tersenyum jahil melihat reaksi datar Oca. Namun sebelum sempat menggoda lebih jauh, bel pulang akhirnya berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah.
Suasana kelas seketika kembali ramai. Para siswa mulai membereskan buku-buku mereka sebelum berhamburan keluar kelas. Oca, Andira, dan Kinan pun ikut berjalan menyusuri koridor sambil masih membahas turnamen basket yang akan diadakan besok.
"Kira-kira kelas mana yang bakal menang, ya?" tanya Andira penasaran.
"Nggak tau. Yang jelas besok pasti rame," sahut Oca santai.
"Ih, gue pengen liat Devan main juga," celetuk Kinan sambil tersenyum sendiri.
Belum sempat obrolan mereka berlanjut, terdengar suara seseorang memanggil dari belakang.
"Kinan."
Ketiganya serempak menoleh. Tak jauh dari sana, Devan berdiri sambil melambaikan tangan kecil ke arah Kinan. Begitu melihat sang pacar, wajah Kinan langsung sumringah.
"Guys, gue duluan ya. Mau mampir beli buku bentar," ucapnya sambil melangkah mundur.
Oca dan Andira mengangguk hampir bersamaan.
"Yaudah, hati-hati."
Sebelum Kinan benar-benar pergi, Oca sempat menatap Devan sambil menunjuknya dengan dagu.
"Eh, jaga sahabat gue yang baik, ya."
Devan menatap Oca datar tanpa mengubah ekspresinya.
"Nggak usah disuruh juga bakal gue lakuin."
"Ciee..." goda Andira pelan.
Kinan hanya terkekeh kecil sebelum menarik lengan Devan. Keduanya kemudian berjalan berdampingan ke arah parkiran, meninggalkan Oca dan Andira di koridor.
Baru saja mereka hendak melanjutkan langkah, terdengar suara langkah kaki yang berlari kecil dari belakang.
"Oca!"
Oca dan Andira spontan menoleh. Dirga terlihat menghampiri mereka dengan napas yang sedikit memburu, seolah sengaja mengejar sebelum mereka benar-benar pulang.
"Untung masih sempet," ucapnya sambil mengatur napas. "Gue kira lo udah pulang."
Oca mengernyit heran.
"Emangnya kenapa?"
Dirga menatap Oca beberapa detik sebelum tersenyum tipis.
"Inget, kan? Kemarin gue bilang bakal minta timbal balik."
Oca langsung teringat percakapan mereka saat mengembalikan baju olahraga. Ia pun mengangguk pelan.
"Iya. Emang maunya apa?"
Dirga memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Besok gue ikut turnamen basket."
Oca kembali mengangguk, masih belum mengerti maksudnya.
"Terus?"
"Gue pengen lo datang nonton gue main."
Oca tampak sedikit terkejut. Ia sempat terdiam beberapa saat sebelum mengerutkan kening.
"Cuma itu?"
Dirga terkekeh pelan.
"Iya. Anggap aja itu balasan karena gue udah minjemin baju olahraga kemarin."
Oca menatap Dirga beberapa detik, lalu akhirnya mengangguk kecil.
"Yaudah. Gue usahain datang."
Senyum Dirga seketika melebar.
"Oke. Gue tunggu besok."
Setelah mengatakan itu, Dirga melambaikan tangan singkat lalu berbalik meninggalkan mereka.
Begitu sosok Dirga menjauh, Andira langsung menyenggol pelan lengan Oca sambil menaik-turunkan alisnya.
"Tuh, kan."
Oca mendesah pelan.
"Apaan lagi?"
"Menurut gue..." Andira menahan senyumnya. "Kayaknya dia punya alasan lain selain pengen lo nonton."
Oca hanya memutar bola matanya.
"Lo kebanyakan mikir."
Meski begitu, entah kenapa ucapan Andira terus terngiang di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.