NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jenuh

“Selanjutnya, kami akan memanggil salah satu lulusan terbaik pada hari ini  dengan pencapaian akademik yang membanggakan. Graziano Argantara Rahardian dari Program Studi Manajemen, dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude, dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,90. Namun apa gunanya cumlaude kalo nggak punya pacar. Miris memang...”

Ziano menatap datar pada adiknya yang heboh sendiri di meja makan. Gadis dengan seragam putih abu bername tag Raizel Q. Rahardian itu memang selalu membuat rumahnya seramai pasar. Wisudanya sudah berakhir dua hari yang lalu, tapi setiap ia muncul adiknya selalu meledek dengan menjadi MC wisuda dadakan.

"Berisik Jeli!" sebelum duduk Ziano menoyor kepala adiknya.

Plak! tak mau kalah, Raizel balas menabok punggung sang kakak. "Panggil aku Ratu!"

"Ratu kupret!" ejek Ziano.

Tak terima Raizel berdiri dan menatap kakaknya sambil menunjukkan name tag, "Raizel Q. Rahadian, Q nya apa coba?"

"Q for Queen!" lanjutnya dengan sombong.

"Baik yang mulia Ratu mohon duduk supaya hamba bisa sarapan." ucap Dirga yang baru saja datang, sudah rapi dengan kemeja dan jas hitamnya.

Raizel segera menghampiri papa nya, "Pah, masa kak Razia manggil aku ratu kupret. Nggak sopan banget sama ratu pah." adunya.

"Ya udah ratu jeli kalo gitu." timpal Ziano.

"Papa atuh lah, kak Razia nggak sopan itu. Aku jadi nggak yakin deh apa bener rakyat jelata di depan ratu itu benar mahasiswa yang lulus dengan predikat cumlaude." ledek Raizel.

Dirga hanya menghela nafas panjang, tiap pagi kedua anaknya selalu ribut. Anehnya, ada saja yang mereka ributkan. Padahal dulu sebelum memberikan Ziano adik, dirinya sudah sengaja mengatur jarak lumayan jauh, berharap si kakak bisa mengasuh adiknya tapi nyatanya tetap saja mereka selalu cek cok.

"Lo aja kagak sopan manggil gue Razia. Ntar gue kirim softfile kartu keluarga kita deh, kali aja lo lupa nama kakak sendiri." balas Ziano.

Raizel mencebikan bibirnya, "beda dong, itu kan panggilan sayang aku buat kakak. Ra Zi A." Raizel mengejanya dengan penuh penekanan.

"Lah sama kalo gitu juga ratu kupret panggilan sayang gue buat lo!"

"Beda lah kak, kalo nama kakak kan emang ada Razia nya, Graziano, ga masalah dipanggil Razia. Kalo nama aku kan nggak ada kupretnya." Raizel tak terima.

Dirga yang semula melerai keduanya memilih bodo amat, menanggapi kedua anaknya membuatnya pusing padahal jam kerja belum dimulai.

"Ziano kamu yang gede ngalah!" teriak Kara dari dapur, tak lama ibu dua anak yang nampak masih sangat muda itu meletakan susu di depan Raizel dan infused water untuk Ziano.

"Makasih, Ma." ucap Ziano seraya menggeser gelasnya, "yang mulia ratu Raizel Queenara Rahardian mohon maafkan hamba yang sudah membuat yang mulia ratu cemberut di pagi ini." lanjutnya sambil menatap adiknya yang balas tersenyum jumawa.

"Dimaafkan, mohon jangan diulangi yah." Raizel tersenyum ceria, sedetik kemudian potongan daun bawang mendarat di piring Ziano.

"Berkah untuk rakyat jelata, silahkan dinikmati." lanjutnya sambil terus memindahkan daun hijau itu satu persatu.

"Jeli sampai kapan kamu mau pilih-pilih makanan hm?" Kara melotot pada putrinya.

"Ya sampe mama nggak naruh bawang daun di makanan Jeli." balasnya enteng.

"Udah lah sayang, ini masih pagi. Jangan buang-buang energi, kayak nggak tau anak kita aja." sela Dirga.

Raizel mengangguk seolah dibela, "nah itu Ma, dengerin apa kata papa."

"Jeli, kamu tuh..." Kara pengen ngomel tapi rasanya akan sia-sia.

"Udah Ma, Jeli udah hafal. Gimana pun Jeli kan seperti Mama, nurun seratus persen, definisi buah jatuh sepohon-pohonnya kalo kata Oma Jesi."

Kara menghela nafas panjang, kadang ia berfikir apa dulu juga dia semenyebalkan putrinya?

"Habisin sarapannya!" pada akhirnya hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Kara.

"Siap, Ma." jawab Raizel.

"Ziano selama satu minggu ini kamu free, minggu depan mulai ikut ngantor. Terserah kamu mau pilih kerja dimana. Mau join ke bank bareng Om Tama dan papa atau ngurus loveware bareng kakek sama Om Ridwan. Dipertimbangkan aja dari sekarang." ucap Dirga setelah kedua anaknya mulai anteng dengan makanan.

"Kalo menurut mama sih mending gabung sama Om Ridwan aja." sambung Kara.

"Iya nanti aku pikir-pikir dulu Pa, Ma." jawab Ziano dengan datar.

"Kalo kata aku sih kak Razia mending jadi supir aku seminggu ini, dari pada gabut." Raizel ikut nimbrung.

Ck! Ziano berdecak lirih, "Perasaan gue udah jadi supir lo dari dulu deh."

"Buruan berangkat sekarang deh." lanjutnya seraya beranjak dan menyalami kedua orang tuanya.

Raizel segera menyusul dan  melakukan hal yang sama. "Tungguin kak, cepet banget sih jalannya."

Jalanan pagi hari seperti biasa, pada merayap. Ziano menatap adiknya yang sibuk dengan cermin dan berbagai benda yang dioleskan ke wajah saat lampu merah menyala.

"Jel..." panggilnya lirih.

"Jeli!" karena adiknya tak menjawab, Ziano menyenggol lengannya.

"Kakak atuh lah!" Raizel menoleh, pipinya sedikit orange gara-gara lip tint yang ia kenakan meleset akibat lengannya di senggol sang kakak.

"Sorry. Abisnya di panggil diem mulu." Ziano memberikan selembar tisu pada adiknya, "lagian lo ngapain make up sih! Siswi nggak boleh make up loh aturannya."

"Bawel ah, ini make up no make up look tau kak."

"Tetep aja namanya make up." ucap Ziano.

"Jel, kalo gue nggak ada lo harus bisa jaga diri yah. Lo adek gue satu-satunya, kalo bisa jangan pake make up ke sekolah, lo udah cantik." lanjutnya.

"Baru tau yang kalo Ratu Jeli itu cantik?" ledek Raizel.

"Gue serius ini, Jel. Pokoknya harus bisa jaga diri. Kalo pergi kemana-mana bilang ke mama sama papa. Jangan bikin mereka khawatir."

"Kan Jeli selalu bilang ke kakak meskipun nggak bilang ke mama sama papa, kan sama aja."

"Beda lah, mulai sekarang lo bilang langsung ke mama sama papa." tegas Ziano.

"Kak Ziano berlebihan banget, kayak mau pergi jauh aja. Padahal paling mentok kakak kerja di bank kalo nggak ke loveware, kata-katanya kayak kita udah nggak bakal serumah lagi aja." jawab Raizel.

"Aku sekolah dulu kak." lanjutnya berpamitan ketika sudah sampai depan sekolah, tak lupa menyalami Ziano dengan sopan.

"Inget yang gue bilang tadi." Ziano memeluk adiknya erat. Raizel hanya bengong, tak biasanya sang kakak bersikap seperti ini.

"Pulangnya jemput jam 5 yah kak, aku ada ekskul dulu." ucap Raizel sebelum pergi.

Biasanya Ziano akan langsung menjawabnya dengan kata 'oke' atau 'siap yang mulia ratu' tapi kali ini dia hanya diam menatap adiknya yang kian menjauh.

Siang harinya Ziano menemui teman sekelasnya dulu, sekedar nongkrong terakhiran di cafe langganan mereka. kebanyakan temannya sudah mulai bercerita sibuk melamar kerja kesana kemari.

"Lo mah enak Zi, nggak usah ngelamar kerja udah punya usaha sendiri." ucap salah satu teman.

"Lah dia mah nggak usah kerja juga duit keluarganya kagak bakal abis sepuluh turunan juga kayaknya." timpal lainnya.

"Gue kalo jadi Ziano kagak bakal kerja deh, tinggal deposit uang jajan aja udah bisa hidup financial freedom. Tinggal nikah biar ada temen tidur terus jalan-jalan keliling dunia."

"Bener, gue setuju. Btw, orang tua lo nggak ada ngejodohin Zi? biasanya orang kaya kan suka jodoh-jodohin anaknya."

Ziano hanya tersenyum samar mendengar ocehan teman-temannya. Dimata mereka hidupnya mungkin sempurna. Jika dipikir memang sempurna, bahkan terlalu sempurna. Hidupnya tak pernah susah sama sekali. Prestasi? tak perlu diragukan, peringkat satu tak pernah lepas dari namanya. Bahkan ujian yang menurut teman-temannya sulit baginya terasa mudah, belajar secukupnya tapi IQ nya memang diatas rata-rata. Uang? jangan ditanya, unlimited dari mama tercinta.

"Zi, cengar cengir aja lo!" salah satu temannya menyikut lengan.

"Sorry, lucu aja denger obrolan kalian. Lo pada ngira hidup gue enak, padahal bosen tau. Monoton, gitu-gitu aja." jawab Ziano.

"Hidup seenak itu lo bilang monoton, Zi? kayaknya lo harus ngerasain susahnya nyari duit deh supaya ngerasain susahnya hidup." Dan ucapan temannya itu terus memenuhi otak Ziano.

Esok harinya, Raizel tak mendapati kakaknya ke ruang makan padahal dirinya sudah bersiap menjadi MC wisuda lagi untuk meledek sang kakak.

"Ma, kakak mulai kerjanya minggu depan kan? ini udah siang loh, kok belum turun juga? aku bisa telat kalo kayak gini."

"Coba kamu panggil ke kamarnya, masih tidur kali, semalem pulang larut." jawab Kara.

Raizel manyun, "ish! udah kemaren nggak jemput, sekarang malah telat." gerutunya seraya meninggalkan meja makan.

Tak lama suara Raizel melengking begitu keras, "mama! Kak Razia minggat!"

Kara dan Dirga langsung beranjak ke kamar putranya, "minggat gimana?"

Raizel menyerahkan tab yang terletak di ranjang kakaknya, "jangan dicari, nanti pulang sendiri."

"Biar aku telpon, yang." Kara buru-buru menelpon putranya.

"HP nya disini, Ma." Raizel menggambil benda yang bergetar di bawah bantal.

Kara langsung ambruk, memikirkan keberadaan putra kesayangannya. "Pah, kamu nggak maksa Ziano buat buru-buru kerja kan?"

Dirga menggeleng, "kamu denger sendiri kemaren aku ngomong apa. Dia free seminggu."

"Kamu nggak maksa dia buru-buru nikah kan? atau jodohin sama anak teman-teman arisan kamu?" Dirga balik tanya.

"Nggak lah." jawab Kara.

Kara dan Dirga yang sedang menerka-nerka sekiranya kenapa putranya kabur padahal mereka merasa tak pernah menuntut apa pun dibuat bingung dengan putrinya yang ikut menangis terisak.

"Jeli kenapa? tenang aja, kak Ziano pasti baik-baik aja." Kara mencoba menenangkan putrinya.

"Jeli sebel, kenapa sih!" Raizel makin terisak.

"Udah... udah..." Dirga ikut mengelus sayang punggung putrinya.

"Nanti papa cari kakak. Kamu tuh kalo ada kakak aja ribut terus, kalo nggak ada ditangisin. Udah, kakak pasti baik-baik aja." lanjutnya.

Raizel justru makin tantrum, "kenapa kak Razia kaburnya nggak ngajak-ngajak? Jeli kan juga pengen ikut."

Astaga! Dirga langsung memijit keningnya. Alih-alih khawatir akan keadaan kakaknya, rupanya si adik merajuk karena nggak diajak kabur.

.

.

.

Hai semuanya

selamat datang dikisah Razia, si gemoy kesayangan kita udah gede sekarang wkwkwk

Jangan lupa favoritkan, like dan komen

luv luv seluas lautaaannnn 🤗🤗

1
Rita
diihhh licik
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
ngga kebalik😂
Shee_👚
kamu yang punya perasaan dan merasa tersaingi kenapa harus bikin masalah dengan orang yang tak tau tentang perasaanmu. kalau kamu laki² tunjukin kamu itu lagi² tulen😏
Shee_👚: bisa jadi kak, gak laki² banget kelakuannya.
bilang gitu sama nono kalau dia suka ara, toh nono blm enggeh kalau udah terpesona
total 2 replies
Shee_👚
udah mau minggu🤔🤔

ini gimana kak?🙏
Shee_👚: di maklumi kak🤗
total 2 replies
Shee_👚
ck si marcel mulai ngedrama deh🙄
Shee_👚
meninggalkan jejak, jeli pasti langsung girang jingkrak²🤣🤣🤣
Shee_👚
di kira baju🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
gak kangen katanya🤣🤣🤣
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
Shee_👚
tenang kak, aku setia nungguin🤭
Shee_👚
itu jaman kaka dulu SMP tidur depan tv yang biasanya tidur bareng mulai SMP di pisah karena dah besar
Shee_👚
bingung ya no🤭
titissusilo
idihhhhh jijay....blm tau sapa ziano...
Linda Ayu Tong-Tong
huh dasar jahat kamu cel..belum tau si razia itu anak horang kaya🤣🤣🤣
ryani yuliawati
ceritanya seru keren banget mksih ya thor tuk ceritanya 💜💜💜💜💜💜😘😘😘😘 suka karakter A ano & ara keselnya ama marcel
sikepang
cinta marcel ke ara buat dia gelap mata ne nama y😳
Esther
Siap2 saja kamu dibenci Ara kalau sampai dia tahu soal rencanamu Cel
RiriChiew🌺
ini nih yg gak disuka sama sifat Marcel tuh , yaa kalau suka Ara bilang bukannya membenci orang yg gak salah apa² . anehh bin repot
Febri Nayu
idihhh cemburu diaaa
diiih diih
Vike Kusumaningrum 💜
Jahat banget kamu Cel, masalah hati g ada yang bisa maksa euy. masih untung dibiarin ketemuan sm Ano g diaduin ke Aki, malah ngelunjak kamu.
Shee_👚: marcel dah di kasih susu malah balas tuba🙄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!