"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Keakraban Nick Dan Ardan
Di dalam kamarnya yang didominasi warna abu-abu gelap, Nicktan Megantara masih enggan beranjak dari kasur. Ia berbaring telentang, kedua telapak tangannya dijadikan bantal untuk menopang kepala sembari menatap plafon kamar dengan pandangan kosong. Namun, pikirannya jauh dari kata kosong. Ingatannya justru berputar mundur ke kejadian di parkiran sirkuit kemarin, lalu meloncat ke stiker bibir hitam yang tak sengaja ia kirim tadi sore.
Nick menyentuh bibirnya pelan. Bayangan ciuman tak sengaja akibat gaya gravitasi itu benar-benar memicu imajinasi liar di kepalanya. Nick tersenyum-senyum sendiri, sebuah senyum tipis yang sangat jarang terlihat, sebelum akhirnya ia menggeleng keras berusaha mengusir pikiran kotornya.
"Gila... gue beneran bisa gila kalau begini terus," gumam Nick kaku.
Ceklek.
Ardan mengintip dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia melihat bos mudanya sedang senyum-senyum tidak jelas seperti orang yang baru saja memenangkan lotre. Ardan langsung membuka pintu lebar-lebar dan berdiri berkacak pinggang dengan wajah menuntut.
"Jadi basket gak sih lo? Dari tadi nempel terus di kasur kayak perangko. Lagi bayangin dapet piala atau bayangin dicium beneran sama Elea?" sindir Ardan pedas.
Nick tersentak, hampir terjungkal dari posisinya. Ia segera merubah ekspresinya menjadi datar dan dingin. Ia berdehem keras, berusaha menetralkan wajahnya yang sempat tertangkap basah sedang berhalusinasi.
"Jadilah. Gak sabaran banget lo jadi orang," ketus Nick menutupi kegugupannya. Ia segera menyambar bola basket di sudut kamar dan berjalan melewati Ardan dengan langkah cepat.
"Halah, gaya lo! Tadi di kamar mandi lama bener, sekarang di kasur senyum-senyum. Bilang aja lo lagi baper maksimal gara gara Elea kan?" cecar Ardan sembari mengekor di belakang Nick.
"Diem lo, Dan! Satu kata lagi lo bahas soal itu, gue kunciin lo di bagasi mobil!" ancam Nick tanpa menoleh, padahal telinganya sudah merah padam.
Keduanya berjalan kaki menyusuri jalanan perumahan elite menuju lapangan basket di blok sebelah. Angin sore yang sejuk menerpa wajah mereka. Nick mendribel bola dengan santai, mencoba mengalihkan seluruh energinya pada benda bundar itu.
Permainan basket pun dimulai. Hanya mereka berdua di bawah lampu lapangan yang mulai menyala karena hari semakin gelap. Ardan, meskipun statusnya asisten, ternyata lawan yang cukup merepotkan. Namun, Ardan lebih banyak menggunakan trik konyol daripada teknik basket yang benar. Ia melakukan gaya lay-up yang sangat aneh hingga tubuhnya terpelanting sendiri ke arah tiang ring.
"Aduh! Sialan, licin banget ini aspal! Nick, lo sengaja ya narik kaos gue?!" teriak Ardan sambil mengaduh kesakitan di lantai.
Nick yang melihat Ardan tersungkur dengan posisi kaki di atas, tidak bisa menahan tawanya. Tawanya pecah, suara tawa yang lepas dan tulus yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang terdekatnya. Nick segera mendekat dan merangkul leher Ardan dengan lengan kekarnya, sedikit mencekik pria itu sebagai bentuk rasa gemas yang dibalut dendam.
"Mampus lo! Ini balasan gue karena gara-gara lo tadi tangan gue kepencet ngirim stiker jelek itu ke Elea!" Nick tertawa puas sambil terus mengapit kepala Ardan di ketiaknya.
"Woi! Lepasin, Nick! Gue gak bisa napas, anjir! Hahaha! Ya lagian lo ogeb banget, kirim stiker begituan ke cewek yang lagi agresif!" Ardan meronta ronta sambil tertawa geli.
Tanpa mereka sadari, beberapa penghuni komplek yang sedang berjalan sore melewati lapangan itu berhenti sejenak. Mereka mengeluarkan ponsel dan mengambil foto secara diam diam. Cekrek! Cekrek!
"Duh, romantis banget ya mereka berdua. Emang bener kata berita di TV, mereka kayaknya punya hubungan khusus. Liat tuh, rangkul-rangkulan sampe ketawa-tawa gitu," bisik salah satu bapak-bapak penghuni komplek kepada temannya. Mereka tahu betul siapa Nicktan Megantara, sang pembalap muda fenomenal, dan kedekatannya dengan Ardan selalu menjadi bahan gosip hangat.
"Iya, serasi banget. Sayang ya, padahal ganteng-ganteng," sahut yang lain sembari terus merekam.
Nick dan Ardan terlalu sibuk bercanda hingga tidak menyadari bahwa keakraban mereka baru saja menambah bahan bakar baru untuk isu gay yang sedang hangat-hangatnya. Nick tidak tahu bahwa besok pagi, foto rangkulan ini mungkin akan sampai ke tangan ayahnya.
Sementara itu, di belahan lain, kamar Elea masih terang benderang. Gadis itu masih membungkuk di atas meja belajar, jemarinya bergerak lincah menulis di atas kertas. Pelajaran kalkulus yang membosankan ia lahap dengan sangat khusyuk demi memenuhi tuntutan "angka 100" sang Paman yang tak punya belas kasihan.
Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Elea akhirnya meletakkan penanya dengan gerakan lemas. Ia memijat lehernya yang kaku, lalu beranjak dari meja belajar dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur tanpa sempat mencuci muka. Ia segera meraih ponselnya, membuka WhatsApp dengan harapan ada balasan dari Nick setelah ia mengirim tantangan ciuman tadi sore.
Layar ponselnya hanya menampilkan pesan terakhir darinya. Centang dua biru, sudah dibaca sejak jam enam sore tadi, tapi Nick tidak membalas sama sekali.
"Dasar pembalap kaku. Digoda gitu aja langsung ilang suaranya. Cupu lo, Kak," gumam Elea sembari menghela napas panjang. Ia menatap langit langit kamarnya yang sepi.
Meskipun sedikit kecewa karena diabaikan, Elea tidak bisa menahan senyum membayangkan wajah merah Nick saat membaca chat-nya tadi. Baginya, melihat Nick salting adalah hiburan terbaik di tengah hidupnya yang tertekan. Karena kelelahan yang luar biasa setelah seharian menghadapi paman dan pelajaran, mata Elea perlahan terpejam dan ia tertidur bahkan tanpa mengganti pakaian sekolahnya.
Di kediaman Megantara, Nick baru saja selesai mandi dan berganti pakaian menjadi piyama panjang berbahan sutra yang nyaman. Ardan sudah pulang sejak tadi membawa mobilnya sendiri, meninggalkan Nick sendirian dalam keheningan rumah besar itu. Nick merasa perutnya keroncongan karena ia belum sempat makan malam akibat terlalu asyik bermain basket dan melamun di kamar.
Ia turun ke lantai bawah menuju dapur yang sepi. ART sudah beristirahat, jadi ia mengambil sisa makanan yang ada di meja makan dan memakannya dengan lahap. Sambil mengunyah, Nick membuka ponselnya di bawah sorotan lampu meja makan yang redup.
Masih tidak ada chat baru. Tentu saja tidak ada, karena dia sendiri yang tidak membalas pesan terakhir Elea. Nick menatap layar itu lama, jarinya bergetar di atas tombol 'typing'.
"Bales nggak ya? Kalau gue diem aja, ntar dia pikir gue beneran pengen," gumam Nick gelisah. "Tapi kalau gue bales 'nggak mau', nanti dia malah pergi."
Nick mengacak rambutnya frustrasi. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa setelah ditawari ciuman oleh gadis itu. Baginya, menghadapi tikungan maut di sirkuit jauh lebih mudah daripada merangkai satu kalimat untuk Elea.
"Besok gue harus jemput dia," gumam Nick pelan pada piring nasi gorengnya.
Nick tersentak dengan ucapannya sendiri. "Eh, enggak! Enggak! Maksud gue... gue jemput dia buat urusan mobil! Iya, mobil! Biar dia nggak kabur lagi!" kilahnya cepat, seolah olah ada orang yang mendengarnya.
"Awas lo ya, Elea. Besok lo nggak bakal bisa lari lagi," bisik Nick dengan senyum tipis yang ia sembunyikan di balik gelas air minumnya.