Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21.
Bandung menyambut Kayla dengan udara dingin dan hujan kecil di sore hari.
Sudah hampir enam bulan sejak ia meninggalkan Jakarta.
Enam bulan sejak terakhir kali melihat Arka.
Dan anehnya, meskipun waktu terus berjalan, ada beberapa rasa yang tetap tinggal di tempat yang sama.
Kayla sekarang tinggal kembali bersama mamanya. Hidupnya jauh lebih tenang. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada pertengkaran, tidak ada malam-malam penuh tangis diam-diam di kamar kost sempit itu.
Semuanya perlahan membaik.
Setidaknya terlihat begitu dari luar.
Namun beberapa luka ternyata tidak pernah benar-benar sembuh.
Malam itu, Kayla duduk di dekat jendela kamarnya sambil mengerjakan tugas sekolah. Hujan turun pelan di luar sana, membuat pikirannya tanpa sadar kembali ke Jakarta.
Ke seseorang yang sudah lama ia coba lupakan.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Sebuah notifikasi lama muncul dari akun Instagram sekolah lamanya.
Foto kelulusan SMA.
Kayla terdiam.
Tangannya perlahan membuka postingan itu.
Dan di sana
Arka.
Cowok itu berdiri di barisan belakang dengan wajah datar seperti biasa. Rambut hitamnya sedikit lebih panjang, tubuhnya masih tinggi menjulang di antara murid lain.
Tapi ada satu hal yang berbeda.
Tatapan matanya.
Kosong.
Kayla menggigit bibirnya pelan.
Jarinya gemetar saat memperbesar foto itu sedikit.
Sampai akhirnya matanya jatuh pada sesuatu di pergelangan tangan Arka.
Gelang hitam kecil.
Punya Kayla.
Dulu Kayla pernah memberikannya diam-diam saat ulang tahun Arka, dan cowok itu sempat bilang gelang itu jelek.
Tapi ternyata.
Arka masih memakainya sampai sekarang.
Dadanya langsung terasa sesak.
Air mata yang selama ini ia tahan perlahan jatuh lagi tanpa izin.
Di sisi lain kota, tepatnya di Jakarta, Arka duduk sendirian di rooftop apartment milik keluarganya sambil menatap langit malam.
Rokok di tangannya sudah mati sejak tadi.
Ponselnya terbuka pada chat lama yang tidak pernah dibalas lagi.
Kayla.
Sudah enam bulan.
Tapi nomor itu masih jadi chat paling atas.
Arka tertawa kecil hambar sambil mengusap wajahnya kasar.
Semua orang bilang waktu akan membuat seseorang lupa.
Ternyata bohong.
Karena semakin lama, Arka justru semakin sadar...
tidak ada satu hari pun dimana ia tidak memikirkan Kayla.
Cowok itu menunduk pelan lalu membuka dompet hitamnya.
Di sana masih tersimpan kertas kecil lusuh milik Kayla.
Surat terakhir itu.
Yang sudah ia baca ratusan kali sampai hampir hafal di luar kepala.
“Aku suka sama kamu, Ka.”
Kalimat sederhana itu sekarang terasa seperti hukuman.
Karena akhirnya Arka sadar satu hal paling menyakitkan dalam hidupnya—
orang yang paling tulus mencintainya...
adalah orang yang justru ia sakiti paling dalam.
Dan sekarang, orang itu sudah terlalu jauh untuk ia kejar kembali.
Hujan turun semakin deras malam itu.
Di dua kota yang berbeda, ada dua orang yang sama-sama saling merindukan.
Tapi tidak ada yang cukup berani untuk kembali.
Namun sebenarnya, ada satu hal yang tidak pernah diketahui Kayla.
Setiap tanggal kepindahannya dari Jakarta, Arka selalu datang ke depan kost lama itu.
Hanya duduk diam di atas motor sport hitamnya sambil menatap jendela kamar kosong di lantai dua.
Seolah sebagian dirinya masih tertinggal di sana.
Dan setiap kali hujan turun, Arka selalu teringat satu hal kecil tentang Kayla—
perempuan itu paling takut suara petir.
Dulu, Kayla selalu diam-diam mendekat kalau sedang takut. Kadang cuma menarik ujung hoodie Arka pelan tanpa bicara apa-apa.
Hal kecil yang dulu tidak pernah Arka sadari penting.
Sampai sekarang semuanya hilang.
Dan terlambat.
Karena beberapa orang memang datang bukan untuk dimiliki.
Melainkan untuk meninggalkan luka yang akan terus hidup selamanya.
...---...
END