Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Jika seseorang diminta untuk memilih antara cinta, impian, atau keluarga, yakinlah bahwa itu adalah hal-hal yang berharga dan mustahil rasanya jika harus memilih salah satu. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Angel.
Ketidaksukaan paman dan bibinya terhadap William yang ditunjukkan dengan sangat jelas begitu mengganggunya. Hingga membuatnya berbohong untuk memutuskan hubungan dengan William.
Tentu saja ia merasa bersalah, namun saat ini tidak ada pilihan lain. Meninggalkan Jakarta sama artinya dengan menyerah akan impiannya. Dan ia tidak bisa melakukan hal tersebut. Maka, pilihan paling tepat adalah fokus pada karirnya dan membatasi hubungannya dengan William.
"Paman memintaku untuk tinggal bersama mereka." Angel berujar ringan. Saat ini ia berada di rumah Avy, duduk di sofa menonton film sambil memakan ciki-ciki yang ia beli sebelumnya.
"Kenapa?" sahut Avy ringan, tatapannya masih terfokus pada layar di depannya.
"Karena aku memiliki pacar."
Avy tersedak keripik kentang yang sedari tadi dikunyahnya. "Pacar?!" teriaknya histeris, untung saja di rumahnya sedang sepi hanya mereka berdua dan beberapa pekerja. Angel reflek menutup kedua telinganya. "Siapa? Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan laki-laki, kau juga tidak pernah cerita. Apa aku mengenalnya?"
Angel menggeleng ragu lalu mengangguk yang mengundang rasa ingin tahu Avy semakin besar.
"Jadi, aku mengenalnya atau tidak?"
"Kau mengenalnya, tapi juga tidak mengenalnya secara personal."
"Bisakah kau langsung saja menyebut namanya? Apa kau ingin membuatku pingsan karena penasaran?"
"Kau akan pingsan setelah aku menyebutkan namanya."
Avy menaikkan alisnya menunggu jawaban Angel. Ia sama sekali tidak bisa menebak siapa orang itu, hingga membuat paman Angel yang baik hati tidak menyetujui hubungan mereka.
"William Wijaya." Angel meringis ketika menyebutkan satu nama yang pernah menjadi bahan pembicaraan mereka beberapa waktu lalu.
Avy mendengus, ia kembali memfokuskan dirinya pada layar tv dan ciki di tangannya.
"Kau tidak terkejut?" tanya Angel heran dengan respon yang diberikan Avy.
"Sudah kuduga sedari awal kau tertarik dengannya. Bahkan ketika kau tidak mengenalnya, kau sudah terperdaya oleh pesona dan wajah tampannya."
Angel merenungkan pernyataan Avy. Jika diingat kembali memang benar sedari awal ia tidak pernah menolak kehadiran William di hidupnya. Tapi perempuan mana yang bisa menolak seorang William Wijaya?
"Aku mengerti kekhawatiran Paman Surya, beliau juga pasti menganggap bahwa William hanya mempermainkanmu. Terlebih kau masih sangat muda, keputusan apapun yang kau ambil itu bukan murni apa yang kau inginkan. Tapi bisa jadi karena ada pengaruh-pengaruh lain."
"Mengapa kau menjadi bijak sekali?"
Tawa Avy pecah. "Aku menjadi pintar jika menyangkut hubungan orang lain."
Angel ikut tertawa.
Kediaman Avy yang besar seketika menjadi riuh selain suara televisi. Bersama Avy, Angel merasa lebih nyaman dan sedikit meringankan beban pikirannya selama beberapa hari ini.
Avy bangkit dari duduknya, ia bertanya pada Angel "ada lagi yang ingin kau katakan?"
"Memangnya kenapa? Kau mau pergi?"
Avy bedehem. "Ini malam minggu, Jack mengajakku pergi. Apa Williammu tidak mengajakmu pergi?"
William memang tidak mengajaknya pergi, hanya memintanya untuk datang ke apartemen. Karena William harus mengurangi intensitas 'bertamu' di rumahnya, khawatir jika paman bibinya tiba-tiba datang dan melihat mereka berada dalam satu ruangan.
"Hubunganmu dengan William itu adalah keputusanmu, Angel. Aku mendukung apapun pilihanmu. Meskipun, kali ini aku kurang setuju dengan pilihan yang kau ambil. Aku merasa kau harus memikirkan ulang sebelum semuanya menjadi lebih rumit."
"Dia mencintaiku, aku mencintainya. Bukankah itu cukup?"
"Yah... itu cukup. Tapi kau melupakan usia kalian yang terpaut jauh."
"Aku sudah memikirkannya, Avy. Awalnya juga aku ragu, namun kupikir kehadiran dia beberapa waktu terakhir di hidupku benar-benar membuat hari-hariku berubah lebih berwarna. Aku tidak lagi kesepian seperti biasanya. Dan dia sangat bisa di andalkan. Jadi, aku memutuskan untuk memulai hubungan kami," pungkas Angel, sorot matanya penuh keyakinan pada masa depan yang akan dilaluinya bersama William.
Avy tidak bisa berkata apapun, hubungan manusia memang rumit terlebih pria dan wanita. Dan dalam kerumitan Angel dan William ia tidak ingin berada di tengahnya. Lagipula, mencari gara-gara dengan William tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Rumor mengatakan meskipun William Wijaya terkenal dengan sosoknya yang menyenangkan, tapi pria itu penuh dendam. Dia tidak suka jika seseorang mengganggu ketenangannya. Apalagi ini menyangkut hubungan asmaranya. Avy bergidik ngeri, membayangkan apa yang akan terjadi pada Angel ke depannya.
"Baiklah. Sekali lagi aku mendukung apapun keputusanmu. Kau bisa datang padaku jika memerlukan sesuatu."
Angel mengangguk dengan senyum sumringah, ia lalu berdiri dan memeluk sahabatnya itu. "Terima kasih karena selalu menjadi pendukungku nomer 1," ucapnya lirih. Ia melepas pelukan dan mencium pipi Avy. "Aku pergi. Jangan pulang terlalu malam, bahaya ketahuan ayah dan ibumu."
Angel tertawa, sementara Avy hanya menggelengkan kepalanya ringan, tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya itu.
***
Batasan yang dibuat oleh Avy adalah bentuk dari menghargai privasi yang dimiliki Angel. Avy tidak memaksa untuk Angel bercerita tentang masalahnya, namun ia akan akan selalu ada jika suatu saat Angel telah membuka dirinya untuk bercerita. Begitupula dengan sikap Angel terhadap Avy. Batasan-batasan inilah yang membuat hubungan persahabatan mereka menjadi awet. Sesuatu yang kadang banyak orang melewati batasan tersebut atas dasar kedekatan emosional.
Mereka saling mengenal sejak SMP dan Angel sangat bersyukur dipertemukan dengan seseorang yang selalu mendukungnya.
"Kau yakin tidak ingin kita keluar?" tanya William membuyarkan lamunan Angel.
Angel menggeleng sembari memamerkan gigi kelincinya. "Kamu kan terkenal. Akan bahaya jika kita keluar dan ketahuan fans kamu."
William tertawa, ia mengeratkan pelukannya pada Angel. "Apa kau cemburu?"
"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak ingin rumor tentangku muncul lagi." Angel menyandarkan kepalanya ke dada bidang William, menghidu aroma yang hanya laki-laki itu miliki. "Menurutmu, apakah paman dan bibi akan berubah pikiran dan menyetujui hubungan kita?"
Tangan William mengelus punggung Angel perlahan mencipta rasa nyaman yang baru ia dapatkan setelah bersama William. "Kita pikirkan setelah castingmu. Aku tidak ingin masalah ini membuatmu kehilangan fokus lalu kau gagal mendapatkan kesempatan itu."
"Menurutmu apakah aku akan berhasil kali ini?"
"Tentu saja! Angelku sangat hebat, pekerja keras dan pantang menyerah. Semua usahamu tidak akan sia-sia." William menatap mata bulat Angel dalam. "Aku percaya padamu," ucapnya meyakinkan.
Angel mengangguk mantap, kedua netranya membara penuh semangat optimisme. Seperti kata William tadi, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Angel sudah berlatih sekeras ini, ia yakin berhasil melewati seleksi demi seleksi dan menjadi salah satu model yang tampil di brand terkenal Y.
"Sekarang, bisakah kau memfokuskan dirimu padaku? Ragamu ada di sini tapi jiwa entah pergi kemana."
Angel tertawa ringan. Dia membenarkan posisi duduknya, ia menarik kedua tangan yang sedari tadi melingkari punggung William. "Angelmu di sini, sayang."
Angel menatap William manja, lalu melayangkan ciuman ke bibir William. Laki-laki itu hanya diam, membiarkan Angel berbuat sesuka hatinya. Ciuman amatir yang membuat William gemas sendiri.
"Sudah sering kita berciuman, mengapa ciumanmu belum ada peningkatan?" William berkata setelah menarik paksa Angel menyudahi ciumannya.
"Benarkah?" goda Angel. "Apakah sebaiknya aku mengambil kelas ciuman?"
William menyambar bibir tipis milik Angel, melumatnya keras tanpa aba-aba. "Lalu siapa yang mengajarimu?"
Nafas Angel terengah-engah, sudut bibirnya terangkat. "Bukankah itu harus kutanyakan pada anda Tuan William Wijaya?"
***