seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Di ruang kokpit "Mawar Hitam", bau oli panas dan ozon menyengat indra penciuman Dio. Ia tidak lagi duduk di kursi empuk kapten; ia berdiri di depan panel manual yang kabel-kabelnya mencuat seperti urat saraf yang terkelupas. Tangannya yang kasar dengan cekatan menghubungkan dua sirkuit bypass.
"Lar, sistem pengalih radar kita aktif. Tapi ingat, ini bukan teknologi siluman beneran. Kita cuma 'membungkus' kapal ini dengan sampah frekuensi," teriak Dio di sela deru mesin. "Di layar mereka, kita cuma bakal kelihatan kayak bongkahan satelit rongsok yang hanyut."
Laras mengangguk, matanya terpaku pada layar holografik yang menunjukkan armada The Void-Step yang mulai melambat saat mendekati sabuk asteroid buatan. "Itu sudah cukup, Dio. Mereka rakus. Mereka akan memindai setiap inci ruang untuk mencari sinyal Arca yang murni. Paman Aan, sudah siap dengan 'umpannya'?"
Aan, yang berada di stasiun komunikasi, menekan serangkaian kode. "Satu unit pemancar Arca cadangan sudah kulepaskan di koordinat Delta-9. Frekuensinya sengaja dibuat tidak stabil, seolah-olah itu adalah modul yang rusak dan bocor. Mereka pasti akan mengejarnya."
Benar saja, siluet tajam kapal-kapal The Void-Step—yang bentuknya menyerupai duri-duri hitam yang membelah ruang—mulai mengubah formasi. Mereka berbelok menuju koordinat umpan, masuk tepat ke jantung tumpukan puing-puing satelit Konsorsium.
"Sekarang," bisik Laras.
Dio menarik tuas pembalik tekanan. "Aktifkan magnetik sisa!"
Seketika, ribuan kepingan logam dari bangkai satelit di sekitar armada musuh mulai tertarik satu sama lain karena induksi elektromagnetik yang dipicu oleh Astra Mawar. Puing-puing itu tidak menghancurkan kapal musuh, tapi mereka membentuk "jaring" fisik yang mengacaukan mesin pendorong ruang milik The Void-Step.
Di layar, kapal-kapal musuh mulai bermanuver liar, mencoba melepaskan diri dari jeratan sampah luar angkasa yang kini menempel di lambung mereka seperti lintah.
"Mereka terjebak," ujar Aan dengan nada puas. "Tapi Lar, pemimpin mereka... dia tidak bergerak."
Satu kapal induk berukuran raksasa di barisan belakang tetap diam. Tiba-tiba, sebuah transmisi suara masuk ke frekuensi "Mawar Hitam". Suaranya serak, seperti gesekan logam, namun menggunakan bahasa manusia yang sangat fasih.
"Keturunan sang Penjaga... kalian menggunakan trik barang rongsokan untuk melawan penguasa hampa? Arca bukan milik planet yang sekarat ini. Arca adalah darah alam semesta yang kalian curi dari akarnya."
Laras berdiri tegak, jari-jarinya mencengkeram pinggiran konsol. "Kami tidak mencurinya. Kami menyelaraskannya. Dan jika kalian menyebut diri kalian penguasa hampa, maka kembalilah ke kehampaan itu. Bumi sudah punya penjaganya sendiri."
"Keyakinan yang naif," balas suara itu. "Lihatlah ke bawah, ke benih-benih yang kalian tanam. Apa kalian pikir frekuensi murni itu tidak akan menarik perhatian yang lain? Kami hanyalah gelombang pertama. Jika kalian ingin berperang, kami akan memberikan perang yang tidak akan pernah selesai."
Sebuah kilatan ungu memancar dari kapal induk musuh, menghancurkan tumpukan asteroid buatan di sekitarnya dalam sekejap. Tekanan gravitasi di dalam "Mawar Hitam" melonjak drastis, membuat Dio terjerembap ke lantai.
"Lar! Perisai kita tidak akan kuat menahan tembakan kedua!" seru Dio sambil berusaha bangkit.
Laras menatap ke arah jendela, di mana titik-titik cahaya biru di permukaan Bumi—hasil instalasi Pandu—masih bersinar stabil. Ia teringat kata-kata Sang Arsitek tentang "merasa".
"Aan, hubungkan kesadaranku ke jaringan Arca di permukaan Bumi," perintah Laras tiba-tiba.
"Apa? Lar, itu terlalu berisiko! Beban datanya bisa menghancurkan sarafmu!" Aan memprotes.
"Lakukan saja! Pandu dan yang lainnya adalah penguatnya. Jika kita tidak bisa mengalahkan mereka dengan senjata, kita akan mengalahkan mereka dengan resonansi. Kita akan membuat seluruh orbit ini menjadi area yang 'tidak bisa dihuni' oleh mereka yang memiliki niat menghancurkan."
Dengan ragu, Aan menekan tombol sinkronisasi. Laras memejamkan mata. Seketika, pandangannya tidak lagi terbatas pada ruang sempit kokpit. Ia bisa merasakan detak jantung Pandu di Jakarta, ia bisa merasakan harapan jutaan orang yang baru saja melihat lampu kota mereka menyala kembali.
Energi itu bukan berasal dari mesin, melainkan dari kehidupan yang ingin terus bertahan.
Kapal "Mawar Hitam" mulai bersinar, bukan dengan cahaya biru Arca yang biasa, melainkan dengan pendaran putih yang menyilaukan. Resonansi itu merambat keluar, menghantam armada The Void-Step bukan dengan daya ledak, melainkan dengan gelombang frekuensi yang memaksa sistem navigasi mereka untuk melakukan reboot total.
Di bawah sana, di atap gedung Jakarta, Pandu menatap ke langit. Ia melihat riak cahaya putih yang membelah kegelapan malam, tampak seperti aurora yang menari di atas khatulistiwa.
"Laras sedang bicara," bisik Pandu pada rekan-rekan timnya. "Dan dia sedang memberitahu alam semesta bahwa kita tidak lagi sendirian."
Gelombang putih itu menghantam kapal induk The Void-Step dengan kelembutan yang mematikan. Tidak ada ledakan api, hanya suara dengungan rendah yang membuat logam kapal mereka bergetar hebat hingga ke tingkat molekuler. Di dalam kapal induk itu, sistem-sistem yang tadinya dirancang untuk menghisap energi tiba-tiba berbalik arah; mereka tidak bisa menampung frekuensi yang dipancarkan oleh kesadaran kolektif manusia yang sedang berharap.
"Sistem mereka mengalami overload emosional," gumam Aan, jemarinya menari di atas layar yang kini menampilkan grafik aneh—grafik yang tidak lagi menghitung voltase, melainkan ritme biologis. "Mereka tidak punya filter untuk ini. Bagi mereka, harapan adalah polusi."
Laras masih memejamkan mata di kursi pilot. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, namun ekspresinya tampak tenang, hampir seperti sedang bermimpi. Di dalam pikirannya, ia tidak lagi berada di ruang angkasa. Ia merasa sedang berdiri di jutaan tempat sekaligus: di gang-gang sempit Jakarta, di pesisir Afrika, di pegunungan es yang mulai mencair. Ia adalah jembatan.
"Lar, cukup! Kau mulai memudar!" seru Dio. Ia melihat tubuh Laras mulai berpendar tipis, seolah-olah atom-atomnya ingin menyatu dengan cahaya itu sendiri. Dio menyambar bahu Laras, mencoba menariknya kembali ke realitas fisik. "Jangan jadi pahlawan mati, Lar! Ayah tidak membangun semua ini supaya kau jadi debu angkasa!"
Sentuhan kasar tangan Dio yang berlumuran oli bertindak seperti jangkar. Laras tersentak, napasnya memburu saat ia menarik diri dari sinkronisasi saraf. Cahaya putih di luar kapal perlahan meredup, meninggalkan armada musuh yang kini terapung lunglai, mesin-mesin mereka mati total, dan siluet "duri hitam" mereka terlihat rapuh di bawah sinar bintang.
Kapal induk itu mengeluarkan transmisi terakhir, sebuah desisan statis yang terdengar seperti kutukan yang terputus. Tanpa daya dorong, gravitasi Bumi mulai menarik kapal-kapal rongsokan itu menjauh, melemparkan mereka ke arah kegelapan yang lebih dalam menuju orbit pembuangan.
"Mereka pergi?" tanya Aan pelan, memastikan radar.
"Mereka tidak pergi, mereka cuma... terhenti," jawab Laras sambil menyeka darah yang menetes dari hidungnya. Ia menatap tangannya yang masih gemetar. "Untuk saat ini, frekuensi kita terlalu berisik bagi mereka. Mereka akan butuh waktu lama untuk belajar cara mendengarnya tanpa terbakar."
Di permukaan Bumi, di Jakarta, Pandu merasakan getaran di dadanya berhenti. Aurora putih di langit perlahan memudar, menyisakan langit malam yang lebih bersih dari yang pernah ia ingat. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, bintang-bintang di atas Jakarta terlihat jelas tanpa terhalang debu polusi atau gangguan EMP.
Orang-orang mulai keluar ke jalanan. Di bawah pendaran lampu biru Arca yang stabil, tidak ada teriakan ketakutan. Ada keheningan yang khidmat. Seorang anak kecil menyentuh tanaman merambat yang kini berpendar hijau pucat di sisi tembok, dan tanaman itu merespons dengan mekar kecil.
"Pandu," suara Laras terdengar di komunikator, terdengar lelah namun bangga. "Bagaimana di sana?"
Pandu menatap kerumunan orang yang mulai saling berpelukan, menatap cahaya yang mereka kira adalah kembang api namun sebenarnya adalah perisai nyawa mereka. "Laras, mereka tidak takut. Mereka... mereka mulai bernapas lagi."
Laras bersandar di kursinya, menatap Bumi yang kini tampak seperti permata biru yang memiliki denyut nadi. "Bagus. Karena ini baru awal. Besok, kita tidak hanya akan memperbaiki mesin. Kita akan mengajari mereka cara merawat mawar di antara puing-puing."
Dio menghela napas panjang, memasukkan kembali kunci pasnya ke dalam saku celana kargo yang kusam. Ia menepuk konsol "Mawar Hitam" dengan sayang. "Kerja bagus, Tua Renta," bisiknya pada kapal itu. Lalu ia menoleh ke Laras. "Jadi, Komandan... setelah ini apa? Pulang ke Astra Mawar dan tidur selama satu dekade?"
Laras tersenyum kecil, matanya beralih ke riak energi di dekat Mars yang kini benar-benar telah hilang. "Belum, Dio. Kita punya enam puluh lulusan di bawah sana yang butuh bimbingan. Dan Paman Aan... sepertinya kita harus mulai menyusun protokol untuk 'pihak ketiga' lainnya. Jika The Void-Step tahu tentang kita, maka yang lain juga akan tahu."
"Kita akan siap," jawab Aan pendek, matanya sudah kembali ke layar, mulai memetakan koordinat baru untuk memperluas jangkauan radar.
"Mawar Hitam" berputar perlahan, memulai perjalanan kembali menuju dermaga Astra Mawar. Di kegelapan ruang angkasa, kapal itu tampak kecil, namun jejak cahaya yang ditinggalkannya adalah janji bahwa kegelapan tidak lagi memiliki kuasa penuh atas rumah mereka.