NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purpledee

Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.

Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.

Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.

Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21. Duka

Langit Paris terlihat cukup mendung saat itu, seolah turut berduka. Angin musim gugur berembus pelan, menggerakkan daun-daun kuning kecokelatan yang berguguran di sekitar pemakaman. Di tengah pelataran yang luas itu, peti Riana yang dihiasi bunga-bunga putih diletakkan di bawah tenda hitam. Para tamu berdiri melingkar dengan pakaian gelap, wajah-wajah muram, dan aroma anyir hujan yang baru turun.

Noa berdiri diam di belakang Landerik. Rambutnya tertiup angin, wajahnya pucat—tanpa air mata. Mata itu kosong, seperti kehilangan cahaya. Landerik sendiri tampak hancur. Ia berdiri mematung, tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Ayahnya selalu berada di sisi, menahan pundaknya agar ia tetap tegak. Upacara berlangsung dengan doa yang lirih. Hingga akhirnya…

Keluarga Riana datang setelah beberapa jam terbang dari Belanda. Ayah dan ibu Riana terlihat terpukul, wajah mereka basah oleh air mata. Begitu melihat peti putri mereka, ibu Riana langsung meronta, hampir terjatuh, memanggil-manggil nama anaknya.

Semua orang menahan napas. Ibu Riana memeluk peti itu erat, menangis meraung seperti kehilangan separuh jiwanya. Beberapa menit kemudian, ketika pandangannya naik dan menangkap Noa berdiri di belakang kerumuna, air matanya berubah menjadi api. Ibu Riana berjalan cepat menghampiri Noa.

“Noa!? Semua ini karenamu! wanita sialan!” teriaknya.

Kerumunan terkejut. Noa membeku, tidak bergerak.

“Aku… aku—”

PLAK!!!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Noa. Suaranya terdengar sangat jelas, menusuk keheningan itu. Tamu-tamu langsung menoleh. Noa terhuyung mundur, hampir jatuh.

“Karena kau! Karena kau! semua ini terjadi” Ibu Riana menjerit sambil menunjuk Noa dengan tajam. “Anakku… anakku mati karena kau! Kau setuju menikahi suaminya! Kau buat dia stress! Kau buat dia—”

“Aku...” Noa berbisik lemah, tapi suaranya hilang dalam gemuruh isakan.

“DIAM!” Ibu Riana kembali menamparnya kali ini lebih keras sampai Noa jatuh berlutut di tanah basah pemakaman. Beberapa tamu terkejut, beberapa memalingkan wajah, beberapa berbisik-bisik. Noa terdiam. Ia hanya memegang pipinya pelan. Tidak menangis. Tidak melawan.

Mata itu benar-benar kosong, seolah-olah dirinya sudah hilang entah ke mana. Ayah Riana maju, wajahnya memerah oleh amarah dan duka. “Kalau saja kau menolak permintaanya, memalukan! Kalau saja Riana tidak harus memikirkanmu… dia mungkin masih—”

“Cukup! Anak kalian meninggal karena sakit, bukan karena anak malang ini!” Ayah mertua Noa akhirnya bersuara, namun suaranya pun bergetar, tidak tegas seperti biasanya. Ia masih berkabung, tidak sanggup membela Noa sepenuhnya.

Landerik berdiri di tempatnya—tidak bergerak. Wajahnya pucat, matanya merah. Ia terlihat ingin maju namun kakinya seakan terkunci. Ia sendiri masih tenggelam dalam luka atas kematian istrinya. Noa menunduk, bukan karena bersalah, tapi karena terlalu hancur untuk melawan.

Lalu Matilda menerobos kerumunan.

“Nona!” Matilda segera memegang bahu Noa, membantu Noa berdiri dengan hati-hati.

“Nona Noa masih sangat muda, dia juga kehilangan Nona Riana. Nona Riana sangat menyayangi Nona Noa, bahkan dia ada disampingnya disaat nafas terakhirnya.” ucap Matilda dengan suara tegas namun bergetar.

Namun keluarga Riana tetap marah.

“Keluarkan dia! Aku tidak sudi melihat dia ada di sini!” Ibu Riana meraung. Matilda menarik Noa ke pelukannya, melindungi, seolah memeluk anaknya sendiri.

“Ayo Nona,” bisik Matilda pada keluarga Riana.

Kemudian ia membawa Noa menjauh dari kerumunan, dari tamparan, dari cacian yang masih bersahutan ke udara kelabu. Noa berjalan bagaikan bayangan tanpa suara, tanpa ekspresi, hanya langkah kosong yang lambat.

Sementara di belakang mereka, Landerik akhirnya mengangkat wajah. Ia melihat punggung Noa yang menjauh. Dan untuk pertama kalinya, kesedihan itu terlihat jelas bercampur dengan, sesuatu lain. Sebuah rasa pedih yang datang karena Noa disalahkan atas sesuatu yang bukan salahnya.

Tapi Landerik masih tidak mampu bergerak. Hari itu, tiga hati hancur di sisi peti Riana. Dan hanya satu yang tak menangis—karena terlalu rusak untuk bisa mengeluarkan air mata.

...♡...

Rumah keluarga Van Bodden dipenuhi kesunyian yang menyesakkan. Semua orang berjalan dengan langkah pelan, suara ditahan, dan wajah-wajah duka menggantung di setiap sudut rumah. Di lantai dua rumah besar itu, kamar Noa tetap gelap hampir sepanjang hari. Tirai tertutup rapat. Lampu tidak pernah dinyalakan.

Noa duduk di tepi tempat tidur, lutut ditarik ke dadanya, mengenakan pakaian yang sama sejak tiga hari lalu. Rambutnya kusut, matanya sembab namun air mata itu tak pernah jatuh. Seolah tubuhnya sudah kehabisan tenaga untuk menangis. Ia hanya melihat ke luar jendela yang tertutup tirai. Memandang apa pun tanpa benar-benar melihat.

Matilda menjadi satu-satunya yang bisa mendekat. Setiap pagi Matilda membukakan tirai agar matahari bisa masuk dan membawa sarapan ke kamar Noa, namun piring-piring hanya menumpuk tanpa disentuh.

“Nona makan sedikit, ya?” suara Matilda selalu lembut, hampir seperti ibunya sendiri. Noa hanya menggeleng pelan.

Matilda duduk di lantai di sampingnya, tidak memaksa. Terkadang memegang tangan Noa, mengelusnya seperti menenangkan anak kecil yang ketakutan. Kadang Noa berkata lirih, nyaris tak terdengar.

“Seharusnya aku tidak disini.” Matilda langsung memeluk bahunya.

“Jangan bicara seperti itu, Nona. Nona Riana mencintaimu. Dia ingin nona hidup, bukan mati bersama dukanya.” Noa menutup wajahnya, tubuhnya bergetar.

“Aku membuat semuanya menjadi seperti ini, aku… aku seharusnya tidak ada.”

“Tidak. Kau bukan penyebabnya, Nona Riana meninggal karena sakit, bukan karena siapa pun.” tegas Matilda. “Semua orang berduka. Semua. Tapi rasa bersalah itu… bukan milikmu.” Namun kata-kata itu tidak benar-benar masuk ke hati Noa.

Landerik beberapa kali mencoba datang. Setiap malam, langkahnya berhenti di depan pintu Noa. Ia tidak mengetuk. Tidak sanggup. Ia hanya berdiri diam, lalu pergi dengan napas berat. Dukanya sendiri menumpuk seperti beban di bahunya. Leo dan Ayah Van Bodden sesekali menanyakan kondisi Noa.

“Dia belum makan?” tanya Ayah Landerik suatu pagi.

Matilda menggeleng pelan. “Saya yakin ini hanya sementara. Tapi dia benar-benar terpukul, Tuan.”

Ayah Van Bodden menghela napas berat. “Dia masih terlalu muda, terlalu polos untuk melihat kematian sedekat ini, dan keluarga Riana yang menyalahkannya, membuat mentalnya terguncang.”

Leo yang biasanya santai pun tampak muram. “Kak Riana itu seperti malaikat bagi Noa. Jelas dia tidak bisa langsung bangkit.”

Hari keempat, Noa tetap tidak keluar. Semua orang memaklumi. Tidak ada yang menuntut. Hingga suatu siang, Matilda masuk ke kamar dengan sebuah syal milik Riana.

“Noa, ini milik Nona Riana.” Ia duduk di tepi ranjang, memegang syal itu di pangkuannya.

“Dia memintaku menjaganya. Dan memberikannya padamu kalau suatu hari kau tidak bisa bangun dari kesedihanmu.”

Noa mengangkat wajahnya perlahan. Matanya basah namun tetap tanpa air mata. “Bagaimana kau bisa begitu yakin, kalau dia ingin aku menerimanya?” suara Noa pecah.

Matilda tersenyum tipis. “Karena Nona Riana mencintaimu seperti adik kandungnya sendiri. Dia tidak ingin kau tenggelam saat dia sudah tidak ada.”

Noa menunduk, menahan napas.

“Kalau kau tidak bisa makan, tidak apa-apa,” lanjut Matilda sambil mengelus kepala Noa. “Kalau kau hanya ingin tidur, tidak apa-apa. Semua orang pernah berduka.” Lalu Matilda menggenggam tangan Noa lebih erat.

“Tapi satu hal, Nona Riana ingin kau hidup bahagia. Bukan seperti ini.”

Kata-kata itu akhirnya membuat Noa menutup muka dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar—bukan menangis, tapi seperti baru menyadari betapa hidupnya harus terus berjalan sementara hatinya belum siap.

Matilda memeluknya dengan hangat.

Di luar kamar, rumah tetap sunyi tapi untuk pertama kalinya, Noa mulai bernapas sedikit lebih dalam. Bukan pulih. Belum. Tapi hidupnya perlahan mulai bergerak lagi.

To Be Countinue...

1
Kam1la
hati2 Laderick bisa tergoda Mora
Kam1la
💪💪💪 lanjut , Noa
Kam1la
Tidak... Noa!!🤭
Deii Haqil
ow.. no, Noa..🙈💪💪
Miu Nuha.
rasany nyesek ya, harus menahan diri demi mewujudkan keinginan orla 🤧
Miu Nuha.
paham banget kalo mau nentuin kapan meninggoynya 😩😩😩
Deii Haqil
lanjut lagi..hemhemhem🤭
Kam1la
makin seru nnih ....! semangat up. dan jangan lupa mampir di Terlambat Mencintaiku...😍
Deii Haqil
makin seru😊 lanjut kak💪
Afriyeni
setidaknya kamu punya hak untuk itu saat ini noa. sebab landerik juga tidak punya kuasa untuk menekan mu.
Afriyeni
Riana, noa dan landerik adalah orang orang yg tengah bermain di atas luka masing masing
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): ouh suka bnget kata-kata nya kak😭
total 1 replies
Deii Haqil
keren kak, mantap! semagat nulisnya😁
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
lanjutkan...
Deii Haqil
jangan lupa ngopi. kak. semangat😁
Kam1la
alur yang bikin nyesek..... semangat berkarya Kak !!
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih kak🤗
total 1 replies
Kam1la
semangat 2.....up😍
Deii Haqil
lanjut baca, kasian juga Riana😭
ss
Kak semangat yahh...
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
sedih....
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): wah... makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Miu Nuha.
kekny si ibu gk dpt perlakuan baik dari keluarga Landerik 🤔 ,, jadi nikah gk nih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!