Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Aqilla berjalan memasuki rumah dengan perasaan hancur. Tidak setegar yang terlihat, wanita itu menyembunyikan rasa sakit dan berusaha bersikap setenang mungkin, tidak ingin menunjukkan kelemahan di depan mantan suaminya. Ia tahu, anak-anak akan dijadikan kelemahannya agar ia membatalkan pernikahan dengan pria bernama Raditya Nathan Wijaya.
"Dasar brengsek," gumam Aqilla, menghentikan langkah tepat di belakang pintu, berdiri tegak seraya menahan sesak. "Tenang Aqilla, tenang. Kamu harus bisa mengendalikan emosi kamu. Jangan sampai kamu terlihat lemah di depan Mas Ilham. Kamu harus kuat. Yakinlah, anak-anak akan baik-baik aja bersama Mas Ilham karena dia Ayahnya. Mas Ilham gak mungkin menyakiti anaknya sendiri," gumamnya lagi kepada diri sendiri.
Aqilla menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, menyeka buliran bening yang memenuhi kedua mata sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
***
Sementara itu di kamarnya, Keano tengah memasukan pakaian miliknya ke dalam koper dengan ditemani oleh Radit dan juga sang Kakak. Radit memandang wajah Keano dengan sayu. Ingin rasanya ia menahan kepergian anak itu, tapi apalah daya, ia bukan siapa-siapa dan tidak memiliki hak untuk melarang seorang anak tinggal bersama ayahnya sendiri. Sedangkan Kaila, wajahnya nampak kesal seraya menelungkupkan kedua tangan di dada, memandang wajah sang adik dengan tajam.
"Udah cukup, Keano. Jangan banyak-banyak bawa bajunya. Emangnya kamu mau tinggal berapa lama di rumah Ayah?" tegur Kaila, seraya mengeluarkan separuh pakaian yang sudah tersusun rapi di dalam koper.
"Ikh, Kakak apaan sih? Kenapa dikeluarin lagi baju akunya?" seru Keano dengan suara lantang.
"Udah, jangan banyak-banyak bawa bajunya. Emangnya kamu gak sedih berpisah sama kakak?"
Keano seketika menahan gerakan tangannya, tertunduk sedih seraya menatap pakaian miliknya di dalam koper. Jika boleh berkata jujur, dirinya tidak ingin berpisah dengan sang kakak, tapi ia pun tidak mampu menepis keinginan untuk tinggal bersama ayah kandungnya.
"Emangnya Kakak gak mau tinggal sama aku dan Ayah?" lirihnya seraya mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa, masih dengan kepala tertunduk.
"Nggak, Kakak gak mau. Kakak maunya di sini sama Ibu dan Om Radit," jawab Kaila dengan suara lantang.
"Sudah cukup, kenapa jadi berdebat gini sih?" lerai Radit dengan lembut, seraya memandang wajah Kaila dan Keano secara bergantian. "Keano, Om mau tanya sama kamu, Sayang."
Keano sontak menoleh dan memandang wajah Radit dengan datar.
"Kamu yakin mau tinggal sama Ayah kamu?"
Keano menganggukkan kepala.
"Yakin mau berpisah dari Ibu kamu?"
Keano terdiam, kepalanya kembali tertunduk seraya memainkan ujung kuku jari jempolnya. Anak mana yang ingin hidup terpisah dengan ibu kandungnya sendiri? Semua anak menginginkan satu hal, tinggal bersama kedua orang tua, hidup bahagia bersama keluarga utuh. Perpisahan kedua orang tua adalah hal yang sangat-sangat menyakitkan bagi seorang anak. Keano terdiam, menahan rasa sedih yang mendalam.
Suara pintu yang dibuka mengejutkan mereka, ketiganya sontak menoleh ke arah pintu, menatap Aqilla yang melangkah memasuki kamar seraya tersenyum kecil.
"Gimana, Keano. Udah siap semua?" tanya Aqilla, mencoba bersikap biasa saja.
"Ibu beneran ngizinin Keano tinggal sama Ayah?" tanya Kaila sontak berdiri tegak dengan perasaan kesal.
"Benar, Qilla. Kamu yakin mau ngelepas Keano gitu aja? Jujur, saya khawatir, saya takut--"
"Sudah cukup, Mas Radit. Jangan menakut-nakuti Keano," sela Aqilla, bahkan sebelum pria itu menyelesaikan apa yang hendak diucapkan. "Mas Ilham Ayah kandung Keano, aku yakin dia gak akan menyakiti anaknya sendiri."
"Tapi, Bu. Aku khawatir kalau--"
"Kalau kamu khawatir, kenapa gak kamu temenin adik kamu, Kaila? Kamu jaga dia dan telpon Ibu kalau Ayahmu berbuat macam-macam sama kalian." Aqilla kembali menyela ucapan Kaila.
"Aqilla," lirih Radit, seraya menarik napas dalam-dalam.
"Saya yakin, ada sesuatu yang tak saya ketahui tentang masalah ini. Apa mungkin si brengsek Ilham ngancem Aqilla, itu sebabnya dia nyerahin anak-anak sama dia?" batin Radit, mencoba untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
Aqilla duduk tepat di depan koper yang tergeletak di atas lantai. Merapikan pakaian yang sudah tersusun di dalamnya dan memasukkan pakaian lain yang masih tergeletak begitu saja di lantai. Bukan hanya itu saja, ia pun turut memasukan benda-benda lain yang biasa digunakan oleh putra bungsunya seperti, minyak kayu putih, bedak dan lainnya.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir seorang Aqilla. Kedua matanya mulai memerah dan berair. Dadanya sesak, batinnya berperang hebat. Apa ia sanggup melepas kedua buah hatinya begitu saja?
Radit seketika menahan pergelangan tangan Aqilla yang hendak menutup koper berukuran sedang tersebut. "Qilla," sapanya dengan lembut.
Aqilla menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, seraya menyeka kedua matanya yang berair lalu menoleh dan menatap wajah Radit. "Mas Ilham udah nungguin di luar, Mas," ucapnya seraya menahan isakan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba menyerahkan anak-anak sama mantan suami kamu?" tanya Radit dengan lembut.
Seraya menahan isakan, Aqilla mencoba untuk tersenyum. "Nggak ada apa-apa, Mas. Anak-anak udah berpisah terlalu lama sama Ayahnya. Aku cuma gak mau anak-anak kehilangan sosok seorang Ayah."
"Tapi ada saya, Qilla. Saya bisa menggantikan peran Ayah buat mereka."
Aqilla memejamkan mata sejenak, buliran bening seketika luruh dari kedua matanya. "Aku ceritakan nanti, Mas Radit. Mas Ilham udah nungguin anak-anak di luar," ucapnya dengan suara lemah.
Keano tiba-tiba memeluk Aqilla seraya terisak. "Ibu jangan nangis. Aku sayang Ibu. Aku janji gak akan lama-lama tinggal di rumah Ayah. Aku pasti bakalan balik lagi ke sini ko," ucapnya dengan sedih.
Kaila melakukan hal yang sama, memeluk tubuh Aqilla seperti yang dilakukan oleh adiknya. "Aku janji akan menjaga Keano, Bu. Aku bakalan ikut ke rumah Ayah. Aku gak bisa berpisah sama Keano, tapi aku janji akan pulang lagi ke sini. Beberapa hari lagi Ibu sama Om Radit menikah, 'kan?"
Tangis Aqilla seketika pecah, balas memeluk kedua buah hatinya seraya menangis sesenggukan. "Maafin Ibu, Nak. Maafin Ibu, Kaila, Keano. Ibu egois, Ibu gak bisa mempertahankan kalian. Seharusnya Ibu gak melepas kalian begitu saja. Ibu cuma mau Ayahmu tahu bagaimana repotnya ngurus dua anak. Ibu janji akan menjemput kalian nanti. Sekali lagi maafin Ibu, Nak," batin Aqilla, tanpa berani mengatakannya secara langsung.
"Ko lama banget sih? Ayah masih ada urusan, Kaila, Keano. Kita pulang ke rumah Ayah sekarang, ya," seru Ilham, tiba-tiba sudah berdiri di depan kamar.
Aqilla sontak mengurai pelukan, menyeka kedua sisi wajahnya yang membanjir lalu menutup koper yang sudah terisi penuh dengan pakaian dan kebutuhan anak-anaknya.
Ilham melangkah memasuki kamar, meraih koper tersebut seraya berujar. "Kaila, Keano, kita pulang sekarang."
Baik Keano maupun Kaila seketika menganggukkan kepala, berdiri tegak seraya terisak. Menatap wajah sang ayah sejenak lalu kembali menatap wajah ibunya.
"Ibu baik-baik di sini, ya. Kami berdua janji akan pulang ke sini di hari pernikahan Ibu dan Om Radit," lirih Kaila, seraya menyeka kedua sisi wajahnya yang dibanjiri air mata.
Aqilla menggelengkan kepala seraya menggigit bibir bawahnya keras. "Maafin Ibu, Nak. Ibu benar-benar minta maaf," batinnya menjerit.
"Jangan harap kamu bisa ketemu lagi sama anak-anak," batin Ilham, memandang wajah Aqilla seraya tersenyum menyeringai.
Bersambung ....