Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Shela mengerjapkan matanya, terlalu nyaman dengan suasana malam itu, ia sampai tertidur di taman. Ia menegakkan tubuhnya lalu menatap bingung selimut yang dia kenakan. Seingatnya dia tidak memakai selimut, ia melirik ke sekitarnya yang terlihat sepi. Siapa yang menyelimutinya?
Shela mengangkat kedua bahunya, ia bangkit dari duduknya lalu mengambil gitar dan selimut itu masuk ke dalam.
Shela masuk ke dalam kamar, jam menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, masih belum terlalu malam. Ia berjalan menuju ke lemari untuk mengambil pakaian. Dia mengganti celana pendeknya dengan celana yang lebih panjang dan melapisi kaosnya dengan Hoodie.
Shela kembali ke luar kamar dan turun dari tangga. Bergitu berada di rumah tamu, ia menghela napasnya begitu melihat Marvin dan teman-temannya masih berada di rumahnya. Apakah mereka akan menginap lagi? Seperti tidak punya rumah saja mereka ini.
Shela merapihkan rambutnya dan mengikatnya, kali dia berjalan dengan santai melewati para laki-laki itu. Ia berniat untuk mencari udara segar dan mencari hiburan di luar sana. Ia juga memilih untuk berjalan kaki saja karena malas menaiki skateboard-nya dan motor yang dia beli baru akan datang besok.
Shela berjalan santai melewati kumpulan laki-laki itu, begitu hampir menuju pintu keluar Sagara mencekal tangannya sehingga membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya. Ia berbalik lalu menatap wajah kakaknya datar dengan alis terangkat.
" Mau kemana lo malem-malem gini? Mau keluyuran, hah?!"
Seketika semua atensi tertuju padanya dan Sagara. Shela mendumel dalam hati, kenapa si kakaknya ini senang sekali mengomelinya di depan orang-orang, apakah dia berniat mempermalukan Shela?
Shela menepis kasar tangan Sagara yang masih mencekalnya." Gak usah sok peduli! Gue mati juga bukan urusan lo!" ujarnya. Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju ke luar rumah. Namun, lagi-lagi dia langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang berbicara.
"Bisa enggak sih lo menghormati bang Saga sebagai kakak lo? Masih untung bang Saga masih peduli sama lo, dasar lo gak tahu diri!" Dika membentak dengan suara yang penuh amarah. Kata-katanya menusuk lurus ke hati.
"Menghargai? Mau gue hargai berapa? Mau gue bayar sekarang?" Shela membalas dengan nada menantang, setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti membakar emosi di ruangan itu.
"Lo..." Dika berteriak, suaranya memekik di ruangan hingga memecahkan kesunyian, sambil ia menunjuk tajam ke arah wajah Shela. Ada kebencian yang terpancar dari matanya.
"Apa?! Mau pukul gue? Silakan saja, pukul! Kemarin lo bilang pengen gue mati kan? Tapi saat gue kasih kesempatan, lo malah gak gunain kesempatan itu," ujar Shela dengan nada sinis, sambil menepuk pipinya sendiri dengan tantangan. Rasa frustrasinya telah mencapai puncak.
"Sudah biasa, bukan? Lo nampar gue setiap kali lo marah? Ayo pukul! Anggap saja gue samsak hidup lo!" tantang Shela lagi. Kekesalan dan kelelahan bercampur dalam suaranya. Di matanya terlihat jelas, dia muak menghadapi tirani kakak-kakaknya.
Mereka semua terdiam, terutama Dika. Entah mereka merasa bersalah atau mereka hanya kehabisan kata-kata untuk melawannya.
"Lucu banget ya kalian.Waktu dulu gue memohon perhatian kakian, kalian mengacuhkan gue, menjauh seolah gue bukan bagian dari kalian. Sekarang, disaat gue mulai mengadaptasi ketidakpedulian kakian dan memilih untuk lepas dari rasa itu, kalian tiba-tiba berpura-pura peduli dan menuduh gue tidak menghargai sikap kalian. Untuk apa gue harus menghargai kalian? Selama ini, kalian tidak pernah menunjukkan sedikitpun perhatian dan gak pernah menghargai gue , tidak sebagai adik, bahkan tidak sebagai manusia. Kalian selalu memperlakukan gue seolah-olah gue gak lebih dari sebuah objek, layaknya binatang yang tidak memiliki hati atau perasaan. Gue dipermalukan, direndahkan, bahkan ditampar di hadapan orang banyak. Kalian menikmati penderitaan gue tanpa sekali pun berpikir tentang betapa hancurnya hati gue saat itu. Dan sekarang, dengan entengnya kalian meminta untuk dihargai? Sungguh, kalian ini benar-benar konyol!" Shela melempar tawa hambar, tawa yang menyimpan ribuan luka yang tidak pernah sembuh.
Kedua kakak Shela diam, apalagi mendengar tawa Shela yang terdengar menyakitkan. Hati mereka seakan dihantam sesuatu ketika mendengar ucapan Shela. Ada rasa penyesalan di hari mereka ketika mendengar ucapan Shela.
Shela benar selama ini mereka tidak pernah memperlakukan gadis itu dengan baik dan mereka menikmati itu. Padahal jika dipikir tak ada yang salah dari Shela. Hati Sagara sakit ketika menyadari bagaimana gadis itu menanggung semua rasa sakit itu sendirian teman dan keluarga.
Dika menguatkan hatinya untuk tidak luluh, dia tak mau tertipu oleh sikap Shela. Bisa jadi ini adalah tipu muslihat gadis itu agar dia luluh. Ia harus selalu mengingat jika Shela ada lah menyebab ibunya meninggal.
Marvin dan lain diam, mereka juga sempat tertohok dengan perkataan Shela. Mereka juga tersadar jika selama ini mereka memperlakukan Shela tidak baik. Mereka sering kali menghina dan mempermalukan Shela bahkan di depan banyak orang.
" Kalau kalian benci gue bunuh supaya hidup kalian tenang, kalau kalian gak suka sama kehadiran gue usir supaya gak perlu lagi liat gue, dengan senang hati gue akan keluar dari rumah yang seperti neraka ini," ujar Shela lalu berbalik dan keluar dari rumahnya.
____
Shela berjalan tanpa arah dan tujuan, dia terus melangkahkan kakinya kemanapun kakinya tertuju. Tanpa dia sadari, dia berjalan di jalan yang cukup sepi.
Entahlah, ia tidak mengerti kenapa kakinya malah melangkah ke sini, tempat yang sepi dan jarang dilewati pada malam hari. Meski begitu, Shela sudah cukup merasa tenang. Gang ini jatuh dari keramaian sehingga hati dan pikirannya juga ikut tenang.
"Shela terus berjalan, sampai indra pendengarannya menangkap suara seseorang. Ia menajamkan pendengarannya, ia mendengar suara itu seperti orang yang sedang meminta tolong.
Shela segera berlari kecil mencari dimana suara itu berasal hingga ia menemukan seorang gadis yang sedang menangis dengan empat orang laki-laki mengepung gadis itu. Dilihat dari gelagatnya, sepertinya preman itu ingin menjadikan gadis itu sebagai pemuas nafsu mereka, terlihat bagaimana mereka mencoba menyentuh tubuh gadis itu.
Tangan Shela mengepal, api kemarahan membakar dada. Di tengah keburukannya hari ini, empat preman itu ibarat samsak hidup yang siap untuk dilibas. Dalam benaknya, tak ada keraguan menggunakan ilmu bela diri di saat-saat krusial seperti ini.
Kekejaman salah satu preman menyentuh puncak ketika ia menampar gadis itu karena berusaha melawan. Mata Shela menyala, tubuhnya bergerak layaknya kilat. Dengan satu tendangan yang deras, kepala preman itu terhempas, badannya tersungkur ke aspal dengan meringis.
Ketiga preman lainnya tertegun, perasaan kaget dan takut bercampur saat melihat teman mereka terkapar, kesakitan memeluk tanah. Ketegangan meningkat, adrenalin mendorong setiap gerak.
“Heh bocah! Berani-beraninya lo nyerang kawan gue!” teriak salah seorang dengan nada menggelegar.
“Jangan banyak bacot! Sini kalau berani!” balas Shela dengan tatapan tajam dan suara tegas yang memotong angin malam, siap untuk pertarungan berikutnya.
Para preman itu menggeram marah dan mulai menyerang Shela secara bersamaan. Karena mosi Shela yang sedang tidak stabil di tambah dengan ilmu bela dirinya yang sudah cukup tinggi, dia mampu menyeimbangkan kekuatan ketiga preman itu. Satu persatu preman itu berhasil ia kalahkan dengan teknik bela diri yang dia kuasai.
Tanpa butuh waktu lama mereka semua sudah tersungkur ke tanah karena serangan Shela, mereka meringis kesakitan apalagi di area perut karena tadi Shela menendang perut mereka dengan cukup kuat.
"Bubar atau gue akan buat kalian makin babak belur!" teriak Shela dengan suara menggelegar. Keempat preman itu seketika terkejut dan bergegas melarikan diri seakan angin menyapu mereka pergi. Mereka tidak ingin menjadi korban penganiayaan Shela, yang sudah dikenal keperkasaannya.
Gadis korban preman itu masih terduduk lemas di tanah, tubuhnya bergetar hebat, ditimpa rasa ketakutan yang melumpuhkan. Matanya terpejam rapat, tak ingin menyaksikan lebih jauh apa yang terjadi di hadapannya. Tadi, saat salah satu preman terkapar dihantam oleh seseorang, panik menyerbu jiwa gadis itu sehingga ia memutuskan untuk berjongkok dan menutup mata, berharap semuanya akan segera berakhir.
Hanya suara hantaman dan teriakan yang menggema di telinganya, memompa adrenalinnya sampai pada puncaknya. Ketakutan telah menawan hatinya hingga dia merasakan sentuhan di pundaknya, ia sontak mengundurkan diri dengan tubuh merangkak mundur. Pikirannya langsung membayangkan sentuhan itu dari tangan preman yang mengerikan itu.
"Tenang, Lo udah aman," ucap Shela dengan nada meyakinkan saat melihat gadis itu masih diliputi ketakutan yang mendalam. Dengan lembut, Shela mengulurkan tangan, berusaha menghapus teror dari wajah pucat pasi gadis tersebut.
Gadis itu mendongak dan melihat Shela mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Dengan sedikit keraguan gadis itu menerima ukuran tangan Shela, dengan sekali tarikan Shela berhasil membantu gadis itu berdiri. Gadis itu terkejut karena tenaga Shela yang cukup besar untuk ukuran seorang perempuan.
Gadis itu memperhatikan wajah Shela yang terlihat tanpa ekspresi, ia seperti mengenali gadis yang menolongnya ini. Hingga tatapannya berubah dan matanya melebar begitu mengingat siapa yang telah menolongnya.
" Shela?"
kan lo yang mendorong shella sampe jatuh😤😤
dasar otak kudanilll🤮🤮🤮🤮🤮💩