Amelia menikah dengan seorang laki-laki yang di cintainya, namun laki-laki tersebut justru sangat membencinya, setiap hari Amelia selalu di perlakukan kasar, bahkan ia sering di tuduh sebagai pembunuh kekasih suaminya.
Adrian Aditama laki-laki tampan yang tak lain adalah suami Amelia, ia sangat membenci gadis itu, dan ia selalu menyalahkan Amelia sebagai pembunuh kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka? simak terus ceritanya, jangan lupa tinggalkan komentar kalian di bawah, dan berikan dukungan kalian ya dengan cara vote sebanyak_banyaknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadisti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Hampa
Happy Reading.
Apartemen Adrian.
Waktu menunjukkan pukul 07.45 pagi, Adrian melangkahkan kakinya menuju lantai bawah, entah mengapa ada perasaan hampa dalam hatinya, ketika ia tidak melihat sosok Amelia yang setiap pagi selalu menyiapkan sarapannya.
Adrian menatap meja makan yang terlihat bersih tanpa ada makanan di atasnya, kemudian pandangannya beralih ke dapur yang masih terlihat sunyi.
Biasanya, Amelia selalu berada di dapur dan menyiapkan sarapan untuk dirinya, meskipun ia sendiri tidak pernah menyentuh makanan yang di siapkan Amelia, tetapi Amelia tetap saja menyiapkan sarapannya setiap hari.
Adrian kembali teringat akan wajah Amelia yang menyedihkan, teringat akan siksaan yang ia berikan kepada Amelia semalam, tangisan Amelia terngiang_ngiang di telinganya, tatapan kebencian pun sangat terlihat jelas dari bola mata Amelia.
Rasa sesak dari dalam dadanya pun kian menyiksanya, semakin ia teringat akan perlakuannya yang kasar terhadap istrinya, maka semakin sesak pula yang ia rasakan saat ini.
Penyesalan timbul disaat Amelia sudah pergi meninggalkannya, rasa sakit muncul ketika Amelia sudah tidak lagi di sampingnya, entah mengapa tiba_tiba Adrian merasakan ke khawatiran yang mendalam terhadap istrinya.
"Amelia, aku akan membawamu kembali ke sisiku, aku tidak akan mengizinkanmu untuk pergi meninggalkanku apalagi melupakanku, tidak akan pernah aku biarkan." Gumam Adrian dengan pelan, tangan Adrian mulai terkepal dengan kuat, hari ini ia memutuskan untuk pergi ke kontrakan Dita sahabat Amelia.
Adrian memutuskan untuk membawa kembali Amelia ke sisinya.
***
Kontrakan Dita.
Amelia terlihat sudah rapi, ia memutuskan untuk pergi dari kontrakan Dita sahabatnya, entah mengapa rasa khawatir akan kedatangan Adrian muncul tiba_tiba di pikirannya.
"Mel lo mau kemana udah rapi begitu?" Tanya Dita yang baru saja selesai memakai pakaiannya.
"Gw mau pergi aja Dit, gw khawatir kalau Adrian tiba_tiba datang kesini."
"Gak mungkin Mel, Adrian kan gak tau tempat tinggal gw, jadi lo disini aja ya."
"Tapi Dit, gw takut kalau Adrian tiba_tiba datang kesini."
"Mel, percaya sama gw, Adrian gak bakalan datang kesini, dia aja gak tau lo disini kan?" Ujar Dita meyakinkan sahabatnya agar tidak jadi pergi.
"Hmm yaudah deh, gw percaya sama lo." Balas Amelia dengan senyuman manis di bibirnya.
"Yaudah gw berangkat dulu ya, nanti gw telat lagi, lo baik_baik disini ok."
"Hmm iya ok, lo hati_hati ya ."
"Siap bos." Ujar Dita sambil mengangkat satu tangannya ke atas, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar, sementara Amelia hanya tersenyum sambil menatap kepergian sahabatnya tersebut.
"Benar juga kata Dita, Adrian tidak mungkin datang kesini kan?" Gumam Amelia yang memutuskan untuk tetap tinggal di kontrakan sahabatnya.
***
Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia terlihat sangat fokus menatap jalanan yang begitu padat.
Drttt .. drttt...
Getaran ponsel membuat Adrian mengalihkan pandangannya.
"Mama, ada apa mama telepon?" Gumam Adrian setelah melihat siapa panggilan yang terpampang di layar ponselnya.
"Ada apa ma?" Ujar Adrian setelah ia menggeser tombol yang berwarna hijau.
"Bawa istrimu kesini."
"Untuk apa?"
"Menginaplah disini, papa mu lagi pergi keluar kota, mama sangat kesepian."
"Keluar kota? Kenapa tidak Adrian saja yang pergi ma?"
"Kamu tuh kaya yang gak tau papa mu aja Dri, sudahlah, sekarang kamu kesini dan bawa istrimu ok." Ujar Laras dengan tegas, kemudian ia mengakhiri panggilannya, tanpa menunggu Adrian berucap.
"Baguslah, jadi aku punya alasan untuk membawa Amelia bersamaku, dan aku yakin Amelia tidak akan menolakku." Gumam Adrian dengan pelan yang di iringi senyuman devil di bibirnya.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, mobil yang di kendarai Adrian pun tiba di sebuah gang kecil yang menuju rumah kontrakan sahabat Amelia.
Adrian perlahan memarkirkan mobilnya, kemudian ia bergegas turun dan melangkahkan kakinya menyusuri gang kecil tersebut.
Kontrakan Dita tidak jauh dari gang kecil tersebut, sehingga membuat Adrian mudah untuk menemukan kontrakannya.
"Sepertinya ini kontrakannya." Gumam Adrian dengan pelan, kemudian ia pun langsung mengetuk pintu kontrakan tersebut.
Tok .. tok ...
Mendengar suara ketukan pintu tersebut, seseorang pun langsung membukanya dengan cepat.
"Ad ,, Adrian..?" Ujar Amelia sambil memebelalakan matanya dengan lebar, ia sungguh tidak menyangka bahwa Adrian bisa menemukan keberadaannya.
"Kenapa? Apa kamu sangat terkejut melihat kedatanganku?"
"Ti ,, tidak, kamu mau apa kesini?"
"Oh tentunya aku mau menjemputmu."
"Aku tidak mau, lebih baik kamu pergi sekarang." Usir Amelia sambil berniat untuk menutup pintu tersebut, namun sangat di sayangkan, tenaga Amelia tidak sekuat tenaga Adrian, sehingga ia pun harus terdorong ke dalam.
Adrian menatap Amelia dengan tajam, kemudian ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam, lalu menutup pintu tersebut dengan sedikit kencang, sementara Amelia sudah ketakutan dan mundur secara perlahan.
"Amelia ayo kita pulang, tidak baik bagimu harus tinggal bersama orang lain." Ujar Adrian tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Adrian, aku mohon ceraikanlah aku." Amelia berkata dengan nada sedikit pelan.
Mendengar kata cerai yang di keluarkan dari mulut Amelia, Adrian langsung mengepalkan kedua tangannya, tatapan matanya berubah menjadi gelap aura dalam tubuhnya seketika menjadi panas.
"Jangan bermimpi Amelia, sekarang ikut aku pulang." Ujar Adrian yang mulai berkata dengan nada dinginnya.
"Aku tidak mau pulang."
"Jangan memaksaku untuk berlaku kasar Amelia, ikut aku PULANG SEKARANG."Ucap Adrian menekankan dua kata belakangnya.
tidak, aku bilang tidak ya tidak, jangan memaksaku lagi Adrian, dan aku harap kamu menceraikan aku sekarang." Ujar Amelia dengan tegas tanpa keraguan.
Adrian semakin merasa kesal, amarahnya kini kian melambung tinggi bagaikan gunung api yang siap untuk meletus, tangannya yang lebar meraih dagu Amelia dengan kuat, kemudian ia berkata dengan suara dingin dan juga tegas.
"Ini yang terakhir kalinya kamu mengucapkan kata CERAI, jika kamu mengulanginya lagi, maka aku akan mengurungmu dan menyiksamu setiap DETIK."
Deg...
Seketika jantung Amelia berdetak dengan kencang, wajah Amelia terlihat pucat, ia sungguh tidak ingin lagi merasakan penderitaan yang Adrian berikan, apalagi setiap hinaan yang sering Adrian lontarkan, sungguh Amelia tidak ingin lagi mengalaminya.
Amelia terdiam, meskipun dagunya terasa sakit, tetapi Amelia sama sekali tidak meringis seperti biasanya, Amelia hanya menatap benci wajah suaminya tersebut, sementara Adrian yang mendapatkan tatapan tersebut pun merasa geram.
"Kamu tidak di izinkan untuk menatapku seperti itu, mengerti." Ujar Adrian sambil melepaskan cengkraman tangannya.
"Aku tidak perlu izin darimu Adrian." Amelia berkata dengan nada sinisnya.
"Oh berani melawanku sekarang ya, apa kamu tau akibat dari melawan setiap ucapanku hmm.?" Ujar Adrian sambil memperlihatkan seringai di bibirnya.
Amelia kembali terdiam, ia sangat tau, jika dirinya terus melawan Adrian, maka nasib buruk pun akan menimpanya.
"Ikut aku sekarang, kita pulang ke rumah mamaku."
"Ada apa dengan mama?" Tanya Amelia yang terlihat khawatir.
"Dia baik_baik saja, dia hanya ingin kita menginap disana, ayo cepat." Ujar Adrian sambil mendudukan tubuhnya di atas sofa kecil yang berada di kontrakan sahabat istrinya.
"Benarkah?"
"Apa kamu pikir aku berbohong?"
"Tidak, kalau memang begitu, tunggu aku sebentar." Ujar Amelia sambil melangkahkan kakinya pergi.
Drttt .. drttt...
Ponsel Adrian kembali berbunyi, dengan malas Adrian pun langsung meraih ponselnya tersebut, dan ia langsung menyipitkan kedua bola matanya ketika melihat nomor yang tak di kenal menghubunginya.
Karena penasaran Adrian pun langsung menggeser tombol yang berwarna hijau, kemudian ia berkata dengan nada dinginnya.
"Siapa?"
"Rian ini aku Ana." Terdengar suara lembut dari seorang perempuan yang tak lain adalah Ana mantan kekasih Adrian yang dulu pergi meninggalkan Adrian bersama laki_laki lain.
Mendengar nama Ana, seketika membuat Adrian geram, ia sangat membenci gadis pengkhianat itu, dan sekarang, gadis itu menghubunginya kembali.
"Oh katakan ada perlu apa kamu menghubungiku?" Tanya Adrian dengan nada dinginnya.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, sekarang aku sedang berada di Indonesia."
"Untuk apa?"
"Aku sangat merindukanmu Rian."
"Munafik."
"Rian aku serius, aku sangat merindukanmu, aku selalu merindukanmu Rian."
"Tapi sayangnya aku tidak merindukanmu, bahkan aku sangat membencimu, jadi jangan pernah menghubungiku lagi." Ujar Adrian dengan tegas, lalu ia memutuskan panggilannya dengan cepat.
"Wanita sialan, beraninya menghubungiku lagi dasar tidak tahu malu." Gumam Adrian dengan pelan.
"Aku sudah selesai, mari kita pergi." Ujar Amelia setelah tiba di hadapan Adrian, kemudian Amelia melangkahkan kakinya melewati Adrian yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Berhenti disitu." Perintah Adrian dengan nada tingginya.
"Ada apa?"
"Bersikaplah baik dan patuh nanti, jangan sampai membuat mama curiga, dan ingat, jangan pernah berkata apapun kepada mamaku. Mengerti." Adrian berkata dengan nada yang dingin dan juga tatapan matanya yang tajam, seakan_akan menusuk ke dalam hati Amelia.
"Jika ingin aku bersikap baik, maka kamu pun harus bersikap baik terhadapku, aku tidak bisa menjamin, bahwa mulutku akan terus tertutup rapat dengan perlakuanmu itu." Ujar Amelia seraya melangkahkan kakinya pergi.
Adrian yang mendengar ucapan Amelia pun langsung terdiam, ia sungguh tidak menyangka, bahwa Amelia akan memutar ucapannya.
"Ck ,, kamu pikir kamu siapa Amelia, jangan berharap aku untuk memperlakukanmu dengan baik, kamu sekarang masih hidup pun seharusnya kamu bersyukur." Balas Adrian sambil melipatkan kedua tangannya, tatapan yang sinis seakan_akan ia sedang mengejek Amelia dari belakang.
Amelia menghentikan langkahnya, meskipun ucapan yang Adrian lontarkan sangat menyakitkan, tetapi Amelia mampu untuk menahan air matanya, lalu Amelia berkata dengan nada yang tak kalah dingin dari Adrian.
"Adrian, aku tau kamu sangat membenciku, dan aku tau alasan kamu membenciku, tapi kamu tenang saja, cinta akan menghilang dengan sendirinya, semakin kamu membuatku menderita, maka semakin hilang pula rasa cintaku padamu, ingat itu Adrian."
Ucapan yang di lontarkan Amelia terhadap dirinya, mampu menggores luka yang cukup dalam di hatinya, entah mengapa ucapan itu terdengar sangat menyakitkan bagi Adrian.
Adrian menahan rasa sesak di dalam dadanya, tangan yang terlipat di dadanya pun mulai terkepal dengan erat, mata tajam bagaikan mata elang itu berubah menjadi gelap tak bercahaya.
Keegoisan dirinya dan juga rasa gengsi yang terlalu tinggi membuat Adrian buta akan perasaan dirinya yang sesungguhnya, perasaan yang ingin tetap bersama Amelia.
Namun sangat di sayangkan, sifat dan juga sikap Adrian yang terlalu kasar, membuat Amelia muak dan mulai ingin menjauh darinya.
Adrian melangkahkan kakinya dengan cepat, kemudian ia menarik tangan Amelia dengan kuat, sehingga membuat Amelia terjatuh ke dalam pelukannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Ucap Amelia yang terkejut akan perlakuan Adrian yang tiba_tiba.
"Dengar Amelia, kamu tidak di izinkan untuk melupakan aku, apalagi meninggalkan aku, dan kamu hanya boleh mencintaiku seorang. Mengerti." Bisik Adrian di telinga kanan Amelia, hembusan nafasnya pun terasa begitu hangat, bau mint yang keluar dari mulut Adrian begitu menyegarkan.
Amelia tidak menjawab ucapan Adrian, ia masih terpaku dengan perilaku Adrian yang tidak seperti biasanya, sementara Adrian langsung menatap wajah Amelia yang terlihat begitu cantik, apalagi bibirnya yang merah merona bagaikan buah ceri, sungguh Adrian sangat ingin merasakan bibir itu.
Perlahan Adrian mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Amelia, ia berniat untuk menciumnya, namun baru saja ia akan merasakan bibir merah tersebut, Amelia yang sudah kembali dengan kesadarannya pun langsung mendorongnya dengan kuat, sehingga membuat Adrian hilang keseimbangannya.
"Ayo kita pergi." Ujar Amelia kembali melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Argh sialan, bagaimana aku bisa hilang kendali seperti ini? Tapi bibir itu memang sangat menggoda, argh aku ingin merasakannya." Gumam Adrian dalam hari, kemudian ia pun pergi membawa kakinya keluar.
***
Di dalam mobil keadaan sangat hening, Amelia menatap jalanan yang terlihat padat, sementara Adrian fokus dengan setir yang ia genggam.
Drttt.. drttt. ...
Ponsel Amelia dan juga Adrian berbunyi secara bersamaan, meskipun terasa aneh, tetapi Amelia tidak ingin bertanya, dalam pikiran Amelia mungkin itu hanya kebetulan saja.
Amelia meraih ponsel yang berada di dalam tas kecil miliknya, kemudian ia melihat layar ponselnya dan ternyata Vino lah yang tengah menghubunginya saat ini.
"Siapa yang menghubungimu?" Tanya Adrian dengan nada datarnya.
"Temanku." Balas Amelia berbohong.
"Oh kenapa tidak kamu angkat?"
"Ini ,, ini aku mau mengangkatnya, emm bukankah kamu juga ada panggilan masuk.?"
"Ck ,, aku sedang menyetir, dan aku lebih memilih keselamatanku di banding telpon yang tidak penting." Ujar Adrian berbohong.
"Oh." Jawab Amelia dengan singkat, kemudian Amelia pun menjawab panggilan dari Vino.
"Ada apa Vin?" Tanya Amelia dengan nada yang lembut, sehingga membuat Adrian mengeluarkan asap di kedua telinganya.
"Amel, kamu dimana? Apakah kita bisa bertemu?"
"Emm aku lagi di jalan, maaf sepertinya tidak bisa, lain kali saja ya."
"Oh, padahal aku sangat ingin bertemu denganmu Amel, tapi yasudahlah kalau tidak bisa, emm besok apakah kita bisa bertemu?"
"Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu ya bye." Ujar Amelia yang masih dengan nada bicara yang sangat lembut, kemudian Amelia langsung mengakhiri panggilannya, lalu merauh kembali ponselnya ke dalam tas miliknya.
"Bagus Amelia, kamu berani mengangkat telpon dari laki_laki lain di hadapan suamimu ini."
"Bukankah kamu yang menyuruhku untuk mengangkatnya?"
"Meskipun aku menyuruhmu, seharusnya kamu tidak mengangkat telponnya, aku ini suamimu, kamu tidak berhak menerima panggilan dari siapa pun, apa kamu mengerti." Adrian berkata setengah berteriak, ia sangat kesal dengan nada bicara Amelia yang begitu lembut terhadap laki_laki lain.
Amarah dalam diri Adrian pun muncul dengan sendirinya, cemburu? Ya Adrian sangat cemburu, namun ia menolak untuk mengakuinya.
Amelia memilih untuk diam, ia sangat malas untuk berdebat dengan Adrian, karena apapun yang Amelia ucapkan pasti selalu salah di telinga Adrian, dan ucapan Adrian lah yang selalu benar.
Bersambung.
buat ap kembali sma ardian...
kan lebih seru...
jangan sampai kmu balikan lg sma sikeparat mantan suami ...